27-29 nopember DNers dari Bekasi ke Solo utk belajar, sila gabung

insya Allah 27-29 ada DNers (jamaah whatsapp) yang akan ke solo untuk belajar dzikir nafas di padepokan patrap, bagi rekan rekan silahkan gabung saran saya ambil yang tanggal 27 sebab pas malam jumatan di padepokan. tapi jika ingin bersama sama sampai tanggal 29 boleh juga. bagi DNers lain yang bermint gabung hubungi saya langsung, Pak Pur di no 081 567722299

bbm naik kehendak jokowi atau kehendak Allah ; test ketauhidan

ketika saya membuat status di facebook  seperti judul di atas, maka pro, kontra, setengah pro dan setengah kontra pun bermunculan. ini merupakan test tauhid, yang akan menguji seberapa totalnya keyakinan bahwa sesuatu itu dari Allah. dalam respon terhadap status itu ada yang benar benar tauhid ada yang setengah tauhid bahkan ada yang menduakan Allah. ya semua itu adalah refleksi dari tingkat keyakinan masing masing.

 

Testimoni DNers hari ini bisa untuk pelajaran bagi kita

testimoni 1

Ja Lank Just share dr pengalaman sendiri;
Kurang lebih 2 bln saya latihan sendiri dengan mengikuti smua petunjuk DN, sampai saat ini blm mendpt pengalaman spiritual. Bhkan saya kurang paham secara Ngeh (merasakan) bagaimana sebenarnya kesadaran atau rasa sadar yg sesungguhnya itu..? skali saya memikirkan/merasa-rasakan sadar justru hilang consent. Tp secara jujur saya merasakan ketenangan hati wktu praktik DN. Terutama pas melepas nafas.. yg saya rasakan spt ada sesuatu yg mengumpul di dlm perut dan tidak dimana-mana (tidak bisa di bahasakan/diungkapan). Seperti kepasrahan.. pasrah sepasrah-pasrahnya dan tidak berfikir apa-apa. Jika saya tidak salah…. Spt smacam dorongan ingin menangis tanpa sebab.
Benar atau salah… yg saya alami ini, saya sendiri tidak mengerti.. sy akan terus belajar (semampu saya).
Mohon bimbingan dari pak Pur and saudara” senior… Terima kasih… salam…

jawab 

alhamdulillah, pak ja Lank apa yang dilakukan sudah benar, tidak peduli apakah dzikir nafas menimbulkan sensasi tertentu apa tidak pokoknya dzikir, dzikir dan dzikir, seperti pak jokowi sekarang he he kerja, kerja dan kerja. 

 

testimoni 2

Christony Ugeng Mahayundy kalo dari pengalaman sy dlm DN, memang tidak harus ada pengalaman tertentu, malah kita harus melepas kemelekatan utk mengharap akan mendapat pengalaman spiritual tertentu, karena hal tsbt kadang malah bakal menjadi sandungan dlm DN.Rasa ingin menangis,kepasrahan ygbetul2 sumeleh… kadang2 juga muncul….kondisi semacam ini bagi sy jauh lbh bermanfaat krn membuat DNners..lbh tawadhu..sumeleh hanya kpd Alloh.Merasa tidak berpikir apa-apa juga merupakan proses berpikir….jadi sy lbh mengalihkan pada kepasrahan/sumeleh dngn menyebut namaNYA di “dalam” spt petunjuk Pak Purwanto ttg DN.ini pengalaman sy,jk ada yg kurang tepat mohon petunjuknya Pak Pur….maternuwun.

 

Jawab

Betul pak Crish bahwa sensasi yang terlalu diperhatikan malah menjadikan hambatan dalam menuju ke Allah. sama dengan pak Ja Lank kunciinya untuk menembus sensasi tidak lain adalah pasrah, pasrah dan pasrah… sama seperti jokowo lagi ya … kerja ..kerja dan kerja … 

 

model pendidikan pondok pesantren yang makin lama makin ketinggalan jaman…..

Sudah saatnya berubah; saat kitab kitab digitalize, bimbingan dan pengajian sudah model online, quran, hadis bahkan kitab sudah ada di gadget, ketika bahasa asing sudah bisa di terjemahkan melalui mbah google…

nyantri sampai 9 – 15tahun saya kira bisa di persingkat menjadi 1 atau 2 tahun saja tentunya dengan model digitalisasi dan pendidikan dengan teknologi mutakhir, sehingga dalam dunia pondok yang dinamakan dengan “ilmu alat” sudah banyak tergantikan dengan teknologi itu artinya bahwa materi “ilmu alat” harus di alihkan ke teknologi, santri cukup diajari dengan bagaimana memanfaatkan gadget untuk mendapatkan dalil-dalil dari  hadis quran dan kitab kita kuno. Santri tidak perlu di bebani dengan hafalan hafalan , karena sudah ada asisten yaitu gadget yang bisa sewaktu waktu bisa di akses.

pendidikan santri selain mengenalkan gadget juga diberi bekal bagaimana cara cara mengamalkan quran dari pada mempelajarinya, jadi pondok pesantren seharusnya lebih menjadi tempat “mengamalkan quran” dari pada tempat belajar al quran. karena memang sejak jaman  rasulullah lebih menekankan amal dari pada ilmu. kalau ndak percaya bisa dilihat sejarahnya, bagaimana Rasulullah mendidik para sahabat, didikan Rasulullah lebih pada amal dari pada ilmu. Tidak pernah kita lihat sejara Rasulullah mengadakan “pengajian rutin” , pengajian ahad pagi, pengkajian islam sampai bertahun tahun… tidak ada, yang ada adalah amal, amal dan amal. Sejarah rasulullah , ketika seorang itu masuk islam setelah syahadat maka langsung disuruh menjalankan, tidak ada masuk islam kemudian belajar di madrasah dulu.. tidak ada…

baik kembali ke model pendidikan pondok pesantren, saat ini memang sudah banyak pondok pesantren yang modern namun masih sangat banyak yang pondok pesantren yang sangat tradisional, bahkan sangat kolot. ini yang perlu sama sama kita bangun. Kita kasihan generasi islam, yang belajar di pondok pesantren sampai 15an tahun keluar dari pondok kurang memiliki peran di masyarakat.. kalau pun berperan hanya sebagai penceramah, mubaligh …. sangat disayangkan, melihat dari jumlah waktu belajar yang puluhan tahun dari hasil yang tidak maksimal. sekarang bisa anda bayangkan jika sekolah selama 15 tahun kemudian model pendidikannya menggunakan teknologi pasti hasilnya akan sangat luar biasa.

Sadar Allah menjadi bingkai perilaku

Sadar Allah dapat menjadi bingkai perilaku kita. Kalau kita sadar tentang “A” maka perilaku kita akan menjadi “A”. Misalnya terus menerus kita menyadari bahwa kita orang yang penuh kebahagiaan maka perilaku kita akan cenderung mengarah kepada bahagia, kalau kesadaran kita adalah “orang yang kaya” maka perilaku kita akan mengarah kepada ‘kekayaan”. nah yang akan saya bahas disini adalah bingkai kesadaran akan Allah SWT. Tentunya jika bingkai itu adalah kesadaran terhadap Allah maka perilaku kita akan mengarah kepada Allah, segala sesuatu akan kita arahkan kepada Allah.

Perlu anda ketahui untuk menggunakan bingkai “sadar Allah” ini anda harus siap lahir batin, jiwa raga, bahan secara sosial kemayarakatan. Sebab hidup anda seolah anda “jual” kepada Allah SWT. Ibarat kita ini budak yang kita serahkan hidup kita kepada majikan. Apakah anda siap untuk menjadi Budak nya Allah? segala resikonya harus anda tanggung…..

baik salah satu contoh pengalaman Pak Santo, di group dzikir nafas facebook, yang menanyakan ke saya bahwa dia ini hobi menembak burung, tapi kenapa setelah menjalankan dzikir nafas sepertinya Allah melarang saya untuk melakukan hobi tersebut, ada semacam penolakan dalam diri ketika akan menembak… nah ini testimoni sederhana.dimana dengan sadar Allah perilaku negatif dihilangkan Allah.

bingkai sadar Allah dapat anda lakukan dengan cara berdzikir setiap saat, selama 24 jam kita berusaha  untuk sadar Allah. meski kita belum bisa sadar 24 jam tapi kita harus tetap berusaha untuk bisa sadar 24 jam. Dengan kesadaran ini, perilaku kita akan diprotect sama Allah. Perilaku kita selama sadar Allah akan tercegah dari perbuatan yang tidak baik.

bisa saya contohkan kenapa sadar Allah ini bisa menjadi bingkai perilaku, misalnya kita shalat , kalau kita shalat sadar Allah dan kita shalat tidak sadar Allah maka shalatnya akan berbeda. kalau shalatnya sadar Allah maka dalam setiap gerakan merupakan gerakan dimana ada komunikasi dengan Allah sehingga gerakan menjadi tumakninah dan ada rasa komunikasi, namun jika tidak ada kesadaran Allah dalam shalat maka shalatnya seperti robot yang digerakkan mesin yang gerakan shalatnya tidak bermakna apa apa dan dalam menjalankan shalat seenaknya sendiri gerakannya pun tidak tumakninah.

Baik,   sadar Allah akan mengarahkan anda untuk selalu mengikuti perintah Allah, bahkan Allah sendiri yang akan membuat kita mengikuti perintahNya. untuk itu jalankan agama ini dengan sadar Allah, jangan sampai kita menjalankan agama tanda sadar Allah itu ibarat robot,ada robot sedang shalat, ada robot sedang puasa, ada robot sedang sedekah bahkan ada robot sedang menunaikan ibadah haji… semoga kita terlindung dari yang demikian. amin

nafas anda akan membawa miraj ke Allah

nafas anda akan membawa kepada Allah SWT, yang nantinya akan membuat kesadaran anda meningkat. Nafas yang membawa anda miraj ke Allah dilatih dalam level 3. ketika nafas masuk dan anda berdzikir Huu maka otomatis jiwa anda akan tersedot ke atas, saat tersedot itu ikuti saja. maka anda terbawa miraj ke Allah.

 

jangan memaksa Allah untuk ridho pada kita

dalam etika bermakrifat, kita sebagai hamba harus pasrah total kepada Allah. termasuk dalam hal ini adalah tujuan bermakrifat. Masalah Allah ridho apa tidak itu terserah Allah saja, kita sebagai hambanya mengikuti apa saja yang Beliau kehendaki. Sebab kita juga tidak tahu ridho Allah itu seperti apa, apakah kalau kita bahagia …. ayem tentrem itu berarti Allah ridho kepada kita? atau apakah  kalau kita hidup kekurangan rizki, sibuk dengan kerjaan duniawi itu berarti Allah tidak ridho dengan kita? saya kira kita tidak tahu bagaimana Allah ridho kepada kita atau tidak. Sebab yang tahu Allah ridho kepada kita atau tidak ridho kepada kita itu hanya Allah Sendiri.

untuk itu kita sebagai hamba menjalankan apa yang diperintahkan Allah, urusan kita ya kita jalankan dan Allah adalah Dzat yang maha kuasa dan berkehendak.