Belajar DN di padepokan patrap bersama P Teddy Berau Kaltim

Pak Teddy ternnyata sudah lama menjalankan DN   (dzikir nafas), dari beberapa perguruan yang pernah beliau ikuti baik ketika beliau masih kuliah di Kal Sel (banjarmasin UnLam) kemudian juga beliau pernah berguru ke surabaya (kampus wong alus) dan beberapa tempat lainnnya, bahkan DN ini juga pernah diperolehnya dari Kakeknya, sebelum kakek meninggal beliau sempat diberikan pesan untuk berdzikir terus, jangan pernah berhenti, dan kakek menyarankan untuk menggunakan nafas.

Beliau kenal Dengan DN melalui Mbah Google ketika itu beliau mengtikkan key wordnya “Huu Allah” kemudian bertemulah dengan youtube dan web solospiritislam, dari sinilah beliau kemudian belajar melalui buku dan ebook dzikir nafas dan patrap. dari membaca ini kemudian Beliau berkeinginan kuat untuk bisa bertemua saya, karena katanya kalau tidak di”gurukan” rasanya kurang afdhol… maka jauh jauh beliau dar berau kaltim ke solo untuk menggurukan ilmu dzikir nafas ini

saya menyampaikan materi tentang dzikir nafas di sela sela saya bekerja, sepulang kerja , sore dan malam hari diskusi dan berlatih DN. kebetulan di samping rumah ada penginapan yang murah… cukup 50 ribu rupiah perhari… sebenarnya saya ada tempat khusus tamu yaitu di lantai 2 tapi beliau kayaknya lebih nyaman tinggal di penginapan tersebut. Beliau juga senang dan heran cukup 5 rupiah sudah makan dan minum sekenyangnya… kebetulan disekitar padepokan ada beberapa warung makan yang menyediakan makanan ala desa. Saya sebenernya tidak enak sebagai tuan rumah tidak menyediakan ….. ya karena saya sendiri juga bekerja dan istri bekerja sehingga tidak ada yang masak di rumah. yang bisa saya lakukan mengajak beliau makan diluar (kuliner) kalau pas saya di rumah.

 

ridloi Anak agar Allah ridlo kepada Anak

Orang tua memegang peranan penting dalam hal parenting. Orang tua yang tidak meridloi anak menyebabkan Allah tidak meridloi anak. tentunya hal ini sangat berbahaya bagi anak jika Allah sudah tidak ridlo pada anak. Anak yang tidak diridloi Allah pasti hidupnya akan sengsara dunia akhirat, naudzubillah.

Dalam cerita dongeng …. dan cerita yang sungguhan bahkan dalam kehidupan kita, kita bisa mengambil pelajaran bagaimana jika anak tidak diridloi orang tua maka hidupnya tidak akan pernah bahagia. Seperti pada jaman Rasulullah dimana ada yang kesulitan dalam sakaratul maut, kemudian hendak di bakar rasulullah karena orang tua tidak mau meridloi anaknya, yang akhirnya orang tua meridhoi dan akhirnya orang tersebut dapat meninggal.

maka orang tua seharusnya, apapun keadaan anak, tetap meridloi anak. anak baik orang tua harus ridlo anak tidak baiik pun juga ridlo. jadi tidak ada masalah baik atau tidak baik, tidak pernah rasulullah mengajarkan kepada kita … misalnya kalau anak baik kita ridloi kalau anak tidak baik tidak kita ridloi.

kalau misalnya orang tua tidak meridloi kira kira orang tua mau apa? mau membenci, mau mengumpat, mau mengkutuk, mau menyumpah serapah? tentunya tidak. Kalaupun anak berbuat tidak baik dan orang tidak setuju atau orang tua marah itu ok ok saja tidak dengan tidak ridlo. Boleh marah tapi tetap menjaga keridloan anak.

sangat berbahaya sekali jika misalnya orang tua marah sambil tidak ridlo, atau orang tua diam tapi tidak meridloi anak. secara spiritual anak sudah kacau dengan tidak ridlonya orang tua. Dalam tulisan ini saya tidak meminta orang tua untuk menuntut anak berbakti kepada orang tua agar orang tua ridlo…… sering terjadi anak sudah berbakti orang tua masih juga tidak ridlo. maka saya menekankan bahwa orang tualah yang seharusnya ridlo.

baiklah sebagai penutup saya petikkan sebuat hadis Rasulullah : ridhonya Allah tergantung ridhonya orang tua. fidhoAllah fii ridho walidain

kekerasan anak sd

akhir akhir ini anda telah dan mungkin akan disuguhi beberapa tindak kekerasan yang dilakukan anak. bagaimana anak SD memukuli kawannya hingga kesakitan. mungkin kita juga bingung sebenarnya ini main main atau sungguhan. kadang kita juga susah membedakan anak yang bermain dan sungguhan. antara main dan niat jahat si anak. pada kejadian seperti ini banyak yang saling tuding, pihak sekolah menuding lingkungan keluarga, ornga tua menuding sekolah, dan masyarkat menuding media sosial.. bahkan psikolog pun ketika diminta pendapat juga tuding sana tuding sini… (untungnya saya tidak diwawancarai he he )
saya tidak akan melihat siapa yang salah, pada kasus ini kemudian yang benar siapa? dari pada kita mencari kesalahan mari kita mencari kebenaran dari perllaku ini. saya akan melihat dari sisi kebenaran dari munculnya kekerasan tersebut. Jika anak melakukan perbuatan kekerasan pada kawannya maka itu adalah benar karena di rumah dikondisikan seperti itu. bagaimana perilaku orang tua memberikan modelling yang sesuai dengan apa yang dilakukan anak disekolah. Pembiaran orang tua dalam pergaulan anak sehingga anak dengan bebas memodel siapapun di lingkungannya. permainan permainan dan tontonan kekerasan yang di lakukan anak memiliki peran yang tidak sedikit. kalau dia benar benar melakukan kekerasan itu buah akumulasi dari apa yang dilakukannya dalam permainan permainan. seolah jika dia bisa memukul dia bisa berperan seperti apa yang sudah ditontonnya dan anggapan bahwa dirinya hebat dirinya pahlawan dan dirinya pemberani akan disandangnya sama pada tontonan film dimana sang pahlawan yang memukuli musuh hingga baba belur disanjung dan di puja. Tentunya anak tidk mampu berpikir lebih panjang kalau perbuatannya itu adalah perbuatan yang justru membuatnya di kutuk habis habisan oleh lingkungannya bukan mendapatkan sanjungan dan pujian.
pihak sekolah meski bukan agen perubah dari akhlak anak tentunya tidak bisa disalahkan. Sekolah ibarat tempat menghafal pelajara , tempat manambah ilmu, tempat guru menyelesaikan berbagai kurikulum tentunya tidak bisa disalahkan. karena tidak ada perjanjian yang pasti apakah setelah selesai sekolah ada jaminan perubahan akhlak, tentu tidak. namun yang perlu disesalkan adalah tingkat keamanan di sekolah bagi anak. ironi kalau sekollah itu sudah tidak menjamin perubahan akhlak dan juga tidak menjamin keselamatan anak. Tentunya ini menjadi perhatian sekolah dimana sekolah harus bertanggungjawab penuh terhadap keselamatan anak. kasus bullying, kasus anak ngompas yang lain, kasus pengeroyokan seharusnya tidak terjadi di sekolah dan harusnya sekolah menindaktegas hal hal yang dapat mengganggu keselamatan siswa yang lain.
solusi masalah ini memang tidak mudah … tidak semudah para psikolog katakan… kita harus memulai dari riset awal dari pelaku kekerasan pada anak… baik dari keluargam, sekolah dan lingkungan dimana dia tinggal.
riset ini tentunya akan menjadi perhatian dari orang tua, sekolah dan terutama pemerintah. ada perubahan sistem pendidikan di tingkat keluarga, sekolah dan lingkungan.
saya yakin pelaku kekerasan memiliki karateristik yang sama baik ditingkat sekolah, keluarga dan lingkungan.
masyarakat saat ini dan keluarga juga perlu memperhatikan aspek pendidikan akhlak kepada anak, bukan materi atau teori pendidikan namun lebih pada pengkondisian anak. anak yang terkondisi dengan baik maka dia akan melakukan hal hal yang baik, jika anak dikonsisikan dengan hal hal yang tidak baik maka dia berpotensi melakukan hal hal yang tidak baik.
model pendidikan berbasis “pengkondisian” ini sudah saya susun dalam bentuk pendidikan spiritual parenting. Dalam pendidikan berbasis pengkondisian spiritual ini akan menjadikan anak selalu sadar dan mampu berperilaku positif. Referensi anak akan selalu menuntun akan untuk berperilaku dengan benar dan baik. meski kadang anak melihat film kekerasan namun karena sudah tertanam “spiritual” dalam dirinya tidak akan terpengaruh oleh tontonan kekerasan tersebut.

teknik : selaras-perintah untuk meminta anak melakukan sesuatu tanpa penolakan

Teknik menyelaraskan dengan anak ini ternyata menjadi senjata ampuh agar anak mau mengikuti apa yang dikehendaki orang tua. Seringkali dalam komunikasi orang tua kepada anak, belum terjadi keselarasan antara keduanya , orang tua sudah main perintah. Misalnya anak menggambar di tembok .. saat anak asyik menggambar orang tua langsung melarang.. ayo adik jangan menggambar di tembok… Perintah tanpa penyelarasan ini akan mengakibatkan penolakan perintah oleh anak. Penyelarasan orang tua dapat dilakukan misalnya dengan memberikan apresiasi terlebih dulu kepada anak… wah gambar apa itu, bagus ya.. bisa diceritakan ke mama…. (baru kemudian perintah) .. eh mama juga punya buku gambar bagus.. yuk gambar sama mama …. . Dengan selaras-perintah ini maka anak dengan suka rela mengikuti apa yang di kehendaki orang tua.

Sebagai orang tua sebaiknya menghindari konflik apapun dengan anak, karena konflik ini dapat merusah hubungan jiwa antara orang tua dan anak. Semakin sering orang tua konflik maka potensi terjadinya “lost contact” dengan anak akan semakin besar, dan jika sudah terjadi adanya lost contact ini maka perintah perintah orang tua kepada anak akan sulit dilakukan bahkan anak akan cendering melawan. Teknik menyelaraskan dengan anak teknik yang sederhana namun efektif untuk memberikan suatu perintah kepada anak. Teknik ini menggunakan prinsip “awake hipnosis” hipnosis sadar, atau juga “ilmu gendam” prinsipnya …selaras… selaras.. selaras… perintah.

Proses pengasuhan berlangsung secara terus menerus, maka teknik ini tidak boleh dihentikan, misalnya anak sudah besar atau sudah menikah…. tidak teknik penyelarasan antara orang tua dan anak ini harus terus di lakukan. Menyeleraskan antara anak kecil dengan anak yang besar prinsipnya sama , bahasanya yang berbeda. Anak yang sudah besar kita dapat melakukannya dengan misalnya menghargai hobi positifnya, kreasi atau bakat anak. Pastinya jika anak mendapatkan dukungan dari orang tua maka anak akan senang, nah ketika senang itulah saatnya anak diperintah. Misalnya “… kalau belajar musik jangan setengah setengah ya (pasti anak senang karena hobinya didukung orang tua)….. dan ingat kalau adzan sholat dulu (ini merupakan perintah setelah sebelumnya memberikan dukungan kepada anak)”.

patrap gerak rasa untuk spiritual parenting

patrap gerak ada tiga yaitu patrap gerak, patrap gerak rasa dan patrap diam (lebih jelasnya silahkan baca buku “rahasia belajar patrap). Patrap gerak rasa ini semacam gerak halus hasil dari sambung ke Allah. Geraknya mengalir lembut dan menyeluruh dari kepala hingga kaki.

ternyata latihan patrap gerak rasa ini dapat kita gunakan untuk spiritual parenting terutama metode “silaturahmi”. Silaturahmi adalah metode “menyelaraskan dengan anak” bahasa NLP nya disebut dengan Pacing.

Patrap gerak rasa tidak akan berbenturan atau adu kekuatan tapi menggunakan kekuatan lawan untuk menundukkannya. sama dengan ketika kita mengasuh anak kita yang kadang sering terjadi pertentangan, dengan patrap gerak rasa ini kita akan dapat kekuatan untuk selaras dengan anak yang kemudian kita menggunakan energi anak ini untuk patuh dengan kita.

bagi pembaca yang belum praktek patrap gerak rasa mungkin agak bingung dengan apa yang saya tulis ini, karena memang latihan gerak rasa adalah latihan khusus pelajaran patrap, yang sudah saya ajarkan lagi secara bebas. Tapi insya Allah dalam sesi training akan saya berikan sekedar untuk menjadi cara bagaimana menyelaraskan kita dengan anak.

bagi yang berminat dan ingin mempraktekan sendiri bisa mendapatkan ebooknya disini :  0815677 22299

Bagaimana agar anda dapat mendengar nafas anda berdzikir Huu Allah

jika tidak percaya silahkan praktekan apa yang saya sampaikan di link youtueb ini…

selamat mencoba