wejangan Bp Haji Slamet Utomo kepada Pak Djoko

Djoko Santoso : Cuma ikut koment aja… Suatu kami Patrap di Gunung Mas Bogor, Saat itu para siswa sedang konsentrasi Patrap, yakni menyambungkan jiwa ini (Ruhani) kepada Zat-Nya, tanpa sy ketahui Bpk. Pembimbing Spiritual, Bpk.Haji Slamet Utomo, berbisik ketelinga kanan sy, # Hendaknya masuk dan keluar nafasmu berbunyi Hu… Allah, Langgengkan, dimanapun, dan disaat apapun, Insya Allah, Gusti Allah akan membimbing jiwamu #

Pak Djoko terimakasih Komennya, Benar sekali apa yang Baliau Pak Haji sampaikan, bahwa keluar masuknya nafas berdzikir sendiri Huu Allah.

Jika kita mencapai level 4 maka secara otomatis kita akan mendengar nafas kita berdzikir Huu Allah. Apa yang disampaikan pak Haji sungguh amat benar, Beliau menyampaikan dari pengalaman beliau bukan dari  sesuatu di luar pengalaman beliau.

al fatihah untuk Bp Haji Slamet Utomo.

bagiamana membaca pikiran dan perasaan orang lain

Antara pikiran, perasaan dan gerak tubuh, semuanya saling berkaitan. pikiran A perasaan A dan gerak tubuh A juga, tentunya ini terjadi secara bawah sadar dan alamiah, jika dibuat buat kita akan kesulitan. Jadi cara ini hanya efektif ketika semua tidak disadari Misalnya dalam sesi jual beli, sesi konseling atau lainnya.

nah bagaimana untuk bisa memahami, caranya susah susah gampang, anda harus bisa masuk kedalam alam pikiran dan perasaan melalui gerak gerak lawan bicara. semakin anda bisa masuk ke dalam alam pikiran dan perasaan secara lebih dalam dengan pintu gerak tubkuhnya maka anda akan semakin bisa melihat lebih jauh apa yang dia pikirkan dan rasakan.

atau dengan begini, kita menirukan gerak tubuhnya sampai kita bisa masuk ke dalam alam perasaan dan pikirannya. Ciri keberhasllan dalam melakukan cara ini adalah anda bisa memprediksi apa  yang dipikirkan dan dirasakannya.

baik selamat mencoba

group islamic spiritual parenting di facebook

saya mengelola satu group lagi khusus bagi yang tertarik dengan dunia parenting lebih khususnya sudut pandang islam. bagi sahabat semua terutama Ibu Ibu yang tertarik dalam dunia pendidikan anak silahkan untuk “gabung ke group”. di group tersebut ada beberapa penulis, guru, ibu rumah tangga dan ada tokoh pendidik nasional juga.

baik saya tunggu selamat bergabung.

Menyoal kebenaran cerita syech siti jenar

syech siti jenar begitu legendaris, terutama dikalangan para sufi  dan kaum tarekat… Beliau bisa disejajarkan dengan al hallaj kalau di timur tengah. Tapi sayangnya dari berbagai cerita yang ada tentang beliau tidak ada yang sama , ada yang ini dan ada yang itu, sangat tergantung sekali background yang menceritakan. Kalau orang kejawen (setengan islam setengah jawa) maka syech siti jenar ini dipakai untuk melegitimasi kebenaran ajaran manunggaling kawulo gusti, sampai pada akhir cerita Beliau dibunuh oleh penguasa yang syar’i yang tidak suka dengan ajaran beliau. Bagi kaum salafi tokoh syehc siti jenar diceritakan sebagai tokoh penyebar kesesatan sehingga layak di hukum pancung. Nah bagi penganut sufi sendiri tokoh ini di diidentikkan dengan tokoh al hallaj yang meninggal gara gara tidak disukai oleh lawan politiknya. dengan kesimpang siuran ini pantas kalau kita pertanyakan berabagai cerita terkait dengan tokoh yang satu ini.

dalam film wali songo yang di rilis puluhan tahun yang lalu, digambarkan betapa Beliau ini sakti karena bisa berubah cacing dan bisa masuk kedalam tanah. benarkah bisa berubah menjadi cacing dan manusia bisa masuk kedalam tanah? sangat tidak masuk akal…. jelas itu cerita yang dibuat buat tanpa pertimbangan fitrah sebagai manusia.

baik saya kira masih banyak lagi cerita cerita seputar syehc siti jenar, dan kita harus kritis terhadap kebenaran cerita tersebut, jangan sampai cerita tersebut membawa kita kepada pamahaman yang salah.

bukan manunggaling kawulo gusti

ada dua versi dalam mengartikan manunggaling kawulo gusti

  1. mengartikan bahwa manunggaling itu diibaratkan seperti bercampurnya antara kopi dan gula dimana sudah tidak bisa dibedakan lagi mana gula dan mana kopinya 
  2. ada juga yang mengartikan bahwa manunggaling kawulo gusti itu diibaratkan seperti garam yang di masukkan ke dalam lautan dimana garam sudah masuk ke lautan dan bersatu di lautan

Kedua pengertian tersebut tidak sama dengan kajian hakikat makrifat dalam islam. Sebab baik pengertian pertama dan kedua masih menggunakan ego, artinya masih mengandung makna bersatu atau manunggal. Yang pertama jelas sekali manunggalnya antara gula dan kopi yang kedua jelas sekali manunggalnya garam dengan air laut.

Di dalam kajian hakikat makrifat dalam islam tidak ada istilah bersatu, sebab konsep islam adalah berserah, ketika berserah total maka tidak ada lagi yang namanya aku yang ada adalah Aku. tidak ada lagi yang namanya ego tapi yang ada adalah diri.

Dalam islam sangat kuat sekali dalam peniadaan ego ini bahkan setiap amal ibadah mengharus kita untuk meniadakan ego (ananiah). Jadi pengertian manunggaling kawulo gusti hanya pas untuk sistem kepercayaan lain dan bukan islam. Islam jelas laa ilaha ilallah, artinya hanya Allah saja, tidak ada kita tidak ada aku dan tidak ada kami yang lebur.

pengertian ini untuk meluruskan pemahaman kita bahwa kaum sufi dan tasawuf tidak mengenal istilah manunggaling kawulo gusti, istilah ini jika dihembuskan oleh orang orang yang anti pati tasawuf yang selalu menuduh bahwa aliran tasawuf adalah sesat.

Pelatihan Spiritual Parenting Jakarta 11 dan 12 Okt 2014

detil acara ada di brosur terlampir

Pelatihan “Islamic Spiritual Parenting”
Oleh: Setiyo Purwanto, S.Psi., M.Si.**

Sekapur Sirih
Mendidik atau mengasuh anak adalah tugas orang tua. Orang tua adalah subyek utama dan terpenting dalam membesarkan buah hati sejak usia dini hingga si anak menjadi dewasa. Namun permasalahan tentang mengasuh atau mendidik anak justru bersumber dari orang tua.
Tak sedikit orang tua yang sebenarnya ‘tidak siap’ atau ‘tanpa bekal sama sekali’ (well-unpreparred parent) untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Orang tua memasuki gerbang rumah tangga tanpa bekal yang cukup. Dunia pengasuhan tiba-tiba harus menjadi menu sehari-hari begitu si buah hati lahir. Tak jarang, pengasuhan kepada anak dijalankan nyaris tanpa ilmu dan tanpa konsep yang memadai.
Memang ada beragam model pengasuhan yang bisa diterapkan oleh pihak orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Namun, tak jarang keluhan masih terdengar. Orang tua dilanda amarah, kejenuhan, tekanan, bahkan frustrasi menghadapi pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal sejenis ini bisa terjadi karena orang tua memang benar-benar buta terhadap ’pola pengasuhan’ dalam mengasuh atau tidak tahu ’peta jalan’ selaku orang tua agar benar-benar bisa menjadi orang tua (becoming parent). Orang tua gagal menjadi orang tua hanya karena alasan sepele, karena tidak terampil mengasuh (to parent) kepada anak-anaknya.
Model-model pengasuhan yang konvensional sebenarnya sudah cukup bagus bila mampu dikuasai oleh orang tua dan diterapkan dalam mengasuh anak-anaknya. Namun, yang terjadi adalah pola pengasuhan konvensional pun tidak berjalan maksimal. Energi orang tua habis untuk banyak urusan, sementara pengasuhan dijalankan apa adanya kalau tidak justru ’tanpa juntrungan yang pasti’ dan tanpa panduan yang memadai. Pola asuh palsu sejenis ini sebenarnya hanya ’menelantarkan’meski bisa saja berwujud memanjakan anak. Ujung-ujungnya pun berakhir buruk. Anak menjadi nakal, miskin prestasi, atau memberontak. Pengasuhan konvensional pun dipandang tak memberikan hasil yang baik.
Karena itu pendekatan dengan nilai-nilai spiritual dalam mengasuh anak perlu lebih ditekankan. Dalam mengasuh anak cara konvensional akan semakin baik bila dimasukkan unsur spiritual. Nilai-nilai spiritual akan memberikan warna baru dalam melakukan pengasuhan kepada anak. Islam yang kaya dengan ajaran-ajaran moral dan adab sebenarnya sangat mendukung pola asuh kepada anak yang jauh lebih baik.
Dalam pola asuh Islam, dimensi spiritual pasti tidak bisa ditinggalkan. Nilai-nilai spiritual dalam Islam sangat tepat untuk diterapkan dalam mengasuh anak. Anak harus dikenalkan dengan pengalaman beragama dan bukan konsep agama saja. Demikian pula terhadap konsep Tuhan, anak juga harus diajak untuk tak sekadar mengenal, namun merasakan Tuhan. Itulah inti dari pengasuhan atau parenting dalam Islam. Anak menjadi ’sadar Tuhan’ sejak usia dini yang akan menjadi bekal penting dalam menjalani hidupnya.
Apa yang terjadi pada pendidikan dan pengasuhan selama ini justru jarang yang melihat peran serta Tuhan. Tuhan diabaikan keberadaan dan fungsinya. Tuhan hanya dianggap sebagai tempat menyembah saja dan yang tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam kehidupan pendidikan anak. Apa yang terjadi adalah pendidikan yang sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dimensi spiritual.
Tuhan seolah dipandang tak memiliki sumbangsih dan peranan dalam proses pendidikan dan kehidupan, baik bagi orang tua maupun anak. Akhirnya, potensi spiritual yang dimiliki anak pun ‘teraborsi’ atau bahkan mati. Anak-anak tumbuh jauh dari nilai spiritual dan berkembang dengan nilai-nilai material semata.
Untuk itulah, model pengasuhan spiritual dalam Islam adalah kunci terbaik untuk orang tua ketika mengasuh anaknya. Dengan pengasuhan berbasis pada nilai-nilai spiritual Islam, anak akan tumbuh sehat, ceria, salih, dan spiritual. Dimensi spiritual anak pun akan hidup dan memiliki kontribusi terhadap proses perkembangannya dalam hidupnya. Dengan cara inilah akan sangat mudah bagi orang tua untuk mencetak anak yang berbudi baik, bermoral, berkarakter, dan sekaligus berprestasi.
Dalam pelatihan “Islamic Spiritual Parenting” orang tua akan dilatih untuk mempertajam daya ruhaninya (spiritual power) sehingga bisa digunakan dalam mendidik anak-anaknya. Orang tua akan dilatih untuk terampil dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak yang mampu menimbulkan suatu kekuatan spiritual. Cara-cara inilah yang sesungguhnya telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam mengajarkan dan mendidik kepada anak-anak. Dan karena itu pula, model parenting dalam Islam sangat lekat dengan pola asuh kenabian atau konsep “Prophetic Parenting”. Nilai-nilai spiritual dalam pendidikan ala Nabi inilah yang kini absen dilakukan oleh orang tua muslim dalam mengasuh anak-anaknya.
Dalam pelatihan ini, orang tua harus terlebih dahulu mengerti tentang nilai-nilai spiritual, sehingga akan menjadi sosok seorang ‘Spiritual Parent’ atau “Orang tua Ruhaniah” bagi anak-anaknya. Orang tua yang peduli nilai spiritual akan lebih mudah pula dalam menanamkan nilai-nilai kepada anak-anaknya. Orang tua harus terlebih dahulu piawai dan terampil dalam berkomunikasi dengan Tuhan untuk kemudian mampu menyertakan Tuhan dalam proses pendidikan anak. Dengan cara ini, peran Tuhan dalam pendidikan anak akan memberikan kekuatan, warna, dan nuansa tersendiri dalam proses pendidikan.
Materi yang akan dilatihkan kepada orang tua dalam pelatihan ”Islamic Spiritual Parenting” ini adalah:
1. Peran Spiritual dalam Proses Pendidikan Anak

Tujuan dari materi ini adalah orang tua memahami hakikat keberadaan dan perbuatan Allah dalam proses tumbuh kembang kehidupan seorang anak dan memiliki keyakinan yang kuat akan keterlibatan dan peranan Allah dengan segala Shifat dan Af’al-Nya dalam kehidupan, terutama dalam proses pengasuhan anak.

2. Berkomunikasi kepada Allah
Tujuan dari materi ini adalah orang tua diajak untuk mampu dalam pengalaman riil untuk berkomunikasi dengan Allah dalam bentuk amalan ibadah formal (semisal shalat atau sedekah) maupun yang tidak formal (seperti Dzikir Nafas). Allah bisa disadari dengan sifat-Nya yang Al-Wujud (Maha Ada atau Maha Nyata). Dalam tahap selanjutnya pengalaman ini bisa dipakai pola asuh kepada anak secara riil.

3. Tips Mendidik Anak dengan Islamic Spiritual Parenting
Tujuan dari materi ini adalah penyampaian tips-tips praktis dalam kehidupan sehari-hari terkait bentuk-bentuk pengasuhan anak yang didasarkan pada konsep pengasuhan anak yang berdasarkan pada nilai-nilai spiritual dalam Islam.

4. Diskusi
Dalam sesi ini, peserta bisamengajukan pertanyaan atau berkonsultasi terkait dengan kasus-kasus pendidikan atau pengasuhan anak yang relevan untuk diberikan solusi dan saling tukar pandangan dan pengalalam antara peserta dan pelatih.

** Dosen Psikologi Islam dan Psikoterapi Islam di Fakultas Psikologi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),Solo dan Trainer Shalat Khusyuk.

Allah itu ada ; cara praktis membuka hijab

jika Hambaku bertanya kepada Ku maka katakan bahwa Aku ini dekat. Satu penggalam ayat yang menyadarkan kita  bahwa Allah begitu dekat dengan kita, pernyataan Allah ini menunjukkan kepada kita dimana Beliau berada, ternyata beliau berada sangat dekat dengan kita. sekarang mari kita buka diri kita dengan menyadari bahwa Allah memang benar benar dekat. Satu kesadaran yang dapat membuka hijab tentang aku dan Allah. Kalau kita merasa  jauh dengan Allah berarti kita masih menutup diri bahwa Allah itu dekat. Kenapa kita masih juga mengatakan demikian bahwa kita jauh dengan Allah padahal Allah sudah jelas jelas menyatakan dalam firmannya Bahwa Allah dekat dengan kita, bahkan di ayat lain di tambahkan bahwa Beliau sangat dekat lebih dekat dengna urat leher kita.

Pernyataan Allah dalam FirmanNya tersebut menjelaskan atau menyiratkan bahwa Allah itu ada. Allah ada didekat kita.kalau sudah ada maka kita seharusnya sadar benar bahwa Allah memang ada dan sangat dekat. Pada keadaan inilah jika kita menyebut nama Allah maka hati kita bergetar.

menyadari bahwa Allah itu ada merupakan dasar dalam bermakrifat, kesadaran ini merupakan tingkatan awal kita bermakrifat kepada Allah. nantinya dengan dasar ini Allah akan menjelaskan Dirinya tentang Dirinya. jadi Makrifat selanjutnya Allah sendiri yang akan menjelaskan Jika kita selalu sadar Allah ini maka ilmu makrifat kita akan semakin bertambah dan bertambah. Dan hijab semakin lama akan semakin terbuka.