Biar hajinya tambah Nyus….

semua ibadah pasti ada hakikatnya, maka dalam ibadah haji agar tambah mak nyus pelajari hakikatnya. Hakikat ibadah itu adalah sebuah makna kenapa Allah memerintah ibadah haji dari mulai ihram sampai tahalul. pasti rangkaian itu semu ada maknya. Rugi dan sangat rugi jika anda tidak mengenal hakikat dari suatu ibadah. apalagi haji yang biaya nya tidak sedikit. biaya haji yang tidak sedikit ini tentunya harus menjadikan motivasi tersendiri bagi anda untuk mencari hakikatnya.

selamat mencari hakikat……

Haji bukan piknic

ada gelora tersendiri ketika akan berangkat haji, sebuah gelora karena belum pernah datang ke tanah suci, ketika di sana terpakau dengan keindahan masjidil haram dan masjid nabawi , setiap hari kegiatannya menikmati keindahan kedua tempat tersebut. pulang haji yang diceritakan adalah cerita indah tanah suci.

Haji bukanlah Piknic, karena haji adalah suatu perbuatan yang diperuntukkan kepada Allah, bukan untuk kesenangan. meluruskan niat sebelum berangkat sangat penting. Ketika meninggalkan keluarga niatkan untuk meninggalkan dunia dan seisinya, tinggalkan pekerjaan tinggalkan keluarga. datangilah panggilan Allah itu artinya anda datang menghadap Allah dan melupakan Allah. Persis seperti anda berniat shalat anda meninggalkan semua yang anda miliki.

bagaimana ini dikatakan piknic kalau hajinya untuk Allah, pasti bukan piknic. kalau piknic masih ada harapan untuk pulang kembali tapi ini benar benar tidak ada niat untuk pulang kembali. secara kesadaran hadir di hadapan Allah sama saja hadir seterusnya dihadapan Allah tidak lagi kembali ke selain Allah. Haji mabrur memiliki ciri haji yang berhasil menghadap Allah selamatnya meski jasadnya pulang ke indonesia lagi.

 

Perbedaan nafas dengan nafs dan nafsu …surat al a’raf 205

dalam surat al arof 205

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

makna nafsika bukan lah nafas atau keluar masuknya udara dalam paru paru kita. jadi ini tidak dapat dijadikan dasar tentang dzikir  nafas. Makna nafs dalam ayat tersebut adalah nafs yang berarti diri bukan nafas. Jadi kita berdzikir kepada Allah menggunakan nafs kita. nafs ini berbeda dengan jasad. nafs adalah diri yang bersifat abstrak yang memiliki kehendak tapi kalau jasad yang nyata melaksanakan apa apa yang dikehendaki oleh nafs.

lain lagi nafsu seringkali nafsu dikaitkan dengan hawa nafsu jadi kita harus paham perbedaan ini. jangan di samakan atau jangan dijadikan satu sehingga pengertian menjadi rancu. jadi kalau nafas yaitu berkaitan dengan jasad keluar masuknya udara dalam paru paru , sedangkan nafs adalah diri yang bisa bisa berupa lawwamah muthmainah atau amarah, nah kalau nafsu merupakan bentuk keinginan atau bahasa psikologinya merupakan dorongan biologis atau id

nah ini merupakan pengertian umum yang dikenal di masyarakat untuk lebih jelasnya bisa ditanyakan kepada Ahli bahasa arab

Keadilan Allah tidak ada yang tahu

Apa yang ada pada Allah kita tidak tahu, kalau kita memujinya dengan ya rahman maka kita tidak tahu sebatas apa rahman nya Allah itu, kalau kita memujinya subhanallah maka kita tidak tahu sucinya Allah itu seperti apa sebesar apa atau setinggi apa. Demikian pula dengan maha adilnya Allah maka kita tidak tahu seberapa tingginya keadilan Allah itu, maka kita tidak bisa menebak nebak ketika terjadi ketidakadilan yang menurut kita pada Allah.

Banyak sekali yang menanyakan dan mempertanyakan bagaimana jika ada orang tidak mengenal islam sama sekali kemudian dia mati, apa dia masuk neraka ? pertanyaan ini mempertanyakan ketidakadilan Allah, sekarang bagaimana kita mau mempertanyakan keadilan Allah sedangkan kita saja tidak tahu seberapa tinggi keadilan Allah. Seperti halnya kita melihat seorang yang kaya raya tapi kita tidak tahu dimana kekayaannya, jumlahnya berapa ..kemudian kita melihat dia menggunakan becal lalu kita mempertanyakan “lah katanya kaya .. oh sebatas itu kekayaannya ..hanya naik becak …. ” itulah kira kira perumpamaan yang kita tujukan kepada Allah terhadap keadilannya.  Maka jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan bahwa bagaimana keadilan Allah ketika ada orang tidak mengenal islam sama sekali lalu meninggal.. ya kita tidak tahu bagaimana Allah memperlakukan dia. terserah Allah saja. Dengan jawaban seperti ini tentunya kita akan terhindar dari prasangka buruk kepada Allah yang memang kita sebenarnya tidak tahu.

untuk semua hal keadilan Allah berlaku, kita pun heran ketika ada wanita pelacur yang tidak sholat, tidak puasa dan tidak melakukan ibadah wajib lainnya tiba tiba masuk surga hanya gara gara memberi minum anjing… anda pasti akan bertanya “adilkah Allah” demikianlah Allah yang maha tahu atas segala yang terjadi pada manusia dan apapun Dia tahu mana yang ada nilai dan tidak ada nilai… banyak sekali contoh contoh hadis nabi yang kontradiktif dengan keadilan yang kita sangka. Misalnya hadis nabi, Tidurnya orang berilmu lebih baik dari 1000 rekaat shalatnya orang yang tidak berilmu. masak tidur pakai ilmu? masak 1000 rekaat tidak lebih dari tidur… padahal katanya sholat itu lebih dari baik tidur… maka dalam islam sesuatu yang kontradiktif yang disebabkan karena ketidaktahuan dan keterbatasan ilmu kita, sebaiknya kita terima saja dengan tetap menjaga sikap khusnudzan kepada Allah SWT.

semoga kita di jaga Allah dari sikap suudzan kepada Allah SWT.

perjalanan spiritual dzikir nafas

banyak yang mengeluhkan bahwa ketika dzikir nafas seringkali pikiran melayang kemana mana, solusimya adalah selama menjalankan dzikir nafas kita harus berjalan jangan berhenti, maka inilah yang saya maksud dengan perjalanan spiritual dzikir nafas dimana kita dzikir nafas ini benar benar menjadi orang salik yaiitu pejalan yang selalu mendekat kepada Allah. Ketika kita tidak berjalan menuju kepada Allah maka energi psikis kita akan berada pada pikiran dan pikiran pun akan mencari sesuatu yang bisa dipikirkan. Dengan terus berjalan menuju kepada Allah maka energi psikis kita akan tertuju pada kesadaran dan perjalanan.

jalankan dzikir nafas dengan sungguh sungguh karena kesungguhan ini akan menjadikan kita kuat berjalan menuju kepada Allah dan akan mencegah syetan masuk dalam alam kesadaran dan pikiran kita. jangan menggantungkan kepada yang lain anda harus bisa dengan anda sendiri sebab ini adalah wilayah kita, kesungguhan kita adalah wilayah kita sedangkan dibuka atau tidak itu wilayah Allah.

kita berjalan bersama istiqomah agar Allah membukakan jalan , semua harus kita awali dari perjalanan dengan perjalanan ini maka Allah akan membuka sedikit demi sedikit. jadi kuncinya adalah perjalanan. mari kita berjalan banyak debat jangan banyak mencela kalau kita belum mencapainya. biarkan orang mengalami pengalama spiritual dari perjalanannya jangan kita mecela bahwa itu halusinasi atau ilusi atau cap negatif lainnya, lebih baik kita fokus pada diri kita sendiri untuk berjalan menuju kepada Allah SWT.

selamat menempuh perjalanan semoga dibuka Hijab keTuhanan oleh Allah SWT. amin

faktor utama keberhasilan Dzikir Nafas

Dzikir nafas versi saya ini faktor keberhasilan utamanya ada pada anda sendiri. Semakin anda sungguh sungguh menjalankan dzikir nafas dan semakin ihlas anda mengamalkannya maka keberhasilan anda akan semakin besar. Keberhasilan anda sama sekali bukan karena saya sebagai penyampai dzikir nafasm, sama sekali tidak, karena saya sendiripun sedang belajar. Jadi setelah anda berniat belajar kemudian anda mempelajarinya ketika anda memulai praktek arahkan atau gantungkan diri anda kepada Allah SWT. Jangan lagi melihat manusia jangan lagi melihat siapapun atau apapun yang anda lihat ketika berlatih dzikir nafas hanya Allah dan Allah.

ini agak beda dengan guru guru dzikir lainnya yang bisa memberikan jaminan bahwa dengan talqin dzikirnya akan berjalan sendiri, kalau belajar dengan saya sangat beda, saya tidak memberikan jaminan pada anda, yang bisa memberikan jaminan keberhasilan adalah diri anda sendiri dan Allah SWT tentunya. saya hanya sebatas menyampaikan dan mengajarkan selanjutnya mari kita sama sama berjalan menuju kepada Allah SWT.

ikuti saja pelatihan pelatihan dan sharing sharing yang saya selenggarakan baik di WA atau di Facebook saya akan mengajarkan bagaimana ke Allah dengan benar. pelajaran ini sangat penting bagi yang belajar dzikir nafas kepada saya, bukan saya talqin atau saya baiat tapi saya ajarkan baik secara fisik maupun non fisiknya dimana hal ini bisa menjadi bekal anda untuk berjalan bersama menuju kepada Allah SWT.

Dikatakan berhasil dalam berdzikir nafas jika anda dalam keseharian sudah bisa berdzikir sambil apapun. sambil makan sambil mandi, sambil tidur … sehingga output dari berdzikir nafas ini sangat jelas anda akan merasa terang, tenang dan selalu memiliki jiwa yang positif.

Selama perjalanan anda menuju kepada Allah pastinya anda akan mengalami pengalaman pengalaman spiritual tidak perlu takut dan cemas biarkan saja, yang penting tidak mengalihkan kesadaran anda ke selain Allah SWT. Pengalaman spiritual ini bukan ukuran namun bisa menjadi suatu indikasi yang bisa anda lalui atau tidak anda lalui, yang anda alami atau tidak anda alami. jadi kalau anda mengalami alhamdulilah ambil pelajaranya jka anda tidak mengalaminya teruskan berlatih.

baik sekali lagi terus belajar dan berdoa kepada Allah SWT. bergantunglah kepada Allah jangan kepada mahluk, jangan bergantung kepada siapapun itu syehkah, mursyid kah atau siapapun. kecuali kalau anda belajar .. kalau sudah berjalan maka yang menjadi kesadaran anda tempat bersandar adalah hanya kepada Allah SWT.

 

bagaimana mungkin orang beriman tidak makrifat

Orang yang beriman tapi tidak makrifat sama saja dengan “mengaku beriman” dan pasti orang yang mengaku beriman ini akan mendapatkan ujian dari Allah dari sikap “mengaku”. Mengaku beriman berarti belum beriman, seperti halnya saya mengaku kaya berarti saya tidak kaya, mengaku pintar berarti tidak pintar. nah orang yang tidak beriman tapi tidak makrifat berarti baru mengaku beriman.

kalau orang yang beriman namun makrifat berarti dia sudah benar benar beriman. Artinya dia beriman dengan haqul yakin. seperti dalam syahadat bahwa kita menjadi saksi , yang namanya saksi pasti menyaksikan, pasti sudah menyaksikan. nah inilah beriman yang sebenarnya.