Articles from November 2008

membaca nasib bukan meramal

Untuk bisa membaca masa depan kita harus dapat membaca apa maunya Allah pada saat ini. Kepekaann kita pada saat ini merupakan modal dasar untuk bisa mengenal maunya allah pada saat yang akan datang. Kalau kita sudah bisa mengenal maunya allah maka sebenarnya kapan saja kita pun dapat mengenal maunya allah baik itu sekarang atau pun masa depan. Mengenal maunya allah bukanlah ramalan yang datang dari rekayasa pikiran atau sesuatu yang mengada ada, mengenal maunya allah sangat berbeda dengan ramalan ramalan pikiran berdasarkan perkiraan kiraan logika.
Sesuatu yang membedakan adalah, kalau digambarkan, mengenal maunya allah ibarat nya sebuah gelas yang kita kosongkan dan terisi sendiri, kalau ramalan gelas tidak dikosongkan malah isi gelas itu digunakan untuk bahan meramalkan, jadi ramalannya hanya sebatas apa yang ada dalam gelas tersebut, artinya ramalan yang muncul berdasarkan isi pikirannya.
Nah membaca masa depan yang saya maksud adalah menerima sinyal yang datang, untuk itu diperlukan perasaan yang tenang dan jiwa yang tenang pula. Allah itu bersifat kalam artinya allah akan berfirman secara terus menerus dan tidak pernah berhenti dari dulu sampai nanti, allah akan berbicara terus tergantung kepada kita bisa menangkap tidak apa yang disampaikan Allah kepada kita. Modal kita Cuma mendengarkan allah dengan sikap merendah dan jiwa yang tenang disamping tentunya silatun atau kesambungan yang kuat dengan allah, karena kesambungan ini menjadi penentu darimana datangnya sinyal. Kalau tidak nyambung ke allah ya sinyal yang datang bisa dari mana saja namun kalau sambung nya ke allah maka sinyal yang berisi informasi masa depan berasal dari allah.

kecerdasan spiritual bukan ESQ 165

ESQ 165 sebuah frasa dari mahakarya terbesar seorang anak bangsa … Bp Ary Ginanjar teringat sekali waktu itu beliau (sebelum terkenal seperti sekarang ) kami undang ke UMS fakultas PSikologi untuk memberikan kuliahnya mengenai ESQ way, luar biasa begitu menghentak dan semua peserta dibuat berdecak kagum.. kira kira tahun 2001 kala itu. setelah sekianmasa … ESQ sekarang sudah menjadi raksasa trainning leadership yang saya kira belum ada yang dapat menyamainya…

konsep kecerdasan spiritual yang diusung beliau sungguh membuka wawasan dan cakrawala beralihnya kecerdasan emosional maupn kecerdasan intelektual ke kecerdasan spiritual. orang orang setelah menyaksikan atau mengikuti trainning pasti berbondng bondong tertarik untuk belajar spiritual lebih lanjut yaitu pada suatu laku atau tindakan nyata kearah spiritual yang tidak sekedar tataran kognitif namun lebih jauh yaitu konatif dan tentunya aplikatif.

maka tulisan saya diatas menyebutkan bahwa kecerdasan spiritual bukan ESQ 165 mengandung arti bahwa untuk tindak lanjutnnya dari mengikuti trainning ESQ , saya berpendapat kalau orang hanya berhenti pada pelatihan ESQ tidak mengaplikasikan dalam setiap ibadah yang dijalankan pasti spiritualnya tidak akan meningkat.. iya… saya yakin sehabis mengikuti ESQ spiritual kita seperti terbakar api begitu membara namun saya yakin juga kalau tidak di olah lagi pasti apinya akan redup… untuk itu butuh suatu maintenance tertentu … dan maintenance itu tidak lain adalah dengan ibada ritual yang sehari hari kita lakukan. karena ibadah sehari hari yang kita lakukan inilah kita akan mengalami sebuah peningkatan kecerdasan spiritual .. dan inilah aslinya kecerdasan spiritual atau spiritual quotient.

tahu kenapa harus berdiri, rukuk, sujud dst

pernah kah kita berpikir kenapa harus sujud, rukuk dan lain sebagainya… pernahkah kita berpikir “apakah allah memerintah saya sujud tanpa ada alasan ? atau mesti memberi manfaat terhadap tubuh dan diri saya?”

kajian kemarin bersama ustad pak abu di rumah pak usman komarudin laweyan menjelaskan secara detil kenapa kita disuruh sujud sampai tumakninah, rukuk sampai tumakninah… dan seterusnya….

maaf kita  potong dulu pak ustad abu sangkan sudah telp untuk segera ngantar beliau ke jogja… malam jumatan di jogja…