Freedom from Self (2)

pembebeasan diri yang kedua adalah pembebasan diri dari emosi, setelah anda melakukan patrap atau silatun atau apalah namanya maka bertemu dengan keadaan pikiran… ketika kita bisa melewati keadaan pikiran maka kita akan memasuki alam perasaan. perasaan ini merupakan sensasi emosi seperti rindu, cinta bahagia, dan lain sebagainya. Emosi cinta, rindu  dan bahagia kadang bisa mengganggu perjalanan kita menuju ke Allah, untuk harus kita bebaskan diri kita dari emosi emsoi yang menghijab tersebut. memang pada awalnya cinta dan rindu kepada Allah bisa menjadi motivasi besar untuk tetap bersama Allah namun dalam tahap tertentu ketika kita menghadap Allah dengan sebenarnya kita harus bisa meninggalkan emosi emosi tersebut selanjutnya mengalami berTuhan tanpa dipengaruhi oleh emosi. kata ustad Abu sangkan kita harus bisa berada di atas rasa . dalam terminologi tasawuf wilayah ini disebut dengan baitul muqoddas jadi rumah yang berisi alam alam emosi dan perasaan

jadi kalau patrap ataupun silatun ataupun dzikir, capailah keadaan sampai benar benar kita berada diatas rasa kita.

cara melatih nya cukup sederhana, datangilah tempat tempat yang mengajarkan silatun syukur syukur bisa langsung menggunakan metode patrap. sehingga bisa langsung merasakan dan membedakan mana alam pikiran dan mana alam rasa .. untuk selanjutnya terus melanglang terbebas dari alam pikiran dan perasaan

Freedom from Self (1)

Sesi pertama pembebasan dari diri saya awali bagaimana kita membebaskan diri dari pikiran kita.  ketika perjalanan menuju ke Allah maka halangan pertama adalah membebaskan diri kita dari pikiran, misalnya bayangan, lintasan pikiran, pindah ke pikiran lain. nah perjuangan pertama untuk kembali kepada Allah adalah adanya ikatan dari pikiran kita yang menarik kita untuk mengikuti apa yang ada dalam pikiran kita. untuk itu kita harus tahu kalau sudah tahu maka tinggal kita perjuangkan bagaimana bisa lurus menghadap Allah.

pengalaman pertama untuk bisa datang ke Allah biasanya terbentur oleh berkacemuknya pikiran; yang ingat masalah lah, yang ingat hutang lah, yang ingat dosa lah, dan seterusnya. cara paling praktis adalah :

  1. Tidak menghiraukan semua pikiran (diabaikan)
  2. Meninggalkan semua pikiran untuk miraj ke Allah
  3. Tetap bersikap tenang

Saatnya Quran di Jalankan

Sudah bukan jamannya lagi quran di bahas terus menerus …kapan menjalankannya???? sudah banyakilmu tafsir, sudah banyak pengajian tafsir, sudah banyak software yang menawarkan terjemahan dan tafsir… untuk apa kita berdebat, mengkaji lagi dan mengkaji lagi…. sudah sekarang adalah saatnya quran di jalankan bukan di tafsirkan lagi. Ingat bahwa Quran bukanlah tulisan atau hasil karya cipta dari Seorang Nabi Muhammad, tapi Quran adalah wahyu, dan wahyu adalah perintah dari Allah dan perintah adalah untuk dijalankan bukan untuk diperdebatkan.

mereka yang sedang asyik mengotak atik quran dan membahasnya sampai lupa menjalankan sebenarnya sedang berada dalam “kesesatan” karena lupa akan tujuan utama Al Quran diturunkan. orang menjalankan Al Quran pasti paham dengan Al Quran tapi kalau cuma mengkaji belum tentu dia paham bahkan akan dibingungkan Allah dengan berbagai perdebatan. orang Barat saja tidak pernah mempelajari Quran tapi secara tidak sadar mereka menjalankan Quran bisa maju, bisa hebat, bisa menguasai …. itu mereka yang tidak pernah mempelajari. nah kita karena kelamaan mempelajari tidak menjalankan ya seperti ini islam selalu tertinggal. contoh Quran memperintahkan berfikirlah… amatilah…. telitilah… dan itu dilakukan oleh orang orang barat dengan berbagai riset nya dan benar mereka menguasai berbagai bidang ilmu dan teknologi, Ehh kita malah menghafal…. apa apa di hafal… sampai otak isinya hafalan bukan pengetahuan , dan terbukti kita jago menghafal tapi tetap saja tertinggal keilmuan kita, karena kita melanggar perintah Quran… mana ada perintah menghafal … perintahnya adalah telitilah, amatilah dan seterusnya.

Mari kita kejar ketertinggalan umat islam ini dengan langsung mengamalkan. dari pada ikut pengajian tafsir mendingan sedekah, mendingan membantu orang lain, mendingan bekerja dengan penuh kehlasan dan LL….

Meski hidup adalah permainan tapi jangan main main

hidup seperti bermain game, permainan tapi harus serius….(lanjut besuk pagi)

(sekarang sudah pagi),…..baik yang namanya game kita harus sadar betul bahwa itu adalah “bermain” tapi kita pun harus serius sebab jika kita tidak serius maka kita akan kalah dalam permainan, karena kita diperintahkan Allah untuk menang dalam permainan kehidupan ini, tapi ingat sekali lagi, jangan sampai kita tidak sadar kalau hidup ini hanya permainan.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

– QS. Al-Hadid (57) : 20

Jadi menurut aya diatas jelas bahwa anak kita , harta kita , usaha kita adalah sesuatu yang tidak hakiki, semuanya adalah menipu kita atinya itu semua adalah permainan, karena kesenangannya menipu.

oleh karena itu kita tidak perlu serius dalam hidup ini santai saja, relaks, dan tumakninah dalam menjalankan berbagai hal dalam kehidupan ini. untuk apa tergesa gesa untuk apa khawatir, untuk apa berpikir masa depan terlalu jauh… kita nanti akan tertipu. untuk apa membangga banggakan anak , harta dan usaha kita . permainan kok bangga… sesuatu yang ironi…..

Silaturahmi SC Nganjuk ke Padepokan Patrap

Patrapan kemarin malam kita belajar untuk mendapatkan keadaan sejati ketika berTuhankan Allah. kita belajar mulai dari

  1. Mematikan Jasad atau Tubuh
  2. Mengenal diri kita yang bukan jasad
  3. Meluncur menghadap Allah dengan diri yang bukan jasad
  4. Menembus Hijab
  5. meninggalkan tubuh hingga tubuh tertidur namun diri sejati pulang ke Allah
  6. Merasakan Alam KeTuhanan yang bukan berasal dari persepsi, dari pikiran ataupun dari perasaan

Latihan kali ini dihadiri juga jamaah Shalat Center Nganjuk Pak Ratman dan Rombongan, semoga silaturahmi ini tetap terjaga dan semakin memperkuat jaringan silaturahmi untuk bersama sama belajar kembali kepada Allah.

Berjalanlah Pulang (go home)

Ke Allah , artinya ke Allah, berarti kita berjalan,bergerak, maka istilahnya adalah salik (sang pejalan), jalannya di namakan dengan thoriqoh yang artinya jalan, kadang kadang orang yang mengadakan perjalanan pulang ke Allah dinamakan juga dengan musafir.

berjalan pulang ke Allah seperti kita taqorub, yaitu mendekat kepada Allah, taqorub itu bukan diam tapi melakukan sesuatu pendekatan bisa berjalan atau berlari menuju ke Allah.

JIka usia anda mendekati atau sudah melewati 40 tahun

Usia 40 tahun adalah usia kritis dimana pada usia inilah penentuan mau terus meninggalkan Allah atau kembali kepada Allah. namun bukan berarti jika sudah 50 tahun lalu tidak bisa bertaubat, bukan demikian, yang saya maksud jika pada usia 40 tahun ini kita akan lebih mudah untuk kembali kepada Allah, dimana pikiran kita hati kita dan fisik kita masih relatif kuat untuk berjuang kembali kepada Allah dengan ibadah dan memahami spiritualitas. kalau lebih dari usia 40 bisa juga, tapi akan membutuhkan perjuangan ekstra.
untuk itu saya mengingatkan diri saya sendiri dan kepada pembaca jika usia anda kurang lebih sudah 40 tahun maka mari kita bersiap siap untuk kembali kepada Allah agar ketika pada saatnya kita pulang ke Allah kita sudah jalan kemana kita akan pulang.
Rasulullah menerima wahyu juga pada usia 40 an artinya juga bahwa di usia 40 tahun inilah puncak puncaknya kematangan spiritual.
saya menawarkan sebuah cara untuk pulang ke Allah … salah satunya adalah mengikuti blog saya ini.. bukan promosi tapi memang tujuan dari blog ini adalah untuk mengajak kepada pembaca untuk menyadari dan melakukan kembali kepada Allah. saya pun saat ini juga belajar untuk terus kembali kepada Allah dan yang saya tuliskan dalam blog ini sebagian besar adalah perjalanan spiritualitas saya untuk kembali kepada ALlah.

menulis tidak tahu apa yang mau ditulis

bagaimana mungkin menuliskan sesuatu yang mencerahkan tapi kitanya yang nulis ini tidak tercerahkan. ya menulis dibutuhkan pencerahan agar dapat menulis dengan baik dan mencerahkan tentunya, dalam pikiran saya saat ini tidak ada yang mencerahkan saya bahkan saat ini ada perasaan yang tidak enak , jadi maaf kalau tulisan saya kali ini agak kurang bagus.
saya mencoba menulis ini selain dalam rangka jujur juga dalam rangka menunggu ilham dari Allah .. ehh siapa tahu Allah tiba tiba memberikan ilham atau pencerahan bagi saya saat menulis. kalau masalah menulis asal nulis saja sangat mudah seperti yang saya tulis saat ini. Tulisan ini merupakan bentuk pemaksaan saya untuk tetap bisa menulis. mungkin ada beberapa kesalahan saya sehingga tulisan saya kurang menarik dan kurang orisinil mungkin penyebabnya adalah saya terlalu mengharap tulisan saya digemari dan banyak dibaca orang lain, ternyata keinginan tersebut menghambat pikiran saya untuk berselancar bebas. sungguh .. niat yang tidak ihlas ini menyebabkan saya tidak kreatif. pada hal ust Abu sangkan sudah mengajarkan untuk ihlas dengan metode fana.
baiklah saya akan mencoba menulis dengan terlebih dahulu saya berada dalam keadaan zero.
eh… ternyata ndak muncul juga ilhamnya, ya sudah lah say a tunggu sambil menulis saja.
eh kok terbersit saya ingin menuliskan sesuatu…
teringat suatu waktu mas Irwan menceritakan tentang pengalamannya sholat di suatu masjid, setelah sholat dia kaget tiba ada seseorang yang membawa ember dan lap pel
kemudian mengepel tampat dimana mas Irwan sholat, saya pun berkomentar… ah mending sholat di tempat nya orang nasrani …. kita malah disediakan tempat… dari pada sholat di di masjid dimana kita dianggapnya najis kemudian di pel… malah dengan nasrani kita dihormati kalau sholat…
he he .. masih juga belum ada ide untuk nulis.. ya tak apa … mungkin cukup disini dulu nulis ngawurnya semoga manfaat …

Mengkloning Ust Abu Sangkan (1)

Beberapa trainer sholat khusyu (sejauh yang saya ketahui) memiliki kemiripan dalam gaya penyampaian, gaya bicara, gerak gerik, bahkan sampai pada logat  yang sama dengan Ust Abu Sangkan. Pernah juga saya mengikuti patrapan yang dipimpin oleh seorang patrapis .. sangat mirip sekali dengan Ust Abu sangkan baik materinya, gaya bicara nya dan cara membawa jamaah ke Allah… internalisasi sosok abu sangkan ketika menyampaikan sholat khusyu sangat diresapi oleh trainer yang bersangkutan sehingga menguasai bawah sadarnya hal inilah yang menyebabkan trainer sholat khusyu tersebut seperti “meng klon ning” ust Abu Sangkan. Ini memang cara yang palingmudah dan paling efektif namun akan memiliki kelemahan terutama jika tingkat pemahaman Ust Abu dan trainer tersebut berbeda. bisa jadi dalam menyampaikan gaya sama logat sama tapi tidak di pahami oleh audience. hal ini sangat mungkin terjadi karena transfer pemahaman lewat pemahaman bukan lewat gaya yang hampir mirip ust Abu Sangkan.

saran saya coba ambil daya nya kemudian sampaikan daya tersebut kepada Audience dengan bahasa dan gaya menurut style kita masing masing. sehingga nanti nya kita akan dituntut untuk paham dulu sebelum menyampaikan. dan jika kitabisa mengambil daya Abu Sangkan terhadap apa yang beliau Ajarkan kemudian disampaikan sesuai dengan style kita maka audience akan menerima daya tersebut. meski tentu saja daya tidak sebesar jika kita langsung dengan ust Abu Sangkan.

Bagaiamana mengambil daya dari ajaran ust abu sangkan?… ikuti tulisan saya berikutnya … insya Allah …