Articles from July 2011

Menjalankan ibadah ramadhan dengan berserah diri

ketika anda menjalankan ibadah ramadhan dengan penuh berserah diri maka anda akan menikmati semua amal ibadah tersebut. ketika anda menjalankan puasa maka semua yang anda alami ketika puasa dapat anda lalui dengan penuh keihlasan sehingga lapar dan haus bukan menjadi beban lagi atau tidak lagi menyiksa anda bahkan yang terjadi adalah sebailknya yaitu berubah menjadi kenikmatan.

ketika anda menjalankan shalat tarweh tidak akan anda menjalankannya dengan ketergesaan untuk mendapatkan 11 atau 23 rekaat, anda menjalankan dengan santai tenang dan muthmainah. dan anda akan meninggalkan semua kebanggaan bahwa anda telah selesai sekian rekaat, anda telah mengamalkan ini dan itu dalam ramadhan.

ketika anda tilawah quran atau tadarus  dngan menjalankannya dengan berserah diri kepada Allah maka anda tidak lagi membaca dengan kecepatan 100km/jam tapi anda akan membacanya dengan penuh kekhusyuan di tiap hurufnya di tiap makhroj nya, di tiap kata per kata, subhanallah .. bacaan anda akan menggetarkan hati anda dan orang-orang yang mendengarkan, tapi jika anda baca dengan kecepatan 100km/jam anda tidak mendapatkan getaran ditiap huruf yang keluar dan orang-orang berisik dengan cara membaca anda.

ketika anda menjalankan sedekah dengan penuh berserah diri kepada ALlah maka anda akan merasakan betapa kita tidak memiliki apa apa dan semua adalah milik Allah, hilang kesombongan ketika anda menjalankan ibadah sedekah.

ramadhan tinggal beberapa saat lagi maka mari kita belajar berserah diri kepada Allah sejak sekarang sehingga pada saatnya kita bisa benar benar menjalankan ibadah puasa dengan penuh kepasrahan diri kepada Allah.

materi ini saya sampaikan dan saya latihkan kepada jamaah sholat khusyu di masjid fatimah sebagai penutup menjelang ramadhan karena ramadhan halaqoh libur hingga tanggal 19 september 2011.

Khusyu is my life style

Gaya hidup adalah suatu pilihan, berbagai macam gaya hidup tersedia di panggung kehidupan ini. khusyu merupakan gaya hidup … karena khusyu bukan hanya miliki nya sholat saja, perbuatan lainnya pun bisa dijadikan khusyu. lihat dalam surat al baqarah 46 … sikap mengembalikan diri ini lah yang dimaksud dengan khusyu. segala sesuatu disikapi dengan sikap pengembalian. suatu kesadaran bahwa manusia hidup tidak memiliki apa apa.

sholat khusyu merupakan training saja bagi diri untuk menggembleng dan untuk sadar dalam mengembalikan diri. jika pelatihan ini berhasil membentuk jiwa yang pasrah maka seluruh hidupnya pun akan menjadi khusyu. berjalannya khusyu, bekerjanya khusyu, naik mobilnya khusyu bahkan marahnya pun khusyu.. yang demikian merupakan marah yang dirahmati.

Tidak semua butuh khusyu…

Memang kalau orang ditanya mau khusyu nggak? ya jelas mau… tapi untuk benar benar mau memang tidak mudah. pikiran sadarnya (conscious) berkata … mau.. tapi coba tanyakan pada pikiran bawah sadarnya (unconscious) belum tentu mau. bawah sadar yang terlanjur di cekoki dengan “khusyu itu sulit” menjadi kendala utama, bagaimana mungkin bawah sadarnya mau khusyu kalau sudah pikirannya terblokir oleh tembok “khusyu itu sulit”, bahkan tembok yang lebih tinggi lagi mengatakan bahwa “tidak mungkin kita bisa khusyu”, pikirannya menganggap kalau khusyu itu hanya milik para wali dan para nabi dan para ulama… lebih parah lagi paham ini di doktrin secara tidak proposianal + menyesatkan oleh para ustad yang belum bisa khusyu.. kalau ustad tadi bisa khusyu pasti akan mengajarkan dan akan memberikan harapan tentang kemudahan khusyu karena dia sendiri sudah merasakan betapa enak dan mudahnya khusyu itu (maaf nggih para ustad kalau agak kasar).

paradigma yang keliru tentang khusyu telah menjerumuskan umat islam untuk tidak butuh khusyu. bayangkan butuh saja tidak apalagi mau menggembleng untuk mendapatkannya.

sekarang yang terjadi adalah pemakluman pemakluman yang menyesatkan, seperti sholat cepet itu dimaklumi, sholat tidak khusyu itu dimaklumi justru yang tidak dimaklumi adalah kalau sholatnya khusyu… yang disangka ajaran sufi lah, yang disangka kembali ke syeh siti jenar lah.. parah lagi praktek sholat khusyu dikaitkan dengan hipnotisme (nanti insya allah akan saya bahas pada bab tersendiri).

TIDAK SEMUA BUTUH KHUSYU….sangat parah… bagaimana mungkin jika dipikir dengan logika wong dia menjalankan kok nggak butuh khusyu,,… usut punya usut ternyata terkait dengan golongan, aliran, syiah  sunni.. ,tasawuf, sufi…… wah ini parah lagi.

untuk para trainer yang akan mendakwahkan sholat khusyu ini sebelum mengajak orang untuk mengikuti halaqoh cobalah untuk memahami dulu tingkat kemauan dari orang tersebut yang akan kita ajak. kalau perlu di ajak diskusi dulu dan berikan semacam manfaat manfaat dari sholat khusyu.. jangan ngecap… tapi coba ceritakan pengalaman pribadi dulu saja. sebaiknya metode sholat nya di belakangkan

cobalah sebelum mengajak munculkan rasa butuh dulu baru setelah butuh ajaklah untuk di halaqoh.  jangan memaksa orang yang tidak mau..biarkan saja kita doakan mudah2an mendapatkan jalan lain untuk menuju khusyu.

Ibarat mobil yang ditinggal drivernya

Tubuh saya ibaratkan dengan mobil (kereta : bhs malaysia), mobil ini tentu memiliki sistem dalam dirinya, seperti sistem pendingin, sistem mesin, sistem pengapian dan lainya. semua sistem ternyata bisa berjalan dengan sendirinya asal kontak starter dinyalakan.

saya ingin menjelaskan tentang diri manusia yang terdiri dari 2 unsur pokok yaitu jasad dan Ruh,  jika kita sudah berniat itu artinya kita sudah menyalakan kontak starternya maka sebenarnya tubuh sudah punya sistem sendiri untuk bertindak. misalnya ketika kita sholat maka ketika kita menjalankan sholat , kita niat, maka sebenarnya tubuh sudah melakukan dengan sendirinya untuk melakukan sholat. sekarang bagaimana dengan Ruh, Ruh ibarat sopir atau penumpang, yang bisa saja meninggalkan mobil ketika dalam keadaan hidup. jadi ketika kita sholat kita dapat meninggalkan tubuh untuk menuju berserah diri kepada ALlah, dan tubuh itu akan melakukan sholat dengan sendirinya.

maka sebenarnya tugas kita ketika sholat hanya ada dua (al baqoroh ayat 46 yaitu bertemu dengan Allah dan kembali kepada Allah, itu saja. kalau tidak percaya silahkan dicoba, yaitu dengan menjalankan sholat dengan niat yang benar kemudian tinggalkan tubuh kita dan mulailah berserah diri kepada Allah, maka tubuh akan menjalankan sholat dengan sendirinya.

dengan cara itulah maka khusyu akan diturunkan, bukan dengan berada pada tubuh tapi dengan meninggalkan tubuh. dengan kita bertemu dan kembali kepada Allah maka khusyu akan dirasakan tubuh itu. maka marilah kita sholat dengan penyerahan diri kepada Allah. tidak akan mungkin khusyu itu datang tapi kita tidak berserah dalam sholat. Penyerahan diri kepada Allah dengan totalitas akan menyebabkan jiwa akan tenang (nafsul muthmainnah) tapi ketika tidak berserah diri kepada Allah maka jiwa tidak akan tenang (nafsul lawwamah).

Terapkan MLM Sholat

Multi level marketing… suatu teknik berdakwah yang cukup efektif baik bagi da’i nya maupun metode yang disampaikan. teorinya kalau kita mengajak satu orang berarti kita memiliki satu down line seandainya kita memiliki 5 down line kemudian downline tersebut kita motivasi untuk mencari downline lagi begitu seterusnya dan begitu seterusnya … maka amal jariyah yang kita terima…. wow fantastis…. kata orang ‘LUAR BIASA”

apalagi ini tentang sholat suatu ibadah yang wajib dikerjakan …bisa nggak bisa orang harus menjalankan sholat, jadi mau nggak mau kita menerima kebaikan dari amal jariyah kita, apa nggak enak… duduk santai sudah ada kiriman kebaikan.

kemudian kalau mau dihitung secara statistik orang yang terlibat dalam MLM Sholat ini belum lah banyak artinya down line nya belum banyak sehingga masih banyak kesempatan untuk menjadi member MLM sholat ini.

menjadi seorang member MLM sholat tidak harus pandai berdakwah cukup berperan sesuai dengan kemampuannya. misalnya dia punya jamaah di rumah… ya sudah undang trainer yang lain untuk mengisi tentang sholat… kalau ada 5 orang saja dari jamaahnya yang ikut atau mempraktekan sholat maka member atau orang tersebut akan mendapatkan aliran kebaikan juga. Misalnya lagi yang punya rejeki berlimpah coba belikan perlengkapan dakwah seperti mic, speaker, dll maka selama alat tersebut digunakan maka orang tersebut akan mendapat kan kelimpahan kebaikan juga, belum kalau peserta yang ikut pelatihan mempraktekan di rumah wah tambah berlimpah limpah lagi kebaikan dari jariyahnya tersebut.

jadi kuncinya ajak orang dengan hati yang tulus tidak memiliki pretensi apa2,  apalagi politik golongan dan sebagainya. organisasi sholat khusyu bukan dari golongan entah muhammadiyah, NU, Persis atau yang lainnya. Sholat khusyu hanya organisasi amaliah, bukan sarang debat dan perselisihan, kita saling menerima dan memahami keyakinan fiqh yang kita pakai masing masing.

Untuk menjadi member MLM sholat syaratnya :

Niat karena Allah (bukan karena pahala, karena pahala otomatis masuk dalam rekening amaliah kita)

mau belajar tentang sholat

mau mempraktekan sholat khusyu

Bismillah….

Ya Allah … limpahkan rahmat dan karuniamu,  ya allah ihlaskan hati saya dalam beribadah, dalam berdakwah ini … bukalah hati hamba, bukalah hati orang yang saya ajak dalam kebaikan ini… Jadikan saya kurirMu … saya siap… saya siap … saya siap..ya Allah…laa haula walaa quwata illa billah.

Untungnya bermakrifat

orang makrifat adalah orang yang mengerti seluk beluk bagaimana berinteraksi dengan Allah. dan dia tahu betul siapa dirinya dan tentang dirinya kaitannya dengan Allah SWT. Kesadaran dan pemahaman ini sangat berbeda dengan orang lain yang pemahamannya kurang. baik sebagai contoh akan saya uraikan sedikit. Orang yang makrifat tidak hanya mengetahui tapi juga meyakini Allah SWT, misalnya dia yakin bahwa Allah adalah maha pengampun. dan dia tahu benar siapa dirinya yaitu bahwa dia dalam hidupnya diperjalankan Allah. nah kelalaian adalah hal yang wajar yang ada pada dirinya dan dia tahu bahwa dia harus berbenah diri dari kesalahan ke kesalahan. Nah inilah untungnya orang bermakrifat kepada Allah SWT, dia tidak takut dosa tapi yang dia takutkan adalah jika dia tidak mau minta ampun Allah lagi kepada Allah. kebalikan dengan orang yang tidak makrifat yaitu sangat takut dengan berbuat dosa, tapi enggak untuk bertobat jika terlanjur berbuat dosa.

Sangat beruntung orang yang bermakrifat, ketika dia sudah terlanjur berbuat dosa maka dia tahu harus bagaimana, yaitu dia harus bertaubat.

soon ebook solo spirit islam jilid 1 juni-desember 2007

Prakata

Assalamualaikum, Wr. Wb

Perjalanan spiritual itu apa adanya dan tidak teoritis, karena perjalanan adalah sesuatu yang diperjalankan bukan berjalan dengan keinginan sendiri, meski keinginan diri harus tetap ada. Perjalanan spiritual sangat tergantung dari individunya dan Allah yang mengajari tentang spiritualitas, pengalaman pengalaman yang di lalui sangatlah unik,  berbeda antara murid satu dengan murid yang lain meski muaranya tetap sama yaitu ke Allah. Saya menuliskan perjalanan spiritual saya ya seperti apa yang tertulis di ebook ini yang sebenarnya adalah spiritual diary saya di blog www.solospiritislam.com

Tulisan di ebook ini berisi  hal hal yang saya alami ketika saya mempraktekan ajaran dari guru guru spiritual saya terutama sekali dari Ust Abu Sangkan, serta Guru Beliau yaitu Bapak Haji Slamet Utomo, serta guru mengaji saya Ust Muhammad Muin. Ust Abu selalu meminta saya untuk menulis dan menulis karena menurut beliau tulisan yang berasal dari pengalaman spiritual memliki daya tersendiri bila kita baca lagi. Sayapun mengikuti apa yang Beliau anjurkan dan luar biasa, pengalaman yang saya tuliskan semakin membuka cakrawala kehakikatan dalam diri saya. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih dan Penghormatan setinggi tinggi kepada Beliau Ust Abu Sangkan.

Tulisan di ebook sangat apa adanya karena ilham yang turun langsung saya ketik, saya tuangkan dalam blog.  Begitu ilham pencerahan datang , saya tulis dan tanpa saya edit langsung saya upload, sehingga terkesan asal-asalan dan tidak mengikuti aturan tata tulis, untuk itu saya mohon maaf akan hal ini jika dalam tulisan saya sulit dipahami.

Pada awalnya saya cuek saja dengan tulisan tulisan saya karena memang untuk pribadi tapi lama lama pengunjung blog semakin banyak bahkan 1 bulan terakhir ini mencapai 2000 pengunjung perhari. Ketika pengunjung banyak saya pun terpacu untuk lebih serius memperbaiki kualitas tata tulis saya dan saya tertuntut untuk setiap hari harus menulis,……

ya Allah ilhamkan pada diri saya tulisan yang mencerahkan untuk diri saya dan orang lain.

Itulah doa dan niat berbagi pengalaman (share). …

Alhamdulillah, beberapa sahabat yang tertarik dengan tulisan-tulisan saya, meminta saya untuk membukukan diary spiritual saya, agar mudah dibaca dimanapun dan kapanpun tanpa harus terkoneksi dengan internet. Dan Alhamdulillah lagi, tulisan tulisan saya ternyata sudah di download dan di buat ebook oleh sahabat saya di Malaysia, Saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Norafidah Binti Mohd Lasim di Batu Pahat Johor Malaysia, yang telah membukukan tulisan saya sehingga menjadi ebook SOLO SPIRIT ISLAM,  ISLAM FOR ALL  jilid I th. 2007, dan insya Allah akan bersambung di jilid II.

Tak Lupa juga saya ucapkan terimakasih kepada Mas Andry yang telah memfasilitasi hosting dan domain sehingga  blog saya di www.setiyo.wordpress.com dapat saya pindah ke www.solospiritislam.com dan saya ucapkan terimakasih kepada para pengunjung blog saya baik yang rutin menyimak tulisan saya, atau sudi mampir, atau bahkan kesasar secara tidak sengaja membuka blog dan membaca tulisan  saya. Kepada para jamaah sholat center solo dan jamaah malam jumatan saya ucapakn terimakasih melalui 2 forum ini Allah banyak menurunkan ilham kepada saya. Tak lupa kepada istri dan anak anak saya yang rela dan ihlas saya tinggalkan untuk berdakwah mengembangkan sholat khusyu dan patrap silatun ke daerah daerah. Jazzakumullah Khoiron Jazza.

Tak ada gading yang tak retak, keretakan gading  ada dalam tulisan saya mohon dimaafkan dan mohon untuk di berikan masukan yang membangun.

Wassalamualaikum wr wb

Setiyo Purwanto

Email : [email protected]

Phone : 08156 77 222 99

 

Mengakumulasikan keinginan

keinginan kadang muncul begitu saja mendesir dalam hati dan tidak mau berhenti, selalu keinginan itu muncul dan muncul. nah keinginan itu akan menjadi sesuatu yang menggairahkan semangat jika kita tetap enjoy menikmatinya tapi jika keinginan yang muncul terus menerus itu menjadikan hati kita terobsesi tanpa ada jalan keluarnya maka akan menjadi penyakit dalam hati kita, apalagi jika keinginan itu seolah tidak bisa kita raih.

Setiap keinginan yang muncul dalam hati kita harus mendapatkan jalan keluar atau penyelesaian dari keinginan tersebut. Meski tidak mungkin, keinginan itu tetap harus mendapatkan jawaban ya, atau kalau kita tidak mau dengan keinginan tersebut cepat cepat memupusnya dengan istighfar. Tapi jika keinginan itu adalah positif dan baik maka “iya” kan saja dan biarkan keinginan itu bergelora dalam jiwa kita. Tetap akumulasikan keinginan itu menjadi semakin besar dan semakin besar, semakin kita mengatakan iya dan membiarkannya berkembang maka keinginan itu akan membesar dan akan menjadi energi mental yang positif yang mengarah kepada tercapainya keinginan tersebut.

Bagaimana jika keinginan itu “tidak mungkin”

Keinginan yang tidak mungkin tercapai karena mendasarkan pada kemampuan diri kita, kalau keinginan itu kita sandarkan pada keinginan kita maka jelas sangat terbatas. misalnya seorang sopir becak ingin naik haji, jelas ini tidak mungkin untuk makan saja selalu kurang, tapi jika kita alihkan kepada Allah…

seorang yang punya banyak hutang pasti memiliki keinginan untuk melunasinya, tapi karena terlalu banyak sehingga tidak memungkinkan dia untuk bisa membayar. Sehingga cara yang paling praktis adalah menggantungkan kepada Allah bahwa Allahlah yang bisa membayar hutang. Pengalihan ini sangat penting agar “rasa keterbatasan” itu bisa hilang berubah menjadi “rasa mampu” karena Allah mampu membayar hutang.

jadi untuk bisa mewujudkan keinginan adalah dengan mengakumulasi keinginan kemudian mewujudkannya dengan cara mengalihkan semua keinginan tersebut kepada yang Maha Ghoib yaitu Allah SWT.

miracle
Mewujudkan keinginan

Isra miraj dan shalat (republika 30 juni 2011)

Isra miraj dan shalat
Oleh: Setiyo Purwanto, S. Psi., M.Si. *

Sebuah momen profetik penting dari kenabian Rasul Muhammad SAW yang dikenal dengan Isra’ Mi’raj akan kita peringati bersama. Perayaan ini akan selalu saja membawa makna sangat vital terkait dengan inti keimanan umat Islam, karena peristiwa ini nyaris selalu diidentikkan dengan ritus ibadah paling fundamental dalam dien al-Islam, yakni shalat.
Pada peristiwa inilah perintah untuk menegakkan shalat disampaikan oleh Tuhan secara langsung kepada utusan-Nya. Peristiwa ini menjadi sangat strategis dan vital, karena tak semua bentuk peribadahan diturunkan dengan cara yang serupa ini. Shalat menduduki peringkat wujud peribadatan terpenting, di posisi kedua setelah kesaksian (asy-syahadat) dalam lima rukun atau pilar dari ke-Islam-an seorang muslim sejati.
Makna sampingan yang tak kalah penting adalah sifat dari berlangsungnya momen ini. Isra’ Mi’raj merupakan fenomena transendental spiritualistik dalam tataran yang sangat tinggi. Dalam kacamata rasional, diperjalankannya seorang manusia dari sebuah kota Makkah (Masjidil Haram) ke kota Darussalam atau Jerusalem (Masjidl Aqsha) dalam tempo semalam dengan teknologi medium transportasi apapun pada saat itu, adalah kemustahilan. Kemustahilan ini semakin menjadi-jadi, ketika perjalanan itu berlanjut menuju langit ketujuh (sidratul muntaha).
Dalam alam manusia yang terperangkap dalam paham rasionalisme dan empirisisme ekstrem, peristiwa ini hanya menjadi cacian dan lelucon saja. Peristiwa ini, dipandang hanya bualan dan khayalan belaka, bagi mereka yang memahami bahwa hidup hanya berdimensi materi belaka. Karena itulah, peristiwa ini juga sekaligus menjadi medium ujian keimanan bagi kaum muslim di masa peristiwa itu berlangsung. Pada masa Nabi Muhammad SAW hidup, peristiwa ini menimbulkan heboh yang menggemparkan di jazirah Arabia. Sejumlah pemeluk Islam awal bahkan tanpa ragu menafikan kebenaran peristiwa ini. Sejumlah pemeluk Islam awal ini pun murtad karena terpicu peristiwa yang dinilai tidak rasional, tidak empiris, dan imajiner atau khayalan belaka.
Pada peristiwa ini tertegaskan pula bahwa sifat agama senantiasa melampaui sifat-sifat material. Keimanan dan keyakinan dengan hati (spiritual) menjadi instrumen penting. Keberadaan kaum murtadin yang muncul setelah peritiwa ini, menandakan bahwa keimanan yang berdimensi spiritualistic dan transendental merupakan komponen penting dalam memahami suatu eksistensi agama. Sosok sahabat nabi, Abu Bakar Ash-Shidiq, dalam hal ini telah meneladankan contoh kualitas keimanan transendental yang sempurna. Abu Bakar selalu menyatakan, tak ada kebohongan dari Nabi Muhammad SAW, termasuk dalam peristiwa ini.
Meneladani sifat dan sikap Abu Bakar dalam memandang suprarasionalitas dan dimensi supranaturalitas peristiwa Isra’ Mi’raj adalah bentuk wujud keimanan yang selayaknya juga dimiliki oleh kaum muslimin. Karena, peneguhan imanlah, yang menjadi target utama dari peristiwa ini. Iman itu pulalah yang menjadi isu utama dari turunnya perintah shalat yang turun atau disampaikan oleh Tuhan melalui peristiwa ini.

Esensi Shalat
Shalat yang diturunkan melalui peristiwa ini adalah media revolusioner yang diciptakan oleh Tuhan dengan banyak hikmah dan manfaat bagi kaum muslimin. Shalat adalah satu-satunya wahana peribadahan yang memungkinkan seorang hamba berkoneksi dengan Tuhannya secara langsung (divine connectedness). Dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an, karya mujahid besar dunia Islam asal Mesir, Sayyid Quthb, shalat dijelaskan sebagai ash-shilatun wal liqa’un baina abdi wa rabbi. Shalat adalah koneksi (ash-shilatun) dan perjumpaan (al-liqa’un) antara hamba dan Tuhannya. Metode ibadah yang sejenis ini adalah sejenis bentuk ibadah yang sangat revolusioner, karena memungkinkan seorang manusia berkoneksi secara langsung dengan Rabb-nya. Ini tentu adalah suatu revolusi spiritual besar yang pernah terjadi dalam sejarah agama-agama dunia, karena Islam tidak pernah mengenal adanya parokialisme atau sistem kependetaan. Shalat yang diturunkan melalui peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi revolusi terfenomenal dalam pola hubungan antara tuhan dan manusia.
Ibadah shalat dalam makna hakiki adalah terjadinya atau berlangsungnya suatu komunikasi intens antara hamba dan Tuhannya. Lantaran atas utama dan tingginya posisi shalat, maka bisa dipahami bila proses turunnya perintah inipun melalui cara yang luar biasa istimewa, yakni melalui petriswa isra’ (perjalanan) dan mi’raj (penaikan) kepada Tuhan, Tuhan Alam Semesta.
Kedudukan istimewa shalat juga karena muatan dalam bentuk ibadah ini yang merangkum dimensi fisik/eksoteris dan spiritual/esoteris. Dalam shalat, tentu ada dimensi eksoteris yang meliputi tata cara gerak tubuh dan bacaan. Namun, yang tak kalah penting adalah bahwa ada dimensi esoteris dalam shalat yang meliputi makna bacaan, makna gerakan, afirmasi bacaan, afirmasi gerakan, manifestasi penyembahan, serta kesyukuran. Pelaksanaan shalat dengan paradigma yang merangkum dimensi eksoteris dan esoteris tentu akan menjadi bentuk shalat yang sempurna. Kesempurnaan shalat ini akan menghindarkan kaum muslim dari tindak tercela, keji, dan destruktif serta akan mengantarkan kaum muslim menjadi pribadi yang mulia dan terpuji sebagaimana tujuan dari shalat itu sendiri.
Up-grade Shalat
Melihat keistimewaan dan begitu utamanya kedudukan shalat dalam Islam —sedangkan fungsi profetis Rasulullah Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki akhlak atau karakter— logis dan mudah dipahami (understandable) bila sebenarnya shalat memegang peran menentukan dalam membentuk karakter umat Islam secara kolektif. Siapapaun orang yang berakal sehat dan berhati jernih pasti akan selalu mempertanyakan tentang esensi peribadatan shalat yang dalam khitah atau cetak birunya memiliki peluang mengantar seorang muslim pada perilaku mulia dan terpuji serta mencegahkan diri dari tindak keji dan jahat, namun potret masyarakat muslim justru menampilkan karakteristik yang sebaliknya.
Fenomena dan potret buruk karakter ini bila dikaitkan dengan praktik shalat, terjadi karena makna ibadah yang tereduksi hanya pada dimensi syariah (syariah minded). Shalat yang reduksif seperti ini bisa dipahami bila tidak memberikan efek psikologis dan behavioral kepada pelakunya. Bila shalat sejenis ini dijalankan, tidak akan mampu memberikan pengaruh positif dan perbaikan karakter atau akhlak. Individu muslim yang masih getol berbuat koruptif, bisa dipastikan pemahaman dan praktik shalatnya masih reduktif: belum melangkah lebih maju pada kedalaman dimensi eksoterik shalat.
Karena itulah, sebuah kritik mesti ditujukan kepada perilaku sosial dalam bentuk ibadah yang serba eksoteris ini. Kaum muslim sudah semestinya untuk sesegera mungkin meng-up-grade menuju pemahaman yang lebih esoteris dalam tata cara ibadah shalatnya. Al-Qur’an menegaskan bahwa salah satu indikator keimanan seorang muslim adalah bila seorang muslim itu dalam praktik shalatnya khusyuk (Q.S. Al-Mukminun; 1-2). Shalat secara khusyuk ini hanya bisa dilakukan bila seseorang memahami dua ranah dalam shalat, dari ranah syariah (esoteris) sampai hakikah (esoteris).
Kini, demi peningkatan karakter kaum muslimin, maka pemahaman ranah esoteris sudah seharusnya mulai diperdalam dan diperhatikan. Aspek esoteris ini mampu merangkum hingga pada makna (meaningfulness) afirmatif bacaan, gerakan tubuh, hingga makna simbolis dari shalat sebagai manifestasi kesyukuran dan penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dengan pemahaman holistik pada seluruh dimensi dalam ibadah shalat, niscaya pembangunan karakter yang mulia akan lebih mudah terbentuk dalam masyarakat muslim secara luas. Karena ibadah shalat memang, sejak dari khiththah dilahirkannya, adalah untuk menciptakan manusia yang berkarakter. Atau lebih tepatnya, karakter mulia (akhlaqul karimah) yang saat ini sungguh sangat langka di dalam kehidupan bermasyarakat kita. []

*Penulis adalah staf pengajar Fakultas Psikologi, UMS,
Surakarta dan pemerhati pendidikan karakter berbasis spiritualitas Islam

Belajar membaca keadaan dengan firasat

keadaan dapat kita baca dengan kesadaran. KEsadaran ini dapat sempit dan dapat luas. dengan ketenangan hati dan pikiran kemudian kita perluas kesadaran kita maka apa yang kita ketahui akan lebih luas lagi. misalnya ketika kita ingin mengetahui keadaan hati teman di dekat kita, sedangkan dia tidak mau berkata sebenarnya maka kesadaran hati kita bisa kita perluas dengan menembus hati teman kita tersebut. Cara memasukinya dengan cara relaks kemudian kita membiarkan kesadaran kita menangkap sinyal sinyal yang di pancarkan dari hati teman disamping kita tersebut. ya namanya membaca sangat tergantung dari sinyal yang di pancarkan dari emosi teman kita dan daya tangkap dari kita sendiri. Kalau sinyal emosi yang dipancarkan kuat sedangkan kita daya tangkap kita lemah maka, kita tidak akan dapat membacanya, demikian pula sebaliknya.

keadaan di sekliling kita juga mengeluarkan daya atau sinyal, nah kesadaran kita tinggal kita samakan frekwensinya atau frekwensinya kita tinggi kan sehingga bisa menangkap sinyal sinyal tersebut. jika ada orang yang mengetahui apa yang akan terjadi berarti orang tersebut diberi kemampuan Allah untuk menangkap sinyal alam. maka latihan untuk meningkatkan frekwensi tidak lain adalah dengan banyak bersilatun kepada Allah atau patrap. Dengan selalu sadar kepada Allah berarti kita meningkatkan frekwensi kesadaran, sebab Allah adalah kesadaran tertinggi sehingga semua bisa terbaca.

Syukur syukur jika kita bisa meniadakan ego kita maka kita akan mendapatkan kepekaan secara cepat. duduk mengosongkan ego secara perlahan-lahan Allah akan memberi tahukan kepada kita. dalam tahap belajar sebaiknya kita menerima saja apa yang kita tangkap, setelah ini dikuasai kita fokuskan untuk membaca hal yang khusus,

baik, jika memang berminat sungguh sungguh cukup banyak2 silatun maka kita akan tercerahkan dengan bayak hal