Articles from August 2011

tidak mengandalkan keyakinan kepada Allah

keyakinan kita kepda Allah jangan sampai membuat kita lebih mengandalkan keyakinan kita dari pada mengandalkan Allah itu sendiri. kita tidak bisa mengandalkan diri kita dengan yakin kepada Allah dari pada Allah sendiri sang Maha Mutlak. seringkali kita tidak bisa membedakan mana keyakinan kepada Allah dengan Allah itu sendiri. jika kita merasa keyakinan kita gagal misalnya dalam berdoa maka berarti kita mendandalkan keyakinan kita dari pada mengandalkan Allah itu sendiri.

sikap di atas keyakinan kita kepada Allah adalah sikap pasrah kepada Allah, sikap pasrah adalah sikap dimana kita sudah (have done) yakin kepada ALlah. untuk meninggalkan kekuatan keyakinan kita yang berasal dari EGO kita maka keyakinan itu harus kita rubah menjadi kepasrahan kepada Allah. Misalnya kita sakit tenggorokan kita yakin bahwa Allah menyembuhkan, kita rubah menjadi menyerahkan sakit tenggorokan tersebut kepada Allah

dan anda akan merasakan perubahan yang mendasar dari penyerahan tersebut. lebih hebat dari pada jika anda yakin bahwa Allah menyembuhkan

alhamdulilah sudah ketemu dalilnya..

ternyata ulama masih berselih paham mengenai tempat itikaf.

pendapat dibawah saya ambil dari webnya PKS yang merupakan partai paling salafi dan partai paling islami yang sangat memperhatikan tentang dalil, jadi tingkat kepercayaan pendapatnya sangat diakui.

nah disini nih saya ambil

http://www.pksbandung.org/index.php?option=com_content&view=article&id=1379:memahami-ibadah-itikaf&catid=59:maknawiah&Itemid=54

Mengenai tempat untuk I’tikaf, yaitu masjid, maka para ulama berbeda pendapat mengenai masjid yang dapat dipakai untuk I’tikaf ini. Secara umum masjid didefiniskan sebagai setiap tempat yang khusus beribadah sholat di dalamnya. Jadi musholla termasuk juga sebagai kategori masjid. Menurut Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsur, I’tikaf boleh dilakukan pada masjid yang di dalamnya senantiasa digunakan untuk sholat lima waktu berjamaah. Namun menurut Malik, Syafi’I dan Daud boleh di masjid apa pun karena tidak ada dalil yang jelas untuk memberikan pengkhususan seperti ini.

Sedangkan diam berarti tetap di dalam masjid, keluar dari masjid dapat membatalkan I’tikaf. Adapun yang termasuk dalam bagian masjid sebagian ulama berpendapat bahwa itu adalah tempat yang biasa dipakai untuk sholat saja. Sedangkan menurut Hanafi, Syafi’I dan Ahmad, pekarangan atau halaman masjid termasuk masjid sehingga tdak membatalkan I’tikaf bila kita berada di sana

bahkan ini ada hadis yang membuktikan bahwa itikafnya rasulullah tidak di masjid yang ada micnya atau speskernya

Saat I’tikaf beliau memasuki kemahnya sendirian, tidak masuk rumah kecuali untuk keperluan-keperluan yang bersifat manusiawi. Beliau pernah melongokkan kepala ke bilik Aisyah, lalu Aisyah menghampiri beliau dan membasuh kepala beliau di dalam masjid, sementara saat itu Aisyah sedang haidh

jika masjid pasti jauh dari rumah, berarti ini raudhoh atau tempat khusus rasulullah. nah berarti itikafpun sebenarnya adalah di mihrab kita yang biasa kita gunakan untuk sholat.

Mana dalil itikaf harus di “masjid”

masjid itu maknanyakan tempat sujud, berarti sah saja jika saya menggunakan ruangan kamar saya yang saya gunakan khusus untuk sholat atau tempat saya sujud saya gunakan untuk itikaf. karena tempat sujud atau sholat ini  juga dinamakan dengan masjid (tempat sujud). kalau masjid diartikan dengan makna yanglebih khusus misalnya dengan mengartikan bahwa masjid adalah bangunan besar yang selalui digunakan untuk sholat berjamaah, podium untuk ceramah, ada mic ada speaker kok ini rasanya saya juga berhak untuk mengartikan masjid itu secara lebih luas. Jadi kenapa kalau kita itikaf harus di masjid yang definisi masjid itu harus ada mic nya, ada speakernya, harus digunakan untuk berjamaah, … kalau anda mengartikan demikian ya silahkan saja berarti itikaf anda harus di masjid diluar rumah anda (dan anda akan terkendala untuk melakukan itikaf di malam hari). tapi kalau saya mengartikan bahwa masjid saya adalah tempat sujud saya seperti raoudloh nya rasulullah yang ternyata bukan masjid (dalam arti untuk umum) tapi ruangan khusus yang dekat dengan rumah beliau dan dekat masjid nabawi beliau selalu itikaf disitu.

jadi kalau itikaf dapat kita lakukan di rumah asal rumahtersebut ruangan yang pakai selalu kita gunakan untuk sujud atau sholat boleh boleh saja, ada alasan kita menggunakan tempat sujud kita karena tempat yang kita gunakan untuk sholat mengandung energi spiritual yang akan mempercepat proses keluarnya ruh kita menghadap allah, dan kita lebih mudah meninggalkan  tubuh kita atau kita lebih mudah untuk mengenoklan diri kita. kita itikaf di ruang makan dengan ruang sholat di rumah kita berbeda kan?

di beberapa masjid (masjid arti: yang ada mic nya) bahkan tidak layak digunakan untuk beritikaf, karena ketika malam itikaf banyak yang bersendau gurau, banyak yang membaca quran dengan keras (menganggu kekhusyuan), bahkan banyak yang tidur di masjid, selain itu kadang masjid digunakan untuk makan, kondisi masjid yang demikian tentunya akan merusak itikaf.

tulisan saya sebelumnya tentang “itikaf semampunya” merupakan solusi alternatif ketika kita tidak mampu untuk itikaf di masjid yang ada micnya, kita bisa itikaf di musholla di rumah kita , atau di tempat yang sering kita gunakan untuk sujud.

kalau yang dipermasalahkan syari nya saya cari dalil quran mapun hadis tidak ada yang mengharamkan itikaf di tempat sujud (mushalla), bahkan saya belum menemukan dalil quran hadis yang memerintahkan itikaf harus di masjid yang ada mic nya ada podium nya ada spekernya….

nah kalau ada yang bisa membantu saya mencarikan “mana  dalil itikaf harus di “masjid” saya harap untuk memberikan komen di tulisan saya ini. sebab selama ini kita selalu itikaf itu di masjid di luar rumah kita, dan kita mayoritas umat islam “tidak mampu menjalankan”, padahal itikaf adalah puncak ibadah bulan ramadhan, saya  kalau kita tinggalkan hanya karena pemaknaan kata “masjid” yang harus diluar rumah.