mengajarkan sikap pasrah kepada anak

dalam pendidikan kepada anak anak kita yang paling penting adalah “aura”. Termasuk juga mengajarkan sikap pasrah kepada anak. sikap yang paling penting adalah aura pasrah di dalam lingkungan keluarga. jika anda adalah seorang ayah maka yang pertama kali pasrah harus lah anda, jika anda seorang ibu maka andalah yang mulai pertama kali pasrah. Kepasrahan kepada Allah akan memancarkan aura pasrah dilingkungan keluarga.

salah satu anggota keluarga ada yang pemarah, maka dengan sikap pasrah yang kuat ini akan mempengaruhi perilaku salah satu anggota keluarga tersebut. pancaran pasrah kepada Allah yang benar inilah yang dapat merubah aura tidak pasrah menjadi pasrah. Sebuah keluarga yang berantakan biasanya berawal dari salah satu anggota yang “error” dan anggota yang lainnya ter imbas oleh keerrorannya sehingga menyebabkan masalah tambah runyam.

baiklah bagaimana kita menciptakan aura dalam lingkungan keluarga kita. cara melatihnya adalah dengan sujud dan rukuk dalam sholat. ketika sujud coba pasrahlah kepada Allah sekuat anda bisa pasrah bahasa jawanya “ngeden”. keluarkan tenaga dalam anda untuk berserah diri kepada Allah. paksakan diri untuk pasrah atau berserah diri kepada Allah. latihan kekuatan pasrah di kalau sujud ini akan menjadikan kita kuat dalam pasrah kepada Allah dan kita akan memiliki kekautan mental untuk mempengaruhi di sekitar kita.

kemudian rasakah terus sikap pasrah kepada Allah dalam sujud tadi, bawalah dalam setiap aktivitas kita dalam lingkungan keluarga. bawalah sikap pasrah ini ketika berhadapan dengan anak, ketika mengasuh anak , ketika berkomunikasi dengan suami atau istri.

daya kepasrahan yang muncul dalam diri anda akan menimbulkan perilaku yang tidak anda sadari, atau anda sadari. daya ini juga akan mampu mengarahkan perilaku anda untuk berserah diri kepada Allah. Bahkan sikap pasrah ini akan menimbulkan ilham ilham tertentu yang dapat mengarahkan anda untuk dapat berperilaku pasrah.

saat kita berinteraksi dengan anak kita, kita akan terinspirasi berbagai bentuk pendidikan anak, kita harus bagaimana. bahkan daya kepasrahan ini akan memberikan kekuatan untuk lebih sabar dan kekuatan untuk ihlas dalam mendidik anak.

Saya menemukan bekerja tanpa semangat

Setelah saya mempelajari dan menjalankan sunatullah, dan menjalankan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya menemukan bahwa aktivitas saya selalu bergerak tanpa semangat yang menggelora. Namun aneh jika orang tidak semangat tidak aktif, yang saya temukan adalah tidak semangat tapi pekerjaan bisa lebih terselesaikan. Ada satu dorongan yang bukan semangat namun bergerak dalam diri untuk terus bergerak. Dan beberapa yang saya lakukan mulai saya hilangkan “berfikirnya”. saya bergerak saja tanpa berpikir.

Dalam hal ibadah saya juga menemukan sebuah aktivitas yang meningkat. misalnya makruh  membersihkan muka setelah wudlu dengan handuk (towel), maka sayapun tidak membersihkan muka saya yang terkena air wudlu. Pada saat saya tidak membersihkan muka saya dari air wudlu ada dalam diri saya yaitu akal memprotes dengan argumentasinya, dan sayapun tidak mengindahkan argumentasi pikiran itu saya tetap mengikuti sunah untuk tidak membersihkan muka saya dari air wudlu. dan itu mulai saya jalankan pada sunah sunah rasulullah yang lainnya, yang notabene tidak sesuai dengan akal pikiran saya.

dan saya menemukan bahwa Iman kadang bertolakbelakang dengan akal. 

saat ini saya belajar bagaimana melaksanakan sunah rasulullah dengan Iman bukan dengan akal

beraktivitas dengan iman anda akan merasakan : bekerja tanpa semangat.