Articles from June 2016

Kenapa orang enggan diajak berjalan ke Allah

kalau masalah ilmu kalau membicarakan tentang Allah semalam suntuk betah, berbagai kitab dan dalil di keluarkan, berbagai kisah ulama kesaktian ulama waliyullah dibicarakan tiada habis, tapi ketika diajak untuk langsung berjalan ke Allah .. ada keengganan, ada kekhwatiran, ada ketakutan, ada ketidakmungkinan … ya sekarang apa gunanya membicarakan tapi ketika diajak untuk menghadap enggan.

Berjalan itu ya jiwa ya jiwanya yang berjalan ke allah. Kalau baca baca, kalau hanya wirid wirid itu belum tentu berjalan. Berjalan itu seperti kita bergerak dari satu titik ke titik yang lain menuju kepada satu tujuan yaitu ke Allah, bisa menggunakan bacaan bisa juga dengan diam

 

kebenaran disampaikan dengan sombong

sombong tidak selalu jelek, coba renungkan seandainya Rasulullah tidak sombong dengan kebenaran yang beliau bawa maka apakah kebenaran itu bisa terwujud menjadi suatu tatanan moral universal, coba renungkan lagi seandainya Rasulullah ini tidak menyatakan bahwa diri beliau adalah utusan Allah maka apakah kita percaya dengan Beliau. Seandainya Rasul kita tidak sombong dalam hal kebenaran maka kebenaran yang beliau bawa tidak akan tersampaikan.

kalau orang kafir saat itu mengatakan bahwa rasulullah sombong kemudian Rasulullah minder dan termakan omongan orang kafir apa ya kebenaran beliau akan terbukti… Rasulullah dalam hal kebenaran sombong bahkan beliau berani menyatakan bahwa orang kafir masuk neraka orang islam masuk surga…. coba ini kalau diartikan sebagai Rasulullah merasa lebih baik dengan orang kafir …. wah kebenaran tidak akan terwujud.

jadi sekarang pun kita menyatakan bahwa kalau tidak ke Allah salah, kita menyatakan bahwa orang yang menduakan Allah dengan selain Allah maka masuk neraka .. kalau niat kita ibadah tidak karena Allah maka tidak diterima, kalau kita bershalawat tidak ihlas mendoakan rasulullah maka tidak akan sampai.. dan seterusnya yang pada intinya jika tidak ke Allah adalah “salah” kalau saya menyampaikan hal ini dengan penuh kerendahan hati apakah orang bisa menerima… saya gunakan sombong seperti sombongnya rasulullah untuk menyatakan kebenaran.

Resikonya adalah di hujat orang…. ya saya senyum saja seperti senyum rasulullah ketika di hujat orang kafir. sekali lagi kebenaran Allah adalah mutlak tidak bisa ditawar,  tidak bisa ditawar dengan surga, tidak bisa ditawar dengan yang lain. Demikian pula shalawat adalah mutlak mendoakan Rasulullah tidak bisa ditawar dengan agar selamat, agar mendapat syafaat.

saya akan perjuangkan terus tegaknya kalimat tauhid yaitu lurus ke Allah. Biar yang sesat tahu kalau dirinya sesat, yang merasa sesat kemudian sadar agar kembali ke jalan allah… saya ini ibarat mengislamkan orang yang sudah islam. Coba bayangkan orang islam yang disembah bukan Allah tapi Quran, Rasulullah, surga dan lainnya, padahal kita tahu semua bahwa itu bukan lah Allah itu semua adalah sarana kita untuk ke Allah. Quran adalah petunjuk , Rasulullah adalah pembawa risalah, tidak mungkin Rasulullah minta disembah… dimintai syafat.. dll.

baiklah silahkan bagi siapa saja yang mengatakan sombong .. itu tidak masalah memang ia saya sombong, tapi sombong saya adalah untuk kebenaran Mutlak. kalau anda masih belum terima bahwa Allah adalah tujuan akhir ya silahkan, berarti neraka menanti anda… nah sombongkan saya berani mengatakan bahwa yang tidak mengakui Allah masuk neraka?

 

makna Huwa (Huu) Dalam Dzikir Nafas

Hu atau Huwa adalah nama Allah dalam Sufisme. Secara harfiahnya bererti “Dia”. Dalam Sufisme Hu adalah istilah lain yang digunakan untuk Allah, dan digunakan sebagai nama Allah. Allah Hu bererti “Allah, satu-satunya Dia!” Dalam bahasa Arab, Hu sebagai tambahan intensif untuk perkataan Allah, sehingga Allah Hu bererti “Allah itu sendiri.” Hu juga ditemukan dalam lafaz Islam La Ilaha Ilallah Hu: “Tidak ada Tuhan kecuali Allah,” atau dalam intepretasi Sufi “Tidak ada kenyataan, kecuali Allah.”

ilmunya orang yang sudah tua mendekati mati

kitab tasawuf seabrek, kitab tafsir berpuluh puluh, kitab fiqh kitab lainnya tidak kalah…. pameran buku islam wuih buku islam luar biasa banyaknya… permasalahannya apa ya kita mau pelajari semua, apa ya kita mau pengajian sana sini… usia sudah udzur apa ya masih menuntut ilmu ini dan itu… kalau di ingatkan begini jawabnya menuntut ilmu sampai liang lahat. ya benar tapi ya jangan sudah udzur masih belajar tajwid, masih belajar tahsin… ini kan mubadzir … nah mau ngeles lagi… “tidak ada ilmu yang mudbadzir”.. anda ini memang sudah dikehendaki Allah demikian jadi diperingatkan masih juga beralasan ini dan itu, Sudahlah ilmu yang harus kita dalami adalah ilmu bagaimana mati dengan sukses yaitu khusnul khatimah.. karena sakaratul maut tajwidmu tidak akan berguna. Yang sangat anda perlukan adalah pasrah. Maka mari belajar sejak sekarang. apa yang anda cari kalau satu jam lagi anda akan mati…. mau menguasai tafsir, mau membaguskan bacaan quran… saya kira tidak … yang anda perlukan adalah pasrah dan pasrah kepada Allah. Inilah ilmu yang sangat berharga di saat anda sakaratul maut kelak.

Belajar makrifat tanpa guru, gurunya syetan

ya tidak hanya dalam makrifat dalam segala segi kehidupan jika kita tidak berguru kepada Allah maka gurunya syetan. Pemahaman selama ini kalau tidak berguru kepada manusia maka gurunya syetan. Lah bagaimana ini. Lah terus manusia yang dianggap guru itu gurunya siapa… lah antara murid dengan guru kan sama sama manusia … kalau sama sama manusia kok yang satu menganggap dirinya guru yang satu murid terus Allah mau diletakkan dimana? maka mari kita luruskan dalam bermakrifat kita berguru kepada Allah bukan kepada manusia. lho kenapa kok tidak boleh dengan manusia, sebab manusia tidak dapat memberikan hidayah atau petunjuk sehingga tidak pantas kita anggap sebagai guru dalam berjalan menuju kepada Allah. sarjana S1 tidak boleh mengajar mahsiswa S1 itu sama saja jeruk makan jeruk.

Dalam makrifat guru manusia hanya ada dua yaitu syetan atau Allah, logikanya kalai tidak Allah berarti ya syetan. maka kita harus lurus ke Allah, tidak yang lain. Anda mungkin gerah membaca tulisan saya ini tapi inilah fakta yang harus anda terima jika anda tidak menganggap Allah sebagai guru. Syetan ini sangat pandai dan licik, sesuatu yang jelas jelas sesat bisa dikemasnya dalam bentuk jalan ketuhanan, padahal sama sekali menyimpang.

maka meski bermakrifat ini mudah karena hanya Allah tetap anda akan dibelokkan kemana mana di buat cara yang “tidak ke Allah’ sehingga apa yang anda cita citakan tidak sampai pada tujuan anda. saya baca berbagai literatur tasawuf, hal berguru kepada Allah ini sangat di samarkan, di tutupi dengan hal hal yang kurang penting. misalnya tentang nasab, tentang fadhilah, tentang sanad tentang wiridan wiridan yang bisa untuk ini dan itu, yang ssemuanya itu bisa melenakan atau melupakan murid untuk berjalan lurus ke Allah.

ingat ketika tidak lurus ke Alah maka arahnya ke arah syetan. ketika tidak lurus ke Alah maka arahnya ke

Hati-hati : Tidak Semua Aliran Tarekat Asli

Ilahi anta maqsudikita harus berhati hati dalam berjalan menuju ke Allah. Model aliran tarekat memang menjadi trend terutama sejak ditemukan pertama oleh para Ahli nya seperti Oleh Beliau Syeh abdul Qodir J, kemudian Syeh Abu Hasan As Sazili dan banyak lagi pada era beliau. namun kalau kita lihat perjalanan dari taarekat tarekat ini banyak di modifikasi, dan banyak di gabung antara satu dengan lainnya, bahkan banyak juga yang melakukan Mixing dengan menjalankan beberapa tarekat tersebut. kemudian dari guru guru mursyid yang ada generasinya sudah sekian puluh generasi tentunya ada yang masih asli dan ada yang membias bahkan ada yang di salahgunakan dan melenceng dari tujuan awal didirikannya aliran tarekat tersebut.

saya tidak akan menyebutkan jenis tarekatnya, saya hanya akan memaparkan tarekat yang seperti apa yang sudah mengalami penyimpangan dari aslinya. satu hal yang pasti adalah pengalihan dari tujuan asli didirikannya tarekat yaitu untuk berjalan menuju kepada Allah berubah menjadi bacaan untuk mendapatkan kesaktian, kekayaan, bahkan yang halus tapi tetap menyimpang yaitu untuk pembersihan diri, agar masuk surga, agar selamat, agar terhindar dari neraka, dan penyimpangan halus lainnya. Maka jika anda akan memilih jenis tarekat dengan tujuan tidak selain ke Allah seperti yang saya sebutkan saya diatas maka anda patut berhati hati, kalau bisa anda tidak memilihnya , dan jika anda sudah terlanjur mengikuti maka saya sarankan untuk keluar dari tarekat tersebut karena jelas itu terjadi penyimpangan.

sudah satu kriteria itu saja jika itu ada maka amalan yang di anjurkan tarekat itu pasti akan mengarah kepada kesesatan. Sebab tujuannya sudah bukan ke Allah tapi ke yang selain Allah. Padahal kita tahu bahwa pendiri tarekat awal awal atau mursyid awal awal sangat lurus bahwa tidak ada tujuan bertarekat kecuali untuk berjalan menuju kepada Allah bukan yang lain.

Jika tarekat masih murni maka dia akan selalu menekankan bagaimana si murid ini berjalan si salik ini berjalan tapi jika sudah tidak murni lagi maka aliran itu hanya memberikan sejumlah bacaan wiridan seabrek tanpa memperhatikan si murid ini sudah berjalan atau belum, jalannya sudah lurus atau belum. coba bandingkan dengan kisah Imam Sazily ketika ada seorang mau belajar tarekat maka bukannya langsung baiat dan diberikan seabrek wiridan tapi calon murid itu diajak jalan jalan menggunakan kereta beliau sambil mengajarkan lurus ke Allah yaitu dengan memberikan murid itu gelas penuh air dan diajak berjalan keliling kota. Setelah berputar putar dan sampai , beliau bertanya kepada Muridnya apa yang kamu lihat dari jalan jalan tadi… maka pasti muridpun menjawab saya tidak dapat melihat apapun karena yang saya perhatikan hanya air ini agar tidak tumpah.. kemudian Imam Sazily pun berkata begitulah saya, meski saya sibuk dunia tapi kesadaran saya terus tertuju kepada Allah tidak kepada apa yang sedang saya sibukkan. Inilah pelajaran tarekat yang asli, yaitu mengajarkan murid untuk lurus kepada Allah. Bacaan bacaan sebenarnya untuk membantu murid untuk selalu ingat lurus ke Allah, bukan bacaan bacaan tarekat itu yang akan menyelematkan si murid. Bacaan tarekat pada umumnya ada 3 yaitu istighfar, shalawat dan tahlil. Nah itulah pengigat yang sangat tepat untuk si murid terus lurus ke Allah. Sekarang kalau ada murid tarekat dengan begitu banyak amalan tapi tidak ada kesadaran ke Allah bagaimana Allah mau menyelamatkan dia… Lurus saja ke Allah nanti Allah akan selamatkan, tapi kalau kita fokus cari selamat maka Allah tidak akan selamatkan.

Jaman Nabi tidak ada “pondok pesantren”

Islam di jaman nabi sangat simple dan sederhana. Tapi fokus ke Keimanan dan keihsanan sangat kuat ditanamkan oleh Rasulullah. Buktinya bahwa setelah masuk islam orang sudah totalitas berani perang dan berani berkorban untuk islam.

islam sekarang ini banyak di “ilmu’ kan. mempelajari quran saja begitu rumit dan sulitnya. padahal kalau mau to the point ya pakai terjemah sudah cukup. mau belajar fiqh saja harus 4 madzhab padahal kalau mau jujur kita tidak akan dapat konsisten 1 madzhab pasti sedikit banyak di modif, itupun tidak semua hukum fiqh kita pakai kecuali kalau mau jadi  ustad. Kita harian ini kan paling shalat, bersuci dan kalau sudah hafal kan ya sudah. apalagi sekarang sudah ada mbah google tinggal kita ingin mencari misalnya cara membayar fidyah maka akan ada pendapat yang jelas dan to the point. jadi kenapa kita ini sulit sulit belajar islam berlama lama dengan detil yang kurang aplikatif. Saya punya prediksi 5 sampai 10 tahun lagi lembaga islam yang namanya pondok pesantren tidak akan laku lagi kecuali pondok tersebut melakukan perubahan radikal baik sistem pendidikannya dan terutama materi yang diajarkan.

jaman Nabi islam itu indah. tidak ada ahli tafsir, tidak ada ahli fiqh. Semua menjalankan semua apa yang diperintahkan Rasulullah. Yang luar biasa pada waktu itu adalah kemampuan rasulullah menanamkan IHSAN kepada para sahabat. Para sahabat yang orang biasa ketika dididik keimanan oleh rasulullah menjadi orang hebat orang cerdas yang bisa membuat islam tersebar ke pelosok dunia.

coba kita banding kan sekrang. Banyak ilmuwan islam. banyak ahli islam tapi karena fokusnya bukan Allah .. fokusnya pada ilmunya ada yang tafsir, ada yang fiqh, ada yang falak dan yang lainnya sehingga islam ini seperti buih di lautan yang terombang ambing tidak jelas. Irak hancur, suriah, yaman menyusul…. afganistan sejak dulu … hanya ada sati negara yang eksis sekarang yaitu iran. Kenapa islam seperti terbalik. banyak ulama tidak maju , jaman nabi tidak ada ulama tapi luar biasa daya para sahabat.

kalau menurut hemat saya islam itu tidak perlu lagi yang namanya pondok pesantren, IAIN, atau institusi keilmuan lainnya. Tapi perlu adanya tempat untuk menggembleng keimanan dan kesadaran akan Allah (ihsan). tidak harus lama cukup 3 hari sampai 1 minggu itu sudah cukup. untuk keilmuan tidak perlu mondok sampai puluhan tahun, cukup di kenalkan gadget saja atau aplikasi ilmu islam yang dapat dipelajari secara mandiri itu sudah cukup.

Kalau islam tidak mau berubah untuk lebih praktis lebih simpel dari semua sisi keilmuan di dapat, maka islam tidak akan maju. Sibuk mencari ilmu tapi tidak berguna. Pandangan kedepan kita bahwa mencari ilmu tidak untuk cari pahala… kita harus sudah berorientasi mencari ilmu itu untuk apa kedepannya, kalau memang tidak berguna ya tinggalkan saja. Ingat bahwa kemajuan teknologi sudah sangat pesat semua keilmuan islam sudah ada digitalnya.

Sufi Radikal

Seorang sufi kok hatinya bercabang, mana bisa tembus. Maka jadilah sufi radikal yaitu sufi yang hanya “Allah” tidak dengan yang lain. Allah mutlak dalam segala hal.

Tidak melayani debat dan sejenisnya

ilmu sudah saya tinggalkan, saya akan fokus untuk ke Allah. tulisan tulisan saya, saya arahkan yang dari Allah saja, jadi diskusi dengna saya kalau tujuannya untuk saling memenangkan atau sekedar tukar ilmu tidak akan saya layani. Saya hanya melayani yang mau sama sama ke Allah dengan saya.

Kalau saya menulis dan itu menganggu atau membuat anda tidak pas atau merasa terusik yang tinggalkan saja, saran saya , kalau tulisan saya baik ya silahkan ambil kalau tidak sesuai ya tinggalkan.

saya menulis ini juga di rumah saya sendiri, baik di blog ini, di group Dzikir nafas, di Wall FB saya jadi kalau anda menentang kemudian anda menghujat tulisan saya itu sangat tidak sopan sebab ibarat anda main ke rumah saya kemudian saya punya mobil espass kemudian anda datang dan menjelek jelekkan espass saya dan membandingkan dengan mobil trontong anda. Lha kan lucu, ini rumah saya anda datang tanpa kulonuwun tiba tiba menjelek jelekkan punya saya…. kalau saya menyombongkan mobil espass saya di rumah saya ya itu wajarlah.. karena ini memang rumah saya.

saya ini pejalan yang sedang belajar istiqomah untuk ke Allah, kalau anda mengajak saya debat itu namanya ngribet ngribeti saya. maka ya saya minta maaf kalau pertemanan di FB saya unfriend atau di group DN saya delete, atau di WA dzikir nafas saya keluarkan. Saya melayani kawan yang belajar DN saja ini sudah banyak waktu yang saya keluarkan, dan sudah tidak ada waktu lagi untuk melayani berdebat yang belum tentu kalau anda kalah terus mau belajar dzikir nafas sadar Allah.

baiklah semoga keputusan saya untuk mengunfriend sebagian teman teman di FB dan memblokir no WA ini bisa membawa berkah dan manfaat baik bagi saya sendiri maupun orang yang saya keluarkan.

Islam tidak ada kasta

kita lihat fakta kasta itu ada dalam islam

  1. kasta tertinggi syeh/mursyid/kyai dengan ciri asesoris : bersorban, berjubah, bertasbih, berselendang, kadang berteken (tongkat untuk jalan). kasta ini sangat di puja bak Dewa, minumannya dibuat rebutan, tangannya dicium secara berlebihan bolak balik dan berkali kali, wajahnya dibayangkan ketika berdzikir, pemberi lisensi dzikir (ijazah), di kultuskan sampai ada yang menuhankan …
  2. kasta kedua : ustad, guru ngaji, kalau kasta ini lebih pada di hormati
  3. kasta terakhir adalah kasta orang “awam”

sebenarnya kasta kasta ini tidak ada dalam islam. Penciptaan kasta ini terbentuk karena

  1. kasta tertinggi mempertahankan kedudukannya
  2. kasta kedua tidak berani membuka kenyataan ketidakbenaran dalam pengkastaan
  3. kasta paling rendah, kurang iman, kurang pengetahuan dan ibadah yang oportunis yaitu sebatas surga dan takut neraka. sehingga mudah di perdaya oleh kasta tertinggi.

Di dalam islam tidak ada ukuran derajat seperti dalam kasta kasta tersebut, yang ada adalah tingkat ketakwaan dalam menjalani hidup. Seharusnya yang merasa orang awam untuk meluruskan diri ke Allah dan mentaati seluruh apa yang diperintahkan Allah dalam kehidupan. dan kasta tertinggi seharusnya memberi pengertian tentang keimanan bahwa untuk ke Allah tidak harus melalui dirinya tapi bisa langsung ke Allah. Tidak perlu takut dengan kasta tertinggi itu karena ukuran kedudukan tertinggi bukan terletak di kasta tapi di seberapa takwa dia kepada Allah.

anda yang membaca tulisan ini jika tidak setuju jangan terus berpikir negatif, tapi coba evaluasi dulu jika anda seorang kyai atau mursyid maka sudah memberikan pengertian yang benar kepada jamaah tidak tentang kedudukan sebagai Mursid bahwa Mursyid bukan lah agen birokratif, tapi Mursyid adalah penunjuk jalan saja kemana dia seharusnya mengarahkan arah spiritual para muridnya. Untuk selanjutnya murid berjalan sendiri sendiri menuju kepada Allah.

jika anda orang awam maka sebaiknya anda adalah hamba Allah yang sama kedudukannya dengan para kyai dan syehk. anda tidak perlu minder dan mengkultuskan secara berlebihan. ingat bahwa kultus yang berlebihan akan menjadikan anda terhijab dengan sendirinya dengan apa yang anda kultuskan.

baik inti dari tulisan saya ini adalah mengajak kepada siapapun baik yang merasa kasta tertinggi atau terendah untuk sama sama berjalan bareng menuju kepada Allah, tanpa harus menjadi perantara. Kita sama sama tingkatkan ketekwaan kita kepada Allah karena hanya itulah derajat yang akan dinilai oleh Allah. Siapa yang derajatnya tertinggi atau terendah yang dapat menilai adalah Allah, dan kita hanya bisa untuk bertakwa dan bertakwa untuk di nilai bagus oleh Allah20160128085453