Articles from February 2018

Sabar itu berawal dari menerima

Sabar sebuah kata yang mudah diucapkan namun akan sangat berat ketika kita berada pada keadaan yang membuat kita tidak sabar. Ya begitulah banyak orang yang menganggapnya demikian, bahkan ada yang menganggap bahwa sabarnya sudah habis, atau kesabarannya sudah pada batas maksimal…. ya demikianlah kalau sudah tidak sabar dia akan mengatakan kesabarannya habis. Islam sangat menekankan sabar ini sebagai sebuah perilaku terpuji. Dua hal yang sangat antagonis kan, yang satu harus sabar disisi lain tidak bisa sabar. Ketika ia tidak sabar namun dia berpegang teguh pada ajaran agama bahwa dia harus sabar maka yang terjadi adalah “terpaksa sabar”, rekasi tangannya biasanya mengelus dada… mengelus dada ini menunjukkan bahwa dia terpaksa sabar. Keadaan terpaksa sabar ini mestinya sangat tidak baik. Karena yang terjadi pasti nantinya adalah “kesabaran saya sudah habis…”.

baik yang menjadi masalah sekarang kan kenapa orang ingin sabar atau orang sudah tahu harus sabar tapi sulit sekali untuk sabar. Permasalahan ini tentunya harus mendapatkan jawaban, sebab orang yang sabar tidak bisa katakan ataudiperintah harus sabar, bahkan kalau kita tanyapun orang yang tidak sabar maunya dia ya sabar. Makanya kalau ada orang sabar jangan kita suruh sabar pasti dia akan marah marah. ….

Kalau kita melihat masalah sabar, intinya adalah pada penerimaan dari masalah yang sedang ia alami. Ketika dia tidak menerima masalah tersebut pasti muncul ketidak sabaran, dan ketika dia menerima pasti muncul kesabaranya. Nah berarti masalah sabar ini menjadi masalah yang sangat mudah dan gampang ketika ketika kita menerima masalah tersebut.

Dan kita pun jika menghadapi masalah langkah kita adalah menerma masalah tersebut baru kita akan mendapatkan kesabaran. Dan nanti kita akan sabar dan itu pasti. Semakin kita menerima kita akan semakin sabar. dan satu kelebihan di menerima ini adalah bahwa kita bisa melakukan menerima … sedangkan kalau kita kita tidak sabar … kita tidak bisa memaksakan diri kita sabar. jadi kita gunakan menerima bukan sabar, karena sabar adalah hal yang otomatis. Otomatis dari kita menerima masalah tersebut.

Mengenai pahala sabar pasti anda tahu, betapa Allah memberikan hal yang sangat spesal bagi orang orang yang sabar. Bahkan orang yang sabar akan mendapatkan maunah atau pertolongan di dunia …. Dan jangan macam macam dengan orang yang sabar karena Allah selalu bersama dengannya.

Baik mari kita latihan menerima dari yang paling sederhana yaitu apa yang kita lihat kita terima, apa yang kita dengar kita terima, apa yang kita pikirkan kita terima, apa yang kita rasakan dalam hati kita terima…. latihan sederhana ini akan membentuk karakter “menerima”. …bersamalah dengan orang orang yang rukuk dan sujud artinya adalah bersama samalah orang orang yang menerima Allah, Ridho.

Surat untuk Bapak Jokowi Presiden RI Spiritualitas Modal tak Tertandingi untuk Kemajuan Bangsa

Sudah hampir sebulan saya berada di  Malaysia, saya melihat perbedaan yang sangat mencolok antara malaysia dan Indonesia. Kebetulan saya tinggal di bandar raya Kuala Lumpur tepatnya di Kampung Baru, sebuah tempat yang kata orang sini adalah little jakarta. Malaysia melangkah ratusan kedepan yang tidak mungkin terjangkau oleh bangsa indonesia, boleh dikatakan indonesia kalah jauh dengan malaysia. Di dunia pendidikan pun, UGM dan UI tidak ada apa apa nya dengan UKM atau UPM apalagi UM.

Sebagai orang indonesia yang sedang berada di negara tetangga terdekat yaitu malasia, saya melihat ketimpangan ekonomi, ketimpangan sosial dan budaya…. dan tentu saja juga bidang pendidikan. Disini trasnsportasi sudah terhubungan satu dengan yang lain, pelayanan transportasi cukup memadai dan digitalisasi sudah sangat maju. Dengan kartu mahsiswa saja kita sudah bisa melakukan banyak hal, dengan hanya mengetikkan no mahasiswa (kalau disini no matric) kita sudah bisa mengakses banyak fasilitas kampus …. okelah… kalau diceritakan satu satu akan sangat panjang .

singkat cerita, Kepada Bapak Presiden yang saya hormati. Kita Bangsa yang  sebenarnya lahir lebih awal dibandingkan dengan negara jiran malaysia, bahkan kerajaan kerajaan jaman dulupun pernah menguasai tanah melayu malaysia ini. Nah ini yang akan saya usulkan kepada yang saya hormati Bapak Preseiden. Yaitu Spiritualitas. Di Malaysia Spiritualitas tidak seperti di Indonesia, kalau disini tidak sebebas dan seekspresi kalau di Indonesia. Maka saya usul kepada Bapak Presiden, untuk memajukan Spiritualitas di negara Indonesia.

Karena saya Muslim maka sudut pandang saya adalah spiritulitas islam, dan tentunya yang beragama lain bisa menyesuakan. Spiritulitas yang saya maksud disini adalah pembentukan mental yang berbasis spiritual, yaitu suatu kesadaran akan Allah SWT. Mental ini sangat penting Bapak Presiden, dengan mental inilah bangsa kita akan disegani seperti diawal revolusi seperti di awal kerajaan kerajaan berjaya. Kehebatan bangsa kita Bangsa Indonesia adalah terletak di mental spiritual ini.

Bapak Presiden, umat Islam sebagai umat beragama harus berani meninggalkan klenik, jin, khadam, azimat, dan sejenisnya kembali kepada aslinya spiritual yaitu lurus ke Allah. Hanya dengan lurus ke Allah inilah maka mental kita akan terbangun dengan tangguh dan siap untuk bersaing dengan negara negara lain … saya yakin dengan spritualitas murni ini tidak akan tertandingi oleh malaysia, singapura dan negara lainnya bahkan negara islam seklipun seperti arab saudi iran atupun negara islam lainnya.

Bapak Presiden yang saya hormati, revolusi mental yang Bapak Presiden canangkan merupakan langkah revolusioner yang sangat mengagumkan. Dari sini saya ingin mengusulkan bahwa revolusi mental tanpa merevolusi kesadaran spiritual hanya akan menghabiskan dana negara saja, sebab tidak akan ada pengaruhnya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Puncak dari karakter adalah kesadaran bukan pada pikiran atau hati terlebih pada perbuatan. Di awali dari kesadaran inilah yang nantinya akan dapat mempengaruhi pikiran perasaan dan perbautan. Yang Mulia Presiden Soekarno ketika mendirikan ¬†negara ini adalah dengan kesadaran, dimana kesadaran Rakyat di bangkitkan, di bakar sehingga muncul karakter pemberani, karakter HEBAT, sampai sampai ada istilah bambu runcing mampu melawan senjata penjajah. Bapak Presiden Kita ingin kembali seperti dulu lagi ….. kembali ke semangat Forty five

Ingat Sekali saya, Bapak presiden ketika diangkat menjadi wali kota solo untuk yang pertama, Bapak Langsung mencanangkan sesuatu yang luar biasa yaitu SOLO THE SPIRIT OF JAVA, dan kesadaran ini terus Bapak bawa hingga benar benar sekarang terwujud. Bapak Presiden, sekarang ini spirit itu meluas tidak hanya di tanah jawa tapi seluruh Indonesia, ya indonesia raya… maka pencanangan Spiritualitas harus bisa masuk ke ranah Indonesia bukan hanya jawa. TRUST GOD THE SPIRIT OF INDONESIA …..

Baik Yang Mulia Bapak Presiden, tulisan ini saya akhiri dengan semoga Dengan kepemimpinan Bapak Presiden, Indonesia bisa kembali ke negara spiritualis, sehingga bisa bersaing dengan negara negara lain, ketika mental spiritualis terkejar insya Allah bidang bidang lain ekonomi, pendidikan, sosial dan lainnya akan mengikuti kemajuannya.

 

Mindset Menerima Allah

Menerima Allah berbeda dengan menerima nasib, atau menerima musibah. Kalau kita menganggap bahwa menerima musibah itu sama dengan menerima Perbuatan Allah atau menerima Allah, maka kita akan mudah menerima musibah tersebut, namun kenyataan kenapa masih banyak yang sulit menerima, sebab menerima Allahnya tidak ada, bagaimana kita mengatakan bahwa musibah itu dari Allah sedangkan kita tidak menerima Allah, ini adalah mind set yang salah tentang musibah tersebut, sehingga kita seperti di lingkaran syetan yang tidak ada habisnya. Karena biasanya kejadian yang tidak menyenangkan akan terekam terus dalam otak dan akan mengganggu selama rekaman itu masih belum bisa kita terima

Mindset kita dalam menerima masalah atau musibah, yang terpenting terlebih dahulu adalah menerima Allah. Keihlasan kita menerima ALlah ini akan membuat kita bisa menerima perbuatan Allah. Dan kalau kita bisa menerima perbuatan Allah maka kita akan bisa menerima segala musibah yang Allah berikan kepada kita.

jadi kekuatan mindset dalam menerima musibah dan saya kira tidak hanya musibah hal hal yang menjadi tugas kita saat ini harus kita terima, nasib harus kita terima, dan seterusnya …. untuk membentuk mindset ini kita harus berada pada keadaan jiwa yang sujud, jiwa kita harus dalam keadaan sujud, dengan keadaan sujud ini maka kita akan terlatih untuk menerima Allah, dan kalau kita menerima Allah maka kita akan menerima segala tugas hidup segala hal yang kita alami dalam hidup baik sekarang atau nanti atau bahkan kejadian kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalu.

Dengan cara diatas maka menerima kejadian dalam hidup bukan barang mahal lagi, bukan hanya milik orang orang yang sabar, bukan milik orang orang yang tabah, tapi… kita kita mungkin yang dalam hidup ini jauh dari sabar , jauh dari tabah akan dapat melakukannya dan nantinya kita akan sabar dengan sendirinya kita akan dapat tabah dengan sendirinya.

ternyata cara hidup ini sederhana dan sangat simpel. Meski sebagian kita masih menganggap sabar itu barang mahal, tapi kalau kita latih dengan “jiwa bersujud” maka hal itu tidak mahal lagi. Tidak kyai tidak santri semua bisa mempraktekan semua bisa merasakan kesabaran ketabahan dan ketawakalan.