Articles from June 2018

kalau makna kias jangan di perdebatkan

Dalam tradisi tasawuf, mengumpamakan sesuatu untuk pelajaran tertentu itu sudah sangat umum dan wajar, misalnya mengumpamakan paku yang tetap lurus akan terus dipukul sampai tenggelam, ini adalah gambaran bahwa ketika kita lurus ke Allah maka Allah akan mendidik, sampai benar benar kita paham. Nah makna kias ini jangan sampai kemudian dipertanyakan , lha apakah yang bengkok tidak bisa diluruskan lagi?. Pertanyaan ini sudah berbeda pembahasan, dan sangat tidak layak untuk ditanyakan, dan itu mendandakan bahwa dirinya kurang paham dengan makna kias yang ada di perumpamaan itu.

Makna kias ini sangat membantu kita untuk memahami sesuatu. Dalam pengajaran spiritual atau pengajaran tasawuf dengan dengan menggunakan perumpamaan akan memudahhkan dicerna dan di ambil hikmah dari perumpamaan itu. Dan semakin mudah pelajaran itu diterima maka akan semakin mudah tersimpan dalam memori.

Anda kalau bersilaturami ke tempat kyai maka pelajaran pelajaran perumpamaan akan anda dapatkan, seolah perumpamaan ini sudah menjadi tradisi dikalangan sufi. Sebagai orang yang sedang belajar tidak sopan kemudian mengkaitkan  masalah perumpamaan yang disampaikan dengan permasalahan lainnya. Sebab tentu saja ini akan mengaburkan pengajaran perumpamaan yang disampaikan dan juga akan menyulitkan pak Kyai untuk menjelaskannya, dan tentu saja ini juga menunjukkan kebodohan orang yang sedang belajar. Kebodohan ini bisa berarti karena memang tidak tahu, atau karena memang ingin diaanggap pintar.. yang kedua ini namanya bodoh kuadrat. karena sudah bodoh masih ingin dianggap pintar. Saya sampaikan ini agar kita menjadi lebih sadar bahwa perumpamaan tidak untuk diperdebatkan.

 

sekedar mengabarkan ilham Allah yang semakin mendalam

Pelajaran yang lama tidak saya fahami dari Allah adalah ternyata saya hanya sebagai penyampai berita ilham saja dari Allah, selebihnya tidak. Ya tugas saya ada dua mengkondisikan diri untuk menerima ilham dan action mengabarkan berita yang saya terima. Dua tugas ini menjadi tugas utama saya , ini sebenarnya sudah tahu lama tapi kefahaman baru baru ini saja, setelah Allah membenturkan saya pada beberapa pelajaran yang Allah berikan kepada saya. Pertama saya seperti tidak terima tapi lama lama saya fahami bahwa inilah pelajaran Allah dan harus saya jalankan. saya kadang lambat memahami pelajaran dari Allah, coba kalau saya faham dari dulu pasti saya akan mengalami kemajuan yang lebih dari sekarang.

Kabar dari Allah tentang ketauhidan memang tidak ada habisnya, jadi saya mencoba menikmati tugas ini sebagai amanah dari Allah kepada saya. perkara mendapat komen atau tidak, komen positif atau tidak yang pasti saya sudah menyampaikan kabar dari Allah berupa iham yang saya terima. Kadang kalau ada yang komen negatif terasa sakit hatinya, tapi kalau saya hanya sebatas menyampaikan saja komen negatif itu terasa tidak berasa… paling paling perintah Nya, abaikan saja, atau unfriend saja, atau blokir.

Semakin kesini banyak sekali pelajaran dari Allah, karena jujur saya juga belajar dari ilham yang turun dan saya juga belajar dari ilham yang saya tuliskan atau yang saya sampaikan kepada orang lain.

ini asyiknya menjadi pengabar ilham dari Allah, saya kira kita semua diberi kesempatan yang sama, karena ilham itu terus menerus dan akan diberikan kepada siapapun. setiap saat kita diberikan ilham Allah dari hal yang sederhana sampai hal hal yang belum kita ketahui sebelumnya. nah bagi sahabat cobalah untuk menuliskan ilham Allah yang mencerahkan untuk kita dengan bahasa kita. semakin bahasa itu adalah bahasa kita yang kita sampaikan maka keaslian ilham itu akan lebih bisa diterima oleh orang lain. Misalnya ada salah satu ayat quran, kemudian dari ayat itu kita merasa ada pencerahan maka jangan tulis persis seperti ayatnya (kopi paste) tapi coba di tulis ulang sesuai dengang pemahaman yang diterima. maka tulisan itu akan menjadi pencerahan juga bagi orang lain. Baik mari kita sama sama menjadi pengabar ilham dari Allah dan kita sama sama mengajak kepada kebaikan dunia dan akhirat

Ijazah Amanah Qubro 1 : Dzikir Nafas Tidak Sekedar Sadar

Dzikir nafas tidak sekedar sadar atau sekedar dzikir saja, tapi lebih dari itu, yaitu kesadaran yang sudah menyadari akan kebesaran Allah, Bahwa Allah lebih besar dari apapun. Allah yang lebih besar dari apapun ini merupakan kesadaran yang selalu meningkat dan selalu “lebih menyadari Allah yang memang lebih besar”. menyadari dibalik semua alam semesta ini.

kesadaran ini merupaka kesadaran yang akan membawa kesadaran kita lebih tinggi dan lebih tinggi, tapi sekali lagi bahwa ketinggian spiritual ini tanpa ada kesanggupan menajalankan amanah akan menjadi kesombongan spiritual yang berdampak negatif. Ingat bahwa kita dalam menjalankan spiritual ini kita mengikuti apa yang diperintahkah Allah, sehingga kekuatan spiritual dapat teraplikasikan dalam kehidupan sehari hari.

Pertemuan kita 30 juni 2018, akan menekankan amanah ini, dan bagaimana menyelesaikannya. Tentunya tidak sekedar menyelesaikan sebab kita tidak akan kuat menyelesaikan masalah yang besar ini, jangan kan yang besar yang kecil saja kadang kita tidak selesaikan dengan baik. Oleh karena itu kita selesaikan masalah tersebut dengan cara spiritual yaitu dengan Allahu akbar.