Ego Spiritual

Apapaun bisa menyebabkan ego menjadi lebih kuat, apalagi kalau baru belajar sesuatu pasti ego itu meningkat. Ketika kita belajar silat maka ego merasa diri hebat dengan orang lain aka muncul, orang belajar Psikologi pasti ego sebagai psikolog itu pasti ada. Orang yang menjadi tentara pasti ego tentaara itu ada. Namun ego ini akan semakin hilang dan bersih ketika semakin mendalam dan semakin ahli. Demikian pula dengan ego spiritual, orang yang belajar spiritual pertama kali pasti akan merasa dirinya paling spiritualis dibanding dengan orang lain. Silahkan lihat group group spiritual di facebook atau di media lain, pasti , meski tidak semua, menjelekkan agama , merendahkan agama seolah mereka lah yang paling bahagia dunia akhirat.

saya akan coba membahas hal ini meski sangat dangkal. Ego spiritual ini saya anggap wajar yang harus dilalui, maksud dilalui ini artinya inilah tahap dimana kita harus sadar bahwa kita harus belajar meninggalkan ego spritual ini. Karena ini merupakan tahap jadi mau tidak mau harus kita tinggalkan. Yang sering jadi masalah ketika ego ini tetap bercokol ketika dia semakin mendalami spiritual. Ini akan menjadi sesuatu yang kontradiktif dalam dirinya. Banyak perilaku perilaku demikian dimana di satu sisi dia begitu anggunnya menampilkan akhlak spiritualnya, disisi lain dia menampakkan perilaku egoisnya yang berbalut spiritual.

Ketika kita belajar sadar Allah entah dengan dzikir nafas atau patrap, kita akan mengalami egoisme spiritual ini. sekali lagi saya anggap ini wajar tapi harus dilewati. egoisme dia seperti bunglon yang terus berubah menyesuaikan level spiritualnya. Bahkan ego spiritual ini bisa menyesuaikan dan menyusupi seorang guru spiritual. Saya tulis ini agar saya pun selalu tersadar bahwa ego ini harus selalu saya hilangkan sebab dia akan menyusup dengan halus kadang terlena dan tidak terasa.

Baik bagaimana sekarang mau menghilangkan ego tersebut. sebenarnya caranya mudah namun memerluka usaha yang terus menerus. Selalu meniadakan kemampuan itu kuncinya. Kalau kita hanya menghilangkan keakuan nanti akan berubah dia menjadi ego kekosongan bahwa dia mampu berada di wilayah kosong, hal ini bisa menjadi ego yang menyelimuti meski dia sudah berada di wilayah kosong. Mungkin anda bertanya bagaimana bisa , sdah kosong kok masih merasa kosong, ya memang demikianlah keadaannya. Ketika berhenti untuk menghilangkan kemampuan diri maka ego itu akan menyusup.

Munculnya ego spiritual ini kadang melalui kemampuan dan kelebihan yang dimilki, misalnya ilmu, misalnya murid bisa jadi kesaktian bisa jadi kelebihan lain, bahkan nasab bisa menjadi topeng bagi ego ini untuk  menyusup.

Ego spiritual kalau dalam islam key wordnya adalah nafi isbat, atau laa ilaha ilallah. kalau di dzikir nafas ada di Huu Allah. ketika kita membaca Huu maka kita meniadakan diri kita mendiadakan apapun. Ketika kita membaca Allah maka yang tiada itulah Allah, demikian lagi membaca Huu maka kita tiadakan lagi dan kita membaca ALlah kita masukkan yang bukan apa apa itu adalah Allah, demikian berulang dan berulang. Cara ini merupaka kunci yang dapat membentengi kita untuk mendapatkan pemahaman dan untuk dapat menghalang ego spiritual yang terus berevolusi mengikuti perkembangan spiritual.

Bagi seorang spiritualis belajar menghilangkan ego ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah berhenti. Jika berhenti maka ego ini menghijab, meski spiritulis ini tetap belajar mendalami ke Allah tapi kalau ego ini tidak dihilangkan maka akan menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah. Inilah kelupaan yang harus kita selalu ingat. Kadang orang terjebak pada bagaimana mempertahankan ilmu, murid, kepercayaan murid dan lainnya … hal ini sebenarnya sudah tertipu oleh ego spiritual. Bisa saja orang menggunakan pakaian atau asesoris agar orang percaya bahwa dia adalah orang yang suci, ada juga yang mengancam murid agar tetap patuh kepada dirinya dan berbagai cara lain yang sebenarnya ini bersumber dari ego spiritual yang tidak di hilangkan.

Ego spiritual ini juga akan dapat membuat individu memiliki perilaku yang “memaksa orang lain menghormati dirinya”.  Dia akna berusaha menjadikan agama sebagai tameng ego nya agar dia tetap eksis. Misalnya dia akan berperilaku sangat sopan, sangat baik yang mana perilaku itu menjadi tidak natural, tidak wajar dan kesan dibuat buat sangat nampak. bahkan dengan perbuatan yang merendahkan diri yang over agar orang lain mengakui bahwa dirinya adalah orang yang tawadhu orang yang ilmunya tinggi. yang pasti bahwa ada perilaku yang tidak wajar yang ditunjukkan.