Untuk siapa amanah itu ?

Setiap perintah Allah kepada kita pasti kebaikannya untuk kita. jadi untuk siapa amanah itu ya untuk kita. Kita amanah menjaga keluarga, menjaga harta maka keuntungan ya untuk kita, keluarga kita sejahtera keluarga kita bahagia ya keuntungannya akan kembali kepada kita sendiri. Saya tiap hari mengingatkan tentang amanah, amanah, dan amanah, karena amanah ini adalah kunci untuk hidup kita. Tujuan hidup ini harus jelas, harus tegas, dan harus menjadi sebab yang menyebabkan semuanya. Dengan kita menjalankan amanah maka semua akan beres, semua akan selesai dan berakhir dengan menyenangkan, bahkan tidak hanya di akhir saja tapi juga ketika proses menyelesaikan juga menyenangkan.

Sayapun selalu diilhami tentang amanah dan amanah dan ini harus saya sampaikan kepada kawan kawan yang lain. Saya berharap kawan kawan terutama di jamaah DNSA juga ikut merasakan bahagianya bisa selalu menjalankan amanah dalam setiap detik dan waktu tanpa waktu yang terbuang sedikitpun. Namun saya pun juga menyadari bahwa pelajaran amanah ini memang bertentangan dengat hati dan pikiran jika dirinya masih diliputi nafsu. Saya sendiripun ada beberapa amanah yang terpaksa saya paksakan untuk saya terima meski itu pahit. Sesuatu yang tidak menyenangkan tapi harus saya terima dan harus saya jalankan , di awal berat tapi saya coba dan coba dan berusaha mengenolkan ego dan memohon petunjuk dan pertolongan Allah, alhamdulillah semua berubah menjadi menyenangkan dan membahagiakan meski demikian kesadaran amanah harus selalu ada pada diri saya sebab kalau tidak pasti kembali ke posisi awal.

Ketika saya bicara amanah memang ada perubahan mendasar dalam dakwah yang saya jalankan. Ibarat sebuah perjalanan dakwah, di awal membangun keimanan dengan patrap dan sadar Allah sekarang adalah saatnya perang yaitu perang dengan semangat menjalankan amanah Allah. Bagi sebagian orang hal ini menjadi ladang untuk bertempur dan angkat senjata menjalankan amanah Allah, tapi bagi sebagian yang lain yang belajar dzikir nafas dan patrap untuk sekedar mencari ketenangan hidup, mencari sensasi, mencari Allah tapi tidak patuh dengan perintahNya, akan menolak materi amanah ini. Kadang mendengar kata amanah saja kupingnya sudah panas, hatinya bergejolak bahkan jiwa nya berontak. Sekarang coba tanya kenapa kuping anda panas, kenapa hati bergejolak dan jiwa anda berontak ketika saya sampaikan tentang amanah ? keuntungan itu untuk anda sendiri bukan untuk saya, kebahagiaan menjalankan amanah itu untuk anda sendiri tidak untuk saya.

bagi anda yang saat ini sering melakukan sesuatu yang tidak ada dasar amanahnya mungkin agak sedikit kacau dengan status saya tentang amanah, misalnya tentang merokok, memancing, melancong, piknik atau yang lainnya … sayapun sebenarnya tidak melarang cuma sekarang tanyakan kepada diri sendiri adakah letak amanahnya? kalau amanahnya ada ya lakukan kalau amanahnya tidak ada dan anda masih melakukan ya istghfar, kalau tidak ada amanahnya dan anda berhenti menjalankan itu akan lebih baik, dan sekali lagi kebaikan itu untuk anda sendiri bukan untuk saya.

 

Perangnya umat Rasulullah di jaman sekarang

Semangat perang bukan lah semangat merusak atau semangat membunuh. Semangat perang adalah semangat menjalankan perintah Allah. Pada jaman Rasulullah perang adalah perintah Allah bukan semangat untuk membunuh musuh. Maka setelah kita belajar sadar Allah selanjutnya adalah semangat berperang yaitu menjalankan apa yang Allah perintahkan.  Jika malam perangnya adalah di atas sajadah, dan ketika siang adalah di tempat kerja kita masing masing. Kalau malam gila ibadah kalau siang gila kerja. Kemenangan perang badar adalah karena kegilaan dalam berperang, benar benar mengandalkan Allah SWT meski dari sisi jumlah sisi kemahiran berperang dan persenjataan jauh dibanding kan dengan apa yang dimiliki musuh. Sikap menjalankan amanah ini menjadi kekuatan yang luar biasa sehingga Allah pun menurunkan pertolonganNya.

Demikian pula kita menjalankan perintah dan amanah ALlah harus dengan sikap perang, semangat perang.

apakah anda siap untuk berperang ? kalau ragu silahkan mundur……….

Apa yang Allah bicarakan kepada kita

Kita sering mendengar tausyiah tentang berdialog dengan Allah, atau sering seringlah berdialog dengang Allah, kemudian kira kira apa yang Allah bicarakan kepada kita? topik topik apa yang Allah bicarakan dengan kita, atau Allah hanya sebagai pendengar dari keluhan kita ? Persoalan ini penting karena akan menjadi tujuan untuk apa kita berdialog dengan Allah.

Berdialog dengan Allah tentunya tidak omong kosong, atau bincang bincang yang tidak ada manfaatnya. Dalam berdialog dengan Allah kita harus tahu tujuannya, yaitu pasti perbincangan yang membawa menfaat, dan manfaat itu pasti berisi perintah. Karena dialog nya adalah berupa perintah untuk melakukan sesuatu maka tentu saja setelah berdialog kita harus melakukan sesuatu sesuai dengan perintah yang diterima. Kalau setelah dialog tidak menjalankan perintah terus untuk apa dialognya.

Sekarang bagaimana cara dialog agar perintah Allah itu sangat jelas. baik akan saya uraikan tentang bagaimana berdialog dengan Allah. Tapi saya harap setelah mengetahui caranya untuk segera melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Yang pertama adalah bahwa dalam diri ini ada otak yang diwakili oleh akal dan pikir, kemudian ada kesadaran yang merupakan wujud dari pada jiwa atau nafas. Perintah Allah akan diterima melalui kesadaran yang tenang, kesadaran yang bersih dari pikiran dan akal. Selama kesadaran masih tercampur dengan akal dan pikiran maka kesadaran akan sulit menerima perintah Allah. Untuk itu latihan nafi isbat di metode 4 dzikir nafas harus sering dilakukan agar  kita bisa memisahkan mana pikiran dan mana kesadaran.  Yang kedua adalah bahwa Pikiran akan menerima terjemahan perintah secara lebih terperinci dan leibih jelas dari kesadaran, dicatat bahwa kesadaran pertama kali menerima perintah tidak boleh di campuri, kemudian setelah menerima baru akan diterjemahkan oleh pikiran sehingga perintah yang melalui kesadaran tersebut dapat dilaksanakan.  Jika sudah ada perintah selanjutnya adalah eksekusi dengan cara samikna wa athona , dalam tahap ini baru kita menggunakan akal dan pikira kita serta instrumen tubuh yang lain.

Jadi jelas bahwa setelah membicarakan Allah, kemudian berdialog dengan Allah dan terakhir adalah menjalankan hasil dialog tersebut.