ATP : Amanah Tanda Perintah

ada tiga pilar yang  agar kita mengetahui apa yang harus kita lakukan terkait dengan amanah ini , yang pertama adalah Amanah : kita harus mengetahui dengan sesadar sadarnya apa yang menjadi amanah kita, misalnya pekerjaan, awal menerima pekerjaan adalah awal kita menerima amanah, ibarat ijab qobul maka pekerjaan ini menjadi amanah yang harus kita sanggupi dan kita pegang. Setelah mengetahui dengan sesadar sadarnya kita harus niatkan untuk menjalankan sebaik baiknya, sebagus bagusnya, se elok eloknya. Profesionalitas dalam bekerja, sekecil apapun itu, 1 rupiahpun itu harus menjadi amanah yang besar. Kesanggupan ini akan membingkai seluruh aktivitas kita nantinya. Rasa malu jika amanah gagal harus kita tanamkan dalam hati, bahwa tidak ada kata gagal dalam kesanggupan menerima amanah. 1 detik adalah sangat berharga yang tidak boleh terlewatkan begitu saja. kalau kita mengatkan akan “istirahat” maka istirahat ini bukan untuk  keluar dari amanah sebentar, tapi istirahat adalah amanah untuk menghimpun energi agar lebih kuat lagi dalam menjalankan perintah dalam amanah tersebut. Amanah ini adalah semacam niat ihlas dari semua perbuatan yang akan kita lakukan, karena amanah akan menghubungkan kita dengan Allah, semua perbutan karena perintah Allah.

yang kedua adalah tanda, setiap amanah mengandung tanda, Allah memberikan tanda pada dua hal yaitu tanda alam dan tanda al quran, tanda ini yang kita sebut dengan ayat, ayat qauniyah dan ayat qouliyah. Tanda  ini merupakan petunjuk apa yang harus kita lakukan. Tanda selalu melekat kepada amanah. amanahnya badan, jika tandanya sakit, maka peirntahnya adalah berobat, tanda capek berarti perintahnya adalah istirahat. INilah yang membedakan perbuatan kita yang karena Allah atau  karena nafsu. Jika perbuatan kita karena Allah maka harus berdasarkan amanah jika tidak berdasarkan amanah berarti itu nafsu. Misalnya kalau perut sudah kenyang berarti perintahnya jangan makan lagi, perintah jangan makan lagi jika dilanggar dengan makan lagi maka itu berarti perbuatan nafsu. Kita harus peka dan responsif dengan tanda, Peka disini artinya kita harus waspada dengan tanda yang Allah berikan. Karena kadang tanda ini sifatnya halus.

yang terakhir adalah P, yaitu perintah, namanya juga perintah ya harus di jalankan. Setelah paham tanda maka kita harus bergerak, dan menjalankan apa yang seharusnya dijalankan sesuai dengan petunjuk tanda atau isyarah yang diberikan.

 

Cara Hidup Cerdas ala Waliyullah

Sejarah membuktikan bahwa para wali memiliki kecerdasan di atas rata rata, tentunya tidak dilihat dari test IQ nya tapi karena dengan kewaliannya dapat menemukan hal hal yang tidak mungkin dicapai oleh orang biasa. Tidak ada wali yang gila, yang ada wali yang cerdas. Karena para wali dalam hatinya ada ketenangan hidup, tidak mungkin tenang dalam hidup kok gila. Orang yang mengatakan bahwa wali gila adalah orang orang yang tidak memahami penemuan penemuan yang di miliki oleh para wali tersebut, yang memang berbeda dari kebanyakan orang lain.

Para Waliyullah adalah orang orang spesial yang produktif dan banyak inovasi, bukan seperti yang kita gambarkan bahwa dia selalu pakai surban, selalu di masjid, selalu di pondokannya, atau lebih parah waliyullah adalah mereka yang sakti, bisa memberi ilmu kebal, hafal mantra ini dan itu atau bisa bikin jimat untuk ini dan itu. Produktivitas para waliyullah itu berupa penemuan penemuan beliau yang luar biasa. Bisa membuat hidup banyak orang lebih mudah, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain terutama keluarganya.

Bagaimana para waliyullah ini memiliki kecerdasan orang rata rata, ini adalah tanda karomah yang diberikan Allah taala, karena Beliau mau mengemban amanah yang berat untuk orang lain. Ketika dia diberi satu orang dia sanggup dan perintah nya dijalankan dengan baik, Allahpun menambah menjadi 3 orang, Wali inipun dengan siap sedia menerima amanah yang Allah berikan, 3 orang ini dididiknya dengan sungguh dan berhasil, maka Allah memberikan lebih banyak dan lebih banyak lagi. Pertanyaan adalah bagaimana dia bisa mendidik padahal dia tidak tahu ilmunya dari 1 orang hingga ribuan orang yang berhasil dia cerahkan, ya karena kesiapannya menerima amanah dan dijalankan sehingga Allah memberikan ilmu laduni kepadanya.

enak ya dapat ilmu laduni, ya memang enak dan untuk mendapatkannya pun sangat mudah yang penting adalah siap dengan amanah dan menjalankan tanda yang Allah berikan.

satu hal lagi bahwa para wali , ini kunci yang membuat dia cerdas luar biasa adalah karena dia menggunakan kesadaran tingginya untuk menjalankan amanah. Kesaadarannya ini ia gunakan dalam setiap langkah amanah yang ia jalankan. apa itu kesadaran tinggi , kesadaran tinggi adalah kesadaran meniadakan ke aku an, yang ada adalah Allah, dan meniadakan kekuatan kecuali hanya kekuatan Allah. kesadaran tinggi ini lah yang menyebabkan seorang wali dapat menyelesaikan berbagai  amanah yang ia emban. ya sebenarnya wali nya tidak cerdas, tapi Allah selalu beritahu tentang solusi solusi yang sedang ia hadapi.

jangan percaya bahwa waliyulllah itu muncul tiap 100 tahun , atau tiap 10 tahun atau berapalah…. itu pendapat tanpa dasar yang membuat orang tidak termotivasi untuk menjadi waliyullah. kemudian pendapat bahwa yang tahu wali adalah wali, ini juga tidak berdasar, kayak main tebak tebakan saja, namanya wali itu kekasih Allah, maka yang tahu apakah dia kekasih Allah atau bukan ya Allah karena yang mengasihi Allah, bukan orang lain, bahkan dirinya sendiri tidak tahu.

Setiap wali pasti menerima amanah, waspada dengan tanda yang Allah berikan , agar ia tahu perintah yang Allah berikan. Sehingga tidak ada waliyullah hanya duduk dzkir di suraunya , atau duduk santai di rumahnya, dia pasti bekerja. Dan orang banyak ketipu, ketipu dengan wiridannya, ketipu dengan serban yang dipakai atau ketipu dengan kesaktianya. Kebanyakan kekasih Allah adalah mereka yang jual sayur di pasar, mereka yang ada di kantor kantor, dan sebagainya yang mereka benar benar amanah dengan apa yang mereka lakukan. Sufi adalah mereka yang selalu aktif untuk bergerak, sufi bukan lah orang yang compang camping di jalan apalagi minta minta. Seorang wali anti untuk minta kepada manusia, dia lebih baik mati dari pada meminta minta. karena dia yakin bahwa Allah sudah menjamin hidupnya.

Kalau kita mau mencontoh kecerdasan para waliyullah ini maka kita akan dibuat cerdas oleh Allah juga. Tidak peduli hasil test IQ nya berapa. kuncinya adalah menggunakan kecerdasan tinggi dan selalu aktif untuk siap mengemban amanah dan menjalankan perintah Allah dalam kehdupan sehari hari.

Perjalanan murid murid Dzikir Nafas

Kawan seperjalanan, sahabat seperjalanan semua bersama berjalan dari start masing masing dan latar belakang yang berbeda beda. Tidak bisa di samakan, karena ada yang dari pedagang, adaya mantan preman, ada yang terapis, ada yang suka touring, ada yang dari seorang guru, ada yang tukang batu, ada yang jual di pasar malam, dari berbagai macam latar belakang ini jelas tidak akan sama model pembahasan. Kalau saya mengamati diskusi di group whatsapp yang jumlahnya 8 group , mungkin masih ada lagi karena saya tidak ikut gabung, diskusi nya sangat variatif. Tapi di group tetap ada aturan main. Tidak boleh membicarakan diluar jalur sadar Allah. Larangan keras adalah membicarakan politik dukung sana sini.

Perjalanan tiap murid akan menyesuaikan keadaan latar belakangnya. Silahkan saja untuk mulai dari mana mau dari Dzikir nafas ok, mau dari patrap ok, mau dari amanah atau 3T pun ok. Dan semua juga berangkat dari pemahaman masing masing.

Dibentuknya group adalah untuk menjadi ajang konsultasi, ajang tanya jawab dari laku yang sudah dilakukan, bukan membandingkan dengan metode lain, misalnya tarekat, atau model tasawuf lainnya. karena pasti tidak ada manfaatnya meski ada beberapa yang beranggap bahwa perbedaan adalah rahmat. Saya katakan perbedaan adalah rahmat kalau di luar tapi kalau di dalam group sadar Allah maka yang di bahas adalah tentang sadar Allah dengan metode DN atau patrap dengan aplikasinya di Amanah. Kalau nekat biasanya saya ingatkan , masing mbandel saya remove dari group, tapi ini jarang terjadi.

 

Belajar tasawuf belajar praktek

Sudah nyaman berdzikir nafas sekian lama, Allah kemudian menyadarkan tentang tugas hidup di dunia yaitu sebagai khalifah. Ya tugas itu adalah amanah, amanah sebagai khalifah. HIngga sampai detik ini saya angkat kaki untuk menyambut amanah yang Allah berikan kepada saya. Rasanya memang nano nano, tapi itulah amanah. Saya bersyukur kepada Allah SWT pelajaran laku tasawuf berupa dzikir nafas yang mudah dan simple ternyata tidak berhenti di dzikir tapi saya harus bergerak menjalankan perintah Allah dalam amanah yang saya emban. Sayapun segera mengajak kawan kawan yang lain untuk segera bergerak menyambut amanah Allah dan menjalnakan perintah dari amanah amanah yang Allah titipkan kepada masing masing kita. Jamaahpun ibarat pasukan yang sudah tenang ayem tentrem, bergejolak kocar kacir seperti orang yang kaget di bangunkan dari tidur secara mendadak. Kenyamanan yang sudah di rasakan dengan duduk dzikir nafas berubah menjadi hiruk pikuk ada yang langsung menjalankan perintah dan amanah, ada yang masih bingung karena baru saja tertidur terus dibangunkan, kebingungan dengan apa amanah saya dan apa perintah Allah, padahal jelas amanah dan perintah ada di depan mata. Ya secara pribadi saya minta maaf, sebab membangunkan tanpa persiapan semua serba ujuk ujuk. Karena saya pun demikian dibangunkan Allah diberi amanah padahal saya belum siap secara mental. Periode ini adalah periode benar  benar belajar tasawuf dengan praktek nyata dalam kehidupan.

Saat ini saatny perang menjalankan perintah Allah. Anda bayangkan bagaimana para sahabat saat itu berperang dengan bekal dan kemampuan seadanya menghadapi musuh yang jauh lebih hebat dengan segala perlengkapan perangnya. Demikian pula kita sekarang ini, saat ini kita maju dengan bekal seadaanya , hanya Allah tumpuan kita hanya Allah tempat kita bersandar dan memohon pertolongan.

Belajar tasawuf bukan belajar bersih hati kemudian duduk manis di surau masjid atau mihrab, belajar tasawuf adalah belajar menerapkannya ke dunia nyata. Kalau kita belajar tasawuf memahami bahwa Allah maha kuat, maka saatnya kita bersandar pada kekuatan Allah untuk berperang menjalakan perintah Allah, kalau kita memahami bahwa Allah tempat kita berlindung maka prakteknya adalah kita berperang dengan tetap berlindung kepada Allah bukan kepada yang lain.

hidup kita adalah kita yang menanggung, Kyai ustad, atau habib atau mursyid tidak dapat menanggung jika kita tidak bertanggung jawab dengan hidup kita. Maka saatnya sekarang kita menerima amanah dan menjalankan perintah Allah. Kalau kita hanya duduk berdzikir kemudian menggantungkan keselamatan kita kepada kyai maka sama saja kita sudah menduakan Allah dengan kyai, dan kita tahu bahwa kyai tidak dapat menyelamatkan kita.

Tasawuf jangan diidentikan dengan surban, jubah, teken, atau pakaian yang compang camping… atau tasawuf diidentikan dengan jadzab seperti orang gila tidak berpakaian bahkan tidak shalat… tasawuf adalah menjalankan semua perintah Allah dalam kehidupan. Menjadi ayah yang sufi, menjadi suami yang sufi, menjadi pegawai yang sufi, menjadi tukang yang sufi, menjadi tentara yang sufi, menjadi pelajar yang sufi… bukan hanya menjadi ahli dzikir duduk di masjid saja. BUkan hanya mengikuti pengajian tasawuf kemana mana. Kemana mana mencari berkah, berkah Kyai, berkah kuburan, berkah membaca al quran tapi tidak menjalankan peran sebagai kepala keluarga, sebagai karyawan, sebagai pimpinan ini bukanlah ajaran tasawuf, ajaran tasawuf yang sebenarnya adalah ajaran kehidupan.

Segera prektekan ilmu tasawuf dalam kehidupan riil kita dan prakatek itu hanya ada di amanah dan menjalankan perintah Allah, tidak yang lain.

Cara Hidup Bahagia dengan Amanah

Allah menciptakan manusia adalah untuk menjadi khalifah, barang siapa yang mengingkari untuk menjadi khalifah ini maka hidupnya tidak akan bahagia. Allah membuat manusia dengan segala hal yang berkaitan dengannya, dan Allah sebagai pencipta ingin kita hidup bahagia untuk itu kita harus mengikuti apa apa yang Allah kehendaki pada kita, ketika kita melawan atau berlawanan maka sistem Allah yang sudah di buatNya akan berlaku kebalikanya atau berlaku negatif, sehingga muncullah ketidak bahagiaan. Menurut pandangan manusia kehendak Allah ini sangat berat, menjalankan amanah itu sangat berat, ya.. itu pandangan manusia, tapi sekali lagi bahwa Allah sudah mempersiapkan segala sesuatunya ketika kita berhadapan dengan amanah yang berat, Allah sudah mempersiapkan bagaimana amanah yang kita jalankan dengan berat itu dapat selesai dengan mudah dan membahagiakan.  untuk yang penting bagi kita manusia ciptaan Allah ini adalah nekad saja ketika Allah amanahkan kepada kita meski itu sangat berat dan sulit.

Urutan untuk mendapatkan bahagia sebagai berikut:

  1. Sadar Allah (dengan dzikir nafas)
  2. Siap menerima amanah Allah (tetap sadar Allah dengan dzikir nafas)
  3. Menjalankan perintah Allah (dalam amanah yang kita emban)

ya simpel dan mudah. Bahagia itu mudah, yang penting kita menjalankan tugas kita masing masing. Justru ketika kita berat menjalankan amanah disitulah letak pertolongan Allah akan terlihat dengan jelas. Pengertian sedemikian jelasnya sehingga ketika masih belum bisa menerima amanah dan mejalankan perintahNya maka dia tergolong orang yang bodoh. Orang yang bodoh adalah orang yang masih saja memikirkan sesuatu padahal sudah jelas. Orang bodoh adalah orang yang masih memikirkan 1+1  kenapa bisa 2. Padahal sudah jelas 1 + 1 ya sama dengan 2, sehingga jika ada pertanyaan 1 + 1 ya jawab saja 2. Kita ini kadang merasa bahwa dengan berpikir menunjukkan kecerdasan, padahal tidak sama sekali justru sesuatu yang sudah jelas dan bisa dijalankan ya jalankan saja.

Hidup bahagia adalah hidup dengan menjalankan bukan memikirkan, karena hidup ini kita tinggal menjalankan. Menjalankan dengan kesadaran terhadap Allah, dengan dzikir nafas tentunya. Kita menjalankan tapi kesadaran yang harus kita jaga untuk selalu sadar Allah. Kalau kita menjalankan tapi tidak ada sadar Allahnya nanti akan tersesat dan konyol. Kalau tidak mau sadar Allah maka pikirkan sebelum menjalankan, tapi kalau sudah sadar Allah jalankan saja karena pikiran kita tertuntun dengan kesadaran kita

Dengan kesadaran ini kita sama saja kita sedang menyesuaikan diri dengan kehendak Allah, dan Jika kita menajalankan perintah Allah berdasarkan amanah yang kita emban maka sejalan dengan perbuatan Allah, kalau kehendak kita sama dengan kehendak Allah dan perbuatan kita sama dengan perbuatan Allah maka otomatis kita akan bahagia.

Jika mengalami “hari yang aneh”

Pada suatu hari …. senyam senyum…. ya pada suatu hari jika kita mengalami hari yang aneh, maka jangan heran dan kaget demikian Allah ingin bercanda dengan kita. Kadang kita senyum tapi saking nggak nahan kita bisa ngakak..wk wk wk wk … ya hari yang aneh bagi sebagian orang menjengkelkan bagi kita sungguh indah dan lucu. yahh itulah yang saya alami hari ini saudara saudara…. tak perlu saya cerita karena baru setengah hari saja beberapa hal terjadi pada saya dan itu aneh.

Tidak setiap hari dan belum tentu sebulan sekali kita mengalami hari yang aneh, tapi itulah Allah. Allah menunjukkan bahwa Allah berkuasa penuh atas segala apa yang terjadi. Ya ya saya menjadi lebih sadar dan lebih bahagia karena di ajari Allah untuk lebih sadar tentang kejadian kejadian aneh.

Hari yang aneh jangan membuat kita merasa di azab oleh Allah atau merasa di uji atau di coba sama Allah. Justru kita merasa bahwa Allah sangat dekat dengan memberikan keanehan keanehan dalam hari kita. Allah memerintahkan meski hari yang kita lalui aneh tapi kita harus tetap berada pada jalur amanah dan menjalani perintah Allah dengan cara just do it, dan membiarkan keanehan itu berlalu dengan sendirinya. No Comment dan no Complaint itulah yang ingin Allah ajarakan kepada saya. Dan saya siap samikna wa athona.

 

Beda Kesadaran Jiwa dan Sadar Allah

Jiwa fungsinya untuk sadar, sedangkan sadar Allah adalah jiwa yang sudah sadar akan Allah. Untuk memudahkan kita umpamakan, penglihatan mata, pendengaran telinga, atau berpikirnya otak itu untuk kesadaran jiwa. Sedangkan kalau Sadar Allah bisa kita umpamakan, melihat bunga, mendengar musik, berpikir tentang rumah. Jadi penggunaan kesadaran jiwa atau sadar Allah adalah benar tergantung dari konteknya sama halnya dengan ketika kita menulis pikiran saya berpikir, atau mata saya melihat, tidak salahkan , cuma berpikir apa, atau melihati apa ? nah ketika kita menggunakan fungsi dari pada berpikir atau melihat maka kita menggunakan kaalimat berpikir tentang makanan, melihat makanan, sama hal nya dengan ketika hanya menggunakan kesadaran jiwa maka benar , tapi ketika kita ingin menyadari Allah atau berlajar tentang mengenal Allah maka penggunakan  kalimat kesadaran jiwa tidak tepat, akan lebih tepat jika menggunakan sadar Allah. Kesadaran jiwa dia belum menyadari apapun , tapi kalau sadar Allah berarti kesadaran kita menyadari Allah.

Penggunaan istilah sebaiknya menggunakan kalimat yang memotivasi untuk mengarahkan pada sesuatu. Kalau kita ingin belajar mengenal Allah, karena yang digunakan adalah kesadaran kita maka kalimat sadar Allah lebih memotivasi dan mengarahkan dengan jelas kemana arah kesadaran kita. Sadar Allah dapat mencakup kesadaran jiwa yang sadar akan Allah. Kalau kita menggunakan kesadaran  jiwa saja maka dia akan berhenti pada pengertian “sadar jiwa” belum mengarah kepada menyadari apa, atau sadar apa. Ketika menggunakan kesadaran jiwa , jiwa tidak mengarah kemana mana dia hanya menyatakan bahwa hanya sadar saja. Sehingga di khawatirkan kata kesadaran jiwa ini memudahkan kesadarannya untuk menyadari hal hal yang selain Allah. Sebab kesadaran jiwa bisa menyadari hal lain misalnya menyadari khadam, menyadari kekuatan selain Allah atau hal hal lain.

Jiwa ini harus diarahkan secara lurus kepada Allah dan harus tegas. Sadar Allah sudah sangat tegas yang menegaskan bahwa kesadaran diarahkan untuk sadar Allah. Pengalaman saya, perjalanan menuju kepada Allah dalam setiap menuju kepada Allah akan ada hijab hijab yang membuat kita tidak lurus ke Allah. Hijab itu selalu menyertai jiwa , maka dalam surat al fatihah wajib kita baca setiap shalat selalu ada “tunjukilah kami jalan yang lurus”, ini mengandung berarti bahwa perjalanan kita akan selalu ada hijab. Dengan kalimat sadar Allah saja kita sudah mendapat hijab yang selalu mengiringi apalagi dengan kalimat kesadaran jiwa yang tidak mengarahkan kemana mana.

Kalimat kesadaran jiwa ini banyak dipakai oleh orang orang yang mendalami ilmu ilmu kekuatan jiwa, mereka sengaja mengolah kekuatan jiwa untuk mendapatkan hal hal yang diinginkannya. Misalnya Ngrogo sukmo (astral travelling), kekebalan, hipnotis, dan  lainnya. Dengan kesadaran jiwa mereka, mereka bisa melakukan hal hal lain yang “aneh aneh”. LoA atau law of attraction, kekuatan pikiran, kekuatan kesadaran adalah salah satu bentuk dari penggunakan kekuatan kesadaran jiwa yang di olah untuk tujuan tidak ke Allah.

kesimpulan saya, penggunakan kalimat kesadaran jiwa atau sadar Allah adalah benar, tergantung konteknya apa. Jika untuk mengenal Allah maka tepat dengan menggunakan sadar Allah, jangan hanya kesadaran jiwa saja, tapi kalau untuk olah kesaktian, olah pikiran bawah sadar, maka penggunakan kesadaran jiwa lebih tepat.

Amanah dan dzikir nafas saling meng-upgrade

Ketika kita menjalankan amanah maka sikap tawakal itu akan muncul, karena amanah ini sesuatu yang dari Allah dan kita sandarkan kepada Allah. Sedangkan dzikir nafas akan melatih kita untuk bersandar dan sadar Allah dengan benar. Semakin kita berdzikir nafas maka semakin kuat kesadaran kita kepada Allah dan semakin kita sanggup menjalankan amanah maka semakin kuat pula ketawakalan kita kepada Allah.

Dzikir nafas merupakan latihan yang dapat memperkuat jiwa kita untuk bersandar kepada Allah sedangkan amanah dapat memahirkan kita dalam bertawakal kepada Allah.

malam hati kita kuat dalam berdzikir nafas sedangkan siang hari kita kuat dalam menjalankan perintah Allah dalam setiap amanah yang Allah bebankan kepada kita.

Islam jaman Rasulullah yang tidak ribet

ISlam awal didirikan Rasulullah, sangat simple dan sederhana, tapi kemajuan islam mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kebalikan dengan sekarang, saat ini islam ini ribet, tidak sederhana dan banyak hal lain … tapi kemajuan islam tidak mengalami akselerasi yang sebanding dengan pengorbanan, perjuangan umat islam , dari mulai ngaji, beribadah, membangun sekolah sekoalh islam, mendirikan pergerakan islam dan lainnya. Jaman Rasululah tidak banyak ilmu, cukup berpegang lurus ke Allah dan mengikuti sunah rasulullah sudah cukup. Kalau sekarang banyak ilmu yang dipelajari dari mulai fiqh sampai ilmu tasauf yang kalau dipelajari sampai mati tidak akan ada habisnya.

Ternyata kunci keberhasilan Rasulullah dalam berdakwah adalah keberhasilan Beliau mengajak umat islam waktu itu untuk mengikuti kehendak Allah. Secara mudah umat islam hanya di ajak Rasulullah untuk siap menerima amanah dan menjalankan perintah Allah. Pergerakan islam dengan menjalankan perintah Allah dalam setiap amanah yang di emban menjadi kunci keberhasilan jaman dulu dan jaman sekarang. Berperang pada waktu Rasulullah tidak untuk  kekuasaan tapi karena menjalankan perintah Allah SWT. Semangat menjalankan perintah Allah inilah yang sangat motivated bagi para sahabat untuk berperang hingga eropa.

Kalau kita mau fokus pada ajaran rasulullah yang amanah maka islam ini simpel dan berkemajuan. Umatnya tidak  disibukkan dengan mempelajari islam saja tapi lebih disibukkan dengan menjalankan perintah Allah dalam setiap amanah. Ilmu yang digunakan adalah ilmu laduni yaitu ilmu yang di dapat karena menjalankan bukan karena pengajian tiap ahad….. Model pembelajaran yang digunakan adalah belajar kepada Allah dimana Allah akan mendidik dengan ilmu laduni. Semakin kita menjalankan agama atau menjalankan perintah Allah maka Allah akan memberikan llmu dan itu berjalan terus. Sehingga kemajuan islam ini akan benar benar terjadi. Sebab ilmu yang digunakan bukan ilmu manusia tapi ilmu laduni yang diturunkan kepada siapa saja yang mau menjalankan perintah Allah. Ilmu manusia adalah ilmu usang, misalnya kitab kitab kuno maka itu sangat bagus pada jamannya, dan itu dikatakan usang pada masa sekarang, karena ilmu dalam kitab itu adalah ilmu laduni yang diberikan Allah sekian abad yang lalu.

Kita ingin islam ini sederhana saja, tidak jlimet, coba mulai sekarang gunakan kesederhanaan ini yaitu dengan menjalankan perintah Allah dalam setiap amanah yang kita terima, nanti Allah akan memberikan ilmunya. Biarkan buku buku karya ulama dahulu menjadi bahan referensi saja, acuan kita tetap pada ilmu laduni yang diberikan Allah karena kita menjalankan perintahNya. Jika umat islam seperti ini maka semua umat di dunia akan merujuk ke kita karena kita berhasil mengakses ilmu laduni ini. Jadi dari islam yang sederhana ini akan menjadi islam yang berperadaban, dan orang akan sangat tertarik dengan islam dan memeluk islam.

 

Singapura Contoh Negara dengan Amanah Tinggi

Amanah  bisa juga bukan karena Allah, amanah di negera singapura misalnya, ya kecuali bagi warga negaranya yang beragami islam. Mayoritas warga negara singapura tentunya tidak muslim karena kabanyak warganya adalah china. Ya china sebagai pendiri negara singapura memiliki amanah yang tinggi terhadap negaranya. Sehingga Allah pun menjadikn negara singapura menjadi negara paling amanah di kawasan tetangga indonesia. Bayangkan coba negara tidak ada sawah, tidak ada kebun buah … hampir semua kota, tapi rakyanya bisa makan nasi dan bisa makan buah. Sesuatu yang tidak mungkin tapi Allah sekali lagi bahwa amanah ini akan menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Sama halnya dengan jepang, yang tahun 45 di hancurkan oleh amerika, dengan amanah yang tinggi terhadap bangsa dan negeranya maka jepang menjadi negara yang sangat maju. Jadi yang membuat negara menjadi hebat yang  membuat diri mereka hebat adalah amanah terhadap apa yang diembannya. Orang china di manapun akan lebih amanah karena mereka merantau mau tidak mau mereka harus amanah karena mereka sadar betul jika tidak amanah maka akan hancur. Orang tempatan biasanya merasa puas dan seenaknya sendiri sehingga kurang amanah dalam kesehariannya.

Amanah terhadap bangsa dan negara membuat negara dan bangsa menjadi maju, amanah terhadap agama maka agama ini akan maju. Tapi sebenarnya kekuatan terbesar dari amanah adalah amanah karena menjalankan perintah Allah.

Saya lebih concern mengembangkan amanah karena Allah, karena sifatnya lebih universal dan dapat berpengerauh kepada kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya bukan Soekarno yang dengan waktu singkat bisa merubah indonesia menjadi amanah yaitu sadar bahwa tanah airnya di jajah….tapi saya akan mencontoh soekarno bagaimana beliau bisa merubah bangsa ini 180 derajat. saya akan berjuang melalui media online dan apa apa yang mampu saya lakukan.

saya kagum dengan  P Jokowi sebagai presiden dan sebagai wali kota di solo waktu itu karena beliau sangat amanah …. tapi kalau yang amanah cuma beliau saja nanti kalau di mundur maka indonesia akan mengalami kemunduran. Seharusnya Pak Jokowi menularkan sikap amanahnya kepada pejabat negara dan terutama kepada warga negara indonesia. Sehingga kalau beliau turun maka Indonesia sudah siap untuk mejalankan amanah negara ini.

Saya tidak ingin indonesia dibuat meniru negara singapura atau jepang, yang saya inginkan adalah negara indonesia memiliki amanah seperti yang dimiliki rakyat singapura dan jepang. Jika kita amanah maka negara kita akan menjadi negara yang sangat terhormat. Kita lihat saja ketika indonesia awal awal di pegang Soekarno , Negara ini sangat di hargai oleh negara negara di asia bahkan eropa. Tapi ketika amanah itu sudah ngedrop sekarang ini, kita malah bangga dengan rupiah yang anjlok…. 1 dolar  = 14ribu rupiah : coba bisa kita bayangkan derajat kita 1 negara amerika 13 ribu, tidak usah jauh jauh saja dengan negara malaysia , 3.500 rupiah = 1 RM, coba seharusnya MALU ini menjadi budaya … kita sudah kehilangan malu karena memang sikap amanah yang sudah terjun bebas pasca dipegang pak Soekarno.

sekarang saya, sebagai khalifahnya Allah ingin menjadikan negara indonesia ini menjadi negara yang amanah. saya akan mulai kampanye amanah dari yang paling sederhana yaitu “cuci piring di dapur” sampai “malu dengan nilai mata uang” ….. Saya tuangkan power nafi isbat dalam tulisan dalam siaran di youtube dan dalam kesempatan lain. Allah tidak menghendaki negara indonesia sebagai negara yang dulunya banyak waliyullah banyak para habib yang sholeh sekarang menjadi negara yang paling ngedrop dalam hal amanah. Allah menghendaki kita untuk maju , Allah menghendaki kita untuk amanah dengan negara dan bangsa ini.

Mari kita belajar amanah dari negara singapura yang mayoritas china, mari kita belajar amanah dari jepang yang menyembah matahari, kita switch amanah mereka kepada amanah karena Allah. Kita tukar sikap amanah bukan karena dewa matahari tapi karena Allah, bukan karena bangsa dan negara tapi karena Allah. kita buktikan dengan menjalankan amanah yang sederhana yaitu cuci piring, menyapu lantai dan pelataran, karena Allah maka akan terjadi perubahan yang nyata dalam kehidupan bangsa indonesia.

Majulah Indonesia dengan amanah rakyatnya.