Articles from March 25, 2019

Patrap Kamasutra “Santai- santai saja”

Bahkan dalam berhubungan seks pun islam mengajarkan untuk santai santai saja, tidak perlu anda menanyakan dalilnya, yang pasti dalam semua lini kehidupan islam mengajarkan untuk santai. Jangan sampai ketika berhubungan seks seperti orang kesetanan yang serba tergesa gesa dan mencari kepuasan dengan cepat.

bagaimana agar santai coba beralihlah dari mencari kepuasan diri sendiri beralih kepada bagaimana memberikan kepuasan kepada pasangan. Ini adalah bentuk amanah juga. Ketika amanah di jalankan maka sikapnya harus santai santai saja.

Serba relaks dan serba santai itulah kunci menjalankan patrap kamasutra. Semua atas kehendak Allah dan semua atas ijinNya, ketika tergesa gesa maka itu dari syetan, dan apa yang terjadi ketika syetan merasuki ketika berhubungan seks , yang terjadi adalah kekecewaan sesudahnya. Ketika berhubungan seks masing masing mencari kepuasan tidak mengalihkan bagaimana memuaskan pasangan maka yang terjadi adalah “sama sama tidak puas”. Padahal kenikmatan dalam berhubungan seks adalah kepuasan atau orgasme.

Patrap kamasutra tidak hanya masalah fisik tapi juga emosi dan jiwa, ketika seks sudah melibatkan emosi dan jiwa maka kebahagiaan optimal dan kepuasan pasangan akan dapat terpenuhi. Rasa cinta dan bersatunya jiwa dalam berhubungan seks menjadi kunci menikmati seks. untuk itu jagalah emosi pasangan , rasa benci dengan pasangan , rasa marah dengan pasangan, rasa jengkel dan segenap rasa negatif lainnya akan memberikan dampak negatif juga saat berhubungan.

Sikap S3 (santai santai saja) diperlukan dalam fore play sebelum masuk ke penetrasi. Dan tidak hanya pada saat foreplay saja tapi juga pada saat penetrasi sikap S3 harus ditingkatkan karena rangsangan akan sangat kuat , jika kurang kontrol akan menyebabkan kesetanan alias ketergesa-gesaan. Cara untuk agar saat penetrasi tetap S3 adalah dengan menjaga kesadaran akan Allah, kesadaran dan keberserahan diri saat penetrasi akan membuat kenimatan seks menyebar keseluruh tubuh tidak terpusat pada alat vital saja.

niatkan dalam berhubungan seks untuk menjalankan amanah Allah SWT, yaitu memuaskan pasangan, bukan untuk mencari kenikmatan atau kepuasan pribadi. Bahkan jangan meniatkan berhubungan seks untuk menyalurkan hawa nafsu birahi, niat yang salah akan menyebabkan kenikmatan yang Allah turunkan tidak akan optimal.

Demikianlah penerapan S3 atau santai santai saja ketika berhubungan seks. dan masih banyak penerapan S3 dalam setiap lini kehidupan kita. semoga Allah selalu menuntun kita ke jalan yang di ridhoiNya.

Santai santai saja

Anda mau mendahului Allah? hebat bener…. syetan selalu membisikkan kepada untuk selalu tergesa gesa, maka orang yang tergesa gesa dalam menjalankan sesuatu dia termasuk orang yang kesetanan, karena mengikuti bisikan syetan. Solusi untuk itu jalankan sesuatu dengan Santai santai saja (3S). Kalau anda pedagang maka bukalah 1 jam sebelum waktunya dengan santai, kalau ada pekerja kantor yang harus datang pukul 8 di kantor maka datanglah sampai di kantor 7.30 dengan santai, jika anda mendapat pekerjaan yang seharusnya 3 hari selesai maka selesaikan sehari sebelumnya dengan santai santai saja. Jadi jalankan sesuatu sebelum on time dengan santai santai saja.

Hidup santai adalah hidup surgawi. orang ingin santai santai, bahkan orang yang bekerja siang malam yang dia kejar adalah santai santai. Mereka santai santai di pantai, atau santai santai di gunung. Kalau memang tujuannya untuk santai mengapa tidak sekarang dan disini. Tinggal waktunya kita setting saja agar kita dapat menjalankan dengan santai santai, contohnya ketika kita pergi ke kantor 30 menit maka buatlah 45 menit atau 1 jam, dengan demikian anda akan dapat menjalankan dengan santai santai.

HIdup santai adalah kunci hidup bahagia, hati tidak kemrungsung dan semua akan nampak indah. Benar kata orang jawa Alon alon waton kelakon, artinya pelan pelan tapi menjalankan. Islam mengajarkan kita untuk hidup santai santai saja, misalnya shalat dengan rukun tumakninah sebenarnya ini adalah santai santai saja. Jalankan dengan santai santai saja.

 

ringkasan catatan peserta Ibu Lutfia jombang 23 mar 19′

Resume pengajaran dari Pak Pur semalam:

1. Santai Santai Saja.

Ketika kita sudah menjalankan amanah, maka berikutnya adalah Santai Santai Saja. Jangan “kemrungsung” pengen langsung tercapai tujuan.

Ibaratnya kita naik kereta ke Surabaya. Saat mau naik, kita berusaha cepat-cepat agar tidak ketinggalan kereta.

Tapi ketika sudah di dalam gerbong, maka kita Santai Santai saja. Tidak perlu terburu-buru sampai ke Surabaya.

Toh..keretanya sudah berjalan. Biarlah kereta yang melaju cepat ke Surabaya. Kita di dalam kereta tinggal santai2 saja, tahu-tahu sudah nyampe di Surabaya.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kita sudah menyuruh anak untuk sholat. Kita berusaha dg cara sebaik mungkin. Jika anak tetap gak mau sholat.. ya jangan stres. Santai santai saja.

Berikutnya ingatkan lagi untuk sholat. Anak masih belum mau sholat, ya gpp. Santai saja. Ingatkan lagi dengan cara yang lebih baik. Kewajiban kita adalah menyuruh anak sholat. Sedangkan kesadaran untuk mau sholat, itu atas kehendak Allah.

Orang yang santai santai saja itu PASTI TIDAK STRES. Jika masih stres, berarti tidak santai santai saja.

2. Menjadi Hamba Profesional

Tidak hanya dalam hal pekerjaan kita wajib untuk profesional. Dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba Allah pun, kita wajib melakukannya dengan profesional.

Contoh, melakukan sholat dengan profesional. Lakukan sebaik mungkin, sesuai dengan syariat. Lakukan dg khusyuk, tuma’ninah. Lakukan shalat terbaik. Jangan asal-asalan, asal gugur kewajiban sholat. Jangan. Lakukan sebaik mungkin, menjadi hamba yang profesional.

3. Tidak ada jeda dari Sami’na ke Wa atho’na

Saat patrap gerak, kita mengikuti dorongan gerakan dari dalam tubuh kita. Bukan dari kehendak kita.

Langsung saja ikuti gerakannya, tanpa melalui proses berpikir.

Ikuti saja, tanpa jeda. Tidak usah berpikir. Langsung ikuti.

Itu adalah latihan menyelaraskan antara kehendak Allah dengan kehendak kita. Tanpa berpikir.

ATP (Amanah -> Tanda -> Perintah)
Kita mendapat amanah. Lalu ada tanda. Tanda ini bisa berupa ilham, atau dorongan di hati. Langsung lakukan saja. Jangan dipikir.

Sami’na. Saya dengar, langsung Wa atho’na. Saya taat, siap laksanakan.

Jadi proses dari mendapat tanda dengan melakukan perintah itu, dilakukan bersamaan, tanpa jeda.

Jika kita tunda-tunda, maka akan lupa. Dan tanda itu tidak akan datang lagi.

Misal, saat mau mandi, ada dorongan taruh kunci mobil di tas. Lakukan saja itu. Jangan ditunda.

Jika ditunda, mandi dulu misalnya. Biasanya jadi lupa. Selesai mandi dan berpakaian rapi, tinggal berangkat, bingung nyari kunci. Akhirnya terlambat ke kantor.

Begitulah jika ada jeda, menunda. Maka akan ada konsekuensi.

*

Demikian sedikit pemahaman yang saya peroleh dari pengajaran dari Pak Setiyo Purwanto, tadi malam di Jombang.
Mantaab smoga kita semua bisa sama2 menjalankannya👍👍
Alhamdulillah bu Lutfi, trmksh Rangkumannya, smg kita semua dimampukan dlm menjalankan Amanah dg gelar S3 Cumlaude 😍👍👍🙏🏻
Sae niki
Setiap ketemuan dg Pak Pur selalu ada pengajaran baru…blm sampek 1 bln di Gresik ttg sholat khusuk justru.bukan khusuknya yg sulit tinggal kesadaran penuh dan pasrah .
Yg sulit adalah sabar dan sholat
Semalem dengan 3 S, ternyata ANTI STRESS pemahamannya jangan sepotong ….tapi usaha sebelumnya musti dilakukan, analogi naik kereta diatas pas….
Alhamdulillah… Sangat bermanfaat … Trima kasih…🙏🙏🙏
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻