Kebahagiaan Sejati Orang Lanjut Usia LANSIA

Bahagia itu kalau bisa menyambut masa depan dengan penuh harap. Sewaktu seseorang sekolah SMA maka dia sangat bahagia jika sebentar lagi bisa kuliah di perguruan tinggi, bagi seoarang mahasiswa yang akan lulus dia akan bahagia akan segera meninggalkan dunia kuliahnya dan memasuki dunia kerja. Demikian pula dengan lansia maka seorang lansia akan menemukan kebahgiaan sejati bila dia menantikan saat saat meninggalkan dunia untuk meneruskan perjalanan hidup berikutnya. Kebahagiaannya akan sangat terasa ketika dia mengerti bahwa sebentar lagi dia akan bertemu dengan Tuhannya secara lebih jelas dan nyata. Baginya kematian jasad adalah jalan yang akan memudahkan dia kembali kepada Allah dan bertemu dengan Allah secara terus menerus. Maka setiap hari dia akan berserai wajahnya dan segalanya akan dipersiapkan untuk menyambut saat kematian datang.

Kebahgiaan lansia bukan jalan-jalan kesana kesini tanpa arah dan amanah yang jelas, piknik ke sana ke sini menghabiskan uang hasil jerih payahnya selama dia bekerja. Hanya untuk menghindari rasa ketakutan dan rasa kesendirian yang menghampirinya di masa tua. Dia pikir bahwa bahagia dengan pergi kesana kesini dapat membuatnya lebih bahagia, ok bisa saja tapi itu bahagia yang semu karena ketika dia tidur dan terbangun malam hari dia akan terus di hantui rasa kesendiri dan kematian.

Ketika kematian menjadi sesuatu yang menakutkan dan meninggalkan harta keluarga adalah siksaan maka disitulah ketidak bahagiaan dan siksaan bagi seorang lansia. Dari sini gangguan psikis akan mudah muncul, mudah marah, emosional, insomnia, ketakutan tak beralasan dan kembali menjadi anak kecil lagi, atau regresi.

kebahagiaan sejati bagi lansia adalah menyambut kematian dengan penuh suka cita, mempersiapkan segala sesuatunya seolah olah menyambut malaikat pencabut nyawa seperti menyambut tamu agung datang ke rumah. disiapkannya tempat tidur, disiapkannya cara agar mudah malaikat izroil mengajaknya ke Allah. Dalam keseharian yang dilakukan nya hanya berlatih berserah kepada Allah, agar nanti dapat pulang dengan tidak merasakan sakit seperti rambut di tarik dari tepung.

Ketika sakit itu datang dengan tenangnya dia berkata kepada anak anaknya, rawat saya ditempat semestinya, dan saya akan membersiapkan jiwa saya untuk berserah diri kepada Allah, seiring kembali nya Ruh saya kepada Allah. Wajahnya berseri ketika malaikat izroil datang dan ketika malaikat mengajaknya untuk ke Allah maka dengan sambutan hangat , dengan senyuman bahagia dia ikuti ajakan itu dengan terus lurus ke ALlah seperti dzikir nafas yang sering dia lakukan.

Gerak Rasa untuk Melatih Wilayah Sibghoh

Pertama relakskan seluruh tubuh dalam keadaan berdiri, kemudian naikkan kesadaran meluas seluas alam raya. Setelah itu kesadaran loncat ke yang menciptakan alam semesta atau yang menguasai alam raya. kemudian seiring gerak rasa yang muncul ikuti sambil tetap berada di kesadaran ilahiah yaitu kesadaran di atasnya alam raya. Dari sini anda dapat meluaskan lagi dengan cara masuk nafas Huu, kesadaran anda mendekat dan ketika¬† keluar nafas anda dzikir dalam hati “Allah” diiringi dengan kesadaran berserah kepada Allah. Keduanya yaitu mendekat dan berserah akan dapat membuat jiwa anda masuk dalam alam fana karena sudah masuk di “yang menguasai alam raya” anda melakukan pendekatan dan terutama adalah keberserahan diri kepada Allah, dan disertai dengan gerak tubuh yang terus mengalir mengikuti gerak yang muncul. Dalam keadaan gerak dan kesadaran lama lama keadaannya fana disitulah keadaan sibghoh , tinggal nanti dalam kehidupan sehari hari dapat di terapkan untuk bekerja, untuk menjalankan amanah amanah Allah. …… Semoga dimudahkan Allah……amin

maqom tajrid dan maqom asbab mengkritisi kitab al hikam

ada yang menarik di dalam pembahasan tentang kedua maqom ini, yaitu maqom tajrid VS maqom asbab. dalam kita al hikam kedua maqom tersebut di jelaskan secara singkat kalau maqom asbab berarti rejekinya masih harus dengan bekerja, kalau maqom tajrid maqom dimana rejeki tanpa asbab dan datang sendiri.

yang akan saya kritisi dari kedua hal tersebut adalah maqom tajrid dimana rejeki datang tanpa ada sebab apapun. Sebab jika pengertian salah orang akan mengejar maqom ini dalam bertasawuf dan ini akan menyesatkan tujuan bertasawuf itu sendiri, sedangkan kita tahu bahwa kitab al hikam adalah kitab tasawuf terbesar setelah kitab ihya. Di dalam al quran tidak pernah menyebutkan maqom tajrid ini. ketika rejekin disebut pasti ada syarat atau sebab sehingga Allah menurunkan rejekinya. jadi adanya maqom tajrid tidak berdasar dalam al quran, karena semua pasti ada sebab. Allah menurunkan rejeki kepada seorang hamba pasti ada sebab.

Sekalipun seorang kekasih Allah atau orang yang paling dikasihi rejeki diberikan Allah pasti ada sebabnya. Sebab utama rejeki datang adalah karena seseorang menjalankan amanah Allah, atau menjalankan ketakwaan kepada Allah. Dengan sebab ketakwaan ini seseorang akan mendapatkan rejeki yang tidak di sangka sangka. ketakwaan ini pasti berdasarkan amanah yang ada, misalnya amanah tamu dengan melayani tamu sebagai perintah Allah maka Allah akan menurunkan dari arah yang tidak disangka sangka. Jadi meski mendapatkan rejeki tidak di sangka sangka tetap ada sebabnya yaitu karena hamba tersebut menjalankan amanah dan perintah Allah.

jadi saya tetap berkesimpulan bahwa tidak ada mqom tajrid kalau itu diartikan sebagai maqom dimana rejeki datang sendiri tanpa sebab.