Ide dipikiran itu pun amanah

Pikiran kita adalah titipan Allah, dimana dalam pikiran ini keluar masuk pikiran pikiran atau ide ide atau pemikiran pemikiran yang ini amanah juga. Pemikiran atau ide ini harus kita jalankan sesuai dengan petunjuk yang ada, bisa di tulis tangan, bisa langsung di jalankan dalam perbuatan atau bentuk pelaksanaan lainnya. Ide yang mengalir ini kadang kita tidak tahu arahnya tapi kalau kita ikuti dan jalankan terus maka akan mengandung makna. Yang penting ide ini tidak berhenti dalam pikiran saja. Ketika sudah berhenti dalam pikiran maka lama lama ide itu berubah menjadi negatif, menjadi pemikiran negatif, atau tidak ada daya lagi untuk menjalankannya.

Mengikuti ide yang mengalir sebenarnya sangat asyik, karena disitu mengandung energi yang membuat kita tidak ada capek nya dan kita akan kuat berkutat di “ide” yang sedang kita jalankan. Semakin ide dijalankan maka ide itu akan berkembang. Dan semakin berkembang lebih banyak dan kita akan paham kemana arah ide tersebut dan arah kehendak Allah tersebut.

 

 

Rasulullah seharga Rupiah

Kita sebagai umat Rasulullah pasti tidak rela kalau menghargai jasa Rasulullah seharga rupiah, tapi itulah yang banyak terjadi ketika seseorang mendoakan Rasulullah kemudian tujuannya tidak mendoakan tapi agar dia dapat pundi pundi uang. Ini sangat terlihat di masyarakat islam bahwa shalawat tidak dijadikan jalan untuk mendoakan Rasulullah tapi malah untuk tujuan rejeki lancar. Berbagai jenis bacaan shalawat yang isinya sebenarnya adalah untuk mendoakan baginda Rasulullah tapi dirubah arah menjadi pembuka rejeki, pelancar rejeki, dagangan laris dan sejenisnya. Tidak sadar ternyata perilaku ini adalah perilaku melecehkan Rasulullah yang menyamakan derajat tinggi Rasulullah sama dengan rupiah.

Jasa Rasulullah yang demikian besar pengorbanan Beliau yang sangat tinggi hanya di tukar dengan rupiah, inilah perilaku tidak sadar umat islam terhadap Junjungannya Nabi SAW. Seharusnya shalawat itu adalah untuk mendoakan Rasulullah sebagai bentuk rasa takdzim dan hormat kita kepada Beliau. Sebagai umat Beliau yang sangat Beliau cintai, kita tidak sepantasnya menghargai beliau dengan seharga rupiah.

Shalawat seharusnya tetap lurus ke Allah yaitu dengan mendoakan Beliau kepada Allah. kita lihat bacaan shalawat  saja, tidak ada hubungannya dengan rejeki, shalawat adalah bacaan untuk mendoakan Rasulullah. Dari sisi bacaan ini saja kita harusnya selalu sadar bahwa shalawat tidak digunakan untuk mencari rejeki, dan memang tidak bisa baca shalawat bisa membuat lancar rejeki karena yang melancarkan adalah ALLAH.

Tulisan saya ini tidak bermaksud untuk melarang shalawat, tapi tetap bershalawat tapi luruskan niat sesuai dengan bacaan dalam shalawat yaitu mendoakan Rasulullah. Jangan sampai menukar jasa rasulullah dengan uang dengan rejeki dan urusan dunia lainnya. Sajian tulisan ini mungkin akan membuat anda marah, merasa di salahkan karena selama ini anda bershalawat karena ingin mencari rejeki, … kembali kepada anda sendiri mau tetap menghargai Rasulullah dengan rupiah atau menjunjung tinggi Rasulullah dengan bershalawat dengan tulus ihlas mendoakan Beliau.

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.”

Artinya:

“Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad.”