Apakah dakwah itu perlu dana, bagaimana jika Allah tidak menyediakan dana?

Dana atau uang adalah salah satu sarana untuk berdakwah, seorang dai yang fokusnya mencari dana atau mencari duit untuk dakwahnya berarti sudah menyimpang dari tujuan utama yaitu dakwah. Jika Allah tidak menyediakan uang untuk dakwah apakah kita terus ngemis ke orang dengan minta sumbangan sana sini ? apa nggak ada cara lain untuk berdakwah tanpa uang. Kalau Allah sudah tidak menyediakan dana berarti Allah memang tidak berkenan dengan dakwah kita, tapi kalau Allah berkenan pasti Allah akan memberikan fasilitas dan dana yang cukup untuk dakwah kita.

untuk urusan uang dalam berdakwah pantangannya bagi seorang dai adalah menodong jamaah untuk memberinya uang. karena ini sudah melampoi batas apa yang Allah berikan kepada kita dalam berdakwah.  jadi kalau Allah memang tidak memberi rizki untuk berdakwa maka ktia bisa cari alternati dakwah yang lain tidak harus menggunakan uang.

pencarian dana untuk dakwah bisa dilakukan dengan cara yang tidak meminta, artinya ide memberi itu harus datang dari jamaah itu sendiri, misalnya dengan membuat buku kemudian siapa yang mau dapat berinfak seihlasnya. atau posting foto foto kegiatan dengan tidak mencantumkan kata kata meminta sumbangan atau meminta jamaah untuk berinfak. cukup cantumkan no rekening nya saja.

yang penting hindari kata kata atau kalimat meminta secara langsung. apalagi dengan menodong secara personal. .. Kita hormati Allah sang pemberi rejeki, jangan kotori dakwah dengan meminta minta selain kepada Allah.

Apakah orang mati membawa harta bendanya ?

apakah orang mati itu membawa harta bendanya ? jawab anda pasti tidak. ya saya sangat setuju. Terus bagaimana kalau memang tidak membawa , apa kita tidak usah car harta benda di dunia ini ? tentu tidak demikian juga, dan anda pasti ada ide untuk benar benar memanfaatkan harta anda sebelum anda meninggalkannya. Yang jadi pertanyaan, bagaimana anda memanfaatkan harta benda tersebut, apakah bersenang senang agar dapat memanfaatkan harta tersebut atau anda gunakan untuk kemanfaatan secara lebih luas ?.

setuju, jika anda memilih untu memanfaatkan anda secara lebih luas. ada 3 jalan yaitu untuk fasilitas ibadah, untuk ilmu dan anak keturunan. Anda bisa bagi rata harta anda ke tiga unsur tersebut. untuk fasilitas ibadah anda bisa berkontribusi melalui lembaga resmi keagamaan atau yayasan di mana lembaga tersebut mengelola tempat untuk beribadah. yang kedua anda bisa berikan harta anda untuk lembaga lembaga keilmuan, bisa sekolah, bisa tempat dimana disitu memiliki visi mengembangkan ajaran ajaran islam secara lebih luas. dan anda harus jeli dalam memilih lembaga keilmuan jangan sampai kedepannya wakaf anda atau kontribusi anda di manfaatkan oleh pengurus misalnya dengan menarik biaya tinggi jika sekolah tersebut padahal awalnya tanah anda yang berwakaf. biasanya ini sekolah sekolah berlabel islam yang awalnya minta sumbangan wakaf tanah setelah besar mereka mencari keuntungan dengan biaya sekolah yang fantastis. yang terakhir adalah untuk anak keturunan anda. Disini anda juga harus hati hati dalam memberikan warisan kepada anak, jangan sampai nantinya anak tidak bisa memanfaatkan warisan anda dan justru malah di gunakan untuk berfoya foya. Warisan kepada anak akan lebih baik jika dalam bentuk tempat usaha atau usaha keluarga, dengan tempat usaha ini selain anak memiliki aset anak juga mendapatkan penghasilan tiap bulan dari warisan tersebut, dan ini tentunya jika anda sudah meninggal akan tetap bisa memberikan makan kepada anak dan cucu anda.

Sejak awal anak jangan dijanjikan bahwa dia akan mendapat warisan ini dan itu sebab nanti anak tidak akan berusaha lebih giat untuk bekerja mendapatkan penghasilan dia akan mengharap warisan bahkan kadang kejadian lebih parah adalah orang tua masih hidup , tapi anak minta bagian warisan dan dijual akhirnya orang tua tidak punya tempat tinggal.

baik bapak dan ibu ini semoga harta yang kita miliki dapat menjadi amal jariyah kita. amin amin