Allah di Law of Atraction

mengapa tidak pada intinya law of atraction adalah berpikir postif, setiap sholat kita selalu meng LoA Allah misalnya dengan Allah melimpahka rejeki, allah melimpahkan ampunannya, allah melimpahkan rahmat kasih sayangnya. nah kalau allah di Loa pasti kita akan mendapatkan apa yang kita Loa kan kepada Nya..

0 thoughts on “Allah di Law of Atraction

  1. Tentang The Law Of ttraction
    Terlepas dari semua penjelasan Ilmiah mengenai fenomena ini; dimana para ahli pikir, para ilmuwan menerjemahkan fenomena The Law of Attraction / hukum ketertarikan ini dari berbagai sudut pandang keilmuan masing-masing dengan berbagai interpretasi yang memang masih mengundang banyak kontroversi. Tetapi satu hal, bahwa : hukum ini kenyataannya memang berlaku demikian. Hal ini diperkuat dengan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anul Karim, Surat Ibrahim Ayat 7 :

    dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)

    Jika kita jeli memperhatikan ayat ini, maka ayat ini tiada lain adalah Hukum Ketertarikan itu sendiri. Jika kita menerapkan nilai-nilai syukur dalam hidup kita seperti: menerima, tidak putus asa, tidak mengeluh, tetap percaya diri dan optimis, berbaik sangka dan lain sebagainya, maka Allah akan menambahkan nikmat kepada kita; dengan kata lain menarik nikmat, menarik segala kebaikan, dibukanya pintu rezeki, hidayah dan ampunan.

    Tetapi Jika kita kufur terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT, seperti berburuk sangka kepada Allah, egois, mengeluh, putus asa dan segala fikiran yang tidak enak disimpan di hati, maka “sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Azab adalah sesuatu yang tidak mengenakan, sesuatu yang tidak kita inginkan untuk terjadi, tetapi kita pasti menerimanya ketika kita tidak mau mensyukuri apa-apa yang telah diberikan Allah kepada kita, dengan kata lain menarik azab, menarik kesialan dan ketidak beruntungan dalam hidup kita.

    Bentuk syukur mahluk terhadap sang pencipta (Khalik) adalah hanya dengan jalan mengabdi / ibadah kepada Allah dengan pengertian yang seluas luasnya. Oleh karena bentuk syukur itu ibadah, maka berlaku sebuah rumus :

    IBADAH YANG PALING UTAMA = SYUKUR YANG PALING UTAMA

    Ibadah yang paling utama tiada lain adalah dengan mendirikan Shalat, yakni melaksanakan Shalat dengan khusyu, ikhlas dan benar; serta menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Sahalat terkandung nilai disiplin, rendah Hati, optimis, fokus / serius / khusyu, ikhlas, tawakal, sabar, tenang / tumaninah, teliti, taat pada aturan, kejujuran, kebersamaan, persatuan , cinta dan kasih sayang, serta seabreg nilai-nilai kebaikan lainnya.

    Artinya, jika kita tidak menerapkan nilai-nilai Shalat dalam kehidupan sehari-hari maka bukan termasuk orang-orang yang mendirikan Shalat! Tetapi hanya mengerjakannya saja, yang tidak akan bisa memberikan manfaat apa-apa, kecuali rasa cape semata. Maka pantaslah mendirikan Sahalat adalah bentuk syukur yang paling utama dan merupakan amal yang paling pertama di hisab, karena Shalat adalah induknya ibadah yang menjadi ruh dalam setiap ibadah yang kita lakukan.

    Shalat bagaikan magnet yang sangat luar biasa dahsyatnya untuk menarik segala kesuksesan yang Anda inginkan. Shalat merupakan sentralisasi power dengan kekuatan tak terhingga, hanya Allah yang tahu, karena anugrah Allah SWT begitu sangat besar.

    Saya cenderung menyebutnya The Law Of Syukur yang isinya Yakni :

    Barang Siapa Bersyukur Kepada Allah SWT Atas Nikmat Yang diberikan Kepada Kita Maka Allah Akan membuka Pintu Nikmat, Pintu Rezeki, Pintu Hidayah dan Ampunan, Dan Barang Siapa Yang Mengingkari Nikmat Allah SWT maka Sesungguhnya Azab Allah Sangatlah Pedih
    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim Ayat 7)

    Barang Siapa Yang bersyukur Kepada Allah SWT, Maka Sesungguhnya Allah Itu Maha Kaya Allah Tidak Butuh syukur Kita, Kita Bersyukur adalah Untuk Dirikita Sendiri :… dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (Q.S. An-Naml : 40)
    Bentuk Syukur Kita Kepada Allah SWT Tiada Lain adalah Dengan Jalan Ibadah/Mengabdi dalam pengertian seluas luasnya. Oleh karena Bnetuk Syukur itu Ibadah Maka Berlaku Sebuah RUmus :
    IBADAH YANG PALING UTAMA = SYUKUR YANG PALING UTAMA

    Ibadah yang paling Utama sebagai bentuk syukur kita adalah Dengan Jalan Mendirikan Shalat 5 Waktu, sebagai Pondasi dan Ruh dalam setiap gerak dan langkah kita :

    Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (Q.S. Al-Kautsar Ayat 1-2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *