banyak orang islam sinis kepada mbah maridjan

Dari beberapa kawan sesama muslim ketika ditanya tentang sujudnya mbah maridjan rata rata menjawab dengan nada sumbang. Terlebih dengan meninggalnya mbah maridjan dengan posisi sujud. Karena posisi ini adalah posisi tertinggi, posisi paling dekat dengan Allah.. masak sih mbah maridjan melakukan itu karena bersujud kepada Allah….

Kesinisan kawan kawan saya memang tergolong wajar karena jika dirinya dalam posisi mbah maridjan tak mungkin kuat bersujud pasti berlari terbirit birit… pernyataan pernyataan yang dilontarkan kawan kawan saya sebenarnya cerminan bahasa psikologinya adalah proyeksi dari apa yang ada dalam dirinya. Masak sih mbah maridjan sujud ketika meninggal …ini merupakan proyeksi bahwa dirinya pun tidak pernah bersujud dengan benar kepada Allah.

Kalau saya lebih suka berpikir positif… dan berbaik sangka… dari pada berburuk sangka.. toh kita tidak sama sama tahu apakah mbah maridjan sujud kepada siapa. Dari pada dosa bersuudzan lebih baik berkhusnudzan kan. Karena ada beberapa alasan saya berkhusnudzan

  1. mbah maridja adalah seorang muslim…. beliau mendirikan masjid depan rumahnya dari uangnya sendiri… bayangkan orang desa membangun masjid dengan uangnya sendiri… kalau iman nya tidak teguh.. amalnya tidak kuat pasti tidak akan mampu bikin masjid, lebih baik untuk beli mobil… beli ini dan itu….
  2. pakaian mbah maridjan selalu berpakaian muslim ala desa yaitu pakai peci, pakai sarung dan batik…. ini adalah kostum muslim khas orang gunung.. jadi secara kejiwaan mbah maridjan selalu dalam keadaan ”siap sholat”
  3. siapapun yang datang  diterima dengan baik.. tidak pilah pilih… ini adalah ahlak seorang muslim sejati…yang mengikuti sunah rasulilah yaitu hormat kepada tamu

kemudian keuntungan kita berkhusnudzan kepada orang lain adalah :

kita akan menjadi apa yang kita khusnudzan kepada orang lain, misalnya kita berprasngka baik kepada mbah maridjan bahwa beliau memeiliki keteguhan hati yang kuat kepada Allah maka kitapun nanti akan memiliki keteguhan iman seperti apa yang kita prasngakakan kepada mbah Maridjan. Jadi tidak ada salahnya kita dan tidak ada dosa jika kita berprasangka kepada orang yang sudah meninggal….malah kalau kita membicarakan kejelekan orang yang udah meninggal kita akan mendapatkan dosa…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

9 thoughts on “banyak orang islam sinis kepada mbah maridjan

  1. saya sependapat dg ustadz………

    saya paham dg mereka……

    masing-masing memiliki kadar pemahaman yg berbeda……shg bisa (kadang) tampak terrefleksi dalam pola perilaku, pola pikir, pola bahasa..apapun pola-polanya……

    lakum dinukum waliyadin…..

    salam PATRAP

  2. saya setuju…
    lebih baik kita berkhusnudzon dari pada suudzon…
    karna bagaimanapun juga tidak ada gading yang tidak retak…hanya Allah yang Maha Tahu…

    • berkhusnudzan lebih membuat kita menjadi orang yang lebih baik.. tapi kalau suudan akan membuat kita tidak lebih baik… karena kita juga tidak tahu yang sebenarnya

  3. setuju..
    itu salah satu dari sekian banyak manfaat dari pola “berkhusnudzan”……

    dengan SADAR/PATRAP TAUHID…bisa menjadikan gerbang dalam “berkhusnudzan”…..

    wah maaf……jgn2 ada yg anggap….klo gt org suudzon berarti……gak SADAR…gak PATRAP…….
    gtu ta……he..he…..ya kalo gtu lakum dinukum waliyadin…..

    semoga Allah meridloi mbah Maridjan….dan memudahkan….amin….

    dan kita bisa mangambil hikmah sesuai dg persepsi/kesadaran masing-masing……

    Mbah Maridjan salah satu sosok / figur yg memiliki keteguhan……..Luar Biasa

  4. Setuju dg artikel diatas, mati itu spektrakuler kata pengarang buku psycholgi kematian, teriring ucapan Inna Lillahi waina ilaihi roji’un .

  5. Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Pak Pur dan seluruh Pembaca beserta semestanya.
    Mhn maaf sebelumnya. Saya nyuwun sewu terlebih dahulu, sy ikut nimbrung. mudah-mudahan Allah luruskan niatan saya, Pak Pur dan semua Pembaca blog ini semata-mata menjalankan perintah-Nya untuk tawashaubil haq dan tawashau bish shabr.
    sy bukan dalam posisi setuju atau tidak setuju. tetapi ingin urun rembug agar ada baiknya kita meletakkan secara tepat atas prasangka (baik itu su’udhan maupun husnudhan), dalam kaitannya dengan hakekat.
    Di Surat Abasa, Allah ajarkan pada Rasul-Nya untuk tidak menggunakan su’udhan maupun husnudhan, kedua-duanya hanya akan mengantarkan pada ketidakbenaran (atau kalaupun itu benar, tak lebih dari sekedar kebenaran yang semu).
    Coba kita cermati kandungan surat Abasa ini. Ketika Rasulullah saw berprasangka baik pada orang yang berkedudukan tinggi dan, astaghfirullah, (untuk tidak menyebut beliau su’udhan terhadap Umi Maktum yang buta), Rasulullah saw kemudian ditegur melalui wahyu dalam surat ini. Wahyu ini adalah kebenaran hakiki yang yang tepat dan pasti meluruskan kedua dhan (su’udhan dan husnudhan) yg ternyata sama-sama salahnya. Dari sini Rasulullah saw kemudian bisa menentukan sikap secara tepat dan pasti pula melalui wahyu-Nya tersebut, bukan kebenaran yang diduga benar.
    Oleh karena itu, terkait dengan Mbah Marijan, ada baiknya tidak kita komentari atas dasar dhan (prasangka baik maupun buruk) yg kita rangkai dengan logika. Karena logika hanya merangkai yang terindera, yang kadang tidak menyentuh yang tak terindera. Mungkin ada baiknya kita berpatrap, memohon penjelasan-Nya, baru setelah itu bisa dibahas di forum khusus. Sehingga kalau ada kejelekannya, kita jadikan pelajaran bersama di forum khusus tersebut.
    Saran saya untuk membahasnya di forum khusus ini juga terkait dengan pertimbangan hakekat. Kalau ternyata husnudhan kita, secara hakekat salah, maka dampak kesalahan ini akan diikuti oleh banyak orang. Atau dengan bahasa lain, kita tersesat dengan prasangka kita dan dengan prasangka pula kita menyesatkan orang yang membacanya.
    Demikian, sekali lagi mohon maaf. Semoga kalau apa yang saya sampaikan ini salah, Allah SWT tunjukkan kebenarannya. Dan kita dijadikan-Nya hamba-hamba yang tidak keberatan untuk menerima kebenaran dari-Nya tersebut. Wallahu a’lam bishawab.
    wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

  6. marilah menyikapi fenomena sujud itu dgn kearifan,dan prasangka baik.karena jawabanya hanya satu yaitu wallahu a’lam dan inna lillahi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *