Belajar dari Dunia Perdukunan

Artikel Gagasan untuk Harian SOLOPOS:

Dimuat sabtu 30 April 2013

Belajar dari Dunia Perdukunan
Oleh: Setiyo Purwanto, S.Psi., M.Si.

Persoalan yang terkait dengan dukun banyak menimpa berbagai kalangan. Dari artis sampai politisi. Belakangan ini yang menjadi ramai oleh pembicaraan publik adalah kasus Adi Bing Slamet, selebriti kawakan yang merasa tertipu oleh aksi perdukunan. Adi merasa menjadi korban dan telah terkelabui oleh dukun yang dikenal dengan sebutan Eyang Subur.

Persoalan terkait dengan dunia perdukunan ini menjadi menarik karena di dalamnya ada banyak pelajaran yang bisa dipetik. Pelajaran bisa diambil oleh siapa saja, baik yang sudah sangat akrab dengan dukun beserta kepentingan politis, bisnis, atau popularitasnya; beberapa kali saja berhubungan dengan dukun; atau yang sama sekali tak bersinggungan dengan dunia perdukunan. Bahkan, bagi mereka yang pikirannya steril dari perdukunan dan tidak memiliki ide apapun tentang dunia perdukunan.

Bagi pribadi-pribadi yang sudah memiliki keyakinan kuat dan mengakar dan sering mengandalkan dukun untuk semua persoalan hidupnya, pelajaran dari kasus Adi Bing Slamet dan Eyang Subur ini sangat penting dan menyadarkan. Sementara bagi yang awam dengan dunia perdukunan atau yang hanya pernah bersentuhan sedikit dengan dunia perdukunan, akan memperoleh cakrawala baru agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak perlu. Singkat kata dari ‘dunia hitam’, bila kita pelajari dengan bening bisa menghasilkan ‘pelajaran yang putih’ terkait dengan keimanan kita sebagai orang yang [mengaku] beragama dan bertuhan di republik ini.

Ini semua karena kenyataan bahwa memiliki hubungan atau urusan dengan dukun atau siapa saja yang dipandang memiliki ‘kekuatan suprarasional’ atau ‘kekuatan supranatural’ atau ‘kekuatan suprafisika’, tidak hanya merugi secara finansial, namun juga secara keimanan (i’tikad). Contoh yang menimpa selebriti Adi Bing Slamet adalah contoh gamblang. Memetik pelajaran dari kasus ini penting juga karena mengingat mayoritas penduduk di negeri ini adalah penganut suatu sistem agama yang mestinya secara otomotis memiliki keimanan (faitfulness) kepada Tuhan, dan bukan beriman kepada dukun.

Manusia bukan Obyek Iman

Kasus beraroma klenik dan penuh kesyirikan ini menimbulkan satu semangat tersendiri bagi kita. Terkhusus, dalam hal komitmen kita untuk secara serius menjadu orang beragama dan bertuhan. Dari kasus ini siapa saja yang mengaku beriman perlu mengoreksi atau mengevaluasi apakah sudah berada dalam rel yang benar dalam menjalani laku sebagai orang yang bertuhan  (baca: iman kepada Tuhan).

Sebagai seorang korban, Adi Bing Slamet, telah memberi contoh benar terkait reaksi memandang dan bersikap terhadap dunia hitam yang klenis. Tak kurang sudah selama empat tahun ia hidup dalam dunia kelabu dan terombang-ambing dalam setengah iman yang ragu kepada Tuhan. Ia merasa tak sedang ditipu oleh manusia yang bernama dukun, bahkan mempercayainya.

Namun, rupanya akal dan kesadarannya yang waras bangkit: ia pun tak takut melawan sang dukun. Adi yang tersadar akhirnya berada di titik pemahaman bahwa ia telah dibohongi, didustai, dikelabui, dan ditipu mentah-mentah oleh dukun. Ia pun akhirnya berani dengan tokoh yang ia nilai sendiri ‘memiliki kewaskitaan’ dan banyak ‘kesaktian’ ini. Tak tanggung-tanggung pula, ia melawan atas nama Allah, tuhannya sendiri yang mungkin sebelumnya ia abaikan peran-Nya.

Adi Bing Slamet berani membeberkan persoalannya dan menjelaskan peristiwa-peristiwanya yang menimpanya kepada media massa. Ia dengan nyali sebagai orang beriman dengan tiada takut sedikitpun, berani melawan Eyang Subur. Ia tidak peduli dengan dukun yang dikenal sakti yang suka mengancamnya dengan ‘sabda-sabda’nya itu. Keberanian ini sungguh luar biasa. Sebab ketika Adi sedang melakukan perlawanan itu, seperti dituturkannya pada media massa, terjadi banyak hal-hal ghaib dialami oleh anggota keluarganya.

Apa yang ditempuh oleh Adi sangat jarang dilakukan banyak orang. Bahkan, juga bagi mereka yang mengaku beragama dan bertuhan. Kadang, orang beragama pun, merasa keder dan takut dengan ancaman-ancaman dukun. Meski bertuhan, mereka takut kuwalat, bahkan dengan para guru, mursyid, kyai, ataupun ustadz-ustadz-nya. Ukuran rasa takutnya bahkan kadang mengalahkan ketakutan kepada Tuhan itu sendiri. Ini adalah ironi dan anomali dalam kacamata disiplin Psikologi Islam. Jika perasaan ini ada pada seseorang, apapun klaim agamanya (terkhusus muslim), sebenarnya ia sudah dalam keadaan terkungkung dalam kesesatan. Bagi orang sejenis ini, ia sudah harus mulai membebaskan dirinya agar hanya Allah saja yang menguasai di dalam dirinya. Bukan yang lain, apalagi seorang dukun.

Ajaran Islam yang dianut mayoritas penduduk negeri ini tidak pernah mengajarkan umatnya untuk beriman kepada manusia, bahkan kepada Nabi Muhammad sekalipun. Posisi Nabi Muhammad hanya sebagai pengantar wahyu dari Allah untuk kaum muslim. Dan kaum muslim  hanya diperintahkan untuk menghormat beliau saja dan mendoakan beliau. Tak lebih tak kurang. Nabi pun bukan sesosok manusia yang menjadi perantara. Nabi juga bukan menjadi hijab yang menutupi antara manusia dengan Tuhannya.

Dalam kasus Adi Bing Slamet, seorang manusia yang berjuluk dukun telah menjadi punutup atau hijab antara ia dengan Tuhannya. Karena itu, jika ada seorang guru spiritual yang menempatkan dirinya sebagai hijab antara manusia dengan Tuhan, maka pantas ia untuk ditinggalkan dan dicampakkan. Dalam hal ini, apa yang dilakukan oleh Adi Bing Slamet sudah benar. Para politisi, pebisnis, atau artis lain yang mengalami hal serupa dengan Adi Bing Slamet pun harus meneladani langkah selebriti ini dalam memcampakkan hijab itu jauh-jauh. Kaum muslim tidak perlu takut dengan ancaman-ancaman ghaib manusia yang berembel-embel dukun, guru spiritual, kahin, atau apapun. Adi Bing Slamet sudah memberi contoh berkeimanan dengan benar, yakni mengandalkan Tuhan untuk melawan Eyang Subur.


Waspada Hipnotisme Dukun

Eyang Subur mampu menguasai para muridnya dengan mencengkeram alam bawah sadar para muridnya. Apa yang terjadi pada Adi Bing Slamet, sebenarnya adalah fenomena para murid atau pengikut yang terhipnotis oleh gurunya. Siapa saja manusia yang bisa terkena daya hipnotisme adalah tipologi manusia yang memang lemah dalam kadar ber-ketuhanan-nya (theism quality). Pemahaman akan teisme (rabbaniyyah) atau teologi praksis dari agama yang dianutnya sangat lemah. Pribadi sejenis ini biasanya cenderung bertindak laksana seorang materialis (penganut materialisme), bahkan seorang nihilis (penganut nihilisme), meski ia mengaku secara verbal adalah seorang muslim.

Bentuk-bentuk hipnotisme dari seorang guru biasanya berupa ancaman, mengacaukan pikiran, dan membuat si murid tergantung dengan guru. Penguasaan bawah sadar (subconsciousness) ini dalam perspektif Islam dikenal dengan kekuatan jin, kekuatan khadam, dan istilah sejenisnya. Bisa jadi, Eyang Subur sangat terlatih dalam teknik menguasai kekuatan bawah sadar demi menguasai murid-muridnya. Dalam keadaan jiwa yang terhipnosis, seorang murid akan sangat patuh dengan sang guru. Tidak saja harta, jika semisal istri murid diminta oleh sang guru pun, sang murid akan taat dengan penuh.

Melihat fenomena ini, dari sisi disiplin Psikologi Islam, kita akan dipahamkan tentang kekuatan riil Allah. Konklusi bisa ditarik tegas: dukun hanya kalah oleh Allah. Pemahaman ini, bagi saya selaku praktisi Psikolog Islam, sangat menghentakkan. Karena dalam masyarakat muslim, masih banyak fenomena yang menunjukkan keyakinan yang justru lebih kuat kepada manusia dengan predikat dukun, tidak kepada tuhannya. Atau, kalangan muslim boleh jadi tak berurusan dengan dukun, namun keimanannya kepada Allah, tuhannya, dalam ramah praktis dan implementatif, sangat lemah. Klaim keimanan verbal tak jarang berbalik dengan perbuatan praktis. Adi Bing Slamet adalah prototipe ini ketika ia masih berada dalam cengkeraman hipnotisme Eyang Subur.

Belajar dari kasus ini, masyarakat muslim harus lebih waspada terhadap fenomena hipnotisme berbau spiritual. Tak layak seorang muslim mengorbankan imannya kepada kekuatan manusia. Bila seorang muslim beriman atau meyakini Allah secara penuh, yakni dalam skala 100%, ia tidak akan pernah takut kepada siapapun. Adi Bing Slamet memperoleh kekuatan dan keberanian yang penuh justru karena ia yakin mengandalkan kekuatan Allah, yang sebelumnya boleh jadi ia sangat abaikan. [sp]

 

Setiyo Purwanto, S.Psi., M.Si.
Staf Pengajar Psikologi Islam, Fakultas Psikologi UMS
Pemerhati Psikospiritual Islam dan Trainer Shalat Khusyuk

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *