Belajar makrifat tanpa guru

Belajar makrifat tanpa guru sangat mungkin, tida perlu takut ini dan itu, pikiran manusia sekarang berbeda dengan dulu. kalau sekarang logika jalan sehingga tanpa guru dia bisa membedakan mana sesat dan tidak. Tidak perlu takut untuk belajar makrifat tanpa guru, ambil saja Allah sebagai guru. Jika kita mengambil Allah sebagai guru maka jaminan selamat 100% tapi jika mengambil guru manusia dan mengabaikan Allah sebagai guru maka jaminan 0%.

Makrifat sebenarnya tidak perlu dipelajari, karena memang tidak ada ilmunya. Makrifat adalah sadar Allah. Jika kita sadar Allah maka Allah dan kita percaya bahwa Allah yang mengajarkan kita maka kita akan mendapat pelajaran dari Allah secara langsung. Boleh percaya boleh tidak, ilmu makrifat yang disusun oleh manusia kadang malah bikin sulit, ini terbukti dengan berbagai macam tatacara, berbagai macam terminologi , berbagai macam maqom dan berbagai macam ritual. justru inila yang bisa menyesatkan. Kalau anda mau mengikuti aliran makrifat saya maka cukup anda sadar Allah maka Allah akan mengajarkan.

Ilmu makrifat kalau hanya di kaji di pengajian pengajian tasawuf memang bikin stress …bagaimana tidak,cerita yang luar biasa di dunia tasawuf hanya sebuah utopia yang tidak akan bisa dicapai. Orang lapar mendingan makan ketela rebus dari pada makan pizza…. ini yang bikin stress dan gila

ritual ritual yang macam , teoari yang berliku liku membingungkan tidak lain adalah untuk “sadar Allah” silahkan dibuktikan. maka untuk apa kita melakukan ritual berbagai macam kalau endingnya hanya untuk sadar Allah, berarti langsung saja sadar Allah. Jalankan saja syariat apa adanya tidak perlu ritual tambahan lainnya yang tidak jelas….. tapi dengan sadar Allah yang kuat, yang konsisten.

baik makrifat sederhana tanpa guru manusiapun bisa yang penting pegangan Allah dan syariat rasulullah dengan “sadar Allah”.

8 thoughts on “Belajar makrifat tanpa guru

  1. Jalan pintas dianggap pantas ya pak! Beda jalan tapi 1 tujuan, sama halnya, saya mau ke jawa dari aceh, teman sy dr Aceh via bus, tapi sy via pesawat, Hehe kita harap itu suatu pilihan kita secara subjektif tanpa perlu diperdebatkan. Pemikiran sy, makrifat itu suatu level diatas tarikat dan hakikat, tetapi skrg sy sadar bahwa makrifat adalah hak semua orang asalkan dia benar2 full sudah akan sadar Allah, kira2 begitu ya pak?

  2. Menuju ke suatu tmpat yg tdk dikenal saja perlu pembimbing agar tdk tersesat.apalagi alam makrifat.Rasullullah saja perlu malaikat Jibril as. sbg pembimbing,knp qt manusia bisa yg blm tau malah tdk perlu guru.sya rasa kurang berkenan dgn apa yg bpk sampaikan.

  3. wis pak ojo membahasa dunia tasawuf lan makrifat kalo tidak tahu dunia makrifat sebenarya..wis makan pizaa aje yang enak

  4. Kalau tanpa guru, setiap orang berhak untuk menjabarkan kesadaran Tuhan dengan sekendaknya, ntar ujung2nya banyak aliran baru dalam islam. Perlunya guru atau imam agar kita berjamaah dalam kebenaran, toh kalau ada yg salah itulah gunanya jamaah ada yg memberi petunjuk. Nabi dan sahabat itu dalam satu jamaah dan Rasul adalah guru dan imam para sahabat dan kita semua. Coba bayangin aja kalau tiap2 sahabat diberi kebebasan berkehendak dalam kesadaran akan Tuhan, bisa kacau men…. kita perlu bertanya tentang jalan yg tdk kita tahu kepada orang yang pernah melaluinya dgn jujur, biar kita tdk tersesat dan selamat sampai tujuan. Nah kalau kita main babat aja tu jalan dgn kita yg buta arah akibat kebebasan berkendak, ya mati bro dimakan binatang buas (syetan). Tidak anak kecil bisa yang baru belajar berjalan tanpa bantuan orang tua yg sdh kuat berlari.

  5. mungkin sudah terLanjur mendarah daging pengertian tentang sanad itu, shgga sulit merubah meluruskan kembali makna sanad itu. unt meluruskan kesalah pahaman yg sudah turun temurun ini harus berani mengambil resiko. bebaskan belenggu ketakutan dgn dasar sadar Alloh .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *