Penghafal Al Quran perlu Jaminan Hidup

Sekarang ini sekolah tahfidz, sekolah yang memberikan materi pelajaran menghafal al quran berkembang pesat dan tumbuh dimana mana. Ketertarikan orang tua agar anak hafal cukup pesat sehingga sekolah tahfidz terutama yang berupa pondok pesantren dibanjiri peserta didik. Rata rata sekolah menghafal di capai kurang lebih 3 sampai 4 tahun. Tentunya setelah hafal mereka harus menjaga hafalan. Kesibukan seorang penghafal adalah menjaga hafalannya. Menjaga hafalan sama beratnya dengan menghafal, proses menyimpan dan proses merecall kembali hafalan adalah sama sama berat.

Seorang santri ketika menghafal tidak banyak masalah kehidupan yang dia alami, namun ketika sudah dewasa ketika harus menjaga hafalan dan bidang kerjanya bukan di hafalan mislanya menjadi ustadz di salah satu sekolah menghafal maka akan sangat berat, disatu sisi dia harus fokus menjaga menghafal di sisi lain dia harus bertarung di kehidupan nyata, menjadi pedagang, menjadi pegawai atau yang lainnya.

Jadi masalah berat akan muncul pada seorang penghafal ketika dia sudah mulai memasuki dunia kerja, memasuki dunia berkeluarga memikirkan anak dan istri, dan berbagai masalah hidup lainnya. Secara perbandingan, orang yang tidak menghafal saja kadang cukup berat untuk menghadapi masalah hidup bagaimana dengan yang menjaga hafalannya.

untuk itu kehidupan ekonomi seorang penghafal harusnya mendapat jaminan dari umat atau pemerintah atau instansi islam lainnya. Sebab kalau mereka menjaga hafalan dan juga mencari nafkah harian itu akan sangat berat, utamanya bagi penghafal yang tidak memiliki skill khusus atau keahlian khusus atau dapat warisan usaha dari orang tuanya. Penghafal yang hidupnya pas pasan ini yang perliu mendapat santunan agar dia tetap bisa fokus pada hafalannya.

Sekian juta anak islam saat ini yang sekarnag sedang menghafal al quran dimana mereka memiliki kecerdasan yang tinggi, berarti ini adalah potensi umat islam kedepan. Kalau ini tidak di jaga potensi ini maka umat islam akan kehilangan momen penting. Para penghafal ini harusnya dapat di dudukkan seabgai seorang ahli di bidangnya, untuk itu jaminan sekolah sekolah yang mendidik mereka menjadi seorang ilmuwan, peneliti atau pekerjaan yang tetap menggunakan kemampuan memori otak akan sangat mereka perlukan.

Kalau para penghafal ini tidak dipikirkan masa depannya, maka potensi umat islam akan kehilangan momen besarnya, para penghafal tidak akan mampu bertarung di medan kerja kalau mereka harus bekerja berat atau bekerja yang tidak menggunakan kemampuan otaknya, tapi lebih ke fisik. atau pekerjaan yang terlalu memeras otak seperti pengacara, hakim atau sejenisnya, karena hafalan akan kacau dengan pekerjaannya yang memerlukan pemikiran yang berat secara emosional. pekerjaan yang melibatkan beban emosional ini dapat mengganggu kerja otak. Para penghafal ini sangat cocok sekali dengan pekerjaan seperti guru, dokter atau kesehatan, Pelayanan sosial. Untuk dagang dan bisnis saja yang sifatnya bisnis yang memerlukan spekulasi tinggi juga akan sangat mengganggu hafalannya.

untuk itu kenapa bahwa menghafal adalah fardhu kifayah, artinya tidak semua harus menghafal sampai 30 juz, sebab banyak pekerjaan yang tidak akan dapat tertangani oleh para penghafal. Dan untuk para penghafal perlu kita santuni pelru kita perhatikan kehidupan perekonomiannya sehingga para penghafal tersebut dapat terus menjaga hafalannya. Perhatian dari pemerintah misalnya bagi penghfal 30 juz akan di sertifikasi dan mendapat santunan sebesar 5 juta setiap bulannya.

Fokus kepada perintah Allah untuk diri sendiri

secara tidak sadar kadang kita menggunakan al quran dan hadis untuk memaksa orang lain melakukan sesuatu, atau untuk menyalahkan orang  lain dengan segenap dalil yang ada di quran maupun dan hadis. Saya kira itu sah sah saja, asal kita pun paham bahwa ada perintah di balik apa yang sampaikan dengan dalil quran dan hadis itu untuk diri kita. Kita lihat sejarah turunnya al quran yang di wahyukan kepada rasulullah, yaitu untuk mengatasi masalah masalah yang di hadapi Rasulullah, artinya al quran turun untuk Rasulullah, jadi al quran turun adalah perintah dari Allah untuk Rasulullah. Dari al quran inilah Rasulullah take action melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Al Quran turun tidak untuk menghakimi orang yang salah, tapi untuk menunjukkah kepada Rasulullah bahwa Rasulullah harus betindak karena ada perilaku orang lain yang salah. jadi kalau kita buat urutan : Allah – Al Quran – Rasulullah – Perintah – Rasulullah take action – umat , jadi kita lihat alurnya , al quran bukan untuk menghakimi umat tapi al quran memberi petunjuk atau perintah kepada Rasulullah agar bertindak.

Ini agak beda dengan orang yang selalu mengambil al quran kemudian dengan al quran itu dia lemparkan orang lain, tuh lihat kamu salah !!! lihat al quran yang aku sebutkan!!! , ini jelas tidak semestinya. apa akibat jika orang lain di begitukan, pasti akan reject, dan kita sudah dzalim dengan al quran, karena al quran menjadi bamper atas kebenaran yang kita yakini.

inilah sumber perpecahan umat, karena menggunakan  al quran untuk menyalahkan orang lain , bukan untuk dicari perintahnya dan dijalankan pada dirinya sendiri. Sekarang ini memang orang banyak membaca al quran untuk mencari kebenaran, tapi kebenaran diri , bukan untuk mencari apa yang seharusnya saya lakukan.

sebagai kesimpulan bagaimana kita memperunakan al quran sama dengan Rasulullah, yaitu kita fahami al quran kemduian, kita cari apa perintahnya untuk kita, kemudian kita action , sebenarnya itu saja. Misalnya kita buka al quran kemudian kita menemukan larangan untuk minum khamr, kemudian di depan kita ada peminum khamr, maka langkah awal adalah apa perintah Allah nya? bisa jadi kita akan diilhamkan Allah untuk berinteraksi dengan peminum itu, kemudian diilhamkan ALlah untuk ngobrol kemudian untuk berbicara masalah bahaya khamr dan seterusnya ……. bukan serta merta “hai peminum khamr, tahu nggak sih kalau minum itu haram lihat nih al qurannya mengharamkan”… ini pasti jadi masalah.

okelah kita kembali kepada al quran bahwa al quran itu perintah untuk kita bukan untuk sarana menyalahkan orang.

Belajar itu quran harus meningkat jangan berhenti di tajwid atau tahsin

gunakan terjemah dan tafsir ulama

belajar Al Quran tidak berhenti di tajwid dan tahsin, tajwid dan tahsin adalah cara membacanya saja, itu hanya Alat untuk dapat membaca huruf, belum isi kandaungan al quran. Belajar al quran yang utama adalah bagaimana memahami isi perintah yang terkandung dalam al quran tersebut. Perintah ini ada daya atau ada mukjizatnya. Jika kita mau mencoba pasti akan merasakannya. Kita baca satu ayat kemudian kita pahami perintah Allah di balik ayat yang kita baca maka perintah tadi akan merasuk dan akan memformat ulang pikiran dan perasaan kita itulah yang saya katakan sebagai mukjizat, sehingga baca satu ayat saja sudah sangat berat karena dayanya yang besar, seolah mau baca lebih banyak ayat dada ini terasa tidak kuat. Kita bayangkan saja satu perintah Allah ini dayanya dapat memperbaiki pikiran perasaan dan kesadaran maka setiap hari kita baca 1 atau2 ayat pasti akan membuat perubahan hidup yang dangat cepat.

Modal penting untuk memahami perintah Allah dalam al quran adalah pada sikap “mau menjalankan perintah Allah”, atau mencari apa petunjuk Allah dalam al quran” bukan pahala. Sikap mau menjalankan perintah Allah ini akan membuka pintu kemukjizatan al quran pada diri kita. Dan memang al quran adalah untuk siapa saja yang bertaqwa “huda lil mutaqin” orang taqwa berarti orang yang menjalankan perintah Allah.  Membaca al quran adalah sarana untuk bertakwa sebab membaca al quran dengan memahami isi perintah nya adalah sarana untuk menjalankan perintah, Taqwa adalah bentuk action. Ibaratnya adalah membaca surat perintah itu belum termasuk menjalankan perintah. Memang perintahnya membaca tapi untuk level yang diatasnya, bahwa membaca perintah belum menjalankan perintah. Misalnya orang saya beri perintah untuk menyapu lantai dengan surat perintah, maka ketika dia membaca surat perintah itu berarti dia belum menjalankan apa apa yang saya perintahkah yaitu menyapu lantai. Itu saja membaca dengan memahami perintah, apalagi dengan membaca yang sekedar di baca tidak difahami isi nya .

Untuk bisa memahami isi perintah Al quran tidak perlu bisa bahasa arab, tapi yang penting MAU, seperti ketika kita belajar huruf hijaiyah pertama kali, modal utama adalah yang penting mau. Kita bisa menggunakan terjemah kata perkata, terjemah per ayat dan tafsir, dimana ketiganya ini sudah banyak beredar three in one. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak faham dengan al quran.

Pantangan untuk bisa memhami alquran adalah meniatkan untuk mencari pahala, sebab ketika niat sudah mencari pahala maka jiwa kita pikiran kita perasaan kita motorik kita akan di arahkan dengan membaca cepat, orientasi pada jumlah ayat, bangga dengan jumlah ayat yang setiap hari dibaca, malas untuk memahami isi, bahkan takut untuk membaca kandungan ayat karena takut sesat. Niat membaca al quran harus tegas bahwa setiap ayat yang dibaca harus difahami perintah Allah apa. Bahkan kalau anda mau menyadari ayat 16 di surat al qiyamah maka membaca al quran dengan cepat ini adalah di larang. Tapi pasti anda heran hampir mayoritas umat islam jika baca al quran cepat dan tidak faham isinya, yang mana hal ini jelas bertentangan dengan perintah di ayat 16 surat al qiyamah. Saya hanya mengingatkan diri sendiri dan anda semua yang mau saya ingatkan tentang hal ini. Kebiasaan kita sebelumnya yaitu membaca al quran dengan cepat dan tidak memahami isinya ternyata dilarang al quran. bagaimana jika kita menjalankan apa apa yang diperintah Allah?

akhir kata jangan berbangga dengan bacaan al quran, dimana kita sudah sangat menguasai tajwid dan tahsin sebab itu belum apa apa nya, untuk dapat membaca al quran dengan benar kita harus memahami isi sampai pada faham apa perintah Allah di dalamnya dan kemudian menjalankannya dalam kehidupan.