Rasulullah Memiliki sikap Keras

Inilah sifat Rasulullah yang jarang kita ketahui, yaitu sikap keras Beliau. sikap keras Beliau ada pada sikap dalam menjalankan perintah perintah Allah . Digambarkan dalam al Quran bahwa Beliau keras dalam hal ruku dan bersujud. Rukuk dan Sujud adalah simbol ketundukan kepada Allah yang tidak dapat ditawar tawar. Tunduk kepada Allah ini luas. Ketika kita diberi amanah untuk menyelesaikan sebuah tugas maka sikap keras itu adalah menyelesaikan sampai tuntas sampai selesai.

Sikap keras ini tentu tidak sembarang keras. Kerasnya Rasulullah menggunakan keagungan dan kebesaran Allah SWT. jadi yang Beliau gunakan adalah kesadaran akan adanya kebesaran dan keagungan Allah SWT. Terlihat dalam perang Badar, Dimana Beliau sudah tidak mempertimbangkan jumlah musuh yang jauh lebih besar dari pada jumlah kaum islam waktu itu. Yang ada dalam kesadaran Rasulullah dan para sahabat adalah kebesaran Allah untuk menjalankan sikap kerasnya kepada orang kafir.

nah kitapun bisa mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah, ketika tanggung jawab terlalu besar di luar kemampuan kita, maka kita gunakan cara Rasulullah dalam menghadapi musuh  di dalam perang badar. Yang di pandang hanya kekuatan Allah dan kebesaran Allah tidak memandang lagi minimnya kekuatan umat islam. Dari sisi kekuatan kita kalau dipikir lebih besar tanggung jawab atau amanah yang harus kita selesaikan , untuk itu jangan kita pikirkan segera kerjakan saja dengan berada di wilayah keyakinan kepada kebesaran dan pertolongan Allah.

Jadi hanya ada dua yaitu berada di kesadaran kebesaran Allah dan yang kedua adalah percaya bahwa Allah memberikan pertolongan kepada kita.

Hidup berdampingan dengan covid-19 ala dzikir nafas sadar Allah

Mungkin bumi ini sudah terlalu banyak manusia, sehingga Allah menurunkan virus corona dengan berbagai varian ke bumi. Banyaknya manusia di muka bumi tentunya membawa ketidakseimbangan alam. Kematian akibat korona sudah mencapai 4 juta orang dan ini pasti membawa pengaruh terhadap kehidupan di bumi. 

Dan sepertinya virus ini akan terus ada. Manusia yang tidak bisa menjaga kesehatan dirinya rentan terkena keganasan virus corona ini. Yang hidup di bumi nantinya adalah manusia manusia yang benar benar sehat yang tidak ada penyakit bawaan. Yang ada penyakit bawaan mereka harus ekstra jaga kesehatan dan jaga agar tidak terjangkiti virus corona.

mulai saat ini kita harus berani untuk hidup bersama dengan corona, kalau hanya cara kita hanya menghindar dan menghindar maka sampai kapan kita akan terus menghindar? kita harus menerima virus ini bagian dari kehidupan kita, jadi yang penting adalah kita saling bekerja sama, saling membantu jika ada yang sakit kita bantu untuk isolasinya. dan bagi yang sakit tahu dirilah, jangan sampai menularkan kepada yang lain. 

cara hidup berdampingan lagi adalah bahwa kita harus berdoa kepada Allah untuk selalu memohon perlindungan-Nya. karena virus ini kecil dan sulit untuk mendeteksi keberadaan virus ini. 

cara berikutnya adalah menganggap bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan yang sewaktu -waktu akan selesai. Jadi kematian adalah jalan terbaik untuk lebih sempurna dalam mendekat kepada Allah. Kematian bukanlah perpisahan dengan Allah tapi justru ini jalan sempurna menuju kepada Allah SWT. Kita masing masing harus punya kesadaran tentang hal ini. mungkin hal ini menyedihkan, iya dari sisi konten memang iya, tapi jika kita mau berpikir lebih jauh lagi maka kebiasaan ini akan memunculkan sikap pasrah dan rileks, terbebas dari stress. Kalau kita sudah terbebas dari stress berarti imun kita meningkat dan akan memperkuat ketahanan tubuh kita jika sewaktu waktu terpapar virus corona. 

sikap anda saat lapar saat puasa

ini pelajaran yang sangat luar biasa karena puasa memaksa kita untuk tidak makan. ketika kita puasa kemudian kita lapar apakah ada keinginan untuk kenyang ? coba cermati, pasti tidak kan, kita cuma menerima rasa lapar itu sebagai sebuah hal yang memang harus kita terima. Nah sekarang pelajaran apa yang kita dapat dari lapar saat puasa ini. Pelajaran utamanya adalah bahwa ketika kita mengalami keadaan yang tidak menyenangkan, mengecewakan, keterpurukan, kemiskinan dan yang tidak enak lainya maka kita hanya menerima dan tidak ada keinginan atau harapan untuk bahagia, senang, kemakmuran dan sebagainya. 

ini adalah pelajaran tahap pertama dalam 3T yaitu  menerima, ketika kita berada pada keadaan menerima maka ya menerima saja. pada tahap ini jangan  ada keinginan keinginan atau harapan harapan. kalau sakit ya sakit jangan berharap sembuh. Ingat! ini tahap awal kita harus benar benar menerima tidak yang lain. masih ada tahap tahap selanjutnya yang nantinya baru kita berharap dan baru kita yakin. sekali lagi untuk tahap pertama ini seperti pelajaran puasa saat lapar yaitu hanya menerima lapar tidak ada keinginan atau harapan kenyang.