keluarga

Mendidik anak berpikir cerdas

Dunia ini terus berubah, perubahan dunia yang sangat cepat ini tidak akan dapat diikuti oleh pikiran yang itu itu saja, pikiran ini harus disiapkan untuk merespon dunia yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Mencerdaskan pikiran anak adalah mempersiapkan untuk menghadapi perubahan itu. Anak yang cerdas adalah anak yang mampu menggunakan kalkulator bukan yang hafal berbagai hitungan di luar kepala alias hafal. Anak yang cerdas adalah anak yang mampu menggunakan Google search untuk menjawab setiap permasalahan yang ia hadapi, bukan anak yang mampu menghafal materi pelajaran. Nampaknya orang tua harus bersahabat dengan gadget untuk diperkenakan kepada anak bagiamana memanfaatkan gadget tersebut.

3T1 untuk keharmonisan Rumah Tangga

kehidupan rumah tangga antara suami istri terletak bagaimana masing masing pasangan bahwa pasangan adalah anugerah dari Allah. Ketika kita melihat istri kita atau suami, maka yang kita pandang adalah rejeki yang Allah berikan kepada kita. apapun yang ada pada pasangan kita maka itu adalah rejeki yang diberikan Allah. Dalam hal ini suami istri harus selalu sambung kepada Allah atau sadar Allah karena penerimaan suami teradap istri atau sebaliknya adalah terimakasih atas pemberian dari Allah SWT. Penerimaan terhadap pemberian Allah berupa pasangan hidup akan memberikan daya penyatuan spiritual daya kasih sayang spiritual yang lebih dalam yang lebih permanen.

keretakan rumah tangga karena tidak adanya penerimaan terhadap pemberian Allah berupa pasangan hidup ini. sikap tidak menerima akan menimbulkan minat dengan wanita lain atau pria lain. Makan resep rasulullah untuk hal ini tersebut dalam satu hadis yang intinya ketika kita tertarik dengan wanita lain maka segeralah masuk ke kamar istri. Pasti anda tahu tujuannya kenapa bersegara masuk ke kamar istri. Ya ketika kita bersama pasangan atau bersama istri maka kita akan bersyukur menikmati pemberian Allah yang berupa pasangan hidup yang sekarang dan hilanglah minat kepada wanita lain. hikmah yang lain adalah bahwa ketertarikan kita dengan lawan jenis ujung ujungnya adalah masalah seksual, masalah syahwat, JIka syahwat ini terpenuhi maka hilang sudah ketertarikan dengan wanita lain. Dan rasulullahpun mengancam kepada istri yang menolak diajak berhubungan seks sebab ketidakpuasan suami akan menimbulkan ketidak puasan hubungan personal dimana suami akan mencari cari kepuasan dengan wanita lain.

ya kembali di metode 3T1 yaitu sikap menerima sebagai cara untuk kebahagiaan rumah tangga, ya menerima adalah dasar dari menikmati kehidupan rumah tangga. Kita terima pasangan kita dengan berbagai bentuk dan perangainya… terima dan terima…. baik yang tidak baik terlebih yang baik. Kunci ini jika dipakai maka pasangan tidak akan dapat berbuat banyak dan dia akan berubah menerima kita. Maka perkuat sikap menerima ini. 3T1 perkuat dan arahkan untuk menerima pemberian Allah berupa istri.

Dengan resep 3T1 ini maka kita tidak akan berpindah kemanapun. karena kita sangat puas dengan pasangan kita masing masing. dan penerimaan berbasis spiritual ini akan memberikan dampak yang jauh lebih dari sekedar hubungan fisik dan emosional.

selamat mencoba dan semoga keluarga kita sakinah mawadah warahmah tentunya dengan cara 3T1 atau menerima pemberian Allah yang berupa pasangan hidup

kesalahan dalam mendidik anak

saya baru sadar kalau ternyata seringkali saya mendidik anda tanpa melibatkan Allah dalam proses pendidikan saya. wajar saja kalau proses mendidik menjadi semakin rumit dan semakin sulit dan hasilnya juga tidak sebanding dengan perjuangan mendidik anak. saat shalat isya kemarin saya baru sadar .. iya ya kenapa saya meninggalkan Allah dalam proses pendidikan.

akhirnya mulai sekarang saya belajar melibatkan Allah dalam proses pendidikan anak anak saya. Saya percayakan anak anak pada Allah, saya yakinkan Allah akan menjadikan anak anak saya menjadi anak yang baik, apapun yang ada sekarang. saya akan ridhoi semua apa yang diperbuat anak dan terus berprasangka kepada Allah bahwa Allah sedang mendidik anak anak saya.

saya menganggap meninggalkan Allah dalam proses pendidikan adalah kesalahan saya yang sangat fatal. saya ternyata masih menggunakan ego saya sebagai oarng tua sebagai orang yang berkuasa dan sebagai orang tua yang harus dihormati. Ego inilah yang akhirnya mengalahkan Allah untuk tidak mengandalkannya.

setelah saya amati mempercayakan Allah dalam pendidikan anak ini hati ini terasa longgar, perasaan terasa plong ada rasa bahagia yang memancar. kekhawatiran kepada anak tentang masa depannya menjadi hilang berganti dengan rasa bahagia bisa bersama mereka disini dan saat ini. sungguh ini menjadikan mendidik anak menjadi sangat membahagiakan.