hati hati dengan duplikasi guru spiritual

manusia memang dibekali Allah dengan “ketidaksadaran kolektif” atau collective unconsciouness. Namun bekal ini bukan berarti secara tauhid bisa kita gunakan. Kita bisa saja menggunakan sistem duplikasi bawah sadar dengan mengidentifikasi diri kita dengan orang lain tapi dalam hal lainnya bukan masalah tauhid.kalau masalah tauhid akan sangat bahaya.. sebab namanya manusia tidak selamanya naik tapi kadang juga turun. kalau pas naik yang menduplikasi akan naik juga tapi jika sedang turun ? maka yang menduplikasi akan turun juga.

Duplikasi itu boleh saja asal kita tahu batasnya, kalau kita sudah kenal Allah berkat duplikasi itu maka kita harus memisahkan diri dan belajar sendiri kepada Allah SWT. Sebab Seorang guru spiritual beliau juga harus berjalan menuju kepada Allah.

Apakah kita bisa bersatu dengan Allah

ini salah satu komoditi fitnah yang sering di lontarkan orang orang yang anti tasawuf, yang selalu “tidak paham dengan konsep menunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah” mereka selalu meniupkan isu bahwa tasawuf itu sesat karena mengajarkan menunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah. saya sebagai front pembela ulama tasawuf tidak terima … he he ..

nah begini bersatu dengan Allah dalam konsep islam ternyata memang tidak ada, konsep ini ada karena adopsi orang orang kejawen yang mencontoh islam tapi tidak mampu berada pada keadaan fana sebab Tuhan yang dipakai sudah salah. nah hal inilah yang menyebabkan konsep tasawuf yang di adopsi islam abangan ini kemudian di pakai sebagai puncak ilmu makrifat. Yang pada akhirnya karena mengacu pada ilmu tasawuf, maka ilmu tasawuf ini dituduh mengajarkan manunggaling kawulo gusti.

saya ingin meluruskan pemahaman yang benar tentang konsep bersatu dengan Allah, dalam konsep ketuhanan, Allah adalah Dzat yang tidak bisa disamakan dengan apapun, Allah ada Dzat yang berdiri sendiri dan tidak bisa disandingkan dengan apapun, maka sangat tidak mungkin kita bersatu dengan Allah SWT. Maka dalam islam tidak istilah manuggal atau bersatu atau wihdatul tapi yang ada adalah fana.

fana sangat berbeda dengan bersatu, Fana ini adalah penghilangan ego pada diri manusia. Konsep menghilangkan dan konsep bersatu pastinya akan berbeda. Konsep menghilangkan ataupun bersatu sangat terkait dengan bagaimana pemahaman kita tentang Allah. Jika Allah itu masih ada dalam pikiran kita maka akan terjadi wihdatul wujud, manunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah, namun jika Allah itu ada dalam kesadaran kita bukan pada pikiran kita maka yang terjadi adalah pemfanaan ego atau penghilangan ego. Sebab sesuatu yang tidak ada dalam pikiran akan menyebabkan ego ini lenyap sebab tidak bisa lagi menjangkau ketinggian dari pada kesadaran tanpa pikiran ini. Ego letaknya ada pada jasad, sedangkan pikiran merupakan product dari pada jasad maka ego ini akan hilang jika pikiran kita kosong.

sehingga jawaban untuk pertanyaan diatas adalah mungkinkah bersatu jelas tidak mungkin. kalau bersatu berarti belum benar tapi jika itu dipertahankan dan di benar benar kan maka berarti tauhid kita sudah sesat, salah dan harus dikembalikan kepada sifat Allah yang tidak bisa disamakan dengan apapun , serta qiyamuhu binafsi.

cara cepat mencapai puncak marifat

ada satu pertanyaan pak bagaimana cara cepat mencapai puncak marifat?, lha memang makrifat ada dasar ada puncak? menurut saya makrifat adalah satu titik, ketika kita bertemu titik itu maka ya itu, tidak ada yang lain. nah perkara di dalam makrifat itu menimbulkan ilmu ya itu ilmu , ilmu makrifat, kalau makrifat sendiri ya cuma ada satu ya itu.

dan cara mencapai makrifat tidak ada cepat tidak ada lambat, kita pakai cara cepat malah lambat kita pakai cara lambat eh malah cepat. jadi dalam belajar makrifat jangan mentargetkan cepat atau sangat cepat, yang kita lakukan sebaiknya berjalan dengan istiqomah dan penuh keberserahan diri kepada Allah, hanya itu caranya.

 

Apa beda syariat dengan hakikat

Semua perintah Allah itu mengandung suatu makna, perintah Allah itulah syariat dan makna dibalik perintah itu lah hakikat. misalnya kenapa kita dalam shalat ada perintah sujud karena agar kita pasrah  berserah diri kepada Allah. sehingga yang namanya syariat adalah perintah sujud dalam shalat sedangkan hakikatnya adalah kita berserah diri kepada Allah SWT.

nah jelas bedanya kan, jadi kalau kita mengamalkan syariat kita harus tahu hakikatnya. Percuma saja kita hanya menjalankan perintah tapi tidak tahu untuk apa diperintah. contohn tadi dalam shalat ada perintah sujud tapi jiwa kita tidak berserah kepada Allah. 

Tidak menjalankan hakikat ini menyebabkan ibadahnya terasa kering dan tidak memiliki kandungan apa apa. maka mau tidak mau belajar shalat harus belajar hakikat, belajar puasa harus belajar hakikat , belajar dzikir harus belajar hakikat, dan semua yang diperintahkan Allah harus kita pelajari hakikatnya.

Sifat dan Dzat Allah

masih ada satu lagi yaitu af’al Allah atau perbuatan Allah. Ketiga tiganya tidak bisa dipisahkan misalnya sifatnya di dekat kita kemudian Dzat Allah ada di jauh sana… tidak bisa, karena  ketiganya merupakan bentuk satu kesatuan. Sifat Allah menyatu pada Dzat demikian pula perbuatan Allah menyatu pada Dzat.

jangan lihat Dzat itu seperti apa karena pikiran tidak akn sampai memikirkannya. Demikian pula sifat, sifat kasih sayang Allah tidak bisa dibatasi oleh kasih sayang yang kita pikirkan, karena kasih sayang Allah melebihi dari apa apa yang mampu kita pikirkan. Ketika kita bicara sifat maka sifat inipun diluat sifat yang bisa kita pikirkan. sama halnya dengan perbuatan Allah , perbuatan Allah tidak akan bisa kita pikirkan.

maka untuk bisa sempurna memahami ketiga tiganya baik sifat Dzat dan afal nya maka kita harus meniadakan aktivitas berpikir kita menuju kepada suatu kesadaran tentang kemaha besaran Allah yang berada di luar pikiran kita.

demikian semoga Allah memamhamkan kita tentang hal ini amin

ngaji rasa sejati

yang namanya rasa itu tidak ada yang sejati, rasa ya rasa. kalau mau mengkaji rasa sejati yang mendalami masalah rasa .. tapi ingat itu masih dalam batasan rasa. yang namanya rasa tidak akan bisa mencapai keadaan di atas rasa. karena kalau sudah mencapai keadaan diatas rasa maka sudah bukan rasa lagi, atau rasa itu sudah tidak bisa dirasakan lagi. kalau sudah tidak bisa di rasakan lagi apakah itu yang namanya rasa? mestinya tidak bukan.

Dalam islam yang dikaji bukan sebatas rasa tapi diatas rasa yaitu suatu bentuk kesadaran di atas rasa. kesadaran inilah yang di tekankan dalam berdzikir, dzikir. Islam selalu menekankan dzikir dzikir dan dzikir agar kita bisa keluar dari rasa. jadi saya sarankan jangan terlalu lama belajar tentang rasa karena itu tadi, rasa itu mbulet, mumet, dan njlimet. lebih baik dzikir dimana nantinya langsung kita bisa berada pada keadaan di atas rasa.

 

Siapakah waliyullah ?

banyak sekali kriteria kriteri waliyullah yang dibuat oleh manusia.. misalnya waliyulah itu sakti, punya banyak jamaah, perilaku aneh macam jadzab gitu… dan masih banyak lagi, sekarang mari kita kembalikan lagi makna waliyullah itu, waliyullah artinya kekasih Allah, kalau kekasih Allah tidak akan tahu siapapun itu kecuali hanya Allah sendiri. masak iya yang tahu wali itu wali, nah dari mana wali yang tahu wali itu adalah waliyullah? kita sendiri tidak tahu apakah kita wali atau tidak, disangkanya kita bukan waliyullah eh ternyata waliyullah… atau sebaliknya. Jadi tidak perlulah kita itu terlalu menganggap seseorang wali karena sekali lagi kita tidak tahu bahwa orang yang kita anggap wali adalah wali. jangan terlalu taksub sehingga kita tidak bisa membedakan mana perbuatan yang benar dan salah semua kita anggap benar karena kita beranggapan bahwa itu memang perbuatan wali.

Siapakah wali… ? pertanyaan ini tidak akan terjawab karena yang tahu wali adalah Allah sendiri.