Untuk apa Ijazah Ilmu makrifat

pengijazahan sebuah ilmu memiliki nilai spiritual yang dalam. Ijazah ini dapat mengandung :

1. Keridloan Empunya ilmu terhadap ilmu yang akan diberikan kepada muridnya. Ternyata apapun jika ada keridloan ada semacam kesambungan hati sehingga lebih mempercepat ilmu yang dimiliki guru tersebut dipahami oleh murid

2. pengajaran spiritual, karena makrifat tidak sekedar ilmu namun lebih pada “keadaan keadaan ” misalnya keadaan yakain, keadaan dekat, keadaan fana, keadaan pasrah dan lain lain maka pengijazahan ini lebih pada bagaimana guru tersebut dapat membawa si murid berada pada keadaan keadaan tersebut sesuai dengan apa yang diajarkan guru waktu itu. Misalnya si murid sudah waktunya diajarkan wilayah pasrah maka ijazah ini akan membawa murid pada keadan tersebut. guru makrifat yang mumpuni akan membawa murid secara instan masuk ke wilayah tersebut, sehingga murid medapatkan pengalaman tersebut. nah dengan pengalaman itu murid akan cepat memperoleh keadaan itu lagi dalam latihan latihan yang dia jalankan.

3. updating spiritual. Jika kita mendapatkan ijazah ini maka setiap guru makrifat menerima pengajaran dari Allah , jika muridnya mengamalkan ilmu yang diberikan guru tersebut.. maka secara otomatis akan mendapatkan ilmu terbaru yang didapat Guru makrfat tersebut. Meski tidak bertatap muka , meski berjauhan. Tentunya selama si murid ini ada rasa hormat, menghargai dengan guru tersebut.

4. Si murid yang sudah diijazahi ini akan mendapatkan pengajaran jarak jauh dari gurunya, misalnya dalam mimpi, atau antara sadar dan tidak seperti mendapat wejangan dari guru spiritual.

nah itu lah beberapa saja dari keuntungan seorang murid mendapat ijazah ilmu makrifat dari seorang guru.

pengertian ijazah ini tidak seperti ijazah keluluasan sekolah, atau semaca sertifikat… atau mahar maharan… pakai uang sekian untuk beli ijazah… tidak seperti itu. jadi ijazah ini adalah semacam legitimasi pengajaran dari guru kepada murid maka ada beberapa ketentuan agar pengijazahan ini berhasil :

1. murid harus meminta ijin mengamalkan ilmu, tunggu sampai guru mendapat mengiyakan. kalimat mengiyakan dengan disertai beberapa wejangan ini merupakan bentuk keridhoan dari guru tersebut.

2. untuk mendapatkan pengajaran secara langsung sebaiknya ada tatap muka sehingga Guru dapat memahami keadaan murid dengan seksama dan dapat memberikan pengajaran makrifat sesuai tingkat pemahaman murid.

3. agar jalur spiritual terbuka maka sikap murid dan guru harus selalu ada kesambungan. misalnya saling mendoakan, guru mendoakan semua murid dan murid mendoakan guru.

makrifat memang bisa dipelajari sendiri dengan baca di internet, dengan mendengarkan pengajian makrifat di radio atau rekaman rekaman atau melalui youtube namun itu akan berjalan sangat lama. makrifat adalah hasil perjalanan, maka ketika anda ikut sekali saja perjalanan itu maka anda akan paham dari pada anda hanya baca peta atau lainnya. perjalanan akan sangat lama dan mungkin bisa keluar jalur.

 

yang dimaksud rahasia dalam ilmu makrifat, dzikir nafas bukan ilmu rahasia

rahasia itu bukan berarti kita tidak boleh membahasnya. Rahasia dalam hal hakikat makrifat itu seperti ini, misalnya ada anak kecil yang melihat debu berputar …. bagi anak angin merupakan rahasia… kalaupun kita jelaskan tetap saja anak tidak paham. sama halnya kita menjelaskan hakikat keTuhanan kepada yang belum sampai tingkat kesadarannya maka itu harus kita rahasiakan sebab kita jelaskan pun dia tidak akan paham juga. Seperti misalnya Allah itu Ahad… ada rahasia di kalimat “ahad” kita jelaskan kepada orang yang belum sampai kesadarannya juga tidak akan paham, paling pahamnya Allah itu satu…… bagi yang sadar dan sudah pernah masuk alam “ahad” maka Allah tidak sekedar “satu”.
Dzikir nafas bukanlah ilmu rahasia, ini ilmu menjalankan quran untuk selalu berdzikir. Jika anda mendapat orang yang mengajak anda untuk tidak berdzikir atau membenci ahli dzikir dengan berdalih bahwa dzikir nafas ini ilmu rahasia, maka ketahuilah bahwa anda sedang bersama syetan yang akan menjauhkan anda dari Allah.

bukan manunggaling kawulo gusti

ada dua versi dalam mengartikan manunggaling kawulo gusti

  1. mengartikan bahwa manunggaling itu diibaratkan seperti bercampurnya antara kopi dan gula dimana sudah tidak bisa dibedakan lagi mana gula dan mana kopinya 
  2. ada juga yang mengartikan bahwa manunggaling kawulo gusti itu diibaratkan seperti garam yang di masukkan ke dalam lautan dimana garam sudah masuk ke lautan dan bersatu di lautan

Kedua pengertian tersebut tidak sama dengan kajian hakikat makrifat dalam islam. Sebab baik pengertian pertama dan kedua masih menggunakan ego, artinya masih mengandung makna bersatu atau manunggal. Yang pertama jelas sekali manunggalnya antara gula dan kopi yang kedua jelas sekali manunggalnya garam dengan air laut.

Di dalam kajian hakikat makrifat dalam islam tidak ada istilah bersatu, sebab konsep islam adalah berserah, ketika berserah total maka tidak ada lagi yang namanya aku yang ada adalah Aku. tidak ada lagi yang namanya ego tapi yang ada adalah diri.

Dalam islam sangat kuat sekali dalam peniadaan ego ini bahkan setiap amal ibadah mengharus kita untuk meniadakan ego (ananiah). Jadi pengertian manunggaling kawulo gusti hanya pas untuk sistem kepercayaan lain dan bukan islam. Islam jelas laa ilaha ilallah, artinya hanya Allah saja, tidak ada kita tidak ada aku dan tidak ada kami yang lebur.

pengertian ini untuk meluruskan pemahaman kita bahwa kaum sufi dan tasawuf tidak mengenal istilah manunggaling kawulo gusti, istilah ini jika dihembuskan oleh orang orang yang anti pati tasawuf yang selalu menuduh bahwa aliran tasawuf adalah sesat.

Allah itu ada ; cara praktis membuka hijab

jika Hambaku bertanya kepada Ku maka katakan bahwa Aku ini dekat. Satu penggalam ayat yang menyadarkan kita  bahwa Allah begitu dekat dengan kita, pernyataan Allah ini menunjukkan kepada kita dimana Beliau berada, ternyata beliau berada sangat dekat dengan kita. sekarang mari kita buka diri kita dengan menyadari bahwa Allah memang benar benar dekat. Satu kesadaran yang dapat membuka hijab tentang aku dan Allah. Kalau kita merasa  jauh dengan Allah berarti kita masih menutup diri bahwa Allah itu dekat. Kenapa kita masih juga mengatakan demikian bahwa kita jauh dengan Allah padahal Allah sudah jelas jelas menyatakan dalam firmannya Bahwa Allah dekat dengan kita, bahkan di ayat lain di tambahkan bahwa Beliau sangat dekat lebih dekat dengna urat leher kita.

Pernyataan Allah dalam FirmanNya tersebut menjelaskan atau menyiratkan bahwa Allah itu ada. Allah ada didekat kita.kalau sudah ada maka kita seharusnya sadar benar bahwa Allah memang ada dan sangat dekat. Pada keadaan inilah jika kita menyebut nama Allah maka hati kita bergetar.

menyadari bahwa Allah itu ada merupakan dasar dalam bermakrifat, kesadaran ini merupakan tingkatan awal kita bermakrifat kepada Allah. nantinya dengan dasar ini Allah akan menjelaskan Dirinya tentang Dirinya. jadi Makrifat selanjutnya Allah sendiri yang akan menjelaskan Jika kita selalu sadar Allah ini maka ilmu makrifat kita akan semakin bertambah dan bertambah. Dan hijab semakin lama akan semakin terbuka.

 

hati hati dengan duplikasi guru spiritual

manusia memang dibekali Allah dengan “ketidaksadaran kolektif” atau collective unconsciouness. Namun bekal ini bukan berarti secara tauhid bisa kita gunakan. Kita bisa saja menggunakan sistem duplikasi bawah sadar dengan mengidentifikasi diri kita dengan orang lain tapi dalam hal lainnya bukan masalah tauhid.kalau masalah tauhid akan sangat bahaya.. sebab namanya manusia tidak selamanya naik tapi kadang juga turun. kalau pas naik yang menduplikasi akan naik juga tapi jika sedang turun ? maka yang menduplikasi akan turun juga.

Duplikasi itu boleh saja asal kita tahu batasnya, kalau kita sudah kenal Allah berkat duplikasi itu maka kita harus memisahkan diri dan belajar sendiri kepada Allah SWT. Sebab Seorang guru spiritual beliau juga harus berjalan menuju kepada Allah.

Apakah kita bisa bersatu dengan Allah

ini salah satu komoditi fitnah yang sering di lontarkan orang orang yang anti tasawuf, yang selalu “tidak paham dengan konsep menunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah” mereka selalu meniupkan isu bahwa tasawuf itu sesat karena mengajarkan menunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah. saya sebagai front pembela ulama tasawuf tidak terima … he he ..

nah begini bersatu dengan Allah dalam konsep islam ternyata memang tidak ada, konsep ini ada karena adopsi orang orang kejawen yang mencontoh islam tapi tidak mampu berada pada keadaan fana sebab Tuhan yang dipakai sudah salah. nah hal inilah yang menyebabkan konsep tasawuf yang di adopsi islam abangan ini kemudian di pakai sebagai puncak ilmu makrifat. Yang pada akhirnya karena mengacu pada ilmu tasawuf, maka ilmu tasawuf ini dituduh mengajarkan manunggaling kawulo gusti.

saya ingin meluruskan pemahaman yang benar tentang konsep bersatu dengan Allah, dalam konsep ketuhanan, Allah adalah Dzat yang tidak bisa disamakan dengan apapun, Allah ada Dzat yang berdiri sendiri dan tidak bisa disandingkan dengan apapun, maka sangat tidak mungkin kita bersatu dengan Allah SWT. Maka dalam islam tidak istilah manuggal atau bersatu atau wihdatul tapi yang ada adalah fana.

fana sangat berbeda dengan bersatu, Fana ini adalah penghilangan ego pada diri manusia. Konsep menghilangkan dan konsep bersatu pastinya akan berbeda. Konsep menghilangkan ataupun bersatu sangat terkait dengan bagaimana pemahaman kita tentang Allah. Jika Allah itu masih ada dalam pikiran kita maka akan terjadi wihdatul wujud, manunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah, namun jika Allah itu ada dalam kesadaran kita bukan pada pikiran kita maka yang terjadi adalah pemfanaan ego atau penghilangan ego. Sebab sesuatu yang tidak ada dalam pikiran akan menyebabkan ego ini lenyap sebab tidak bisa lagi menjangkau ketinggian dari pada kesadaran tanpa pikiran ini. Ego letaknya ada pada jasad, sedangkan pikiran merupakan product dari pada jasad maka ego ini akan hilang jika pikiran kita kosong.

sehingga jawaban untuk pertanyaan diatas adalah mungkinkah bersatu jelas tidak mungkin. kalau bersatu berarti belum benar tapi jika itu dipertahankan dan di benar benar kan maka berarti tauhid kita sudah sesat, salah dan harus dikembalikan kepada sifat Allah yang tidak bisa disamakan dengan apapun , serta qiyamuhu binafsi.

cara cepat mencapai puncak marifat

ada satu pertanyaan pak bagaimana cara cepat mencapai puncak marifat?, lha memang makrifat ada dasar ada puncak? menurut saya makrifat adalah satu titik, ketika kita bertemu titik itu maka ya itu, tidak ada yang lain. nah perkara di dalam makrifat itu menimbulkan ilmu ya itu ilmu , ilmu makrifat, kalau makrifat sendiri ya cuma ada satu ya itu.

dan cara mencapai makrifat tidak ada cepat tidak ada lambat, kita pakai cara cepat malah lambat kita pakai cara lambat eh malah cepat. jadi dalam belajar makrifat jangan mentargetkan cepat atau sangat cepat, yang kita lakukan sebaiknya berjalan dengan istiqomah dan penuh keberserahan diri kepada Allah, hanya itu caranya.