psikologi islam

Untuk apa pikiran ini kalau semua pakai kesadaran

Pikiran adalah alat, namanya alat adalah untuk membantu kita dalam menyelesaikan masalah, jadi pikiran tidak boleh menguasai. Sama analoginya, Pikiran itu seperti pembantu rumah kita, tidak boleh menguasai kita, dia adalah pembantu yang dibawah kendali kita. Berapa banyak orang tertipu oleh pikiran dimana akhirya pikiran menjadi raja. Menguasai kita dan menjadi bulan bulanan pikiran, tak berdaya dengan pikiran sendiri. Pikiran yang tak terkendali adakan dapat menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuatu, biasanya perbuatan yang tidak baik. Sehingga banyak yang merasa perbuatannya adalah bukan dari dirinya….lah…

baik Sekarang untuk apa pikiran ini. PIkiran ini harus kita kuasai sehingga kita bisa memanfaatkan dengan sebaik baiknya. Misalnya kita punya alat pemotong kayu, yang canggih maka kita harus pelajari dengan benar sehingga dapat menghasilkan suatu barang yang bermanfaat. Sama seperti pikiran kita harus mempelajari bagaimana menggunakan pikiran sehingga kita dapat memanfaatkan pikiran dengan maksimal. Di dalam quran pikirandigunakan untuk memikirkan keagungan Allah, bukan untuk mempertanyakan kenapa Allah berbuat begini dan begitu. Untuk inipun sulit jika diri kita tidak menguasai pikiran. Siapa diri  kita,?, diri kita adalah kesadaran ini yaitu jiwa kita ini. Bagaimana mengaktifkan jiwa agar bisa menguasai pikiran, caranya adalah naik ke atas, semakin ke atas kesadaran kita maka semakin kita dapat mengatur pikiran kita. Ke atas yang dimaksud ? yang dimaksud adalah ke Allah. Ya benar Ke ALlah, semakin kita ke Allah maka kita semakin sadar dan kita semakin bisa menggunakan pikiran dengan benar dan maksimal.

Maka fokus kita sekarang ada di kesadaran saja yaitu sadar Allah, inilah yang dimaksud dengan pandangan Nur Ilhai, yaitu melihat dengan kesadaran Ke Tuhanan yaitu sadar Allah, yang akan memancar ke pikiran perasaan dan tubuh serta perbuatan kita. Itulah kenapa juga saya sering mengatakan jangan gunakan pikiran gunakan kesadaran.

sebenarnya ketika kita menggunakan kesadaran maka pikiran bukan terus tidak bekerja, pikiran kita akan tetap bekerja bahkan bekerjanya akan lebih optimal. Ketika kita sadar Allah pikiran akan terbebas dari memori masa lalu dan kekhawatiran terhadap masa depan, sehingga kerjanya jadi ringan, yang ia kerjakan apa yang sedang kita sadari, jika demikian maka pikiran akan lebih banyak ruang kosong untuk bekerja, dan apa manfaatnya, keadaan itulah pikiran menjadi lebih kreatf, teilhami berbagai macam hal dan lebih peka dengan sekitar.

gunakan kesadaran agar pikiran dan perasaan lebih optimal bekerja , atau gunakan pikiran maka dia akan menguasai kita? Banyak orang akhirnya gila karena pikirain semakin menjadi jadi dan tidak bisa dikendalikan, kalau nggak percaya silahkan tanya kepada yang pernah sembuh dari penyakit gila. Mereka sampai mendengar , melihat dan merasa padahal itu hanya pikiran, itulah halusinasi.

bagi yang belajar dzikir nafas kita melatih agar kesadaran kita aktif dan pikiran menjadi tercerahkan perasaan menjadi lebih tenang. sehingga jiwa kita menjadi jiwa yang tenang dan itulah SURGA.

update tulisan saya di android mu dengan pasang aplikasi DN silahkan klik disini

Lepasnya jiwa dari ikatan ego

fokus saya dalam berspiritual adalah pada kesadaran. Kesadaran ini yang terus saya latih dan latih hingga mencapai keadaan kesadaran yang semakin sadar dan semakin sadar. Saya tidak main di alam ghoib atau alam alam lainnya.Jadi ketika belajar dengan saya maka jangan berpikir jauh tentang alam alam atau yang sejenisnya. Misalnya ketika saya menuliskan lepasnya jiwa dari ikatan ego, maka jangan berpikiran bahwa saya mengajarkan keadaan lepasnya jiwa yang meluncur kemana … tidak, sekali lagi saya fokus pada kesadaran. jadi lepasnya jiwa dari ego ini adalah lepasnya jiwa yang menjadi jiwa yang fitrah yang tidak terikat lagi dengan sifat keakuan.

baik jadi jiwa kita ini awalnya adalah fitrah yaitu jiwa yang belum ada ego, nah kemudian seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan, maka muncullah ego dalam jiwa kita, seingga jiwa yang fitrah sudah tidak fitrah lagi. dan Setelah baligh tugas kita adalah mengembalikan jiwa kita agar terbebas dari ego, yaitu dengan ibadah ibadah yang kita lakukan.

bagiamana terlepasnya jiwa dan ego? ya caranya mudah, lurus saja ke Allah kemudian bebaskan jiwa tadi dari alam pikiran dan persepsi, terus tembus keadaan alam pikiran dan perasaan, terus lurus ke Allah mencapai Allah yang bukan ini dan itu, Allah yang bukan kita persepsikan Allah yang tidak ada dalam pikiran kita yaitu allah yang tidak sama dengan apapun. ketika kita mencapai keadaan ini maka kita akan dapat merasakan keadaan jiwa terlepas dari ego.

keadan terlepasnya jiwa dari ego ini kemudian kita gunakan dalam setiap ibadah kita, gunakan dalam shalat dalam dzikir dan ibadah lainnya, setelah itu gunakan juda dalam keseharian ketika berjalan berdiri atau berbaring. baik semoga kita mendapatkan bimbingan Allah SWT. bagi yang belum paham terima dulu saja teori ini, suatu saat jika Allah memberikan petunjuk ALlah akan membimbing secara langsung kepada kita, jangan ditolak karena itu akan dapat menutup pintu hidayah dan pelajaran yang ALlah berikan.

Allah mengetahui apa apa yang ada di alam bawah sadar kita

kesadaran manusia terbagi menjadi 3 yaitu bawah sadar, sadar, dan atas sadar. Bawah sadar manusia adalah keadaan yang tidak sadari manusia yang jika kita tidak berada di atas sadar maka perilaku sadar kita akan sangat dipengaruhi oleh bawah sadar kita. Bawah sadar berisi tentang pengalaman pengalaman kita, keinginan tersembunyi, bahkan bawah sadar berisi bahan dasar dari perbuatan yang tidak baik. Bawah sadar ini berisi juga tentang kesyirikan, keyakinan selain ke Allah. Keyakinan kita tentang jin dan alam alam ghoib selain Allah ada di bawah sadar ini.

وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ

Dalam surat an Naml ayat 74 dijelaskan bahwa Allah sangat paham dengan apa apa yang ada dalam bawah sadar kita ini. disebutkan dalam ayat tersebut Shadr yang tersembunyi (berarti alam bawah sadar). bagaimana orang kafir memiliki bawah sadar yang jahat yang selalu mempengaruhi ke arah negatif.

maka mari kita bersihkan bawah sadar kita ini dengan banyak banyak sadar Allah, hanya dengan sadar Allahlah kesadaran kita tidak terpengaruh oleh bawah sadar tapi terus menjadi lebih sadar dan lebih sadar. Jika kita tidak ke Allah artinya tidak ke alam atas sadar maka kita akan selamanya terpengaruh oleh bawah sadar dan kita akan kesulitan untuk mendapatkan kebenaran seperti yang Allah tuntunkan dalam al quran dan sunah rasulullah.

dalam surat al fatihah sangat jelas bahwa kita harus mengarahkan diri kita kepada jalan yang lurus yaitu jalan ke Allah jalan menuju ke Allah dan kita harus terus berjalan tidak menunggu di jalankan. Kita jalan saja kita berusaha ke Allah saja nanti Allah akan jalankan. dengan kata lain kita berusaha saja untuk menuju alam atas sadar nanti Allah akan tuntun dan akan membebaskan kita dari kungkungan alam bawah sadar.

Sejak saya belajar ke Alah  saya tidak tertarik dengan dengan dunia supra natural karena itu semua permainan bawah sadar, saya tidak tertarik dengan macam aura, deteksi energi , terawang, kesaktian, penyembuhan dan lainnya bahkan deteksi hantu hantu dan sejenisya sebab itu semua permainan alam bawah sadar. Fokus saya ada di sadar Allah sadar Allah dan sadar Allah.

Prototipe Manusia Sempurna ( insan kamil )

instrumen tertinggi manusia adalah kesadaran yang diarahkan kepada kesadaran akan Allah SWT.  Kalau instrumen ini diaktivasi untuk menyadari Allah maka pikiran emosi dan perilaku akan menjadi baik. Maka penyimpangan seperti LGBT, sekulerisasi dan bentuk psikopatologi lainnya akan terminimalisasikan.

maka yang perlu adalah bagaimana mengaktivasi kesadaran akan Allah ini (spiritual attanndence) dalam kehidupan sehari hari. kesadaran inilah yang sebenarnya menjadi fokus dari model pembentukan karakter atau pembentukan dari prototipe insan kamil yaiat seorang muslim yang sadar Allah dalam setiap waktu dan keadaan. tidak perlu ribet dengan model model training yang rumit karena cukup dengan sadar Allah ini semua akan berubah ke arah yang positif

mengidentifiasikan diri sebagai kucing

pentingnya sadar Allah ini dapat menghindarkan diri dari identifikasi diri yang keliru. Ada yang merasa dirinya perempuan padahal laki laki, ada yang merasa laki laki padahal perempuan. kemudian ada juga yang merasa dirinya jelmaan dari nenek moyangnya yang sakti sehingga bisa sakti. Identifikasi yang salah ini memang dapat memunculkan kekuatan kekuatan seperti apa yang diidentifikasikan. Seperti kasus wanita norwegia ini yang merasa jelmaan kucing dan dapat berkomunikasi dengan kucing.
Sadar Allah menjadikan kita terjaga dari identitas yang salah. Kita sadar sebagai manusia sebagai mahluk Allah, kita sadar akan hal ini maka kita akan dapat menyadari sebagai manusia misalnya laki laki ya menjadi laki -laki, jadi intinya ketka kita sadar Allah maka kita akan menjadi fitrah yaitu seperti apa yang Allah ciptakan kepada kita, kita tidak akan merasa menjadi kucing, kita tidak akan merasa menjadi lawan jenis.
fenomena kisah wanita norwegia jelmaan kucing ini sebenarnya dia tenggelam alam bawah sadar tentang kucing. Penguasaan kucing yang ada di “bawah sadar” ini akan menjelma secara riil … hampir mirip dengan kesurupan. kalau kesurupan misalnya kesurupan kucing maka dia akan berubah menjadi kucing cuma ini temporer dan caranya menggunakan metode “masuk bawah sadar secara instan” tapi kalau yang kasus wanita norwegia ini lebih permanen secara terus menerus seperti orang laki laki yang menjadi perempuan.
baik metode efektif untuk terhindar dari perilaku salah atau menyimpang ini adalah dengan sadar Allah. http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160129205819-277-107698/kisah-wanita-norwegia-jelmaan-kucing/

Psikologi islam di tengah persimpangan jalan

psikologi islam sebagai ilmu yang berada di tengah, islam nggak begitu… psikologi juga menyimpang dari teori minstream. Sebagai aliran ilmu baru, wacana keislaman banyak menemui kendala, sayangnya ditambah dengan para pengusungnya yang masih ragu ragu apakah benar apa tidak, padahal ya sudah dikaji. nampaknya Para psikolog muslim ini masih takut dengan para ulama kyai jika hasil kajiannya mlenceng dari pendapat kyai dan ulama, sehingga benar benar psikologi islam ini di persimpangan jalan. Sebagai aliran keilmuan yang memiliki dasar yang jelas yaitu ilmiah seharusnya berani di “adu” dengan pendapat para kyai dan ulama. Jangan malah berpandapat bahwa psikologi islam bukan ilmu yang pasti bukan ilmu yang mutlak… meski iya tapi kalau ini menjadi prinsip akan bahaya sebab seperti aliran ilmu yang tidak punya dasar dasar yang jelas dan meyakinkan.

Psikolog islam harus berani menerjang jalur psikologi yang bukan islam, dan berani berpendapat jika memang hasil riset dan hasil kajiannya berbeda dengan pendapat para ulama. Ingat bahwa para kyai dan para ulama fokus ilmunya tidak ke psikologi sehingga kita bisa menang 1-0 untuk hal ilmu psikologi sehingga kita punya dasar untuk berbeda jika memang berbeda

kalau tidak berani dan dimulai sejak sekarang bagaimana psikologi islam ini akan berkembang. Umat islam sangat membutuhkan peran dari psikologi islam ini. bagaimana dzikir tidak dapat membuat hati tenang, shalat tidak dapat menjadi perbuatan yang dapat merubah perilaku.. padahal qurannya jelas … yang pasti yang bisa menjelaskan hal ini adalah psikolog bukan kyai atau ulama. kyai atau ulama tidak paham apa itu gelombang alva dan sebagainya nah menjadi tugas kita untuk berani mengatakan bahwa dzikir sebatas mulut tidak akan membawa jiwa tenang.

jangan sampai psikologi islam yang sudah dibangun sekian puluh tahun ini berada di persimpangan jalan yang tidak jelas arahnya. saya kira perlu adanya gebrakan gebarakan sehingga umat islam terutama melirik untuk mendengar penjelasan ilmiah dari psikologi islam. Gebrakan ini penting agar kajian di psikologi islam juga berkembang.

sudah tidak masanya lagi kita membahas paradigma psikologi islam, epitimologi psikologi islam dan sejenisnya seharusnya kita sudah mulai memberikan kemanfaat kepada umat tentang psikologi islam. kita teliti kita terapkan….. kita teliti kita terapkan jika perlu kita  buat modul pelatihan yang sesuai dengan hasil penelitian. kalau memang agak beda dengan para ulama dan kyai tidak perlu takut. asal memang dilandasi dasar ilmiah yang kuat, tapi juga bila mendapat masukan harus terbuka, sehingga terus berkembang.