Dinasti dalam tasawuf

Tasawuf ternyata menyimpan kedinastian yang tidak mudah untuk ditembus. Dengan adanya sanad, adanya ijazah, adanya maqom merupakan kenyataan yang jelas bahwa tasawuf sufi tarekat tidak boleh oleh kaum rendahan, orang awam, orang non pesantren, Gus gus, atau sebangsangya. Orang awam tidak boleh ini dan tidak boleh itu, tidak boleh dzikir ini dan itu kalau tidak di baiat kalau tidak di ijazah, kalau tidak berguru langsung .. ya itulah hambatan hambatan nyata dalam bertasawuf, jalan menuju ke Allah begitu sulit. paham jika tidak berguru kepada seseorang maka gurunya syetan… paham ini ternyata menghantui sebagian besar umat islam yang mulai ingin mencari Tuhannya, tapi apa akibatnya … umat tersebut terbelenggu lagi dengan jebakan jebakan yang membuatnya tidak bisa langsung ke Allah. survey membuktikan, yang tersesat ternyata bukan yang niatnya lurus ke Allah, yang tersesat adalah wirid ini dan belajar ini dan itu tapi tujuannya tidak ke Allah, tujuannya ke orang, tujuannya untuk mendapatkan rejeki lancar, biar sakti dan seterusnya. dan tidak pernah saya temukan orang yang lurus ke Allah niat ke Allah meski tidak pakai guru manusia … justru dia yang selamat dan mendapatkan petunjuk dari Allah. Pendapat memang agak keras untuk masalah ini, sebab dinasti tasawuf ini sangat menghambat perjalanan seorang muslim untuk langsung ke Allah. Coba ke Allah tidak perlu baiat… baiat cukup baca syahadat pertama kali saja, kemudian ijazah tidak perlu pakai ritual yang tidak ada tuntunannya…tapi ijazah cukup membaca cara atau manual atau diskusi dengan yang pernah melakukan saja… tidak perlu guru mursyid yang berupa manusia yang bila mengamalkan harus dan harus setor fatihah ke beliau … kalau ndak maka tidak akan sampai ke Allah… tapi coba langsung guru mursyidnya adalah Allah , dengan amalan yang sudah jelas di quran dan sunah kemudian tinggal minta ijin kepada Allah, minta diajari sama Allah,… saya kira ini malah lebih cepat dan lebih selamat karena Allah sendiri yang akan menyelematkan sudah saat nya umat islam bangkit dengan membongkar dinasti yang membelenggu ini. Saatnya tidak ada orang awam dan orang non awam, semua sama dihadapan Allah SWT. Sama antara yang bersurban berjubah dengan yang hanya berpeci dan bersarung. yang tinggi di hadapan Allah adalah ketakwaan bukan pakaian bukan ilmunya dan bukan faktor ketururunan. Bagi kita yang “orang awam” mulai lah tidak berlebihan dalam memberikan penghormatan…bersikaplah sederajat dengan orang yang berada di “dinasti” tersebut. jangan merasa rendah …. biar mereka yang berada dinasti juga sadar kalau derajat itu bukan karena ilmu, bukan karena harta, bukan karena keturunan, bukan karena amal tapi karena ketakwaan kepada Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *