Huu Allah dalam dzikir nafas ada di surat al ihlas

Huu berasal dari kata Huwa yang artinya Dia yang mengarah kepada Allah demikian makna Huu ketika nafas masuk dalam metode dzikir nafas, sama dengan makna dalam surat al ihlas, Qul huwa Allahu Ahad, yang artinya adalah katakan Dia (adalah) Allah yang satu.

kata Huwa ini adalah salah satu sebutan yang mengarah kepada Dzat Allah, Allah punya banyak nama dan sebutan. kata Huwa adalah salah satu sebutan untuk -Nya. Dalam dzikir nafas kata huwa di sebut ketika masuk nafas dan kata Allah ketika keluar nafas. inilah adalah paduan yang sangat pas.

ada beberapa hal yang menguatkan tentang dzikir Huu Allah ini, seperti tersebut di bawah ini (saya ambil dari myquran.org)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Huwa (Dia) Allah yang tiada tuhan kecuali Huwa (Dia), Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Huwa (Dia) Yang Mahapengasih Mahapenyayang. [QS. Al-Hasyr: 22]

فمن الناس من يقول: إن قوله: (هُوَ) من أرفع أسماء اللَّه – تعالى – وذكر عن بعض أهل بيت رسول اللَّه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – أنه كان يدعو بقوله: يا هو، يا من لا إله إلا هو

Al-Imam al-Maturidi berkata dalam kitab tafsir beliau bahwa sebagian orang ada yang berpendapat: bahwa Firman-Nya “Huwa (Dia)” merupakan peninggian Asma Allah Ta’ala. Dan disebutkan dari sebagian Ahli Bait Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam bahwasanya beliau berdoa dengan ucapan: Wahai Dia, wahai Yang tidak ada tuhan kecuali Dia. [Ta-wilat Ahlus Sunnah IX/603]

Imam Ar-Razi berkata:

هُوَ) أَعْظَمَ الْأَذْكَارِ)
وَلْنَخْتِمْ هَذَا الْفَصْلَ بِذِكْرٍ شَرِيفٍ رَأَيْتُهُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ: يَا هُوَ، يَا مَنْ لَا هُوَ إِلَّا هُوَ، يَا مَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، يَا أَزَلُ، يَا أَبَدُ، يَا دَهْرُ، يَا دَيْهَارُ، يَا دَيْهُورُ، يَا مَنْ هُوَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ.

“Huwa / Huu” termasuk dzikir-dzikir agung. Dan kami tutup pasal ini dengan dzikir mulya yang aku lihat di sebagian kitab: Yaa Huu, Yaa Man laa Huwa illaa Huu, Yaa man laa ilaaha illaa Huu, Yaa Azal, Yaa Abad, Yaa Dahr, Yaa Dayhaar, Yaa Dayhuur, Yaa man Huwal Hayyul Ladzii laa yamuut. [Mafatihul Ghaib I/140]

Habib Munzir berkata: “Dzikir ‘Huu’ membawa keberkahan dan kemuliaan dunia dan akhirat. (Huwallah) banyak disebut dalam Al-Qur’an, yang berarti “Dialah Allah”. Kata : (Huu) saja, berarti ‘Dia’ subhanahu wa ta’ala. Maka keduanya adalah dzikir pada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Habib Munzir bin Fuad al-Musawa juga berkata: “Dzikir (“Ya Huwa”, “Huwa”, bahkan “Huu” saja) itu banyak teriwayatkan. Diantaranya pada tafsir Ar-Razi, Tafsir Bahrul Muhiith, Faidhul Qadir, Tafsir Annaisaburiy, bahwa kalimat ini dipakai oleh para ulama salaf untuk lebih khusyu memanggil nama Allah subhanahu wa ta’ala, yang berarti ‘Wahai Dia’. Mereka beranggapan bahwa ucapan ‘Wahai Dia’ tak pernah ada untuk memanggil sesama makhluk. Karena ucapan ‘Yaa’ (wahai) pastilah berhadapan dengan orang yang diajak bicara (Anta/anti/antum/antunna; kata ganti orang kedua). Tak mungkin kalimat ‘Yaa’ berpadu dengan kata ganti orang ketiga. Maka lafazh ini tidak terucap terkecuali untuk menafikan seluruh segalanya selain Allah subhanahu wa ta’ala. Kalimat ‘Yaa Huu’ dengan kalimat ‘Yaa Huwa’ sama saja artinya, yaitu ‘wahai Dia’, karena ‘Yaa Huu’ adalah mematikan waw, sebagaimana kalimat ‘Laa ilaaha illaa huwa’, jika dibaca berhenti maka dibaca ‘Laa ilaaha illaa huu’.”

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *