kalau makna kias jangan di perdebatkan

Dalam tradisi tasawuf, mengumpamakan sesuatu untuk pelajaran tertentu itu sudah sangat umum dan wajar, misalnya mengumpamakan paku yang tetap lurus akan terus dipukul sampai tenggelam, ini adalah gambaran bahwa ketika kita lurus ke Allah maka Allah akan mendidik, sampai benar benar kita paham. Nah makna kias ini jangan sampai kemudian dipertanyakan , lha apakah yang bengkok tidak bisa diluruskan lagi?. Pertanyaan ini sudah berbeda pembahasan, dan sangat tidak layak untuk ditanyakan, dan itu mendandakan bahwa dirinya kurang paham dengan makna kias yang ada di perumpamaan itu.

Makna kias ini sangat membantu kita untuk memahami sesuatu. Dalam pengajaran spiritual atau pengajaran tasawuf dengan dengan menggunakan perumpamaan akan memudahhkan dicerna dan di ambil hikmah dari perumpamaan itu. Dan semakin mudah pelajaran itu diterima maka akan semakin mudah tersimpan dalam memori.

Anda kalau bersilaturami ke tempat kyai maka pelajaran pelajaran perumpamaan akan anda dapatkan, seolah perumpamaan ini sudah menjadi tradisi dikalangan sufi. Sebagai orang yang sedang belajar tidak sopan kemudian mengkaitkan  masalah perumpamaan yang disampaikan dengan permasalahan lainnya. Sebab tentu saja ini akan mengaburkan pengajaran perumpamaan yang disampaikan dan juga akan menyulitkan pak Kyai untuk menjelaskannya, dan tentu saja ini juga menunjukkan kebodohan orang yang sedang belajar. Kebodohan ini bisa berarti karena memang tidak tahu, atau karena memang ingin diaanggap pintar.. yang kedua ini namanya bodoh kuadrat. karena sudah bodoh masih ingin dianggap pintar. Saya sampaikan ini agar kita menjadi lebih sadar bahwa perumpamaan tidak untuk diperdebatkan.