yang bikin kandas karena dua duanya memiliki ego, atau salah satu memiliki ego. Padahal pelajaran yang di sampaikan adalah menghilangkan ego. Sejarah pendahulu banyak yang membuktikan ini, bahkan seorang guru saking muridnya kurang ajarnya kelewatan mengeluarkan kata kata yang menunjukkan ketidak ridhoan. kegagalan perguruan tauhid adalah mendidik muridnya untuk menghormati gurunya, permasalahan ini memang pelik. Sulit dikatakan, lebih lebih sulit untuk di ajarkan kepada murid. Sebab yang menjadi objek penghormatan adalah si guru tersebut. Tapi jika ini tidak diajarkan kepada murid maka kemalangan bagi murid itu sendiri. Guru kadang bingung dan mencari cara bagaimana agar si murid faham tentang hal ini. Sebab bila salah menyampaikan guru sendiri yang akan menjadi sasaran hujatan … guru kok minta di hormati, guru egois, gurunya ego spiritualnya tinggi… dan cercaan lain. Pada tahap ini guru serba salah. Paling guru hanya diam …. menyaksikan suatu kesalahan dirinya yang telah mengajarkan kepada murid untuk menghormati guru tersebut yang berdampak kepada salah faham si murid bahwa dirinya sang guru gila hormat.

Paling sang guru pun akhirnya mengambil hikmah ini semua, bahwa Allah mengajarkan tidak ada yang kau miliki termasuk muridmu, kamu harus Nol. Mendengar Penjelasan dari Tuhan nya, sang guru akhirnya lega dan mengambalikan semua kepada Allah. Tapi lagi lagi sang guru kepikiran lagi … bagaimana cara mendidik ¬†agar muridnya tidak salah persepsi bahwa menghormati guru itu bagian dari pelajaran dan adab yang harus di jaga. Sang guru melihat jika di pondok pesntren muridnya adalah masih anak anak jadi mudah di arahkan, lah.. di perguruan tauhid ini muridnya banyak lebih tua…. bagaimana menanamkan ini, ya kembali beliau merenung memohon pencerahan dari Tuhannya berkaitan dengan masalah ini.

Hingga pada suatu malam, di tengah berdzikir sang guru mendapat pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran itu pastinya datang dari Tuhannya.

  1. Pelajaran adab dengan guru itu pelajaran adab tingkat tinggi, kalau dengan guru saja tidak beradab bagaimana dengan Rasulullah dan kepada ALlah, karena guru adalah yang paling nyata dan paling dekat dengan si murid
  2. Cara penyampaiannya tidak dengan teori di kelas atau diskusi atau tanya jawab, tapi dengan aplikasi pengenolan sang guru. Kalau gurunya nggak nol dan masih ada rasa “kemampuan” maka pelajaran ini tidak akan bisa tersampaikan.
  3. Dan yang menjadi pelajaran bagi guru itu sendiri adalah bahwa , Guru tersebut diberitahu Allah bagaimana cara mengenolkan.
  4. kemudian guru diajarkan bagaimana menerapkan atau mengajarkan hal itu kepada murid dengan jalan spiritual bukan di kelas

Nampaknya ini yang menjadi solusi bagi masalah guru tentang bagaimana mendidik muridnya untuk memiliki adab dengan guru. Tidak di kelas tapi dengan sikap berspiritual yang benar bagi guru itu sendiri. Dari sini sang gurupun merasa dirinya mendapat pelajaran sangat berharga dari kegagalannya mendidik muridnya untuk beradab dengan gurunya.

sang guru sebenarnya hanya berharap karena ilmu sudah masuk ke alam pikiran murid jangan sampai mengalami konflik. sebab apa yang di sampaikan guru adalah ilmu keTuhanan kalau ini sampai konflik maka murid akan kesulitan melalui ilmu yang sudah terlanjur masuk. Kalau si murid jengkel kepada guru maka sama saja ilmu yang sudah masuk dalam alam pikiran guru tersebut akan menjadi konflik. inilah yang tidak diinginkan guru tersebut. Hanya berbeda sedikit kebencian murid meluas ke alam pikiran nya. kebencian ini seperti virus yang menyerang bangunan yang sudah berdiri. Guru hanya bisa berdoa karena semua di luar kendali dan keinginan sambil dia memperbaiki diri dan mengevaluasi diri serta selalu memohon kepada Allah agar selalu dituntun baik dirinya maupun semua murid yang pernah belajar kepada Nya.