Kekuatan Zero dalam Berdakwah

kalau kita lihat ulama ulama dulu sangat menghormati pendahulunya, terlebih kepada baginda SAW. inilah salah satu tanda ke zero an beliau beliau yang diujudkan dalam berdakwah. Beliau selalu menyebut bahw ilmu beliau berasal dari guru guru nya. Hal ini menandakan bahwa ilmu yang beliau miliki sekarang bukanlah buatannya tapi dipelajari dari pendahulunya. maka wajar kalau di dalam dunia tarekat fatihah kepada guru mursyid ini penting bukan sekedar menghormat tapi lebih dari itu yaitu sebagai wujud ke zero an beliau dalam mendekat kepada Allah.

bentuk kezeroan yang paling mutlak adalah pengakuan bahwa ilmu yang dimilii adalah dari Allah dan berdasarkan ilham yang Allah turunkan. jadi jika ada orang yang mengaku mendapatkan ilham dan ilham itu adalah baik dan menganggapnya itu dari Allah maka orang tersebut adalah orang yang berakhlak, yaitu berakhlak kepada Allah.

dampak nyata dari ke zero an  ini dalam berdakwah sangatlah luas. dengan mengatasnamakan Allah dalam setiap gerak dakwahnya maka sama saja orang tersebut menggunakan kekautan Allah untuk menyebarkan kebenaran islam. Mengatasnamakan ini tidak hanya sebatas retorikan berdakwah namun sampai mengakar kedalam jiwa yaitu jiwa yang murni yang tidak disertai dengan ego. Maka kita perlu sangat berhati hati kalau ada orang berdakwah ada embel embel organisasi baik organisasi sosial terlebih lagi organisasi politik. Seorang dai yang berjuang dengan bendera politik atau organisasi pasti ada keegoan minimal keegoan parti atau keegoan organisasi. dan kita lihat dengan ada nya keegoan inilah yang menyebabkan perpecahan dan kerusuhan umat. maka saya sendiri dalam berdakwa mencoba untuk murni ke Allah saja tidak ada yang lain. saya tidak suni dan tidak syiah… saya islam yang mengikuti sunah nabi sebagai cara saya untuk berjalan menuju kepada allah.

ya berdakwah dengan tanpa EGO yaitu dakwah ihlas karena Allah. Maka kita lihat juga kenapa pembawa islam di nusantara adalah para pedagang bukan orang ahli agama karena mereka memiliki ketulusan dalam berdakwah, dan kita lihat hasil dari dakwah beliau beliau yang ihlas islam nusantara dapat berkembanga dan bertahan hingga sekarang.

Al fatihah untuk para pedagang (gujarat) yang menyebarkan islam sampai ke nusantara.

Baik sekarang apapun status kita, dan kita bersyukur kalau kita dijadikan dai yang bukan berbasic agama, karena kita memiliki ketulusan dalam menyampaikan tanpa takut dikatakan menyimpang atau sesat. Kita tulus meluruskan yang bengkok. Misalnya kalau ibadah harus lurus ke Allah tidak perlu mencari surga … yang berani bilang begini adalah orang yang bukan ahli agama karena kalau ahli agama pasti akan dikatakan sesat dan dia sendiri sangat takut kalau dikatakan sesat. Tapi kalau orang biasa sekali lagi tidak masalah aakan dikatakan sesat.

misalnya lagi shalawat , kita berani mengatakan bahwa shalawat dilakukan dengan tujuan untuk mendoakan Rasulullah bukan untuk mendapatkan syafaat. yang berani mengatakan seperti ini orang orang seperti kita bukan orang yang ahli agama kalau ahli agama pasti akan takut kalau dikatakan sesat dan takut kehilangan murid atau santrinya.

ya kita bersyukur kita orang awam orang biasa yang dipercaya Allah dan di jadikan Allah pasukan dai yang berani di benteng terdepan. semoga usaha kita diridhoi amiin

One thought on “Kekuatan Zero dalam Berdakwah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *