Kenapa islam melarang untuk menceraikan istri yang sedang hamil

kesedihan seorang istri yang sedang hamil kemudian diceraikan tidak akan dapat hilangkan, kadang kesedihan itu menjadi keadaan bawah sadar yang berupa kebencian yang mengarah kepada suami yang menceraikan. kenapa islam sangat melarang menceraikan, karena kebencian, kesedihan ibu yang hamil dapat berakibat fatal terhadap suami. Terlebih jika suami tersebut menceraikan karena menikah lagi… naudzubillah. Bawah sadar negatif dari istri akan sangat kuat dan biasanya akan berakibat kesengsaraan dan bahkan kematian pada suami yang menceraikan.
saya sudah menemui 2 kasus yang pertama keduanya mati karena kecelakaan,dan yang kedua tersiksa karena sakit. dan kejadian tersebut tidak lebih ddari 10 tahun setelah menceraikan istri yang hamil tersebut.
akibat fatal tersebut karena ada pengkhianatan dari ijab qobul yang pernah diikrarkan, dan pengkhianatan dari tanggung jawab dari anak yang ada di perut istrinya. marilah kita berlindung dari hal hal sepertiini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

10 thoughts on “Kenapa islam melarang untuk menceraikan istri yang sedang hamil

  1. Assalamu’alaikum wr wb. apa maksud pelarangan dalam tulisan diatas? pelarangan syar’i atau apa? klu maksudnya Syar’i, kenapa alasan yg disampaikan bukan alasan syar’i? tolong berikan penjelasan…. atau emailkan penjelasan lanjut k email saya diatas. jazakumullah

  2. maaf ikhwan..
    silah kn lihat Suroh At-talak ayat 3
    ALLOH tdk melarang…
    trus, brarti tidk di larng dong dlm Islam… jazakumulloh

  3. Saya diceraikan bulan lepas saat hamil 7 bulan Kerana suami bernikah lain dec 2014. Saat terlanjur Wanita Filipina mengandung 3 bulan. Suami memilih Wanita Itu Dari saya.

  4. Sedang Hamil
    FIKIHPernikahanProblematika Rumah TanggaMar 11, 2011
     

    Pertanyaan:

    Bolehkah mentalak istri yang sedang hamil?

    Jawaban:

    Menceraikan istri yang sedang hamil hukumnya halal (diperbolehkan), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Umar, ketika Abdullah mentalak istrinya dalam keadaan haid. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    رَاجِعْهَا ثُمَّ أَمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرْ ثُمَّ تَحِيْضَ ثَُمَّ تَطْهُرْ ثُمَّ طَلِّقْهَا إِنْ شِئْتَ طَاهِرًا قَبْلَ أَنْ تَمَسَّهَا أَوْ حَامِلاً

    “Rujuklah (kembalilah) kepadanya sampai dia suci lalu haid lagi, lalu suci lagi. Dalam keadaan seperti ini kamu boleh mentalaknya jika engkau mau, dengan syarat engkau belum menyetubuhinya ketika dia dalam keadaan suci tersebut. Boleh juga engkau mentalaknya ketika dia sedang hamil.”

    Sumber: Fatawa Syaikh Bin Baaz, Jilid 2, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.
    (Dengan penataan bahasa oleh http://www.konsultasisyariah.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *