kenapa menyegarakan membayar hutang lebih baik dari pada sedekah

Saya banyak menerima konsultasi mengenai hutang ini mungkin terkait dengan artikel saya yang berjudul cara cepat bayar hutang kebanyakan mereka ingin cepat selesai hutangnya dengan jalan dzikir, sedekah atau dengan menjalankan amalan amalan lainnya. Anehnya saya jarang menemui mereka yang berniat untuk menylesaikan masalah hutang dengan membayar hutang. Dalam artikel saya ini saya ingin berbagi kepada semua sahabat yang sedang berhutang baik kepada orang atau bank. mungkin kita sudah mampu membayar tiap bulannya. tapi saya ada satu cara bagaimana dengan cepat lunasnya hutang Allah akan memberikan keberkahan dalam rejeki kita. cara ini sekaligus untuk menghindari menumpuk harta (uang) disisi lain kita masih punya hutang .

Rasulullah pernah bersabda bahwa satu hal yang harus kita segerakan adalah membayar hutang. berarti kalau kita melamakan hutang padahal kita ada uang untuk kita bayarkan tentunya ini tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan rasulullah.

kenapa menyegerakan hutang lebih baik dari sedekah

  1. hutang wajib sedang sedekah tidak, jadi jangan berharap hutang lunas dengan sedekah
  2. Hutang belum selesai membebani pikiran sedangkan tidak sedekah kita tidak terbebani (tidak ada orang stress karena tidak bisa sedekah) tapi banyak orang stress karena tidak bisa bayar hutang
  3. hutang jika tidak segera dilunasi akan ber bunga bunga, sedangkan sedekah tidak mengalami bunga berbunga
  4. ada kelegaan yang lebih ketika hutang selesai dibandingkan dengan sedekah.
  5. tidak membayar hutang tanggungannya sampai akhirat, bahkan rasulullah ketika itu tidak mau menyolatkan orang yang masih punya hutang

baik 4 hal tersebut bisa menjadi pertimbangan bahwa kenapa menyegerakan hutang itu lebih baik dari pada sedekah.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

13 thoughts on “kenapa menyegarakan membayar hutang lebih baik dari pada sedekah

  1. aslm ustd… memng btul kita mesti dahulukan dan utamakan byar hutang…..
    tapi disisi lain…… kita berbenturan dengan hal2 yg luar biasa dahsyat dan keras nya keadaan di dunia…
    ikhtiar sudah ampe mentok…… doa ga putus2…. ampe nangis2 jg pernah saat mengadu ke Allah….. tapi mungkin khendak Nya lain……
    akhir nya tanah hak milik akan segera di lelang jg oleh pihak Bank dan tiada daya upaya kami kecuali Pasrah……
    menurut ustd bgmn menghadpi keadaan yg bgini?
    wassalam…….

  2. Assalamualaikum,Mas Pur, saya jadi ingat. waktu itu tahun 1990, saya main ke Madiun, karena suatu hal saya kehabisan uang, dan saya pinjam 10 ribu,nach sampai saat ini aku gak bisa ketemu/ kontak sama dia, bagaimana ya? dalam hati kecil saya blum plong kalo belum ktemu orangnya, walaupun pernah di sedehkan dengan niat bayar utang.

  3. saya berfikir entah ini salah apa benar…landasan kita bersedekah untuk bisa segera melunasi hutang adalah firman Allah yang intinya bahwa setiap sedekah yang kita keluarkan ibarat satu biji yang akan tumbuh tujuh bulir dan masing2 bulir membuahkan 100 biji… dst Allah akan melipatgandakannya… ini yang jadi dasar pijakannya … seperti yang sering diterangkan oleh ust yusuf mansur…. bagaimana dengan ini pak ?

    • kebaikan 100 biji, itu bukan berupa uang,padahal orang hutang itu yang dibutuhkan adalah uaang untuk membayar.

      • afwan sebelumnya ust . antum punya blog solospiritislam tapi kok kayaknnya kurang menggambarkan spirit islam yang saya pahami ya. ana berani bicara begini karena saya yakin dan praktisi pernah mengalami metode sodaqoh itu jalan yang benar. kalau hutang kita 100jt sedangkan kita cuman ada uang 100rb antum berani nemui penagih hutang dan bilang kalau saya mau nyicil 100rb ya. itu kalau kita mau beradu akal. afwan ini hati yang bicara ust bukan akal. sekali lagi maaf kalau sedikit menyinggung perasaan antum. oh ya di pencarian saya. kata “nafsu” yang diisyaratkan nabi setelah perang badar yang merupakan musuh terbesar kita itu adalah “akal/otak” jadi akan lebih bijak kalau kita hidup dengan hati kita yang tidak pernah salah. bukan dengan akal kita yang sebenarnya akan menipu kita karena sesungguhnya itulah musuh terbesar antum antum . wallohu a’lam.

  4. Assalamualaikum.. Wr.Wb .. Setiap bulan saya minus untuk bayar hutang… Bantu saya ßϋατ melunasi hutang2 saya.. Saya J̶̲̅ǚǥǝ sudah cari2 uang tambahan…
    Apa Lά̲̣̣̣̥gÎ Ɣªήğ ßϋατ jaminan sertifikat rumah orang tua saya.
    Saya berniat ingin cepat2 melunasi hutang …. Terima kasih

    • dari kaca mata penagalaman saya yang pernah terlilit hutang sekitar 128 juta. saya menggunakan metode mtk sodaqoh. waktu itu saya kumpulkan baju yang tidak saya pakai dan saya jual dapat uang 28rb. saya sodaqohkan. Allah yang bayar hutang saya. tapi kuncinya adalah yakin dan pastikan bahwasannya itu metode bukan sebatas salah satu ilmu dalam agama kita. tetap yakin bahwa Allah itu akan melakukan apa yang diprasangkakan hambanya. dan cayoo kawan . ini dia landasannya. yang berfirman kalau “Allah tidak akan memberikan masalah diatas kemampuan hambanya itu Allah sendiri jadi sebenarnya Allahlah yang yakin kalau kamu sebenarnya bisa menyelesaikan masalah dan hutang-hutangmu itu” yang penting jadilah dekatilah Allah hadirkan Allah dalam setiap perjuangan kita. saya yakin antum bisa,

  5. maaf ya ust sebelumnya …. ada yang aneh dengan tulisan antum. ada keberpihakan lebih pada pola dimana antum mendasari tulisan antum yang seakan benar berlandasan pada otak yang antum punya . padahal kalau bicara keimanan banyak peraturan Allah yang sebenarnya benar tapi tidak masuk akal sebut saja sodaqoh yang antum bilang tidak wajib itu . maaf bukan bermaksud mengurui ana cuman takut banyak diantara muslim yang akan berfikir sama seperti pola antum sehingga keimanan mereka atas kebenaran peraturan Allah jadi berkurang. wallohu a’lam. ikuti hati nurani mu wahai saudaraku .

  6. Apa yang ustadz penulis blog ini paparkan memang logis… karena maaf ustad hanya menggunakan otak kiri ustdz…(realis) dan saya rasa tidak salah juga.. Tetapi apa yang disampaikan oleh sdr Nuris itu benar sekali.. sudah banyak orang membuktikan bahwa keberanian kita menyedaqohkan apa yg kita miliki saat itu dan berharap pada Alloh Azza waJalla supaya hutang kita lunas. Terbukti bahwa otak kanan kita lah yg bisa memberikan solusi. Smoga faham.

    • sebab banyak juga yang bersedakah hutang tambah banyak .. ini masalah karena bukan ihlas karena Allah tapi ihlas karena agar hutangnya lunas.. semoga faham

  7. Seseorang yang dipercaya mampu membayar hutangnya dengan cara tertentu maka ia boleh bersedekah walau masih memiliki hutang. Sedangkan bagi seseorang yang tidak memiliki penghasilan atau sesuatu yang kelak dapat digunakan untuk melunasi hutang-hutangnya, maka lebih baik dan lebih utama jika ia melunasi hutangnya terlebih dahulu daripada bersedekah. Sebab, melunasi hutang adalah wajib, sedangkan sedekah adalah sunah, maka seyogyanya ia tidak melakukan yang sunah dengan meninggalkan yang wajib.

    Adapun bagi seseorang yang memiliki keyakinan kuat kepada Allah, bahwa Allah Maha memberikan rezeki dan akan melipatgandakan harta yang disedekahkan, ia boleh bersedekah walau masih punya hutang. Hal tersebut dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabat. Sayyidina ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa pada suatu hari seorang pria datang menemui Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan meminta beliau untuk memberikan sesuatu kepadanya. Maka beliau shallallahu ‘alahi wa sallam berkata:

    “Saat ini aku tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi, belilah barang kebutuhanmu atas namaku, nanti akan kubayar ketika aku mendapatkan harta.”

    Mendengar ucapan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam tersebut, Sayyidina ‘Umar berkata:

    “Duhai Rasul, Allah tidak memaksakanmu untuk melakukan sesuatu ketika engkau tidak mampu.”

    Rasul kurang senang mendengar ucapan Sayyidina ‘Umar tersebut. Maka pada saat itu juga seorang sahabat Anshar berkata kepada beliau:

    “Duhai Rasul, berdermalah dan jangan pernah merasa khawatir, Allah yang memiliki ‘Arsy tidak akan membuatmu kekurangan.”

    Rasul pun tersenyum dan wajahnya tampak bahagia mendengar ucapan sahabat Anshar itu. Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam kemudian berkata, “Aku memang diperintahkan untuk berbuat seperti ini.” (HR Tirmidzi dalam kitabnya Asy-Syama`il)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *