kesalahan menterjemahkan dzikrullah sebagai ingat Allah

dengan orang budha kita selangkah ketinggalan dengan ritual yang dilakukan nya. Konsep orang budha dalam menjalankan meditasi menggunakan jiwanya untuk bermeditasi, sedangkan islam masih menggunakan pikiran yaitu ingat akan “yang katanya Allah”. kesadaran dan pikiran jelas sangat jauh berbeda. Kalau pikiran tidak bisa menyadari tapi kalau kesadaran dia bisa diikuti oleh pikiran. level dalam berspiritual lebih tinggi kesadaran dari pada ingat (berpikir). inlah, makanya, ritual budha lebih diminati untuk di teliti dan dipraktekan oleh ilmuwan barat dari pada ritual islam yang masih berkutat di pikiran.

Kesalahan dalam menterjemahkan dzikrullah sebagai ingat Allah (aktivitas pikiran) membawa kemunduran berspiritual sangat jauh, bahkan saya katakan melenceng dari ajaran Rasulullah. Ajaran Rasulullah mengajarkan bahwa Allah tidak dapat dipikir termasuk diingat, tapi yang terjadi hampir 100% penterjamahan di alquran ataupn hadis menyebut bahwa dzikrullah adalah ingat Allah (pikiran). Kalau kita ingat Allah berarti kita berpikir tentang Allah, sedangkan islam sangat melarang umatnya untuk berpikir tentang Allah.

Dari kesalahan ini pastilah, islam ini menjadi agama yang tidak menarik, karena dari sisi spiritualnya tidak mendatangkan manfaat, sangat beda jauh dengan orang budha ketika meditasi, cukup meditasi 5 menit dengan kesadaran, sudah mendapatkan manfaat yang besar dalam keseharianya.

Tidak adanya kesadaran akan Allah dalam beribadah menjadikan islamĀ  ini kering, sehingga khusyu itu barang langka dan mahal, anehnya ini katanya rahasia, hanya para wali saja yang bisa khusyu.

sampai kapan islam menghadapi keterpurukan ini, padahal kita tahu bahwa kemajuan islam itu tergantung dari diri masing masing umat ini. Kalau salah mengartikan ajaran Rasulullah bahwa dzikrullah diartikan sebagai ingat Allah maka islam ini akan menjadi bahan ejekan, dan kita emosional jika mendapatkan ejekan, karena memang hatinya kering, tidak mau instropeksi ke dalam. islam jadi ngamukan maunya perang perang dan perang tapi selalu kalah kalah dan kalah.

coba kalau kita mau merombak dan merevisi arti dzikrullah menjadi sadar Allah maka wajah islam ini akan berubah. Dzikirnya umat islam kepada Allah akan mampu merubah karakter umat islam. yang ngamukan lebih kalem tapi tajem, yang kering menjadi sejuk, yang kalau berpendapat atos mulai melunak, yang mulanya berpandangan sempit menjadi berpendangan luas dan visinoner. ya itu pasti karena kesadaran umat di aktifkan hingga maksimal yaitu sadar Allah, melampoi umat budha dalam bermeditasi yang kesadarannya hanya sebatas kesadaran yang masih bisa dipikirkan. Islam jelas kesadarannya mengarah kepada sesuatu yang tidak terjangkau oleh pikiran dan perasaan.

 

2 Replies to “kesalahan menterjemahkan dzikrullah sebagai ingat Allah”

  1. Persoalan
    1. Adakah ALLAH S.W.T perintahkan untuk ingat ALLAH dgn membayangkan ALLAH itu bagaimana atau membayangkan nama?
    2. Jika SADAR dikatakan ZIKIR, persoalannya APA yang di-SADAR-kan? Zat, Sifat, Asma atau Afaal?
    3. Adakah kita tahu atau ambil tahu tentang LAA ILAHA ILLALAH? Kerana Nabi Sal Allahu Wassalam telah bersabda Seafdal zikir (ingat? sadar?) adalah LAA ILAHA ILLALLAH – Hadis SAHIH
    4. Jika kita turuti perintah hadis tersebut, adakah kita 24 jam dgn kalimah LAA ILAHA ILLALLAH?
    5. firman ALLAH dalam surah muhammad (Sal Allahu Wassalam) ayat 19: Fa’alam annahu LAA ILAHA ILLALLAH.. di mana fa’alam itu maksudnya ketahui dengan ilmu.. Adakah kita sudah ada/memoelajari ilmunya?
    6. Dari hadis dan ayat 47:19 tadi membawa maksud ingatan kpd ALLAH adalah dengan ilmu, bukan dari tanggapan akal..
    7. Bertanyalah kepada ahli “ZIKIR” jika kamu tidak mengerahui…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.