khusyu versi eramuslim.com

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Shalat dengan khusyu’ itu tidak bisa kita definisikan secara akal-akalan, apalagi menggunakan perkiraan berdasarkan pengalaman rohani seseorang. Sebab shalat itu ibadah ritual, di mana kita sama sekali tidak punya ruang untuk melakukan improvisasi sendiri.

Maka konsep shalat khusyu’ haruslah turun dari langit, yaitu dari yang memerintahkan shalat itu sendiri. Kita tidak diberi peluang untuk membuat-buat aturan tentang kekhusyu’an ritual shalat.

Maka alangkah baiknya bilakonsep khusyu’ itu sendiri yang perlu kita tetapkan terlebih dahulu. Jangan sampai kita hanya mengarang sendiri. Untunglah kita ini umat nabi Muhammad SAW, sehingga tidak ada masalah untuk mencariguidedalam urusan kekhusyu’an shalat. Guide kitaadalah Rasulullah SAW dalam urusan ini. Kalau mau tahu seperti apa shalat khusyu’, maka lihatlah tata cara shalat beliau.

Khusyu Bukan Kontemplasi

Kalau kita sudah sepakat bahwa orang yang paling berhak untuk menetapkan kekhusyuan dalam shalat adalah Rasululah SAW, maka insya Allah kita sudah mendapatkan separuh dari jawaban masalah khusyu’ ini. Lain halnya kalau ada di antara kita yang masih berpikir bahwa ada sosok lain yang lebih perlu kita ikuti dari sosok Rasulullah SAW.

Maka sekilas kita dapat melihat bagaimana praktek shalat Rasulullah SAW yang disebut dengan khusyu’. Adakah beliau pada saat shalat melakukan beragam ritual kontemplasi sehingga tidak ingat apa-apa? Adakah saat shalat beliau menutup diri dari kejadian di sekitarnya? Adakah saat shalat beliau lupa ingatan dan hanya membangun hubungan dengan Allah saja tanpa mempedulikan orang lain?

Ternyata tidak demikian. Justru Rasululah SAW ketika shalat sangat peduli lingkungan. Bukankah beliau mempercepat shalatnya kalau sedang menjadi imam dan mendengar ada bayi yang menangis dari shaf para wanita? Bukankah beliau memerintahkan kita yang sedang shalat untuk menghalangai orang yang akan lewat di depan kita? Bukankah beliau memerintahkan kita yang sedang shalat untuk membunuh ular?

Kalau shalat khusyu’ dimaknai sebagai memtuskan diri dari semua yang ada selain Allah saja, maka bagaimana bisa Rasulullah SAW mempercepat shalatnya saat bayi menangis? Bagaiman bisa beliau meminta kita menghalangi orang yang mau lewat atau membunuh ular?

Pernah suatu ketika saat beliau sujud, kedua cucunya naik ke atas bahu beliau. Maka beliau pun memperlama sujudnya, seolah memberi kesempatan kepada kedua cucunya itu untuk puas bermain naik ke atas bahunya.

Nah, inilah bentuk shalat khusyu’ yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dan jelas sekali tidak ada kekhususan dalam hal ini. Rasulullah SAW adalah suri tauladan kita. Beliau yang mengatakan, “Shalatlah kamu sebagaimaan kalian melihat aku melakukan shalat.”

Khusyu’ = Konsentrasi

Maka kalau kita timbang-timbang, agaknya yang dimaksud dengan khusyu’ bukan semata-mata tidak ingat apa-apa kecuali Allah, melainkan merupakan sebuah konsentrasi untuk menjalankan shalat dengan baik, sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dan shalatnya Rasulullah SAW adalah shalat yang ‘Peduli Lingkungan’.

Beliaulah yang mengajarkan kepada kita untuk menjawab salam saat shalat dengan isyarat. Dan itulah shalat yang khusyu’. Beliau pula yang mengajarkan bagaimana makmum berkewajiban membenarkan gerakan atau bacaan imam, bahkan shat yang paling belakang, yaitu shaf para wanita, juga diberikan hak untuk membenarkan iman, dengan cara bertepuk.

Kalau shalat khusyu’ dimaknai sebagai tidak ingat apa-apa yang ada di sekelilingnya, bagaimana mungkin makmum membenarkan imam?

Maka yang paling mudah dalam memahami konsep khusyu’ adalah bahwa seseorang melakukan shalat dan dia konsentrasi terhadap apa yang sendang dilakukannya. Kalau dia membaca ayat Al-Quran, maka dia memahami apa yang dibacanya dan benar-benar konsentrasi terhadap bacaan serta maknya yang dikandungnya.

Ketika dia mengucapkan takbir, maka dia meresapi bahwa hanya Allah saja yang Maha Besar, yang selain Allah tidak ada apa-apanya. Ketika dia membaca doa istiftah, maka dia benar-benar meresapi makna yang terkandung di dalamnya.

Kalau dia menjadi makmum atau imam, maka dia tahu bagaimana mengatur komposisi gerakan bersama jamaah yang lain. Dan yang lebih penting, dia ingat hitungan bilangan rakaatnya, tidak lupa atau rancu.

Jadi intinya, shalat yang khusyu’ itu bukan semata-mata kontemplasi tidak ingat apa-apa, tetapi shalat khusyu’ adalah shalat yang memenuhi semua syarat, rukun, kewajiban dan tahu makna dari tiap gerakan dan bacaannya, yang dilakukan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

0 thoughts on “khusyu versi eramuslim.com

  1. apakah khusu’ itu sama dengan kosentrasi ? menurut pandangan saya tidak demikian, khusu’ itu suatu anugerah, manusia tidak akan mampu mencapainya hanya dengan kosentrasi saja.
    kemudian dikatakan, apakah khusu’ itu lupa dengan segalanya (dalam artian tidak peduli lagi dengan lingkungan sekitarnya di saat shalat)? tidak-tidak ada yang berpendapat demikian. Apakah artikel ini seperti sengaja menjawab pendapat seorang lainnya? mungkin, dari bahasa yang digunakan dalam tulisan nya. Tapi apapun itu shalat lah seperti yang Rosul saw lakukan, dan buktikan hadits beliau tentang ihsan bahwa ” shalatlah kalian seolah-olah kalian melihat Allah, kalau tidak mampu maka ingatlah bahwa Allah melihat kalian”, buktikan hadits ini dengan mujahada dan ke ihlasan dan berdoa lah semoga dengan rahmad Nya Allah berkenan memberikan ilmu tentang khusu’ itu. Mari mengawali dengan niat tulus yang suci, ihlas melaksanakan amalan nya, mengikuti rambu-rambu syariat dalam berwudhu dan shalat, memahami dan tahu dengan yakin tentang hakikat penghambaan ini yang kita lakukan dalam bentuk ibadah shalat, pada akhirnya tahu tujuan kita shalat itu kemana dan untuk siapa, shalat hanya kendaraan yang menghantarkan saja, tujuan hantaran ini yang paling utama yaitu Allah swt.

  2. bukan kah deteksi yang paling mudah mengetahui shalatnya khusu’ dan diterima oleh Allah swt adalah dari firman Nya juga;
    “Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” maka barang siapa yang mengaku telah shalat dengan khusu’ tapi bila shalat nya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar maka shalatnya adalah shalat orang-orang yang lalai dan munafik. “maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya”.

  3. Tidak riya dengan apa yang melekat di tubuhnya. Bekas- bekas sujudnya tampak pada dirinya, dari roman mukanya, raut wajahnya, gerak- geriknya, dan tingkah lakunya.

  4. Ditilik dari pelaksanaan syariatnya, benar apa yang dikatakan oleh mas Abu Athaillah, yaitu shalatnya tidak membekas pada dirinya. Untuk menjaga perilaku kita, dalam setahun ada jarak Ramadhan dalam setahun. Mungkin usia saya tidak mencukupi hingga Ramadhan tahun depan. Ada Jum’at dalam seminggu, ada waktu yang mengantarai shalat di dalam sehari, dan ada zikir di antara detik- detik waktu yang ketika kita lalai, sebagaimana Adam lupa karena begitu bahagianya ketika dirinya mendapatkan seorang teman, maka ia tergelincir.

  5. CAHAYA DI ATAS CAHAYA, ALLAH MEMBIMBING ORANG- ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA KEPADA CAHAYA-NYA ITU.” (Q.S. AN-NUR: 35)

    Tinggalkanlah segala apa yang di luar pintu kamar tempatmu menyendiri, dan masuklah kamu ke dalamnya seorang diri. Apabila kamu berada seorang diri di kamar itu, maka kamu akan melihat temanmu di dalam hatimu, kamu akan mengalami sesuatu yang bukan makhluk, dan diri kamu akan lenyap, dan sebagai gantinya datanglah perintah Allah dan kedekatan kepada-Nya. Di dalam peringkat ini, kejahilanmu akan menjadi pengetahuanmu, kejauhanmu akan menjadi kedekatanmu, kesabaran/diammu akan menjadi dzikir kepada Allah, dan keadaanmu yang heran akan membuktikan persahabatan dengan Allah.

  6. “Aku bersumpah demi Kebesaran Puja-Puji-Ku, dalam Kemurahan Karunia- Karunia-Ku, bahwa sesungguhnya Rumah- Rumah-Ku, yang dibangun di atas bendungan yang tidak dimasuki selain-Ku, Kunyatakan bahwa itu Rumah- Rumah-Ku, dan ahlinya adalah ahli-Ku dan kawan-kawan-Ku yang mulia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *