makalah seminar : sertifikasi guru dan kompetensi ESQ

makalah ini disampaian dalam seminar sertifikasi guru di rumah makan taman sari 7 desember 2008, kalau mau download silahkan klik kolom (widget) download yang ada di sebelah kanan page blok ini

KOMPETENSI ESQ DAN SERTIFIKASI GURU
Oleh : Setiyo Purwanto, S.Psi, MSi, Psikolog

A. Pendahuluan
Pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada kapasitas satuan-satuan pendidikan dalam mentranformasikan peserta didik untuk memperoleh nilai tambah, baik yang terkait dengan aspek olah pikir, rasa, hati, dan raganya. Dari sekian banyak komponen pendidikan, guru dan dosen merupakan faktor yang sangat penting dan strategis dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan. Berapa pun besarnya investasi yang ditanamkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, tanpa kehadiran guru dan dosen yang kompeten, profesional, bermartabat, dan sejahtera dapat dipastikan tidak akan tercapai tujuan yang diharapkan [UU No.14Thn 2005:2]
Salah satu point penting dalam komptensi Guru adalah sisi kepribadian yaitu Intelektualitas, emosional dan spiritual. Ketiga aspek ini memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan mutu profesionalisme guru. Keberhasilan transformasi ilmu dari guru kepada seorang murid sangat ditentukan oleh kecerdasan dari ketiga aspek tersebut yaitu inteligensi, emosional dan spiritual.

Antara IQ, EQ dan SQ
Anggapan bahwa intelektualitas adalah segala-galanya atau setidak-tidaknya merupakan faktor utama yang akan membawa orang pada kesuksesan dalam kehidupan karir atau kehidupan nyata di masyarakat, kini terbantah telak sejak Daniel Goleman menulis buku “Emotional Intelligence: Why It Can Matter More than IQ” (1995). Buku yang merupakan hasil riset yang luas ini – yang kemudian direspon positif oleh sejumlah ilmuwan yang kemudian melakukan riset lanjutannya – sungguh sangat menyentak kesadaran pembacanya. Disebutkan oleh Goleman bahwa ada kecerdasan yang jauh lebih besar peranannya dibanding kecerdasan akademik atau kecerdasan intelektual dalam mengantar orang pada kesuksesan hidup, yaitu apa yang dinamakan kecerdasan emosional (emotional intelligence).

Goleman menunjukkan betapa banyak orang yang pada waktu di sekolah atau kuliah tergolong pintar, menduduki rangking-akademik atas, namun terbukti gagal dalam kehidupan karirnya. Banyak pula orang yang di sekolah biasa-biasa saja capaian akademiknya, terbukti sukses dalam karir, menjadi orang berprestasi dan berguna bagi masyarakat. Orang yang cerdas secara intelektual namun bodoh secara emosional, dalam kehidupan kerjanya mungkin akan menjadi orang kritis yang hobinya pamer kepintaran dan menjatuhkan orang lewat kritisismenya, arogan, atau mudah tersinggung, gampang marah, mudah runtuh motivasinya ketika menghadapi kesulitan kerja, sulit bekerja-sama, dan sejumlah perilaku negatif lainnya. Alhasil orang demikian akan berkontribusi rendah, bahkan mungkin negatif dalam bekerjasama, dan akan menuai rentetan kegagalan.
Kecerdasan intelektual memang penting, karena dengan itu orang secara kognitif dapat menganalisis persoalan yang dihadapi secara logis, sistematis, dan sekaligus mampu menemukan konsepsi pemecahan masalah secara kreatif. Namun bagaimana mengimplementasikan pemikiran kognitifnya itu di lapangan sosial, orang membutuhkan kecerdasan emosional. Emotional Intelligence adalah suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi diri dan emosi orang lain, ketika seseorang berhubungan dengan diri sendiri (intrapersonal relationship) maupun ketika berhubungan dengan orang lain (interpersonal relationship). Demikian pernah dituliskan oleh Audith M Turmudhi dalam Koran Kedaulatan Rakyat, 10 Juni 2003 yang lalu.
Dua pandangan di atas telah menguasai dunia pendidikan kita dalam kurun waktu yang cukup lama. Karena praktek itu pula, kita berhadapan dengan orang-orang yang sekarang ini menduduki peranan penting dalam lingkungan, masyarakat dan bangsa kita. Mereka ini dibentuk dalam dunia pendidikan yang dulunya mengutamakan intelektualitas dan kemudian pelan-pelan memperhatikan kecerdasan emosional.
Betapapun pentingnya kecerdasan intelektual maupun emosional bagi kesuksesan seseorang, kita tidak boleh berhenti di situ. Apalah artinya orang yang pintar secara intelektual maupun emosional, tetapi jeblok secara spiritual. Orang ini mungkin akan menjadi orang yang berpengetahuan luas, kritis, kreatif, selalu bergairah, ramah, pandai menyenangkan dan meyakinkan orang, trampil bergaul, dan seterusnya, namun tega hatinya berbuat curang: menipu, berbohong, berkhianat, memfitnah, menjarah hak orang lain, bertindak korup, dan seterusnya. Dan karena dia pintar secara intelektual, maka kejahatannya itu dapat dilakukan dengan cara yang canggih sehingga sulit terlacak atau terbongkar karena pintarnya menghapus jejak, membungkus dan membentengi perbuatannya. Demikian pula karena dia cerdas secara emosional maka dia trampil dalam mengelola emosi-dirinya (self-regulation) sehingga kendati berbuat culas, dia mampu tampil tenang, penuh senyum meyakinkan, bahkan sukses pula merekayasa kesan diri sebagai orang baik, benar, penolong dan sebagainya. Pendeknya, orang ini bak musang berbulu domba: pandai bersandiwara dan akan menghalalkan segala cara demi kepentingannya. Sungguh, ia akan menjadi orang yang sangat berbahaya bagi kehidupan bersama. Moralitas-spiritualitas rendah bangsa kita inilah yang ditengarai menjadi sumber dari krisis multi-dimensional yang kini masih membelit bangsa dan negara kita. Makin sukses orang-orang ini menduduki jabatan-jabatan dan peran strategisnya, makin ganas korupsi dan kecurangannya.
Untuk menghindari terbentuknya pribadi seperti digambarkan di atas dalam dunia pendidikan kita, mutlak kita memerlukan kecerdasan spiritual di atas kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, yakni kemampuan orang untuk membedakan kebajikan dan keburukan, dan kesanggupan untuk memilih atau berpihak pada kebajikan, serta dapat merasakan nikmatnya berbuat bajik. Orang dengan kecerdasan spiritual tinggi akan merasakan kenikmatan spiritual tiada tara tatkala ia sanggup berbuat jujur, lurus, adil, meskipun akibatnya secara material atau secara “duniawi” mungkin ia harus menanggung kerugian. Dengan senantiasa menghidupkan hati nurani, menghadirkan Tuhan dalam kesadaran jiwa dan menjadikan Tuhan sebagai pusat orientasi semua tindakan, orang akan terbebas dari kepalsuan-kepalsuan hidup.
Kecerdasan intelektual dan emosional membawa orang pada kesuksesan. Kecerdasan spiritual membawa orang pada kebajikan. Yang kita inginkan adalah menjadi orang sukses yang baik. Tetapi ada ungkapan “It’s nice to be important, but it’s more important to be nice”: baik juga kalau bisa menjadi orang penting atau sukses, tetapi lebih penting menjadi orang baik. Inilah yang harus kita ciptakan dalam konsep proses pendidikan sebagai sebuah proses “hominisasi” dan “humanisasi”. Proses hominisasi merupakan proses pendidikan di mana kita mengarahkan, membina dan mendidik seseorang menyadari dirinya sebagai manusia yang punya akal budi, punya kemampuan yang lebih dibanding makhluk lainnya. Proses humanisasi adalah sebuah proses di mana kita harus membimbing, mendidik dan mengarahkan seseorang agar sanggup melakukan tindakan-tindakan manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai manusia yang punya akal budi. Jadi setelah hominisasi, seseorang diharapkan sanggup dan mampu masuk dalam humanisasi.
ESQ dalam Pendidikan
Kalau demikian, apa yang harus kita perhatikan dalam dunia pendidikan kita saat ini? Kita seharusnya mengutamakan pengasahan kemampuan manusiawi (human capability) dalam pendidikan dan pencerdasan spiritualitas ditempatkan sebagai yang utama, yang kedua pencerdasan emosionalitas, yang ketiga pencerdasan intelektualitas. Ketiganya penting, namun urutan nilai kepentingannya haruslah seperti itu, tidak terbalik seperti dalam praktik pendidikan kita. Di sinilah kita dituntut untuk sanggup menentukan skala prioritas yang harus diterapkan dalam dunia pendidikan kita. Kita harus menyadari bahwa tidak semua tenaga pendidik menyadari hal ini. Masih banyak tenaga-tenaga pendidik kita yang berpegang pada pedoman dan praktik-praktik pendidikan lama. Juga, banyak yang berpegang teguh pada norma dan ketentuan-ketentuan yang sesungguhnya mematikan kreatifitas seorang pendidik dalam tugasnya. Akhirnya, suasana pendidikan kita terasa seperti mati, tidak bersemangat dan tidak berjiwa.
Selama ini ketika orang berbicara tentang upaya peningkatan moralitas atau spiritualitas siswa di sekolah, orang langsung menyebut tentang perlunya penambahan jam pelajaran agama, pemberian pelajaran budi pekerti, atau dulu penataran P-4. Cara-cara demikian sesungguhnya sangat tidak mencukupi untuk pencerdasan spiritualitas siswa. Penambahan pelajaran agama dan budi pekerti, paling jauh hanya menambah pengetahuan siswa tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi, hanya masuk di ranah kognitif, yang hanya berguna untuk menjawab soal ulangan atau ujian. Namun untuk menjadikan pengetahuan moral tersebut masuk dan mengeram di ranah afektif dan menjadi bagian dari kepribadian siswa, diperlukan perubahan pola kependidikan yang bukan sekedar superfisial seperti itu, melainkan paradigmatik sifatnya. Harus diwaspadai pula, bahwa pengajaran agama yang salah penanganan bisa membawa siswa pada fanatisme sempit dan arogansi religius yang justru menjauhkan siswa dari spiritualitas.
Kompetensi Guru dengan ESQ
Seorang guru diperlukan kompetensi emosional dan spiritual sehingga mampu mendidika muridnya dengan kedua komptensi tersebut. Kemampuan untuk guru tersebut intinya ada dua yaitu bagaimana seorang mampu berhubungan dengan baik dengan sesama manusia yaitu terutama dengan murid dan dengan sesama guru atau rekan kerja, serta dengan lingkungan dimana dia tinggal. Kemudian kemampuan yang kedua adalah bagaimana seorang Guru dapat berkomunikasi dengan Tuhan yang teraplikasikan dalam setiap segi kehidupannya.
Kemampuan emosional menuntut konsep kecerdasan emosional terkait dengan sikap-sikap terpuji dari kalbu dan akal yakni sikap bersahabat, kasih sayang, empati, takut berbuat salah, keimanan, dorongan moral, bekerja sama, beradaptasi, berkomunikasi dan penuh perhatian serta kepedulian terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Sedangkan dalam kemampuan spiritual sorang guru dituntut untuk dapat mengaplikasikan keimananya kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Kekuatan spiritual atau kekuatan iman inilah yang merupakan kekuatan mental dari seorang guru untuk mendidik menuju keberhasilan yang sempurna. Keimanan yang kuat akan selalu mengarahkan seorang guru untuk selalu ihlas dalam mengajar, ihlas dalam kasih sayang dan tulus dalam setiap pendidikan yang dilakukan dalam proses mengajar di sekolah. Kekuatan spiritualitas juga akan memunculkan inisiatif dan daya kreatif yang tiada henti sebagai wujud dari berkembangnya otak kanan seorang guru. Tanpa adanya daya inisiatif dan kreatif mustahil pendidikan akan dapat berkembang dengan baik. Materi pendidikan memang sudah ditentukan namun gaya penyampaian materi tersebut tentunya akan selalu berkembang mengikuti teknologi yang ada dan untuk dapat melakukan ini dibutuhkan kemampuan berinisiatif.
Seorang Guru dengan kekuatan spiritual akan tercegah dari stress karena ”guru juga manusia” sehingga sangat mungkin sekali seorang guru dalam kehidupan kesehariannya menemui masalah masalah. Permasalahan yang dihadapi guru jika hal ini menyebabkan stress maka secara langsung akan mengganggu proses mengajar di sekolah. Lemahnya iman seorang guru akan dapat menyebabkan guru tersebut rentan terhadap stress dan kita tahu bahwa stress dapat mengganggu kemampuan dari inteligensi dan emosi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *