makna garwo sigaraning nyowo

garwo atau dalam bahasa indonesianya adalah istri bermakna belahan jiwa atau sigaraning nyowo. namanya juga belahan jiwa kita tidak bisa berdiri sendiri harus dua duanya berdiri. seperti misalnya kita ini sama istri sudah di rantai tangan kita dengan istri, jadi kita tidak bisa pergi sendiri. Kita tidak bisa berspritual sendiri sedangkan istri kita tinggalkan, dan kita tidak bisa berjalan sendiri tanpa istri. Jika ini terjadi maka pasti terjadi konflik keluarga artinya istri akan memegangi kita dan dia akan memegang terus sampai di mau kita ajak sama sama untuk ke Allah.

berapa banyak ustad tokoh spiritual yang gagal yang akhirnya mereka beristri lagai atau cerai, karena ketidakkuatannya dalam mempertahankan ikatan.

saya sudah menyebutkan bagaimana berkeluarga dengan berspiritual yaitu dengan metode 3T. Tidak lain adalah agar kita bisa membawa keluarga kita untuk pergi ke Allah sama sama.

dengan istri tidak sama dengan orang lain. Kita mengajak istri ┬áke Allah tidak akan sama dengan mengajak ke orang lain. Kalau ke istri kita lebih pada kata “membawa” bukan mengajak. kalau mengajak seolah kita menawarkan sesuatu kepada istri, tapi kalau membawa seolah kita memaksa tapi dalam jalan kebaikan. seperti beginilah misalnya kita mau ke suatu tempat yang jauh, bedakan antara mengajak istri dan membawa istri? lebih mesra mana, lebih menghormati yang mana atau lebih berpengaruh yang mana? nah membawa kan. karena konsepnya adalah istri merupakan belahan jiwa bukan jiwa yang lain.

kita menerima mensyukuri dan menghormati adalah aplikasi dari 3T. dengan 3T ini berarti kita memposisikan istri kita belahan jiwa kita bukan orang lain, bukan jiwa yang lain. Saya lebih senang membawa istri dan anak anak juga untuk ke Allah bukan mengajak …. inipun kadang saya masih diprotes kenapa mau mengajak orang lain sedangkan dengan istri tidak pernah…. saya jelaskan bahwa ke Allah antara istri dan orang lain adalah beda. saya pun menerima (3T1) kritik apapun yang istri berikan ke saya ini dalam tujuan saya untuk memposisikan diri saya dan diri istri saya agar sejiwa.

dengan istri kita harus labih mengedepankan kesejiwaan kita dari pada dengan logika logika rumah tangga yang bahagia harmonis sakina mawadah warahmah… itu hanyalah hasil dari bagaimana kita menjadikan istri atau pasangan menjadi sejiwa dengan kita.

pengajaran sadar Allah dalam 3T adalah bagaimana kita menerima istri sehingga menjadi sejiwa bukan ungkapan mutiara kata kata yang indah tapi hanya cita cita yang sulit dicapai. kita belajar sadar Allah belajar riil. sakina mawadah warahmah adalah kata kata indah yang sulit di capai kalau kita tidak menjalankan 3T.

bagi jamaah DNSA mari kita bangun keluarga kita dengan konsep 3T, ketika konflik dengan istri itu berarti istri kita memerlukan kita untuk menerimanya agar kita menjadi sejiwa untuk sama sama ke Allah. Saya tidak menyarankan para suami untuk mengatakan ini pada istri “ayo bu ke Allah” saya ingin agar para suami mampu menerima istri karena Allah mensyukuri istri karena Allah dan mempercayai istri karena ALlah… nanti jika sudah terjadi kesejiwaan maka istri akan lurus ke Allah seperti apa yang kita lakukan sekarang.

semoga kita dimudahkan dalam mengemban amanah ini amiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *