Makna kias yang merupakan kiasan

Makna kias adalah dimana suatu istilah tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya, dia hanyalah suatu kiasan atau perumpamaan. Dalam memahami eksistensi Allah maka kita harus mengenal makna kias ini, Misalnya Allah menggemgam jiwa Nabi Muhammad, kata menggenggam ini tentunya adalah makna kias yang bukan makna sebenarnya. menggenggam bukan menggunakan tangan, demikian juga Allah melihat tidak menggunakan mata, karena melihat adalah kias dari maha tahunya Allah.

dalam agama islam banyak sekali makna kias yang ada. Misalnya bouroq yang dikiaskan seekor binatang yang mirip keledai tapi langkah kakinya sejauh pandangan matanya, Jelas bouraq ini adalah kiasan bukan hewan sebenarnya. sekarang mana ada hewan panjang langkah kakinya sejauh matanya memandang, lalu kalau hewan betulan seberapa panjang kakinya…

dalam islam juga makna kias terjadi juga pada beberapa peristiwa, antara lain peristiwa isra miraj. Yaitu ketika Rasulullah melakukan perjalanan secepat kilat dan langsung sampai di masjidil aqsa. yang berjalan bukan jasad beliau karena ini adalah kias bagi jasad, sebab kalau jasadnya mengikuti perjalanan pasti tubuh beliau tidak akan mungkin bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya. makna yang sebenarnya dalam perjalanan isra adalah nafs beliaulah yang melakukan perjalanan isra, sehingga ini kalau boleh dibilang dalam ilmu sekarang namanya astral traveling. saya kira masih banyak lagi contoh makna makna kias yang harus kita pahami sebagai perumpamaan.

kiasan kiasan ini memudahkan kita untuk memahami sesuatu yang biasanya otak kita tidak bisa menjangkau. itulah hebatnya islam jadi sesuatu yang ghoib pasti di kiaskan. sehingga tidak menghilangkan eksistensi dari keadaan atau kejadian yang tidak bisa di nalar tersebut. contoh yang paling riil adalah makna langit, kalau kita pahami bahwa alam semesta ini tak terbatas jika alam ini tak terbatas dimana letak langitnya? tentunya tidak akan pernah ada ditemukan langit, tapi mengapa islam banyak menyebut kata langit. Langit biasanya digunakan untuk memberikan suatu pengertian tentang batas antara kemampuan pikiran dan ketidakmampuan pikiran dalam mencerna. misalnya Allah berada di atas arasy (langit) maka ketika kita membicarakan Allah jangan menggunakan pikiran karena Allah itu ada diatas pikiran kita.

kesalahan fatal ketika mengartikan arasy adalah langit kemudian ketika disebutkan ada langit saf ketujuh, maka pikiran  kita meriilkan kiasan langit tersebut, bahwa langit itu seperti kue lapis dimana langit ber saf saf atau bertingkat tingkat…. jelas ini tidak sesuai dengan makna kias yang dimaksud dengan istilah arasy atau langit.

memahami sesuatu sesuai keadaanya akan membuat kita dewasa dalam beragama.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *