Materi Kursus I’tikaf

brosur kursus i'tikaf

kursus itikaf

Ibadah Itikaf

Setiyo Purwanto

Materi Kursus Itikaf 12 agustus 2012

Balai Islam TNB, Bangsar, Kuala Lumpur

Bulan ramadhan menjadi bulan banyak beramal ibadah, termasuk salah satunya adalah ibadah iktikaf. Terlebih 10 malam terakhir di bulan ramadhan umat muslim mengadakan itikaf di masjid dengan serangkaian kegiatan di dalamnya. Kegiatan iktikaf merupakan kegiatan special dalam bulan ramadhan, ibadah ini merupakan ibadah khusus yang berbeda dengan ibadah sholat, ibadah membaca quran dan ibadah wirid atau dzikir tertentu.

Namun banyak umat islam yang mencampur-adukkan antara amal ibadah I’tikaf ini dengan amal ibadah lainnya seperti sholat, baca quran, wirid ataupun pengajian. Kekhususan ibadah ini tertera dalam surat al baqoroh 125 yang artinya …dan telah Kami perintahkan kepada brahim dan Ismail: “bersihkanlah rumah-Ku untuk orang orang yang thawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”. Dari ayat ini dapat kita makani bahwa iktikaf adalah ibadah khusus yang berbeda dengan thawaf, rukuk maupun sujud. Dan itikaf ini sudah menjadi amal ibadah pada zaman nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Pada jaman nabi Ibrahim Rukuk dan sujud adalah rangkaian sholat, sehingga kita bisa mengambil suatu kesimpulan dari ayat ini bahwa itikaf adalah berbeda dengan sholat. Hal ini seringkali menjadi kerancuan karena banyak pendapat yang menyebutkan bahwa cara beritikaf adalah memperbanyak amal ibadah seperti sholat, dzikir, da membaa quran. Maka perlu ada kajian ulang terhadap makna itikaf ini apakah benar itikaf dapat dicampur dengan sholat ?  ataukah itikaf ini menjadi suatu ibadah khusus yang memiliki kaifiat yang berbeda dengan amal beda lainnya.

Tulisan ini bermaksud untuk mencari apa yang sebenarnya menjadi kaifiat dalam ibadah itikaf. Marilah kita lihat terlebih dahulu tentang makna dan arti itikaf. Makna umum yang sering digunakan dalam memaknai itikaf ini adalah : berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dan tata cara tertentu.

 

Hikmah dari pada itikaf

Menurut ibn Qoyyim dalam kitab Zaadul Ma’ad,

“…Demikian pula, Allah mensyariatkan i’tikaf bagi mereka yang bertujuan agar hati dan kekuatannya fokus untuk beribadah kepada-Nya, berkhalwat dengan-Nya, memutus diri dari kesibukan dengan makhluk dan hanya sibuk menghadap kepada-Nya. Sehingga, berdzikir, kecintaan, dan menghadap kepada-Nya menjadi ganti semua faktor yang mampu memperkeruh hati. Begitupula, kesedihan dan kekeruhan hati justru akan akan terhapus dengan mengingat-Nya dan berfikir bagaimana cara untuk meraih ridha-Nya dan bagaimana melakukan amalan yang mampu mendekatkan diri kepada-Nya. Berkhalwat dengan-Nya menjadi ganti dari kelembutannya terhadap makhluk, yang menyebabkan dia berbuat demikian adalah karena (mengharapkan) kelembutan-Nya pada hari yang mengerikan di alam kubur, tatkala tidak ada lagi yang mampu berbuat lembut kepadanya dan tidak ada lagi yang mampu menolong (dirinya) selain Allah. Inilah maksud dari i’tikaf yang agung itu.“

Hikmah itikaf menurut Ibn Qoyim ini menekankan pada focus ke Allah, sibuk hati untuk menuju kepada Allah. Jadi  meskipun itikaf diisi dengan ibadah tapi tetap harus focus ke Allah. Makna berkhalwat dalam pendapat beliau sangat mengkhususkan hubungan yang intens dengan Allah, dan hal ini dapat dilakukan dengan berdiam diri dengan meluruskan hati kepada Allah.

Cara praktis melakukan I’tikaf

Itikaf adalah ibadah yang tidak terikat dengan waktu, kapan pun dapat melakukan itikaf asal tempatnya adalah di masjid yang dimana masjid tersebut digunakan untuk menegakkan solat lima waktu. Cukup dengan niat beritikaf kemudian duduk relaks dan menghadirkan hati ke Allah sudah bisa dikatakan beritikaf , tentunya tidak batal wudlu. Yang mungkin perlu kita latih bersama adalah bagaimana meluruskan hati ini ke Allah. Tidak sedikit yang gagal menjalankan itikaf karena pikiran dan hati tidak focus ke Allah. Maka hal sederhana yang harus kita latih adalah mengalahkan jasad kita dulu

Jasad harus kita kalahkan dengan jalan berdiam diri selama beberapa saat, dengan berdiam ini maka kita akan dengan mudah mengalahkan dorongan dorongan yang ditimbulkan dari jasad yaitu hawa nafsu. Ini bukan perkara yang mudah bagi yang tidak terbiasa dengan tumakninah, dengan belajar tumakninah dalam setiap amal ibadah akan melatih jasad kita untuk patuh dengan kita demikian pula hawa nafsu juga lebih mudah dikendalikan.

Setelah jasad dapat kita kalahkan maka selanjutnya adalah mengalahkan pikiran. Ketika kita mendiamkan jasad beberapa jasad dan kita berhasil mengalahkannya, maka kita akan digoda oleh pikiran kita, dan kita harus berjuang untuk focus. Mengalahkan pikiran ini agak berbeda dengan mengalahkan jasad. Cara mengalahkan pikiran adalah dengan mengabaikannya. Misalnya ketika kita duduk itikaf tiba tiba pikiran melayang kemana mana maka kita tidak perlu menghentikan pikiran itu, karena semakin kita kendalikan pikiran itu maka pikiran itu  semakin melayang kemana mana. Jadi caranya dengan jalan mengabaikan bayangan bayangan yang masuk dalam pikiran. Maka disinilah kekuatan pikiran yang bersumber dari kesugguhan hati dan kekuatan hati untuk tetap ke Allah menjadi penentu keberhaslan kita mengalahkan pikiran.

Latihan focus ini bermanfaat untuk membersihkan hati dari kekotoran kekotoran pikiran. Terganggunya pikiran manusia itu karena tergantung dari dosa dan maksiat, dengan itikaf ini maka kita dapat membersihkan diri dari ketergangguan dosa dosa yang sudah kita buat.

Mengalahkan pikiran ini juga tergantung dari makanan yang kita makan, jika kita makan terlalu banyak maka pikiran pun akan relative lebih sulit dikalahkan, dia akan lebih bebas dan lebih liar. Masalah makan ini tentunya terkait dengan puasa yang kita lakukan pada siang hari di bulan puasa. Dengan sedikit makan maka kita lebih mudah focus ke Allah. Kemudian orang yang banyak tidur menjadikan kekuatan pikiran lemah, sebab banyak tidur berarti membiasakan pikiran untuk lemah. Kalau  lemah bagaimana pikiran dapat kuat dalam focus ke Allah.

Di dalam itikaf disyariatkan untuk tidak berinteraksi dengan orang lain, karena banyak berinteraksi akan membuat banyak bicara dan berpikir secara liar, hal ini akan menyebabkan pikiran sulit untuk diajak focus ke Allah. Maka ketika itikaf sebaiknya tidak membawa handphone, ijin dengan keluarga dan katakan sampai kapan itikaf selesai sehingga tahu kapan harus menghubungi. Kalaupun itikaf dilakukan dengan berjamaah di sarankan untuk mengurangi perakapan syukur syukur bisa benar benar tidak berinteraksi satu sama lain.

Ketiga, adalah mengalahkan hati, sensasi menjalankan itikaf ini ketika seseorang sudah mampu mengalahkan jasad dan pikiran maka akan memasuki keadan kedaan tertentu yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Misalnya suatu  perasaan tenang yang luar biasa, merasa terbang, merasa berda di tempat yang luas, dan lain sebagainya. Keadaan keadaan yang ekstrim ini jika kita focus ke Allah maka kita akan terhanyut oleh suasan suasana tadi, sehingga suasana ini melupakan kita dengan Allah. Godaan hati ini sangat samarnya sehingga pada level ini jika kurang memahami bahwa itu hanya sensasi persepsi maka kita akan gagal dalam mengalahkan hati. Jalan pintasnya untuk mengalahkan godaan hati ini adalah dengan mengabaikan semua perasaan yang muncul dengan tetap masuk berjalan menuju kepada Allah SWT.

Jadi cara praktis itikaf adalah jika kita dapat mengalahkan jasad, pikiran dan perasaan, kemudian memasuki wilayah spiritual yaitu wilayah ruhaniah. Wilayah ini adalah wilayah diatas pikiran dan diatas rasa sehingga kalau kita masih berada di wilayah pikiran dan rasa berarti kita harus lebih bermujahadah lagi untuk lurus ke Allah, semoga Allah memudahkan kita.

 

Itikaf dan lailatul qodr

Itikaf di sepuluh hari terakhir terutama di malam ganjil sangat dianjurkan dalam islam. Pada malam malam terakhir ini lailatul qodr diturunkan, hal ini sesuai dengan hadis rasulullah dimana rasulullah benar benar menjaga untuk dapat beritikaf di sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan di karenakan pada malam itu diturunkan lailatul qodr.

Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada para sahabat,

إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ

“Sesungguhnya saya beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dalam rangka mencari malam Lailat al-Qadr. Kemudian saya beri’tikaf di sepuluh hari pada pertengahan Ramadhan, dan saya didatangi oleh (Jibril) dan diberitahu bahwa malam tersebut terletak pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Oleh karena itu, siapa diantara kalian yang ingin beri’tikaf, silahkan beri’tikaf. Maka para sahabat pun beritikaf bersama beliau.”

Cara menangkap lailatul qodr ayat 4

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Saya menggaris bawahi apa apa yang diturunkan Allah pada malam lailatul qodr yaitu Ruh, hal ini sangat berkaitan dengan amaliah itikaf yang kita lakukan. Ketika berdiam diri maka Ruhaniah kita akan bergerak menuju kembali kepada Allah. Dimana hal ini dapat kita lakukan jika kita berserah diri kepada Allah. Jiwa yang berserah diri ini akan mampu mengaktifkan Ruh kita untuk kembali kepada asalnya yaitu Allah. Orang yang sudah berhasil melakukan proses penyerahan diri pada saat itikaf dan Ruhnya aktif maka dia akan mampu menangka apa apa yang diturunkan Allah yaitu Ruh. Abu Sangkan dalam salah satu tausiah beliau ketika bulan ramadhan, bahwa yang mampu menangkap Ruh adalah Ruh. Tidak mungkin Ruh suci yang turun akan ditangkap oleh hawa nafsu yang berasal dari jasad.

Berdasarkan surat al Qodr ayat 4 ini mengharuskan kita untuk menonaktifkan jasad dan mengaktifkan Ruh. Dan cara yang dapat kita lakukan adalah puasa di siang hari, kemudian menjalankan amal ibadah , lalu berdiam diri berserah untuk mengaktifkan Ruh. JIka kita mampu bertahan mempertahankan kesadaran Ruh ini maka ketika Allah menurunkan malam lailatul qodr kita akan dapat menangkapnya, insya Allah.

 

12 agustus 2012

Flamingo hotel, Kuala lumpur, malaysia

silahka unduh file klik disini: materi kursus itikaf

kursus itikaf yang pernah dilakukan klik disini jadwal pelatihan

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 thoughts on “Materi Kursus I’tikaf

  1. Assalamualaikum wbt,
    Alhamdulillah,
    terima kasih Ustaz kerana menyediakan materi ibadah iktikaf ini. sangat bermanfaat dan membantu pemahaman saya terkait tentang pengaktifan RUH yang mampu menangkap RUH.Alhamdulillah

  2. Alhamdulillah semoga saya bisa ketemu bapak secara langsung. Saya adalah seorang guru di Belitung amat menyenangi tulisan-tulisan Bapak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *