membedakan rejeki dan dakwah

Apa yang kita lakukan dan apa yang kita dapatkan harus dibedakan. Kita bekerja bedakan dengan gaji yang kita dapatkan. Kenapa kita bedakan karena memang antara bekerja dan rejeki sesuatu yang tidak sama. Kita bekerja tidak menyebabkan  kita mendapatkan rejeki, dan kita mendapatkan rejeki bukan karena kita bekerja. Bekerja adalah tugas sebagai wakil Allah sedangkan rejeki adalah pemberian Allah, (bukan karena kita menjalankann tugas)
Bekerja itu, sama dengan berdakwah yaitu menjalankan tugas dari Allah. Dalam berdakwah harus dipisahkan dari “amplop” yang diberikan jamaah. Dalam perspektif dai memberikan ilmu harus ihlas, artinya karena Allah bukan karena amplop, jamaahpun dalam memberikan penghargaan kepada dai (pendakwah) harus ihlas, keihlasan dari keduanya akan menimbulkan keberkahan ilmu.
Keberkahan ilmu ini harus saling di jaga yaitu dengan keihlasan dari dai dan jamaah. Dengan keberkahan ini maka ilmu akan mudah diamalkan. Selain itu sang dai akan bertambah ilmu serta mudah menyampaikan kepada jamaah sedangkan jamaah akan mudah menerima apa apa yang dimaksud dai.

Keihlasan dalam belajar agama sangat diperlukan, inilah nilai spiritual belajar dan mengajar, jika keduanya dilanggar maka keberkahan ilmu akan hilang. jika salah satu saja tidak ihlas maka ilmu itu akan menjadi sampah di otak, ilmu agama tidak membuat dekat kepada Allah  tapi malah menjauhkan kita kepada Allah. maka dua duanya harus ihlas.

Banyak Dai yang menolak keihlasan jamaah dalam memberikan penghargaan kepada nya misalnya dalam berupa uang, maka dai tersebut sebenarnya telah menyianyiakan rejeki yang diberikan Allah kepadanya , maka hukuman yang berat yaitu kemiskinan akan terjadi pada Dai tersebut. naudzubillah.

Allah sudah membuat suatu hukum dalam dunia ini yaitu hukum alam, hukum ini harus dipenuhi oleh masing masing pihak. seorang yang belajar dan sudah mendapatkan ilmunya maka dirinya harus mengganti sesuatu yang “minimal” setimpal dengan apa apa yang telah diberikan guru atau dai tersebut. ini tercermin misalnnya dengan mahar, dengan aqiqoh, dengan jual beli dan lainnya. intinya jika kita ingin keberkahan ilmu maka berikan juga kepada yang telah berjasa kepada kita.

Guru saya Ust Abu Sangkan, bahwa beliau setiap bulan menghormati guru beliau Bp Haji slamet dengan 3 juta. Sungguh ini adalah suatu contoh yang sangat mulia dari beliau. bagaimana seorang murid meski tidak belajar lagi secara intensif kepada gurunya tapi tetap menghormat dengan memberikan sebagian milik beliau. Al fatihah untuk Ust Abu sangkan , dan fatihah untuk Guru Beliau Bp Haji Slamet Utomo

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *