Menang (itu biasa) dan kalah itu tidak biasa

tidak dipungkiri kesedihan bagi para caleg yang kalah dari pemilu, bagi yang toleransi stressnya tinggi pasti bisa nyantai tapi kalau toleransinya rendah sudah pasti stress. Saya baca di jawa pos pagi ini sebagian caleg di madura meminta kembali uangnya yang sudah di sumbangkan ke masjid, kemudian pagi ini di detik sebagian orang sudah mendatangi Pondok Pesantren Al Jauhariyah Balerante yang diasuh oleh  KH R. Farid Wadji Anom Kusumajati (ini beritanya silahkan klik)

Selebelum pemilu saya sudah menulis tentang konslutasi pra pemilu tujuan saya agar para caleg siap untuk gagal, dan uneg uneg saya tentang gagal pemilu kamis kemarin dimuat di harian joglo semar. Saya yakin pasti tingkat stress bagi yang gagal nyaleg meningkat, karena penyebab stress yang dialami caleg yang gagal sangatlah tinggi. kalau mau bicara di awal jika caleg ini rentan stress sebaiknya tidak nyaleg agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan bila gagal.

dalam postingan ini saya ingin mengajak kepada saudara semua yang nyaleg gagal untuk banyak berserah diri kepada Allah, hadapi semua resiko gagal ini dengan penuh keimanan kepada Allah, kemudian yang berhasil terpilih sebagai calon legislatif untuk tidak meluapkan kegembiraan di atas kesedihan orang lain, sehingga tidak menimbulkan kebencian bagi caleg yang tidak terpilih. Dan kepada semua yang tidak nyaleg jangan membicarakan terpilih atau tidak terpilih kepada para caleg gagal karena itu akan sangat sensitif.. ajaklah dia ngobrol dengan bahasan yang lain … ajak saja mancing, llihat pentas koes plus, atau touring pakai motor… untuk sementara alihkan perhatiannya kepada hal hal yang menyenangkan…. jadi menang kalah itu biasa…

bukan ; menang itu biasa kalah itu tidak biasa….

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *