Menjadi khalifah lebih mulia dari pada menjadi ahli ibadah

Ada satu artikel menarik yang baru saya baca, artikel tersebut berkisah tentang “berhenti beraktivitas”, yang dapat berupa “pensiun”, “berhenti berfikir”, “berhenti bekerja ” . ternyata hidup tidak boleh berhenti sekali berhenti maka Alllah akan menghentikan hidup kita. artikel ini sangat membuat saya tertarik, karena ternyata sisa hidup tidak hanya diisi dengan ibadah tapi menjadi khalifah, dalam artikel tersebut dicontohkan bagaimana seorang kakek sudah berusia 90 tahun masih jualan dipasar, hanya agar si  kakek bisa bersedekah dan membantu orang lain.

baiklah dibawah ini saya copi pastekan artikel tersebut.

 

BUANG JAUH-JAUH KEINGINAN PENSIUN DI DALAM PIKIRAN KITA!

9 Januari 2012 pukul 21:30

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

 

Dalam perjalan taksi dari bandara Changi menuju kantor di Singapura, saya tertarik dengan pembicaraan supir tentang mengapa dia tetap terus bekerja meski usianya sudah melebihi enam puluh lima. Anak-anaknya semua sudah sukses berkeluarga dan sekarang dia tinggal di rumah dengan seorang istri yang juga masih bekerja keras setiap harinya. Saya jadi teringat dengan kakek saya yang hingga usia sembilan puluh tahun masih berdagang di pasar kecil di Jawa Tengah dan masih “kulakan” sendiri di Semarang. Bahkan barang dagangan berupa kain masih juga diangkatnya sendiri. Beliau bahkan memiliki lebih dari seratus tiga puluh rumah kecil yang kemudian “diberikan” kepada orang miskin yang membayar sewa tiap bulannya dengan harga lebih murah dari harga sebotol galon Aqua yang sekarang telah disedekahkan. Beberapa tahun sebelum meninggal, beliau membangun makamnya sendiri untuk dirinya dan istrinya. Beliau akhirnya meninggal di usia sembilan puluh enam tahun, hampir seabad pengabdian kepada Tuhan yang sangat produktif dan tidak mengenal pensiun.

Di lain pihak, saya melihat krisis yang terjadi di Eropa, Amerika Serikat dan Jepang sekarang ini antara lain disebabkan oleh faktor demografi atau kondisi usia penduduk. Jepang yang dahulu sangat maju sekarang penduduk usia tuanya sangat mendominasi dan menjadi beban negara. Eropa terkena krisis ekonomi berat karena penduduknya lama di “nina bobo” kan oleh sebuah sistem jaminan sosial dimana penduduk yang tidak bekerja pun diberikan santunan negara, rakyatnya lebih sering di café dibandingkan bekerja di pabrik dan penduduk usia tuanya berpikiran untuk pensiun dan menikmati hidup dengan jalan-jalan dan doing nothing.

Di saat seperti ini, maka Indonesia dan negara-negara Asia lain seperti Cina yang penduduk usia produktifnya besar mendominasi, namun jika suatu saat posisi demografi ini berbalik dimana penduduk usia tua di Asia meningkat, kemunduran di depan mata.

Maka ada suatu himbauan saya untuk melawan kondisi ini dan menjadi Indonesia menjadi negara yang terus menerus bertumbuh dan maju, BUANG JAUH-JAUH KEINGINAN PENSIUN DI DALAM PIKIRAN KITA!

Himbauan ini tidak hanya untuk bangsa dan negara, namun juga bermanfaat untuk pribadi kita melawan penyakit dan kepikunan di masa tua.

Allah telah memerintahkan di dalam al Quran kepada kita untuk selalu mensucikan jiwa dari kemusyrikan sampai tutup usia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 19:31, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;    

Proses mensucikan jiwa atau zakat (ingat bahwa zakat diatas bukan berarti membayar zakat, namun mensucikan jiwa secara keseluruhan) sebagaimana telah dibahas sebelumnya dalam topik “Meraih Cahaya Allah” adalah proses untuk mensucikan jiwa secara kepemilikan, aturan, pengabdian, perlindungan dan figur.

Bagaimana kita dapat mensucikan jiwa secara pengabdian seumur hidup kalau kita berhenti bekerja saat mendapatkan surat pensiun?

Bagaimana kita dapat mensucikan jiwa secara kepemilikan dengan terus bersedekah, kalau jumlah yang disedekahkan tidak cukup karena pensiun?

Bagaimana kita dapat mensucikan jiwa secara aturan dengan terus mensyiarkan dan melestarikan ajaran Allah, kalau pikiran kita adalah pensiun dan tidak melakukan apa-apa?

Allah menciptakan manusia untuk mengabdi kepadanya bukan mengabdi sebagai pegawai negeri, oleh karena itu pekerjaan mengabdi kepada Allah adalah pekerjaan seumur hidup, maka BUANG JAUH-JAUH KEINGINAN PENSIUN DI DALAM PIKIRAN KITA!

Lihatlah Surat 51:56-57, Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.

Ada orang tua yang berpikiran kalau nanti pensiun dia akan menghabiskan waktunya untuk rajin beribadah ritual, paling depan dan paling duluan berada di masjid dan akan lebih rajin memuji-muji Tuhan atau bahkan umrah setiap tahun dari uang korupsi selama bekerja.

Ingatlah prinsip pengabdian kepada Tuhan bahwa Tuhan tidak butuh manusia dan Tuhan tidak butuh makanan dari manusia. Makanan dalam hal ini dapat diartikan secara luas tidak hanya makanan fisik dalam bentuk sesajian tetapi juga pemberian apapun, sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayatnya, Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.

Oleh karena itu pengabdian yang paling bernilai di mata Tuhan adalah ketika bermanfaat dan menolong orang lain, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:92, Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan, sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.  

Menafkahkan harta yang dicintai ini tidak hanya berbentuk harta, tetapi pengabdian yang bersifat total dari diri kita kepada Tuhan dengan memberikan manfaat kepada makhluk Allah yang lain, sebagaimana disebutkan dalam Surat 9:111, Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.  

Sekarang ini saya sering melihat hilangnya antusiasme hidup termasuk pada saat-saat tertentu, terjadi pada diri saya sendiri. Saya jadi teringat perkataan Pak Dahlan Iskan dalam bukunya, hidup tanpa antusiasme, hidupkah itu?

Menjadi sangat berbahaya ketika kita sudah mencanangkan di dalam pikiran kita bahwa kita suatu saat akan pensiun. Pensiun adalah musuh besar kita yang harus dihilangkan dalam pikiran, karena pensiun mematikan antusiasme dan antusiasme adalah energy dalam hidup, maka BUANG JAUH-JAUH KEINGINAN PENSIUN DI DALAM PIKIRAN KITA!

Antusiasme adalah modal awal dalam kesungguhan dan kesungguhan itu adalah arti sesungguhnya JIHAD. Bagaimana mau berjihad mengabdi kepada Allah dengan memberikan sebesar-besarnya manfaat bagi makhluk lain kalau hidup ini kenal pensiun.

Meskipun saya bukan seorang dokter, namun saya termasuk sangat mempercayai bahwa antusiasme adalah modal kuat untuk melawan penyakit. Banyak orang yang ketika pensiun menderita post power syndrome dan akhirnya mengundang banyak penyakit. Sebab utama nya adalah karena pikiran pensiun itu tidak dihilangkan dalam pikirannya, maka saran saya BUANG JAUH-JAUH KEINGINAN PENSIUN DI DALAM PIKIRAN KITA!

Tetapi sayangnya, banyak orang yang bekerja dalam usia produktif saat ini sudah kehilangan antusiasme, kehilangan passion dalam hidup, mereka tidak hanya gagal menghilangkan pikiran pensiun dalam hidup tetapi sudah pensiun sebelum benar-benar pensiun, sudah mati sebelum dimatikan Tuhan.

Ingat, Tuhan membenci kesia-siaan dan hal paling berharga yang pernah diberikan Tuhan kepada kita adalah kesempatan untuk hidup. Jika hal yang paling berharga ini dibunuh dengan matinya antusiasme sehingga kehilangan semangat JIHAD, maka apa lagi yang harus Tuhan berikan kepada kita? Jika hal yang paling berharga ini dibunuh sebelum waktunya dengan pikiran pensiun, maka apa kata Tuhan kepada diri kita sebagai seorang pengabdi yang tidak berguna pada masa-masa pensiun. Kalau orang ingin mengakhiri kehidupan dengan akhir yang baik atau khusnul khotimah, maka kita harus produktif dan bermanfaat kepada orang lain sampai menutup mata.

Kalau ingin menjadi hamba yang terbaik pengabdiannya kepada Tuhan di muka bumi ini, maka BUANG JAUH-JAUH KEINGINAN PENSIUN DI DALAM PIKIRAN KITA!

 

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

 

*Sumber;Bahasa Qur’an – mailing groups bahasaquran @ groups.yahoo.com.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *