mensikronisasi kehendak Allah

Kehendak Allah ada dalam diri kita, dan kalau kita cermat kehendak tersebut sangat bisa dirasakan. Kehendak itu berupa dorongan alamiah dalam diri kita yang fitrah yang tidak tercampuri oleh nafsu. Dorongan ini bisa kita rasakan jika kita mampu menenangkan hati dan pikiran sehingga terpisah mana nafs dan mana Ruh, nantinya akan dapat kita bedakan mana hawa nafsu dan mana dorongan ke Tuhanan.

kita sering bertanya bagaimana membedakan dorongan jasad (hawa nafsu) dan dorongan Ruh, pertanyaan ini muncul karena yang bertanya belum mampu memisahkan antara jasad dan Ruh. jika kita mampu memisahkan maka kita akan dapat dengan sangat jelas membedakannya.

nah jika kita sudah mampu membedakan maka dorongan Ruh inilah dorongan yang berasal dari Allah (karena Ruh selalu mengikuti amr Tuhan). Sekarang tinggal kita menyamakan antara kehendak Allah yang berupa dorongan Ruh ini dengan dorongan dalam diri atau nafs. ketika terjadi sinkronisasi maka terjadi perilaku yang sesuai dengan kehendak dan keinginan Allah.

contoh pada saat kita hendak tidur, ada satu dorongan untuk tidur yang berupa mengantuk, cara belajarnya adalah dengan mengikuti dorongan tidur tersebut ikuti dari belakang sampai kita tertidur. dan semua yang terjadi dalam tubuh kita semua ada dorongannya.

nantinya jika dorongan tubuh ini kita pahami maka kita akan paham dorongan untuk melakukan sesuatu. misalnya dipagi hari ada satu dorongan untuk mandi … maka mandilah, ada dorongan untuk bersih bersih rumah , ikuti dorongan itu.

pada tingkat advanced semua perilaku kita berdasarkan dorongan yang muncul, misalnya ada tamu ada dorongan untuk tidak menemui….. ini kelihatan aneh…. tapi benar saja ternyata tamu tersebut membawa ketidakbaikkan.

saya pernah menemui habib Lutfi di pekalongan sekian puluh tahun lalu…. pada waktu beliau berkat …….”kalau keinginan saya, jelas saya tidak mau, tapi ini keinginan Allah ya bagaimana lagi….karena itu sudah kemauan Allah bukan kemauan saya…” jawaban pernyataan Habib Lutfi tersebut baru saya pahami sekarang, bahwa apa yang dilakukan habib saat itu bukan keinginan habib pribadi tapi keinginan Allah SWT.

sekarang ini saya sedang berlatih bagaimana perilaku saya semua atas petunjuk Allah. Jika saya sengaja maka jelas saja selalu ada petunjuk meski petunjuk itu kelihatan sederhana seperti …. pakai jam nya, ambil kunci nya, sisiri rambutnya….. ya yang sederhana yang biasa saya lakukan.

tapi kemarin ada kejadian yang cukup menarik, saya jam 19.00 akan siaran di solopos FM, saya bingung karena belum punya topik yang akan dibicarakan, dalam sholat magrib pun saya bertanya kepada Allah dan memohon, ya Allah berikan saya ide untuk saya bicarakan di solopos FM, dan benar saja setelah salam … Allah memberikan ide di pikiran saya “anak Indigo”, saya waktu itu masih ragu ah materi yang tidak bagus…. tapi saya teringat bahwa ide itu dari Allah bukan dari saya, akhirnya saya gunakan topik tentang anak indigo dan alhamdulillah penyampaiannya sangat bagus, saya merasa selalu dituntun oleh Allah untuk menyampaikan apa apa yang original asli dari Allah.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 thoughts on “mensikronisasi kehendak Allah

  1. As.wr.wb. Terimakasih pencerahannya ustadz. Kalau misalnya seseorang lagi ingin atau butuh sesuatu…..dan jarak beberapa waktu apa yang diinginkannya itu muncul atau terjadi padanya..Berarti ini sebagai indikasi bahwa kehendaknya sinkron dengan kehendak Alloh, apakah demikian ?. Matur nuwun.

  2. roger pak
    Sinkronisasi Kehendak Allah dan diri kita disebutkan Jihadul qubro, seperti kisah nabi setelah perang Badar yang hanya disebut sebagai Jihadul Suhro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *