menulis spiritual

ada satu etika ketika kita menuliskan pengalaman spiritual di blog atau di buku yang orang lain bisa membaca. etika tersebut adalah rendah diri. katakan apa adanya jangan terlalu tinggi dan mudahkan orang untuk membaca dan memahaminya. bukan suatu yang sulit untuk menuliskan apa adanya, yang sulit jika kita menuliskan yang tidak apa adanya, misalnya sehabis mengikuti kuliah abu sangkan kemudian dituliskan, nah itu akan lebih sulit dan terasa diawang awang. Menulis spiritual memang lain. Menulis yang bersifat spiritual ini harus sinkron dengan kadar spiritual penulis. Kalau memang mencapai kadar apa yang ditulis sebaiknya sertakan dengan kalimat kalimat apologi misalnya dengan … kita sama sama belajar, semoga Allah memudahkan pengajaran ini, atau kalimat lain.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *