menyambut ramadhan

Menjelang ramadhan ini banyak persiapan yang dilakukan dari mulai membersihkan masjid hingga persiapan persiapan lainnya. Namun sudahkah kita mempersiapkan mental ruhaniah kita? Maka marilah kita sambut ramadhan ini dengan terlebih dahulu mengenal hakikat dari puasa sehingga nanti dalam menjalankan dapat berlangsung dengan benar dan khidmat. Hakikat segala sesuatu dapat kita lihat pada ending nya, puasa ending adalah kita kembali kepada yang suci (idul fitri) yaitu suatu kesadaran diri yang benar benar bersih dan suci. Kesucian inilah yang akan menjadi tujuan utama dalam puasa, untuk itu kita harus pegang betul tujuan ini dan kemudian kita gali bagaimana untuk memperoleh kesucian tersebut.
Cara pertama adalah dengan mengenal tentang diri terutama bagian dari diri yang suci yaitu Ruh. Ruh memiliki 3 sifat yang pertama adalah suci, kedua bashiroh (tahu) dan yang ketiga adalah kembali kepada Allah. Suci adalah sifat Ruh, tahu atau bashiroh adalah pekerjaan Ruh dan kembali adalah tugas Ruh untuk mengantar manusia kembali kepada Allah. Untuk mendapatkan kesadaran Ruh yang suci ini manusia harus bersedia kembali mengikuti ruh yaitu ke Allah karena ini merupakan jalan satu satunya untuk mendapatkan kebaikan bagi jiwa itu sendiri. Kembali dalam artian pulang ke Allah meninggalkan tubuh. Kita tinggalkan tubuh karena letak hawa nafs ada pada tubuh. Ibadah puasa adalah meninggalkan tubuh kita dengan tidak memberi makan, tidak memberikan kelonggaran kepada syahwat dan maksiat batin lainnya.
Cara kedua adalah dengan menyengaja meninggalkan tubuh untuk kembali ke Allah terutama disaat puasa siang hari. Dalam artian selama puasa kita usahakan untuk selalu pasrah kembali kepada Allah dalam segala aktivitas. Sekali kita turun ke jasad maka pahala puasa akan berkurang banyak. Maka dalam puasa nanti kita mempertahankan diri untuk berada dalam kondisi ON yaitu berada pada kesadaran ruhaniah.
Kedua cara tersebut akan mengantarkan kita kepada pemahaman bahwa puasa adalah latihan untuk menjadi atau kembali kepada yang fitrah, untuk di hari idul fitri kita merayakan dengan saling memaafkan, ternyata memaafkan ini juga merupakan ekspresi dari ruhaniah yang tidak mau menyimpan dendam dan dosa terutama kepada orang lain.
Sebagai kesimpulan bahwa marhaban yaa ramadhan tidak sekedar tulisan spanduk yang terbentang di masjid masjid dan jalan raya namun merupakan persiapan diri kita untuk menyambut bulan training puasa. Training ini nanti akan menghasilkan suatu keadaran yang dulu pernah kita raih yaitu kesadaran ruhaniah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *