Tahun baru imlek saat ini di rayakan oleh orang china di seluruh dunia, termasuk di Negara Indonesia dan lebih khusus di solo. Berbagai symbol symbol digunakan dari mulai benda benda hingga sampai perilaku seperti tidak boleh menyapu lantai, yang konon “dewa rejeki akan ikut tersingkir”.

Symbol symbol yang digunakan tersebut tidak terlepas dari 3 hal :

  1. Keberuntungan
  2. Rejeki dan
  3. Berkah

3 hal ini lah yang menurut saya menjadi fokus ritual imlek. Dan sisi positif dari perayaan imlek adalah semakin kuatnya afirmasi untuk menyambut rejeki setahun kedepan. 3 hal tersebut juga bermuara kepada “materi” yaitu “uang”, sehingga efek fokus bahwa semua ritual di fokuskan kepada perolehan “uang” maka afirmasi yang dilakukan akan semakin kuat. Semakin kuat afirmasi tentunya akan semakin memberikan daya untuk mendatangkan rejeki dan uang.

Ternyata, afirmasi “rejeki” dalam perayaan imlek ini cukup mempengaruhi sikap dan perilaku orang china atau kalau di solo disebut dengan etnis tionghoa, dalam hal berdagang orang-orang china lebih memiliki etos kerja yang kuat dibandingkan dengan etnis jawa atau lainnya. Sikap wirausaha atau entrepreunership yang dimiliki etnis china lebih kuat, tentunya hal ini tidak terlepas dari afirmasi doa yang setiap hari di lakukan , tidak hanya pada saat imlek saja. Dan kita lihat hampir 90% etnis china berhasil dalam berdagang dan memiliki tingkat ekonomi yang lebih tinggi dengan etnis yang lain.

Afirmasi-afirmasi “rejeki” tersebut, juga membawa dampak negative yang sebaiknya perlu diatasi dengan konsep kebijaksanaan china yang lain. Jika terlalu fokus terhadap rejeki maka ketidakseimbangan hidup akan terjadi. Orang yang terlalu fokus pada satu hal maka dia akan meninggalkan dan mengabaikan kepentingan lainnya, dan tidak akan peka dengan yang lainnya. Untuk itu perlu menyeimbangkan dengan konsep lainnya seperti konsep yin yang, atau lainnya.

Kondisi berkelimpahan rejeki ini jika tidak hati hati juga akan menimbulkan perilaku dan sikap sombong, dan cenderung untuk “berpenampilan beda”. Perilaku ini tentunya akan menimbulkan “kecemburuan akumulatif” bagi etnis lainnya, yang nantinya dapat di sulut dengan mudah oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Kita masih ingat kejadian kerusuhan nasional yang terjadi sekitar bulan mei 1998, yang berawal dari solo. Kerusuhan nasional itu tidak terjadi begitu saja, tapi sudah di dahului oleh kebencian akumulatif yang sering diperbincangkan seperti “kerja dengan orang china itu tenaga kita diperah sampai habis”, “dasar china pelitnya minta ampun”, “rumah-rumah china yang tertutup, mau nemui orangnya, yang menyambut malah anjingnya” nah …. Umpatan, gerutuan yang terjadi sebelumnya membuat sentiment akumulatif dari etnis lain. Sikap etnis china pada waktu itu juga kurang “ngeh” sehingga cenderung mengabaikan. Sehingga ketika mei 98′ di sulut dengan aksi penjarahan dan pembakaran, tidak ada pembelaan terhadap etnis china bahkan ada yang ikutan menjarah.

Kita semua tentunya tidak menginginkan peristiwa mei 98 terulang kembali. Perbaikan sikap sangat diharapkan kita  bersama agar ada keseimbangan dalam bermasyarakat yang multietnis ini.  Perubahan itu tentunya berangkat dari afirmasi di dalam ritual kepercayaan yang dilakukan, saya sebagai orang luar “etnis china” (saya jawa tulen, lahir di solo dan menetap di solo), jarang bahkan tidak pernah mendengar ritual china yang fokus kepada “berbagi, solidarity, dan hal hal sejenis”. sekali lagi ini pandangan subjektif saya , maaf jika ini kurang sesuai atau malah tidak sesuai sama sekali. saya harapkan jika ada pembaca dari etnis tionghoa bisa memberikan pencerahan terhadap saya tentang pandangan saya ini.

———————

saya sebagai muslim sebenarnya malu, saya dan umat islam lainnya, dididik Allah SWT untuk selalu mengafirmasi rejeki, keberuntungan dan keberkahan. Hal ini kami lakukan pada saat sholat yaitu pada saat duduk iftirasy. kita selalu memohon rizki. Namun, kesungguhan kami dalam memohon rejeki kurang, dan tidak begitu percaya kepada Allah, sehingga akibatnya tingkat perekonomian orang islam dan orang china pun jauh berbeda.

Saya banyak mengambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh etnis tionghoa , bagaimana mereka berdoa, bagaimana doa mereka sampai menimbulkan semangat mencari rizki, bagaimana doa mereka bisa benar benar mendatangkan rizki. Kepercayaan orang china terhadap para dewa sungguh kuat dan sangat percaya dengan kemampuan ghoib yang dimiliki para dewa tersebut.

SUNGGUH SAYA MELIHAT KESUNGGUHAN ORANG CHINA DALAM HIDUP, DAN INI PERLU KITA CONTOH.