Mindset Menerima Allah

Menerima Allah berbeda dengan menerima nasib, atau menerima musibah. Kalau kita menganggap bahwa menerima musibah itu sama dengan menerima Perbuatan Allah atau menerima Allah, maka kita akan mudah menerima musibah tersebut, namun kenyataan kenapa masih banyak yang sulit menerima, sebab menerima Allahnya tidak ada, bagaimana kita mengatakan bahwa musibah itu dari Allah sedangkan kita tidak menerima Allah, ini adalah mind set yang salah tentang musibah tersebut, sehingga kita seperti di lingkaran syetan yang tidak ada habisnya. Karena biasanya kejadian yang tidak menyenangkan akan terekam terus dalam otak dan akan mengganggu selama rekaman itu masih belum bisa kita terima

Mindset kita dalam menerima masalah atau musibah, yang terpenting terlebih dahulu adalah menerima Allah. Keihlasan kita menerima ALlah ini akan membuat kita bisa menerima perbuatan Allah. Dan kalau kita bisa menerima perbuatan Allah maka kita akan bisa menerima segala musibah yang Allah berikan kepada kita.

jadi kekuatan mindset dalam menerima musibah dan saya kira tidak hanya musibah hal hal yang menjadi tugas kita saat ini harus kita terima, nasib harus kita terima, dan seterusnya …. untuk membentuk mindset ini kita harus berada pada keadaan jiwa yang sujud, jiwa kita harus dalam keadaan sujud, dengan keadaan sujud ini maka kita akan terlatih untuk menerima Allah, dan kalau kita menerima Allah maka kita akan menerima segala tugas hidup segala hal yang kita alami dalam hidup baik sekarang atau nanti atau bahkan kejadian kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalu.

Dengan cara diatas maka menerima kejadian dalam hidup bukan barang mahal lagi, bukan hanya milik orang orang yang sabar, bukan milik orang orang yang tabah, tapi… kita kita mungkin yang dalam hidup ini jauh dari sabar , jauh dari tabah akan dapat melakukannya dan nantinya kita akan sabar dengan sendirinya kita akan dapat tabah dengan sendirinya.

ternyata cara hidup ini sederhana dan sangat simpel. Meski sebagian kita masih menganggap sabar itu barang mahal, tapi kalau kita latih dengan “jiwa bersujud” maka hal itu tidak mahal lagi. Tidak kyai tidak santri semua bisa mempraktekan semua bisa merasakan kesabaran ketabahan dan ketawakalan.