model pendidikan pondok pesantren yang makin lama makin ketinggalan jaman…..

Sudah saatnya berubah; saat kitab kitab digitalize, bimbingan dan pengajian sudah model online, quran, hadis bahkan kitab sudah ada di gadget, ketika bahasa asing sudah bisa di terjemahkan melalui mbah google…

nyantri sampai 9 – 15tahun saya kira bisa di persingkat menjadi 1 atau 2 tahun saja tentunya dengan model digitalisasi dan pendidikan dengan teknologi mutakhir, sehingga dalam dunia pondok yang dinamakan dengan “ilmu alat” sudah banyak tergantikan dengan teknologi itu artinya bahwa materi “ilmu alat” harus di alihkan ke teknologi, santri cukup diajari dengan bagaimana memanfaatkan gadget untuk mendapatkan dalil-dalil dari  hadis quran dan kitab kita kuno. Santri tidak perlu di bebani dengan hafalan hafalan , karena sudah ada asisten yaitu gadget yang bisa sewaktu waktu bisa di akses.

pendidikan santri selain mengenalkan gadget juga diberi bekal bagaimana cara cara mengamalkan quran dari pada mempelajarinya, jadi pondok pesantren seharusnya lebih menjadi tempat “mengamalkan quran” dari pada tempat belajar al quran. karena memang sejak jaman  rasulullah lebih menekankan amal dari pada ilmu. kalau ndak percaya bisa dilihat sejarahnya, bagaimana Rasulullah mendidik para sahabat, didikan Rasulullah lebih pada amal dari pada ilmu. Tidak pernah kita lihat sejara Rasulullah mengadakan “pengajian rutin” , pengajian ahad pagi, pengkajian islam sampai bertahun tahun… tidak ada, yang ada adalah amal, amal dan amal. Sejarah rasulullah , ketika seorang itu masuk islam setelah syahadat maka langsung disuruh menjalankan, tidak ada masuk islam kemudian belajar di madrasah dulu.. tidak ada…

baik kembali ke model pendidikan pondok pesantren, saat ini memang sudah banyak pondok pesantren yang modern namun masih sangat banyak yang pondok pesantren yang sangat tradisional, bahkan sangat kolot. ini yang perlu sama sama kita bangun. Kita kasihan generasi islam, yang belajar di pondok pesantren sampai 15an tahun keluar dari pondok kurang memiliki peran di masyarakat.. kalau pun berperan hanya sebagai penceramah, mubaligh …. sangat disayangkan, melihat dari jumlah waktu belajar yang puluhan tahun dari hasil yang tidak maksimal. sekarang bisa anda bayangkan jika sekolah selama 15 tahun kemudian model pendidikannya menggunakan teknologi pasti hasilnya akan sangat luar biasa.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *