Alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amatana …

Harus jelas ketika hidup dan ketika mati, jangan sampai hidup semu mati, atau mati semu hidup

hidup semu mati

hidup semu mati adalah hidup yang loyo, ngantukan, tidak semangat, banyak melamun, tidak sadaran, mudah terbawa alam pikiran dan malas malasan.

Mati semu Hidup

yaitu tidur yang pikirannya aktif mikirin utang, mikirin kerjaan, mikirin korona, hatinya tidak tenang cemas, mimpi yang aneh aneh dan sering terbangun, sulit untuk tidur dan bangun tidur rasanya lemas tidak segar.

Jadi kalau kita hidup ya hidup kalau mati ya mati (tidur). Kalau hidup kita sadar akan amanah amanah yang Allah berikan, kalau mati kita benar benar pasrah kepada Allah. Kejelasan ini akan memberikan kesehatan lahir batin dan kebahagiaan secara menyeluruh. Jadi selama hidup tidak boleh mati, selama mati tidak boleh hidup. Kalau hidup kita benar benar menjalankan amanah Allah (ATP) kalau mati (tidur) kita menjalankan dzikir nafas level 3 yaitu berserah diri kepada Allah.

 

Bersyukur di Alam Keheningan

Ketika kita berdzikir nafas, terutama kalau sudah mencapai tahapan ke empat, maka akan muncul keheningan. dalam keheningan ini bisa kita lakukan bersyukur kepada Allah. Dan daya dari syukur ini membuat jiwa lebih tenang dan lebih bahagia.

dah itu aja ….

lebih penting amaliah berdasarkan quran sunah dari pada berdasarkan sanad

Amaliah dalam islam ini sudah sangat jelas dan buaanyaakkkk, dimana tertera, jelas di quran dan sunah. Kita kalau mau menjalankan amaliah yang ada di quran dan sunah saja itu sudah sangat banyak, itu dari sisi banyaknya sehingga kita tidak perlu lagi mencari cari amaliah lain. Amaliah yang tidak dari quran dan sunah biasanya melalui baiat, melalui sanad.

Baiat

sekarang kenapa perlu baiat kalau sudah syahadat ? ini yang menjadi pertanyaan (kecuali yang taklid, kalau saya tidak mau taklid). saya selalu menanyakan kenapa baiat, kalau baiat itu adalah sumpah berbuat baik, nah apakah selama ini saya tidak mengakui bahwa saya siap menjalankan kebaikan? kenapa harus baiat ? mungkin pengakuan terhadap guru selamanya sampai akhirat,… nah ini yang saya pertanyakan lagi? maksudnya sampai akhirat itu apa ? karena ketika di akhirat kita mempertanggungjawabkan perbuatan kita masing masing. Terus kalau sudah di baiat dengan amalan tertentu apakah itu mengikat, ini yang selalu menjadi pertanyaannya. Dari mana dasar mengikatnya, kalau saya tinggalkan ? padahal itu tidak ada aturan di dalam quran dan sunah ?

Sanad

Sanad ini yang dari dulu sering membuat saya ragu, kenapa, karena buktinya tidak jelas. kecuali kalau ada bukti yang bisa benar benar membuktikan, tidak hanya cerita cerita saja. Okelah misalnya guru saya menceritakan gurunya yang pernah berguru dengan kakek guru saya iya itu masih , tapi kalau sudah sampai buyut guru, artinya diatasnya kakek guru saya, bagaimana ini bisa dipercaya? padahal namanya sanad itu sampai rasulullah? bagaimana mungkin bisa dibuktikan. pertanyaan ini sampai sekarang tidak mendapat jawaban dan orang yang saya temui tidak bisa memberikan jawabanya. Oleh karena itu saya mengambil jalan segala amalan melalui quran dan sunah saja, selain itu tidak. Dari pada saya harus dibaiat atau menggunaka sanad lebih baik saya pakai quran dan sunah saja.

kenapa cukup pakai quran dan sunah, karena bukti otentiknya ada, dan tertulis dan tulisan ini sama dari awal diterima sampai sekarang. tidak ada perubahan dalam tulisan itu.  Kalau sanad tidak ada tulisan yang otentik, bagiamana Rasulullah meng ACC amalan yang akan di baiatkan.

Dan maaf, mayoritas amalan amalan yang ada baiatnya dan bersanad biasanya ditujukan untuk mencari fadhilah fadhilah, misalnya baca ini nanti rejeki lancar, baca ini untuk selamat dunia sampai akhirat, baca ini untuk ini dan itu, baca shalawat agar bisa ini dan itu, dan caranya harus di baiat dan kata gurunya ini sanadnya ini dan itu.

jadi sekarang mudah saja, ambil amalan yang dari al quran dan sunah, kemudian amalkan karena Allah jangan karena agar bisa ini dan itu, agar dapat ini dan itu.