Terjadinya gangguan jiwa orang belajar makrifat

Ketika kita akan belajar aliran makrifat, aliran  tasawuf ada beberapa dari kita yang takut gila, atau takut terkena gangguan jiwa, atau takut jadi malas kerja dan tidak produktif lagi. Ketakutan ini menimbulkan keengganan untuk belajar makrifat, apalagi yang masih mudah dan masih aktif bekerja.  Pengajian pengajian makrifat di majlis majlis ilmu nyaris di hadiri mayoritas orang-orang tua. Banyak yang sudah pensiunan menjelang usia 50 60 baru tertarik belajar makrifat. Ada juga yang melarang belajar makrifat di usia muda katanya bahaya bisa gila atau menganggap bahwa belajar makrifat khusus orang orang tua yang sudah mau mati.

Beragam pendapat negatif tentang belajar makrifat. Baiklah , tulisan ini akan menguraikan orang belajar makrifat kenapa bisa terganggu jiwanya. Ini sangat mungkin sekali. Sebab belajar makrifat ini adalah belajar menata ulang bagian terdalam dari diri jika salah maka akan terjadi ketidak sinkronan dalam diri manusia. Terjadinya eror itu jika dalam belajar makrifat tujuannya tidak ke Allah, ini kalau sampai mendalam dan jauh tersesat maka orang akan menjadi terhalusinasi dengan alam pikiran alam pikiran sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dalam bermakrifat. Misalnya tujuan bermakrifat untuk sakti maka dia akan terhalusinasi dengan ketemu dengan orang bersurban padahal itu halusinai yang di timbulkan oleh syetan masuk ke alam bawah sadarnya.

terjadinya gangguan jiwa ini dalam hal tertentu dia memang orang wajar, tapi ketika dia terbawa alam bawah sadarnya maka dia akan menjadi orang yang terganggu jiwanya, misalnya dengan meracau, bicara sendiri atau dia seperti ada yang mengendalikan atau dia kemasukan yang katanya seorang waliyullah (padahal ya tidak mungkin).

orang yang belajar makrifat yang terlalu mengharapkan sensasi sensasi juga rawan stress , karena kadang dia mengharapkan bahwa setelah belajar makrifat dia akan bisa ini dan itu secara ghoib tapi ini tidak bisa dan tidak bisa, akhirnya pikiranya kecewa stress.

Ada juga yang belajar tapi mendapatkan pelajaran yang salah, misalnya bekerja itu adalah mengejar duniawi padahal duniawi itu sebentar dan sibuk bekerja bisa masuk neraka… pelajaran seperti ini sangat marak di dunia tasawuf, si guru tidak mampu mencari benang merah antara bekerja dan akhirat sehingga dikiranya bekerja itu dunia = neraka, wirid ribuan itu akhirat = surga. Pemisahan ini tentunya menjadi murid akan malas bekerja dan tidak ada daya bertarung di masyarakat. Ironisnya lagi, gurunya memamerka dirinya bahwa dirinya tidak bekerja tapi duit datang sendiri (dari amlop, sumbangan, sedekah, infak dari jamaahnya), ya kalau gurunya dapat amplop dari jamaah  yang bekerja banting tulang, lha kalau muridnya ikutan gurunya apa tidak kacau.  Pelajaran tasawuf seperti ini menyebabkan rusaknya kejiwaan seseorang dan perekonomiannya.

Belajar tasawuf untuk mencapai maqom tajrid, yaitu maqom yang katanya tidak bekerja rejeki datang sendiri…. ini menjadi tujuan orang bertasawuf dan belajar makrifat. “saya tidak perlu lagi bekerja cukup dzikir shalawat saja nanti uang akan datang sendiri”. Pemahaman seperti ini jelas salah dan sesat dan menyebabkan terjadinya gangguan psikis.

Pada intinya belajar tasawuf itu harus sinkron antara perilaku, sikap dan kesadaran. Kalau bekerjanya dia sebagai pedagang, sesuai dengan sikap nya berketuhanan dan keasdarannya akan Allah maka dia akan sehat dan belajar tasawuf atau makrifat akan menjadi kekuatan bagi dirinya.

Pengibirian spiritual umat islam

Umat islam kenapa mengalami kemunduran dan tidak bisa berjaya sukses seperti periode kejayaan islam. Masa kejayaan Islam adalah masa di mana Islam mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang yang terjadi pada tahun 6501250. Periode ini disebut Periode Klasik. Masa kejayaan Islam didukung oleh dua kerajaan besar, yaitu Kerajaan Umayyah atau Daulah Umayyah dan Kerajaan Abbasiyah yang disebut Daulah Abbasiyah. setelah tahun 1250 mengalami kemunduran hingga sekarang. Saat ini islam seperti buih yang terombang ambing dilautan tanpa ada power. Secara global islam dibawah umat lain yaitu umat yahudi meski sedikit tapi menguasai, dan umat nasrani.

Kemunduran ini tentu menjadi komoditas utama bagi negara negara yang bukan islam agar potensi ekonomi, potensi minyak, potensi lainnya bisa diserap habis, entah itu dengan mengadu domba, menciptakan stigma stigma negatif, dan pengebirian spiritual, yang terakhir ini yaitu pengibirian spiritual ini yang paling parah.

Pengibirian spiritual ini intinya adalah membuat umat islam tidak bisa berjumpa dengan Tuhannya Allah SWT.  Aspek kesadaran yang merupakan satu satunya alat tidak di tampilkan bahkan di sembunyikan agar tidak digunakan. Bahkan beberapa golongan islam entah siapa yang mendanai, mereka sangat getol mengkafirkan atau membidahkan sebagian orang yang menggunakan kesadarannya untuk mengenal Allah.  Golongan yang melarang ini menyebutkan bahwa  Allah itu ada di atas, di atas langit, selalu itu yang di gembar gemborkan tanpa bisa memberi solusi bagaimana menghadapkan wajah kita kepada wajah yang menguasai langit dan bumi seperti dalam bacaat iftitah dalam shalat. Mereka selalu mengatakan bahwa shalat itu syariat saja tidak perlu menyadari Allah dalam shalat. Golongan ini salah satu yang harus kita jauhi karena mereka mengebiri spiritualitas kita. Shalat yang mereka ajarkan adalah shalat yang sebatas syariat saja, tidak lebih dari itu, ajaran mereka shalat itu yang penting bacaan dan gerakan benar selebihnya tidak usah dan mereka melarangnya.

Umat islam terbesar adalah di nusantara malaysia, indonesia, brunei… tapi penterjemahan dzikrullah yang seharusnya di artikan sadar Allah, di belokkan menjadi ingat Allah. Ingat Allah ini menjadi masalah sebab akan mewujudkan Allah misalnya menjadi alam semesta, atau huruf alif alif lam ha, karena itu yang bisa dilakukan ingatan untuk mengingat Allah. Ini jelas penyesatan dalam beribadah karena tidak mungkin pikiran yang di produksi otak dapat menjumpai Allah dapat berhadapan dengan Allah. Kalau ibadah utama islam dalam bentuk shalat saja sudah tidak dapat berkomunikasi dengan Allah (karena dalam shalat tidak berjumpa Allah) bagaimana umat ini memiliki kekuatan. Ini menjadi PR besar bagi umat islam nusantara kesalahan menterjemahkan dzikrullah sebagai pilar utama akan menyebabkan umat islam ini mandul dan inilah keberhasilan dalam pengibirian spiritual umat. sampai kapanpun kalau dasar keihsanan ini masih tersesat dengan cara apapun islam tidak akan berjaya.

Kejayaan suatu golongan umat manusia adalah jiwa kesadarannya bangkit, jika kesadarannya tidak aktiv alias tidur maka dia akan selamanya menjadi bulan bulanan golongan lain. Seperti kemerdekaan indonsesia kenapa kemerdekaan bisa di capai setelah di jajah 350 tahun. Kemerdekaan indonesia dicapai karena adanya kesadaran yang selalu di dengungkan oleh Soekarno dan rekan2nya di masa itu. Kesadaran selalu di dengungkan tentang pentingnya hidup berbangsa dan bernegara, dari ceramah ceramah beliau maka rakyat indonesia bangkit melawan penjajah. Demikian pula dengan umat islam, kalau kesadaran akan Allah tidak di bangitkan maka selamanya islam menjadi buih di lautan yang di ombang ambingkan oleh ombak tanpa ada kejelasan arah.

maka mari kita bangkitkan kesadaran kita akan Allah, karena inilah modal dasar kita bisa bangkit dari keterpurukan selama beratus ratus tahun. kita harus berani keluar dari paham ingat Allah kita ganti dengan sadar Allah, kita harus berani keluar dari Allah itu jauh menjadi Allah itu dekat, kita harus berani mengatakan bahwa apa yang kita lakukan atas dasar di perintah Allah berdasarkan tanda tanda yang Allah berikan. Dan saya kira yang paling utama adalah kesadaran akan Allah. setiap ibadah sudah tidak ingat Allah tapi sadar Allah. Meski paham sadar Allah bersebarang dengan ulama besar di nusantara, ustad, kyai bahkan habib yang masih menggunakan ingat Allah, kita harus berani untuk melangkah untuk menggunakan kesadaran kita dalam ibadah. Sebab susah dan sulit untuk mengajak beliau beliau yang sudah terpateri bahwa dzikrullah itu adalah ingat Allah. Ingat juga bahwa beliau beliau tidak dapat menyelamatkan kita tapi kitalah yang harus menyelamatkan diri kita sendiri.

hidupku berubah setelah aku banyak bersyukur

saat pandemi ini, banyak yang mengeluh tentang masalah masalah yang diakibatkan oleh pandemi, terutama masalah ekonomi, tak jarang pula masalah keluarga, masalah dengan pasangan bahkan sampai berujung pada perceraian. Pengaruh pandemi memang sangat luar biasa bagi kehidupan kita. perubahan perilaku pun juga mengalami pergeseran, yang sebelumnya offline sekarang berubah menjadi online. Penggunaan sistem online tentunya tidak hanya merubah sistem pendidikan saja tapi juga penggunaan gadget yang kelewat batas, kalau mau jujur paparan di internet sedikit banyak mengenai anak didik.

pasti kita ingin bahwa hidup kita tidak larut dalam kesedihan kekurangan dan berbagai masalah yang ditimbulkan. Kalau dibuat mengeluh pasti permasalahan akan semakin parah, kalau dibuat untuk stress atau depresi lha malah tambah tambah parah masalah ini.

Saya ada satu solusi sapu jagad, yaitu solusi dari segala masalah yaitu dengan bersyukur atau berterimakasih kepada Allah. Semakin kita sering menjalankan kebersyukuran ini kita sedikit atau banyak bahkan akan merasakan perubahan, betul perubahan itu nyata , saya tidak bohong, perubahan itu terjadi baik di internal dalam diri kita dan juga terjadi pada dunia eksternal kita. Saya tidak ngecap, tapi ini adalah sungguhan. Saya paksa anda untuk percaya untuk hal ini, agar hidup anda juga berubah seperti apa yang saya rasakan saat ini. Bukan juga saya sombong , untuk apa sombong, tidak ada untungnya. Cuma saya ingin menunjukkan kepada anda bahwa dengan banyak berterimakasih kepada Allah, maka keadaan itu berubah. biarkan Korona, biarkan pandemi, biarkan cari kerjaan susah, tapi mari kita awali dengan cara bersyukur kepada Alla dalam setiap nafas kita.

Nafas kita adalah anugerah tertinggi terbesar dan terhebat dari Allah SWT.  mari kita gunakan nafas kita sebagai alat untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Allah. lebih jos lagi jiwa kita bisa bersyukur tanda tergantung nafas, jadi langsung bersyukur kepada Allah.

mari kita rubah diri kita dari tidak syukur menjadi bersyukur, nanti ALlah akan merubah nasib kita , berawal dari diri kita maka Allah akan merubah nasib kehidupan kita ekonomi kita dan kebahagiaan kita. Korona tidak akan menghalangi bagaimana Allah akan membahagiakan kita. Allah lebih hebat dari korona, maka langsung saja berterimakasih kepada Allah, peduli amat dengan korona.