Tidak bergantung kepada manusia adalah amanah

Amanah adalah melakukan sesuatu dengan lebih baik, meskipun kita memiliki hak atas orang lain tapi jika kita ingin dapat menjalankan amanah dengan lebih baik maka  kita tidak tergantung dengan hak kita. Misalnya, kita memiliki pembantu rumah ya kita tidak tergantung dengan dia, kita bisa menyapu atau membersihkan lantai. Mislanya kita punya hak kepada anak kita untuk hormat kepada kita sebagai orang tua, kita tidak mengharapkannya tapi kita dapat melakukan penghormatan kepadanya atau ya tidak perlu mengharap harap anak kita hormat kepada kita, misalnya lagi dengan istri meski kita bisa minta dia membuatkan kopi tapi kita buat  sendiri.

Saya pernah diberi pesan oleh guru saya Ust Muhammad Muin, Allah yarham, Beliau berpesan lakukan sesuatu kebaikan melebihi apa yang seharusnya. Artinya kalau saya maknai sekarang ini ajaran guru saya ini mengajarkan untuk tidak bergantung kepada siapapun termasuk kepada orang yang seharusnya punya kewajiban kepada kita.

Tapi untuk melakukan amanah yang cara begini, akan memerlukan tingkat ego yang benar benar nol. Karena yang diharapkan hanya Allah. Akan berat seorang ayah tidak mengharapkan hormatnya anak kepadanya, akan berat bagi seorang suami ketika harus membuat teh panas sepulang kerja dari jauh dan hanya didiamkan oleh istrinya. Tapi disitulah ego akan mendapatkan pengujian, amanah atau tidak, egois atau tidak… Disinilah cinta kita kepada Allah akan diuji, dalam kesendirian menjalani hidup adalah hakikinya hidup. Hidup amanah adalah hidup memenuhi apa apa sendiri secara hakikat kita tidak mengharap apapun dari manusia termasuk hormatnya orang lain, termasuk cintanya , semua kita sandarkan kepada Allah bukan kepada manusia. Pada pelajaran kali ini bagi yang belum siap tidak perlu bertanya tanya atau bahkan menentang misalnya bagaimana mendidik anak agar hormat kepada orang tua, atau bagaimana mendidik istri agar berbakti kepada suami…… itu hanyalah omongan orang yang belum siap saja.

Siapkah kita hidup dengan hakikat makrifat ? kalau siap maka jadilah Siti Hajar yang hidup hanya bersandar kepada Allah ketika ditinggal suaminya Nabi Ibrahim. Kita praktekan buah dari dzikir nafas atau patrap, untuk menjalankan hidup sendiri bersama Allah , tapi ingat ini adalah hakikat jangan diterapkan dalam syariat kehidupan. jangan bodoh!!! seperti ini kalau anda sampaikan ke anak anak anda atau ke istri anda maka dia akan marah atau bahkan akan tidak hormat lagi kepada anda, karena ini adalah wilayah syariat. Artinya begini secara syariat anda harus tetap mendidik anak dan minta dibuatkan teh tapi secara hakikat kalau memang tidak dibuatkan ya buat sendiri, atau malah sebelum minta kita sudah buat sendiri karena istri memang mendiamkan tidak membuatkan. MIntalah dibuatkan teh kepada istri jika memang istri mau membuatkan, itu akan lebih baik. JIka istri tidak ada kemauan untuk membuatkan teh maka jangan minta , langsung saja buat sendiri.

ya semua kembali kepada Allah dalam menjalankan amanah amanahNya. AManah kita adalah untuk kita, kita kerjakan sendiri dan kita lakukan sendiri. Hidup hakikatnya adalah kesendirian ini lah gambaran akhirat kelak, tolong menolong hanya disini tugas kita mendoakan anak dan istri serta semuanya tapi tidak di akhirat kelak. So, jalankan syariat sebagai ayah sebagai suami sebagai guru sebagai murid, sebagai apapun tapi pada hakikatnya kita menjalankan amanah untuk kita sendiri.

hilangkan Ego agar tidak bernafsu

sumber nafsu adalah ego, sehingga ketikat kita dapat menghilangkan ego maka kita akan dapat melakukan sesuatu tanpa ego artinya tanpa nafsu. Nafsu adalah pekerjaan atau perbuatan yang melampaui apa yang seharusnya, jika kita melakukan apa yang seharusnya maka kita dikatakan melakuakn sesuai dengan fitrahnya. Lapar fitrahnya makan maka ketika sudah kenyang masih makan juga itu dinamakan dengan bernafsu.

menghilangkan ego adalah perkara yang mudah dan menyenangkan, cukup dengan latihan dzikir nafas level 4 kita bisa mulai merasakan hal hal yang kita lakukan adalah tanpa ego. berpikir kita jadi berkurang karena kita lebih fokus pada tindakan. melakukan sesuatu yang jelas jelas ada di depan mata adalah salah satu bentuk menjalankan tanpa ego. Menjalankan dengan tanpa ego dapat mengurangi keterlambatan dalam bertindak, karena biasanya menjalankan tanpa ego akan mempercepat selesainya tugas.

 

ATP : Amanah Tanda Perintah

ada tiga pilar yang  agar kita mengetahui apa yang harus kita lakukan terkait dengan amanah ini , yang pertama adalah Amanah : kita harus mengetahui dengan sesadar sadarnya apa yang menjadi amanah kita, misalnya pekerjaan, awal menerima pekerjaan adalah awal kita menerima amanah, ibarat ijab qobul maka pekerjaan ini menjadi amanah yang harus kita sanggupi dan kita pegang. Setelah mengetahui dengan sesadar sadarnya kita harus niatkan untuk menjalankan sebaik baiknya, sebagus bagusnya, se elok eloknya. Profesionalitas dalam bekerja, sekecil apapun itu, 1 rupiahpun itu harus menjadi amanah yang besar. Kesanggupan ini akan membingkai seluruh aktivitas kita nantinya. Rasa malu jika amanah gagal harus kita tanamkan dalam hati, bahwa tidak ada kata gagal dalam kesanggupan menerima amanah. 1 detik adalah sangat berharga yang tidak boleh terlewatkan begitu saja. kalau kita mengatkan akan “istirahat” maka istirahat ini bukan untuk  keluar dari amanah sebentar, tapi istirahat adalah amanah untuk menghimpun energi agar lebih kuat lagi dalam menjalankan perintah dalam amanah tersebut. Amanah ini adalah semacam niat ihlas dari semua perbuatan yang akan kita lakukan, karena amanah akan menghubungkan kita dengan Allah, semua perbutan karena perintah Allah.

yang kedua adalah tanda, setiap amanah mengandung tanda, Allah memberikan tanda pada dua hal yaitu tanda alam dan tanda al quran, tanda ini yang kita sebut dengan ayat, ayat qauniyah dan ayat qouliyah. Tanda  ini merupakan petunjuk apa yang harus kita lakukan. Tanda selalu melekat kepada amanah. amanahnya badan, jika tandanya sakit, maka peirntahnya adalah berobat, tanda capek berarti perintahnya adalah istirahat. INilah yang membedakan perbuatan kita yang karena Allah atau  karena nafsu. Jika perbuatan kita karena Allah maka harus berdasarkan amanah jika tidak berdasarkan amanah berarti itu nafsu. Misalnya kalau perut sudah kenyang berarti perintahnya jangan makan lagi, perintah jangan makan lagi jika dilanggar dengan makan lagi maka itu berarti perbuatan nafsu. Kita harus peka dan responsif dengan tanda, Peka disini artinya kita harus waspada dengan tanda yang Allah berikan. Karena kadang tanda ini sifatnya halus.

yang terakhir adalah P, yaitu perintah, namanya juga perintah ya harus di jalankan. Setelah paham tanda maka kita harus bergerak, dan menjalankan apa yang seharusnya dijalankan sesuai dengan petunjuk tanda atau isyarah yang diberikan.