islamic law of attractive (jadilah orang kaya raya)

Siapa yang tidak pingin kaya… siapa yang tidak pingin hidupnya kecukupan… ini mungkin bertentangan dengan kaidah kesufian … yang cenderung menghindari kehidupan kemewahan… ya ini bukan untuk calon sufi yang nggak pingin kaya tapi ini untuk calon sufi  yang menghendaki kekayaan.

banyak cara agar bisa kaya ternyata, kita amati auliya sekarang kaya kaya.. kita ambil contoh saja Habib Anis (alm) bisa membangun ruko dan tempat pengajian yang begitu megah.. Habib Lutfi yang punya gedung shalawat dan rumah yang megah pula.. Pak Abu sangkan.. Ustad kita yang satu ini juga termasuk golongan orang kaya… kalau kita lihat cara beliau beliau memperoleh harta kekayaan tidak dengan bekerja keras… beliau beliau kalau saya saksikan cuma dirumah atau pergi tujuannya tidak bekerja cari uang namun berdakwah, kalau di rumah ya cuma nerima tamu + jagongan …

Apa Ndak pingin seperti beliau beliau itu… kerjaan sedikit duit banyak… tidak ada ceritanya kan.. seorang aulia menerima zakat… pasti dia memberi zakat pasti dia banyak sedekah.. ini satu hal yang harus kita contoh kalau kita pingin kaya yaitu merasa diri tercukupi segala sesuatunya oleh Allah. keyakinan yang kuat tentang ini secara ghoib akan membawa kekayaan yang benar benar kaya luar biasa. kekayaan harta harus di awali dari kekayaan batin terlebih dahulu sehingga keayaan itu nantinya bisa langgeng. ini juga merupakan prinsip pengembangan potensi bawah sadar yaitu membina bawah sadar untuk yakin bahwa hidupnya tercukup maka nantinya bahwa sadar akan memproses kecukupan tersebut (ini kalau kita melihat dari sisi bawah sadar) . pengaruh dari merasa ketercukupan adalah tidak adanya kekhawatiran tentang rejeki yang diberikan Allah kepada kita. dan wujud dari kesadaran yang kuat ini adalah dalam hal sedekah tidak merasa berat.

kemudian kalau pingin kaya harus diniatkan, berniatlah untuk kaya, niat untuk kaya adalah ibadah… jadi  NIATKAN UNTUK KAYA KARENA IHLAS LILLAHITAALA. apakah ada dalil untuk kaya…. ada!, bagaimana mungkin kit bisa bersedekah kalau tidak kaya, bagaimana mungkin kita bisa berzakat kalau tidak kaya… maka niatkan dan niatkan.

setelah berniat kaya percayakan kepada Allah bahwa niat kita sudah diproses oleh Allah, Allah yang maha kaya, allah yang paling kaya dan allah yang pemurah + Allah yang maha pemberi sudah menjalankan prosesnya agar kita kaya. jika keyakinan ini masih setengah setengah … cobalah untuk renungkan dan tanamkan kuat kuat dalam pikiran kita… secara berulang ulang, terus dan terus.. sehingga tertanam dan membentuk dalam sistema bawah sadar  kita.

kemudian tinggal ikuti prosesnya.. jika ada pekerjaan ya kita kerjakan sebaik mungkin, jika dapat order kerjakan sebaik mungkin.. ini namanya mengikuti proses. tidak bisa pingin kaya tapi tidak mau mengikuti proses yang diberikan oleh allah. orang malas adalah orang yang tidak mau mengikuti proses.

ketika mengikuti proses jangan berpikir apa yang akan saya dapatkan.. ihlaskan pekerjaan itu untuk menjalankan prosesnya allah, jadi bekerja yang ihlas karena Allah. jadi bekerja adalah ibadah.

demikian silahkan mencoba, jadilah orang kaya sehingga lebih bermanfaat bagi orang lain. jangan mau jadi orang yang miskin.. ingat tangan diatas lebih mulya dari pada tangan dibawah…

Apa yang harus kita lakukan ketika sedih

sedih adalah bentuk negatif dari emosi, keadaan ini tidak kita buat-buat, sedih itu muncul begitu saja. kenapa kita bisa sedih.. sedih bukan keinginan kita.. kalau ditanya mau ndak sedih? pasti jawabannya tidak mau.. tapi kenapa kita bisa sedih. sekali lagi sedih adalah pemberian dari Allah kepada hati kita … jadi sedih tidak dapat di rekayasa.. kan nggak ada sedih.. disedih sedih kan, pasti dia muncul begitu saja..

nah apa yang harus kita lakukan ketika kita menerima sedih tersebut. terlebih dahulu tanyakan pada hati kita mengapa kita menerima sedih ini… apa yang telah kita perbuat sehingga mucul sedih.. apakah kita tidak terima dengan apa yang terjadi pada diri kita… apa kita tidak menerima sesuai dengan apa yang kita harapkan atau yang lainya. jika sudah ketemu cobalah untuk menyadari kesalahan kita tadi kemudian lagi mintalah ampun kepada Allah… atas kesalahan kesalahan yang telah kita lakukan. kemudian lagi terimalah ampunan Allah setelah kita memohon ampunkepada nya.

Jangan sembarangan ke Makam para auliya

kalau pikiran sudah kemasukan paham ke makam Bidah… Syirik dan lain sebagainya.. maka jangan sekali kali ke makam aulia… itu sama saja menghina.. yang punya makam.. lho kok gitu.. ya ngapain kita kesana… wong pikiran kita nolak bahkan menganggap bahwa itu dosa..

ada beberapa persyaratan seseorang pergi ke makam aulia, dan persyaratan ini tidak setiap orang bisa memenuhinya (bagi yang pingin belajar silahkan ikuti forum malam jumatan). makam aulia ibarat sebuah tempat yang memiliki aura yang berbeda dengan tempat lainnya.. ini sama saja dengan aura masjid kuno dengan masjid yang baru dibangun mesti akan sangat berlainan suasananya. demikian pula jika di makam . makam biasa dengan makam aulia akan memiliki aura yang sangat berbeda. (pada pamahaman ini saja bila mental nggak siap kita akan menganggap bahwa itu tidak mungkin).

pada prinsipnya bahwa aura itu nanti akan memiliki dampak pada diri kita karena berdekatan atau memasuki wilayah tersebut. biasanya bila kita sudah positif thinking aura positif itu akan berdampak pada kejiwaan dan berpengaruh positif pula, namun jika kita sudah bernegatif thinking maka dampaknya bisa menjadi negatif… contohnya ada seseorang teman yang ke kyai tawang tapi mentalnya nggak siap ya.. dia akan merasa ndak nyaman dan pinginnya keluar dari wilayah itu. sebaliknya ada juga laporan dari seorang teman yang memiliki positif thinking terhadap makamnya kyai Tawang maka dia merasa cepet nyambungnya ke Allah.. merasa lebih dekat dengan Allah dst dan dst.

jadi kesimpulannya tidak perlulah kita ke makam jika kita masih belum siap mental dan ndak paham untuk apa ke makam dan bagaimana seharusnya kita di  makam. karena bukannya bertambah keimanan kita kepada Allah malah malah bisa rusak tauhid kita kepada Allah. semoga Allah menjaga hati dan pikiran kita untuk selalu mentauhidkan Allah amin

Perkenalan Sholat khusyu di Mertuanya Mas Murwat Wisanka

Enak juga ngisi di Rumah Mertuanya Mas Murwat… tempat nya cukup representatif untuk presentasi sholat khusyu. pesertanya juga cukup antusias jadi nambah semangat dalam menyampaikan. fasilitas nya juga cukup . bahkan lebih dari cukup… antar jemput…makan sate…di wedangi jahe (ora kalah karo wedangane Mbah Wir) … snack… Ustadz nya juga akrab Ust Suroto… ustadz tapi tawadlu gitu..

Pak RT juga minta menanyakan kapan pelatihan lagi.. ya PakRT insya ALlah Tanggal 5 September…mudah mudahan Allah mengijinkan dan saya juga berjanji Pak untuk tidak telat lagi.

Ger Geran berubah menjadi ge geran

ada dua makna bisa bermakna guyonan bisa juga bermakna gawat (ge geran)… ya kita yang ger geran saja, sekarang sudah jamannya untuk ger geran.. tanggapi segala sesuatu dengan ger geran saja ndak usah serius.. Allah saja suka ger geran masak kita malah serius terus atau malah ge geran.

menanggapi segala perbedaan dengan ger geran… beda fikihnya, beda bacaan sholatnya, beda gerakan sholatnya.. tanggapi saja dengan ger geran… yang begini benar yang begitu juga benar… segala sesuatu jika ditanggapi dengan ger geran akan lebih menyenangkan… dari pada adu goontok… tidak ada sunahnya apalagi hadisnya… yang menyebutkan “disunahkan bagi kamu sesama muslim untuk eyel eyelan masalah fiqh” perbedaan bukan lagi rahmat namun perbedaan menjadi adzab.

bagaimana sebenarnya perbedaan yang menjadi rahmat…. yaitu perbedaan yang ditanggapi dengan ger geran.. jika demikian maka semakin beda akan semakin geerrr… (rahmat).  kadang dalil ini di salah gunakan untuk selalu mencari perbedaan, perbedaan dicari kemudian eyel eyelan… persis anak TK. merasa diri paling benar merasa diri paling jago dibidang fiqh, wah ini gawat … ini akan memunculkan ger geran  menjadi ge geran

Ki Sulchan 1

  1. Ass, wr, wb
    Para pencinta Spiritual Sejati, Spiritual yang lurus dan benar, Spiritual yang selalu berlandaskan Alqur’an dan Alhadits.
    Khususnya para Spiritualist di blogger ini, semoga Alloh senantiasa Menuntun Kita dalam Kebenaran dan Keyakinan sehingga sempurna IMAN kita kepada Alloh SWT, ini sebenarnya yang menjadi TARGET UTAMA dalam ber-Spiritualist.

    Saya sedikit ingin berbagi, khususnya untuk malam Jum’at di rumah pak Pur, sebaiknya setelah kita melakukan diskusi ataupun membuat rencana2 lainnya, maka saya ingin sekali barangkali 15 – 20 menit kita lakukan PATRAP bersama, krn dengan berjamah akan lebih terkondisi lebih mudah untuk melakukannya, kemudian setelah itu bila ada rekan yang mau memberikan pengalamannya kita beri waktu utk sharing.
    Karena menurut saya bila seseorang sudah dibilang Ahli ber Patrap atau mudah sekali nyambungnya (tune/ klick) dengan Dzat Tercinta yaitu Alloh SWT, maka perjalanan proses Khusyu’ didalam Sholat akan lebih mulus (dengan Ijin Alloh).
    Dan juga pak Pur bisa bimbing Wilayah Patrap 1 , 2 dan 3.
    Juga tidak menutup kemungkinan kita ber Patrapan di ruangan yang terbuka, kadang malahan saya ingin sekali Patrap didalam Air.

    Semoga ada manfaatnya untuk teman2 Spiritualis :

    Gerak, Dzikrullah = Patrap

    Gerak merupakan ciri mahluk hidup. Meskipun demikian benda matipun hakikatnya bergerak, walaupun yang bergerak adalah unsur-unsur di dalamnya, seperti ion dan elektron. Tumbuh-tumbuhan (vegetasi) bergerak, walaupun tidak seperti pergerakan dinamika dari hewan maupun manusia.

    Selain pergerakan yang diatur oleh otak, pergerakan juga bisa dikontrol oleh rasa, dengan cara menonaktifkan syaraf-syaraf otak. Salah satu cara me-non aktifkan kegiatan otak diantaranya dengan cara melalui Dzikrullah.
    Dengan dzikrullah maka akan melatih kesadaran melalui indra.

    Perhatikan sabda Nabi Muhammad SAW, “Dzikrullah itu pengobat hati”.

    Kesadaran seperti ini amat besar manfaatnya, apabila telah terbiasa, ia menuntun kita pada penghindaran terhadap segala perbuatan yang tidak bermanfaat, akan mendatangkan ketenteraman di hati.
    Sehingga kita dapat bertindak lebih tepat dan akurat atau memutuskan sesuatu sikap ataupun langkah-langkah dengan lebih cepat serta akurat dan membantu mengasah intuisi.

    Didalam Alquran telah di firmankan pada Surah ArRa’d (13) : 28 : “Mereka yang beriman dan tenteram hatinya. Dengan Dzikrullah hati menjadi tenang dan tenteram”.

    Berpikir jernih dan objektif, amat membantu kita dalam mengambil berbagai keputusan dan bersikap terhadap segala kejadian dan permasalahan hidup. Semuanya itu bermula pada pada perhatian kita yang murni, Perhatian Murni membangkitkan kejernihan. Kondisi inilah yang mengantarkan pada pencerahan.

    Dalam suatu hadis yang diceritakan oleh Buchari, diceritakan bahwa : “Rasulullah S.A.W. suatu malam sepulang dari salah seorang istrinya (Ummu Salamah) terlihat sedang berdiri di suatu sudut yang gelap sedang menengadahkan tangan ke langit, dengan air mata bercucuran, bermunajat :

    Wahai Tuhanku…!
    Segala kebaikan yang telah Engkau jaminkan atasku, janganlah Engkau tarik Tuhanku, Jangan biarkan musuh dan kecemburuan menyengsarakanku Rabbi, Jangan biarkan aku kembali kepada keburukan setelah Engkau menyelamatkanku Ya Allah, Jangan tinggalkan aku sendiri, meski hanya sekedipan mata…

    Keadaan seperti itu disaksikan Ummu Salamah, yang merasa kehilangan suami, yaitu Rasulullah SAW. Tatakala terjaga tidak ditemukan di tempat tidurnya. Mendengar ucapan munajat sang suami itu, menggetarkan dirinya, sampai dia duduk bersimpuh terisak menangis yang terdengar oleh Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bertanya, “kenapa kamu menangis..?”
    Ummu Salamah menjawab : “Bagaimana aku tidak menangis, mendengar Engkau mengucapkan ‘…jangan tinggalkan aku sendiri meski dalam sekediapan mata..’, padahal Engkau telah mendapatkan posisi tinggi di sisi Allah..!!”

    Mencontoh dari hadis diatas, kita akan mempraktekkan sunah Rasul tersebut dengan Dzikrullah.

    Latihan Patrap :

    Maksud : Mendatangi, memanggil dan berkomunikasi kepada Sang Pencipta
    Tujuan : Mendapat Respons Dzat Yang Memberikan Kehidupan.

    Pertama adalah berwudhu, membaca Basmalah, dan ber-Syahadat : Berikrar menerima Allah, memperteguh pendirian, pasrah mengikuti Allah, bertasbih dan mengagungkan Allah dan Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad S.A.W.

    Setelah mengambil posisi berdiri, bisa juga duduk yang baik, bersimpuh atau bersila, mulailah dengan :

    Lepaskan perhatian anda dari dunia luar atau material, lepaskan perhatian dari alam sekitar, Perhatikan keluar masuk-nafas, gunakan sebagai pengikat perhatian, tutup mata dengan rileks (jangan tegang), lemaskan otot-otot tubuh (namun tetap bertahan tegak),

    Biarkan telinga dan indra lain saja yang bekerja, perhatikan setiap kontak indra pada objek, Jadikan dan rasakan tubuh benar-benar rileks, bila ada bagian yang tegang segera lemaskan , biarkan hanya telinga yang berfungsi, perhatian hanya pada bekerjanya indra
    pendengaran, sadari terus bekerjanya telinga, setiap kali pikiran berontak atau lari, kembali sadari keluar masuknya nafas, setelah perhatian (pada nafas) mantap, mulai perhatikan gerak pikiran anda, tarik pikiran setiap ia pergi berkelana, sampai mantap terkendali, pertahankan kemantapannya, pertahankan hingga pikiran anda benar-benar tenang.

    Firman Allah Q.S. Al A’Raaf (7) : 205 “Dan lakukanlah dzikrullah dengan rendah hati dan khusyu dan tidak keras”.

    o Datangi Allah dengan “rasa ingat”. Datang kepada Allah sambil memanggil AsmaNya (Ya Allah.. Ya Allah..) dengan kesadaran penuh, sampai terasa adanya sambutan (respons) berupa getaran yang terus menerus, sehingga timbul rasa mencintai Allah.

    o Pertahankan rasa mencintai Allah tersebut, sampai rasa itu meredam dengan sendirinya,
    ketika berhenti, maka rubahlah dengan kesadaran untuk ikut Allah, yaitu mengikuti kemauan Allah, petunjuk Allah, tuntunan Allah, sambil terus menyebut AsmaNya Allah, Ya Allah.. Ya Allah dengan segenap jiwa dan raga kita ikut Allah, beserta Allah. Lakukan terus , sambil memanggil dan merasakan betul timbulnya rasa ikut Allah.

    o Biasanya akan timbul ucapan Tasbih untuk mengagungkan dan memuji Allah. Keadaan tersebut bukan berasal dari rekayasa pikiran kita, akan tetapi mengalir begitu saja dari jiwa.

    o Kembalikan wujud kita kepada Allah. Keadaan diri kita masih ada dan hadapkan kepada Allah. Dan diteruskan pengembalian kepada Allah. Pada posisi ini masih ada pelaku yang mengembalikan kepada Allah, yaitu diri anda (Aku yang sadar).

    o Janganlah melihat kepada bathin anda, karena anda akan mengalami kesempitan jiwa dan anda akan kesulitan melepaskan diri anda. Pandanglah jagad raya yang luas sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah.
    Demikianlah mengawali latihan, hingga mantap ketenangan anda. Ketenangan ini akan menghantar anda pada Kejernihan Pikiran dan Perhatian anda semakin Murni.

    Catatan :

    Untuk mengurangi gangguan, pilihlah tempat yang bersih dan nyaman; bisa juga di lapangan luas yang sepi pada prinsipnya mendukung ketenangan anda.
    Jangan cepat frustasi apabila gagal, ulangi lagi, dan ulangi lagi, laksanakanlah tanpa beban dan jangan menginginkan agar pikiran cepat ter-meditasi-kan (meditated), cuma perhatikan saja apa yang terjadi didalam sini.

    Perlu dingat bahwa, didalam berbagai bidang kehidupan, keterampilan yang diperoleh melalui latihan yang tekun, amat besar manfaatnya. Dengan berlatih secara rutin akan sangat membantu kefasihan serta keterampilan berpatrap anda.

    Selamat berpatrap.

    Salam,

    Aug 23, 8:06 AM — [ Edit | Delete | Unapprove | Approve | Spam ] — Obrolan malam jumatan

  2. Ki Sulchan | m.sulchan@gmail.com | IP: 125.163.202.212

    Gus Pur, perlu kita kaji dan kita ulangi kembali wilayah PERCAYA akhirnya ber IMAN, dengan membaca ayat Kursi bersama sama dan kemudian kita terjamahkan, kemudian Gus Pur bisa bersama sama rekan2 mengulangi masuk wilayah PERCAYA tersebut, kelihatannya kita sudah kangeen banget wilayah tsb, wilayah yang tidak tidak ada permintaan , akan tetapi seolah -olah ada yang menanggungnya atau ada yang akan menyelesaikannya tanpa diminta ..siapakah DIA….?
    salam,
    Ki Sulchan

    Aug 23, 7:58 AM — [ Edit | Delete | Unapprove | Approve | Spam ] — Penerapan Iman dalam sholat

  3. Ki Sulchan | m.sulchan@gmail.com | IP: 125.163.202.212

    Ass, wr, wb
    Para pencinta Spiritual Sejati, Spiritual yang lurus dan benar, Spiritual yang selalu berlandaskan Alqur’an dan Alhadits, khususnya di blogger ini, semoga Alloh senantiasa Menuntun Kita dalam Kebenaran dan Keyakinan sehingga sempurna IMAN kita kepada Alloh SWT, ini sebenarnya yang menjadi TARGET UTAMA dalam ber-Spiritualist.

    Saya sedikit ingin berbagi, khususnya untuk malam Jum’at di rumah pak Pur, sebaiknya setelah kita melakukan diskusi ataupun membuat rencana2 lainnya, maka saya ingin sekali barangkali 15 – 20 menit kita lakukan PATRAP bersama, krn dengan berjamah akan lebih terkondisi lebih mudah untuk melakukannya, kemudian setelah itu bila ada rekan yang mau memberikan pengalamannya kita beri waktu utk sharing.
    Karena menurut saya bila seseorang sudah dibilang Ahli ber Patrap atau mudah sekali nyambungnya (tune/ klick) dengan Dzat Tercinta yaitu Alloh SWT, maka perjalanan proses Khusyu’ didalam Sholat akan lebih mulus (dengan Ijin Alloh).
    Dan juga pak Pur bisa bimbing Wilayah Patrap 1 , 2 dan 3.
    Juga tidak menutup kemungkinan kita ber Patrapan di ruangan yang terbuka, kadang malahan saya ingin sekali Patrap didalam Air.

    Semoga ada manfaatnya untuk teman2 Spiritualis :

    Dzikrullah = Patrap

    Gerak merupakan ciri mahluk hidup. Meskipun demikian benda matipun hakikatnya bergerak, walaupun yang bergerak adalah unsur-unsur di dalamnya, seperti ion dan elektron. Tumbuh-tumbuhan (vegetasi) bergerak, walaupun tidak seperti pergerakan dinamika dari hewan maupun manusia.

    Selain pergerakan yang diatur oleh otak, pergerakan juga bisa dikontrol oleh rasa, dengan cara menonaktifkan syaraf-syaraf otak. Salah satu cara me-non aktifkan kegiatan otak diantaranya dengan cara melalui Dzikrullah.
    Dengan dzikrullah maka akan melatih kesadaran melalui indra.

    Perhatikan sabda Nabi Muhammad SAW, “Dzikrullah itu pengobat hati”.

    Kesadaran seperti ini amat besar manfaatnya, apabila telah terbiasa, ia menuntun kita pada penghindaran terhadap segala perbuatan yang tidak bermanfaat, akan mendatangkan ketenteraman di hati.
    Sehingga kita dapat bertindak lebih tepat dan akurat atau memutuskan sesuatu sikap ataupun langkah-langkah dengan lebih cepat serta akurat dan membantu mengasah intuisi.

    Didalam Alquran telah di firmankan pada Surah ArRa’d (13) : 28 : “Mereka yang beriman dan tenteram hatinya. Dengan Dzikrullah hati menjadi tenang dan tenteram”.

    Berpikir jernih dan objektif, amat membantu kita dalam mengambil berbagai keputusan dan bersikap terhadap segala kejadian dan permasalahan hidup. Semuanya itu bermula pada pada perhatian kita yang murni, Perhatian Murni membangkitkan kejernihan. Kondisi inilah yang mengantarkan pada pencerahan.

    Dalam suatu hadis yang diceritakan oleh Buchari, diceritakan bahwa : “Rasulullah S.A.W. suatu malam sepulang dari salah seorang istrinya (Ummu Salamah) terlihat sedang berdiri di suatu sudut yang gelap sedang menengadahkan tangan ke langit, dengan air mata bercucuran, bermunajat :

    Wahai Tuhanku…!
    Segala kebaikan yang telah Engkau jaminkan atasku, janganlah Engkau tarik Tuhanku, Jangan biarkan musuh dan kecemburuan menyengsarakanku Rabbi, Jangan biarkan aku kembali kepada keburukan setelah Engkau menyelamatkanku Ya Allah, Jangan tinggalkan aku sendiri, meski hanya sekedipan mata…

    Keadaan seperti itu disaksikan Ummu Salamah, yang merasa kehilangan suami, yaitu Rasulullah SAW. Tatakala terjaga tidak ditemukan di tempat tidurnya. Mendengar ucapan munajat sang suami itu, menggetarkan dirinya, sampai dia duduk bersimpuh terisak menangis yang terdengar oleh Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bertanya, “kenapa kamu menangis..?”
    Ummu Salamah menjawab : “Bagaimana aku tidak menangis, mendengar Engkau mengucapkan ‘…jangan tinggalkan aku sendiri meski dalam sekediapan mata..’, padahal Engkau telah mendapatkan posisi tinggi di sisi Allah..!!”

    Mencontoh dari hadis diatas, kita akan mempraktekkan sunah Rasul tersebut dengan Dzikrullah.

    Latihan Patrap :

    Maksud : Mendatangi, memanggil dan berkomunikasi kepada Sang Pencipta
    Tujuan : Mendapat Respons Dzat Yang Memberikan Kehidupan.

    Pertama adalah berwudhu, membaca Basmalah, dan ber-Syahadat : Berikrar menerima Allah, memperteguh pendirian, pasrah mengikuti Allah, bertasbih dan mengagungkan Allah dan Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad S.A.W.

    Setelah mengambil posisi berdiri, bisa juga duduk yang baik, bersimpuh atau bersila, mulailah dengan :

    Lepaskan perhatian anda dari dunia luar atau material, lepaskan perhatian dari alam sekitar, Perhatikan keluar masuk-nafas, gunakan sebagai pengikat perhatian, tutup mata dengan rileks (jangan tegang), lemaskan otot-otot tubuh (namun tetap bertahan tegak),

    Biarkan telinga dan indra lain saja yang bekerja, perhatikan setiap kontak indra pada objek, Jadikan dan rasakan tubuh benar-benar rileks, bila ada bagian yang tegang segera lemaskan , biarkan hanya telinga yang berfungsi, perhatian hanya pada bekerjanya indra
    pendengaran, sadari terus bekerjanya telinga, setiap kali pikiran berontak atau lari, kembali sadari keluar masuknya nafas, setelah perhatian (pada nafas) mantap, mulai perhatikan gerak pikiran anda, tarik pikiran setiap ia pergi berkelana, sampai mantap terkendali, pertahankan kemantapannya, pertahankan hingga pikiran anda benar-benar tenang.

    Firman Allah Q.S. Al A’Raaf (7) : 205 “Dan lakukanlah dzikrullah dengan rendah hati dan khusyu dan tidak keras”.

    o Datangi Allah dengan “rasa ingat”. Datang kepada Allah sambil memanggil AsmaNya (Ya Allah.. Ya Allah..) dengan kesadaran penuh, sampai terasa adanya sambutan (respons) berupa getaran yang terus menerus, sehingga timbul rasa mencintai Allah.

    o Pertahankan rasa mencintai Allah tersebut, sampai rasa itu meredam dengan sendirinya,
    ketika berhenti, maka rubahlah dengan kesadaran untuk ikut Allah, yaitu mengikuti kemauan Allah, petunjuk Allah, tuntunan Allah, sambil terus menyebut AsmaNya Allah, Ya Allah.. Ya Allah dengan segenap jiwa dan raga kita ikut Allah, beserta Allah. Lakukan terus , sambil memanggil dan merasakan betul timbulnya rasa ikut Allah.

    o Biasanya akan timbul ucapan Tasbih untuk mengagungkan dan memuji Allah. Keadaan tersebut bukan berasal dari rekayasa pikiran kita, akan tetapi mengalir begitu saja dari jiwa.

    o Kembalikan wujud kita kepada Allah. Keadaan diri kita masih ada dan hadapkan kepada Allah. Dan diteruskan pengembalian kepada Allah. Pada posisi ini masih ada pelaku yang mengembalikan kepada Allah, yaitu diri anda (Aku yang sadar).

    o Janganlah melihat kepada bathin anda, karena anda akan mengalami kesempitan jiwa dan anda akan kesulitan melepaskan diri anda. Pandanglah jagad raya yang luas sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah.
    Demikianlah mengawali latihan, hingga mantap ketenangan anda. Ketenangan ini akan menghantar anda pada Kejernihan Pikiran dan Perhatian anda semakin Murni.

    Catatan :

    Untuk mengurangi gangguan, pilihlah tempat yang bersih dan nyaman; bisa juga di lapangan luas yang sepi pada prinsipnya mendukung ketenangan anda.
    Jangan cepat frustasi apabila gagal, ulangi lagi, dan ulangi lagi, laksanakanlah tanpa beban dan jangan menginginkan agar pikiran cepat ter-meditasi-kan (meditated), cuma perhatikan saja apa yang terjadi didalam sini.

    Perlu dingat bahwa, didalam berbagai bidang kehidupan, keterampilan yang diperoleh melalui latihan yang tekun, amat besar manfaatnya. Dengan berlatih secara rutin akan sangat membantu kefasihan serta keterampilan berpatrap anda.

    Selamat berpatrap.

    Salam,

Berdialog dengan Allah melalui sholat

Mungkin kah berdialog dengan Allah… mungkin sekali (kalau pas sholat) … kita akan bilang tidak mungkin berdialog dengan allah di luar sholat… dan  banyak pendapat demikian. Bagaimana mungkin bisa bertemu dengan Allah di luar sholat, jangan jangan itu jin yang kita temui atau mahluk yang  sejenisnya…. Atau bukan allah yang kita temui… Tapi, jika kita mengatakan di dalam sholat kita bertemu dengan Allah maka orang akan lebih bisa menerima .. ini sekedar apa yang terjadi di masyarakat… kalau pingin diterima di masyarakat umum yang jangan mengungkapkan atau memamerkan bahwa kita bisa bertemu dengan Allah di luar sholat… bingkai saja dengan sholat.

Baiklah bagaimana sebenarnya berdialog dengan Allah ketika sholat .. bertemu dengan Allah ini, jangan dipikir terlalu sulit, njlimet akhirnya malah ndak ketemu.. Allah  kan dekat.. ya sudah kita menggunakan, kita mempercayai bahwa Allah dekat yang tidak bisa digambarkan dengan sesuatu apapun, jadi ya yakin saja… nah yang kita yakini itulah Allah .. ketika kita takbir, Dia kita besarkan, ketika kita rukuk, kita tunduk kepada Dia, ketika membaca tasbih, kita puji Dia, ketika kita duduk isftirasy kita meminta kepada Dia.. dan seterusnya. Itulah namanya berdialog dengan Allah, mudah kan…